
"Lex, kamu dimana?,". Aku mengirimkan pesan singkat pada Alex. Aku harus bercerita tentang kelakuan Aisyah padaku yang sudah di luar batas.
"Di cafe bro. Elu dimana?, Mau ketemu?,". Balas nya.
"Iya Lex, aku pengen cerita sama kamu. Kamu di cafe mana?. Nanti biar aku yang menghampiri kamu saja,".
"Di Cafe Jinggo, Jalan Indrayati No.21,".
Alex mengirimkan alamat cafe yang sekarang dia berada disana.
"Oke bro, aku otw sana,". Aku mengemudikan mobilku menuju cafe untuk bertemu dengan Alex. Sebenarnya ini malam kedua aku tidak pulang kerumah semenjak pertemuanku dengan Siska yang Aisyah pilih kan untuk menjadi istri mudaku. Aku bahkan sama sekali tidak memberi kabar kepada Aisyah. Aku tidak perduli lagi, apakah Aisyah cemas atau khawatir, semua ini jadi rumit dan hancur karena egoisme dia sendiri.
Aku memacu mobilku agar cepat sampai di cafe. Aku ingin secepatnya mendapat asupan solusi dari Alex. Setelah 10 menit sampai juga akhirnya di cafe Jinggo. Aku memarkirkan mobilku dan bergegas mencari keberadaan Alex. Tidak sulit untuk mencari dimana Alex, karena dia punya tempat duduk favorit ketika sedang nongkrong di cafe Jinggo ini.
"Hallo bro...., gimana?, lu mau cerita apa?,". Tanya Alex begitu aku duduk di depannya.
"Aku makin jengkel dan kesal dengan istriku Lex,". Jawabku datar.
"Kenapa lagi?, elu jadi terima permintaan istri elu atau tidak si?,".
"Iya aku terima Lex, sesuai dengan nasehat kamu kemarin,".
"Lah terus masalah nya apa lagi bro. Kalo emang elu mau nerima buat nikah lagi,".
"Masalah nya Lex, istriku bahkan ternyata sudah menyiapkan perempuan yang harus aku nikahi. Perempuan yang akan menjadi istri mudaku Lex,".
__ADS_1
"Hahaha..., ya bagus tih, jadi elu ngga perlu repot-repot cari kan. Bini lu emang luar biasa. Jarang-jarang ada perempuan sebaik bini lu. Udah nyuruh suaminya nikah lagi, udah di cariin pula. Elu tinggal nikah aja dan nikmatin deh malam pengantin dengan istri muda lu. gue jadi pengen,".
"Bagus dari mana nya Lex. Aku bahkan tidak suka dengan perempuan yang dipilih kan Aisyah untukku Lex,".
"Kenapa bro?, kurang cantik?, atau kurang bohay?,".
"Jutsru itu Lex, dia suka sekali pakai rok mini kekurangan bahan dan baju yang sangat ketat. Penampilan nya sangat terbuka Lex. Perempuan seperti itu bukan tipeku Lex, aku aja heran, kenapa bisa biniku memilih perempuan seperti itu untuk jadi adik madu nya,".
"Luar biasa....!!, enak banget hidup lu si. Udah di suruh nikah lagi, di pilihin nya sama yang seksi dan bohay lagi. Ah.., gue yang denger aja jadi ngiler. Pengen ada di posisi lu. Lu mending banyak-banyakin deh bersyukur. Lu dapat rejeki nomplok. Ga normal lu, kalau di kasih cewek seksi dan bohay tapi malah tidak suka,".
"Ya mau Gimana lagi Lex. Aku tidak terbiasa melihat cewek seperti itu,".
"Nahh...., makanya sekarang elu biasakan lah. Kan enak coy, gila apa bisa punya dua istri tanpa masalah. Elu bisa kesana kemari dapat belaian dari dua perempuan,".
"Hahaha...., sumpah elu kabur dari rumah?, ya ampun Fatih-Fatih. Baru kali ini gue liat ada laki-laki kabur dari rumah karena dipilihkan
istri muda yang seksi dan bohay. Hahaha,".
Alex menertawakanku, lagi-lagi aku membenarkan semua ucapan nya padaku. Harusnya aku makin bahagia dan makin bergairah. Aisyah pilihkan perempuan seperti Siska untuk jadi istri muda. Karena dimana-mana emang istri muda kan harus lebih segala-galanya dari istri tua.
"Udah lah Tih, elu gausah banyak mikir. Tinggal ngikut aja perintah bini pertama elu. Emang kapan lu nikah nya?,".
"Nanti sekitar 5 hari lagi Lex,".
"Ya bagus, makin cepat makin baik, dan makin terpuaskan kamu Tih. Ah.., andai bini gue kaya bini lu, gue ga perlu repot-repot dah datang ke diskotik dan tidur dengan perempuan lain tanpa sembunyi-sembunyi,".
__ADS_1
Alex adalah teman SMA sekaligus teman sekantorku sekarang, meskipun jabatannya di bawahku, aku tidak pernah menganggap nya sebagai bawahanku. Dari dulu Alex memang terkenal tidak baik. Dia suka main perempuan, judi, hingga bahkan mabuk. Selama aku menikah dengan Aisyah, aku berusaha menjauhi Alex, bukan apa-apa aku takut terbawa kebiasaan-kebiasaan nya yang sangat jelek bagiku. Bahkan aku yang laki-laki pun tidak pernah merokok apalagi minum.
Tapi entah kenapa, sekarang aku merasa semua apa yang dikatakan Alex itu benar dan sangat pas. Aku tidak tahu, apa aku benar atau salah menceritakan masalah rumah tanggaku dengan Aisyah kepada Alex. Aku bingung, dilema. Aku sendiri tidak punya saudara kandung seperti yang lain, hingga bisa berbagi cerita masalah apapun. Aku tidak mungkin memendam masalah sebesar ini sendirian. Bercerita ke Ayah dan Bunda pun tidak mungkin. Semoga saja langkahku benar, menceritakan masalah ini dengan Alex.
"Jadi?, menurutmu, aku terima saja perempuan yang istriku pilih kan untukku Lex?,".
"Betul sekali. Elu terima saja perempuan pilihan istri elu, elu rasain saja nikmatnya punya istri dua,".
"Okelah Lex, aku ikutin saran dari elu lagi,".
Tiba-tiba ada pelayan yang menyuguhkan kopi dan beberapa snack untukku. Padahal aku tidak memesan nya, dan tidak menyuruh Alex untuk memesan kan untukku juga.
"Minum bro kopi nya. Anggap aja ini pesta kecil-kecilan untuk merayakan pernikahan kedua elu dengan istri muda. Oke bro,".
"Oke bro, thanks ya Lex. Kamu selalu kasih jalan keluar dan solusi buatku,".
"Santai aja bro. Nanti gue datang deh ke acara elu. Gue juga penasaran sama istri muda lu. Hahahaha,".
"Ya harus datang lah, awas aja kalau ngga datang,".
"Siap boss,".
Aku menghabiskan malam dengan Alex hingga pagi. Karena memang cafe ini buka hingga 24 jam. Aku pamit undur diri ke Alex dan beranjak pergi ke masjid. Karena adzan subuh sudah berkumandang. Rasanya kepala pening juga, seharian tidak tidur.
Setelah shalat subuh, aku tidur di teras masjid hingga pagi. Aku rindu Aisyah, rindu senyumnya, rindu tawa nya yang menggemaskan, rindu sangat dengan kehangatan nya. Tapi rasanya semua itu akan aku dapatkan sebentar lagi dari siska, bukan Aisyah. Mataku panas, air mata berdesakan lagi jika mengingat rumah tanggaku yang mulai hancur. Semua ini gara-gara ulah dan keserakahan Aisyah.
__ADS_1