Madu

Madu
Madu Ep.36 (SEASON 2)


__ADS_3

Hari minggu ini, cuaca kota Yogyakarta lumayan terik. Memilih berada didalam rumah menurutku bukan lah ide yang buruk. Setidaknya membaca koran dengan menyeruput segelas es campur buatan bunda sudah lebih cukup untuk menghilangkan kepenatan selama enam hari bekerja. Bertamasya di luar pun, belum tentu bisa merelaksasi otak. Pastilah sangat ramai pengunjung, apalagi ini hari libur. Berjubel manusia yang ingin membahagiakan diri nya dan keluarga nya setelah berhari-hari lelah dan penat. Sejujurnya, aku ingin membawa putraku Ilham untuk jalan-jalan. Meskipun hanya di wisata alam. Nanti saja, lagi pula Bunda masih sibuk di dapur. Bunda juga akan aku ajak, jika mau. Hmmm... aku rasa apa yang Bunda ucapkan padaku benar adanya. Kurang lengkap rasanya hidup tanpa pendamping. Sudah bertahun-tahun aku menduda. Ada satu sisi kosong di hatiku. Meskipun jika boleh membuka fakta yang ada, Aisyah lah orang yang masih mengisi kekosongan hatiku. Aku tahu, ini salah. Aku mencintai wanita yang sudah menjadi istri orang lain. Tapi aku harus bagaimana?. Ibarat pohon yang tertancap erat di tanah, begitu pula cinta aisyah yang menancap hebat di dalam hatiku. Dilema rasanya, aku sudah berusaha untuk move on dan melupakan semua tentang Aisyah. Hasilnya lagi-lagi aku semakin tidak ingin melepas meskipun hanya bayangan Aisyah.


"Bunda?. Dimana Ilham. Dari tadi Fatih tidak melihat anak itu".


" Loh, iya yah. Bunda juga dari tadi belum melihat Ilham. Coba kamu cek di kamar nya nak".


"Baiklah Bun".


Aku baru sadar, sedari tadi putraku tidak terlihat batang hidung nya. Biasanya dia akan mondar mandir walaupun hanya untuk sekedar mengganggu Nenek nya yang sedang asyik membaca majalah. Tumben sekali, hari ini dia cenderung diam. Aku berjalan dengan santai, menuju kamar Ilham. Kulihat dari kejauhan, kamar nya tidak di kunci. Apa dia tertidur?, atau sedang apa sebenarnya?.


"Nak? ".


" Iyah Ayah".


"Sedang apa?. Tumben ngga keluar kamar".


" Ilham sedang ingin di kamar Ayah".


"Ilham?. Ilham sayang sama Ayah bukan?. Ayok cerita nak. Ada masalah apa?. Ilham berantem dengan teman ilham di sekolah?. Apa ada nilai ilham yang kurang bagus? ".


Guratan kesedihan tergambar jelas pada wajah polos putraku. Nampaknya dia sangat sedih dan kecewa. Entahlah, hal apa yang membuat anak sekecil ini bisa merasakan kecewa dan sedih seperti layak nya orang dewasa. Bukankah, anak seusia Ilham harusnya sedang senang-senang nya bermain bersama banyak teman. Atau melakukan belajar bersama untuk memecahkan soal yang sebenarnya tidak lah sulit. Meskipun. Ilham bukanlah darah daging ku, tapi rasanya aku mengerti apa yang sedang dia rasakan. Layaknya hubungan seorang anak dengan orang tua kandung nya.


"Sini nak".


Aku memeluk erat tubuh anak kecil ini. Rasanya sangat tidak tega melihat putraku seperti ini. Layaknya sebuah bunga di tepi jalan, yang tumbuh sendiri tanpa teman kemudian aku ambil dan aku pindah kan di tempat yang lebih layak, dan aku rawat dengan baik penuh dengan kasih sayang. Begitulah Ilham, dia aku ambil dari panti. Di saat dia hidup tanpa seorang keluarga atau bahkan kedua orang tua nya, Ilham aku ambil dan aku rawat serta aku besarkan dengan penuh cinta dan sayang. Aku berikan Ilham, kehidupan yang lebih layak dari sebelumnya.


"Hikks.. hikss".


Ilham menangis di pelukan Ayah nya. Sudah tiga hari, anak ini lebih senang mengurung diri di kamar. Baik setelah pulang sekolah atau setelah makan bersama. Awalnya aku biasa saja, karena aku pikir dia sedang banyak tugas dari ibu guru nya. Tapi ini hari libur, biasanya dia akan menghabiskan waktunya dengan menonton kartun ataupun sekedar bergurau dengan diriku dan Bunda.


"Ada apa nak?. Cerita sama Ayah ya".


" Ilham sedih Ayah. Wawa teman baik Ilham sudah pindah sekolah. Orang tua nya Wawa memindahkan Wawa ke sekolah lain".


"Loh, kok bisa?. Kapan pindah nya? ".


" Hari rabu kemarin Ayah".


"Rabu?. Bukannya hari rabu saat itu Ayah juga ada di sekolah kalian? ".


" Iya Ayah. Orang tua nya Wawa juga datang. Umi dan Abi nya Wawa datang ke sekolah. Untuk bilang ke Ibu guru. Kalau Wawa akan pindah sekolah".


"Kok Ilham tidak bilang ke Ayah?. Ayah kan juga belum pernah ketemu sama orang tua nak Wawa".


" Ayah, saat itu Ayah kan sedang di kamar mandi sangat lama. Padahal Ilham waktu itu, sudah bilang ke Umi nya Wawa, biar ketemu dulu dengan Ayah. Dan agar Wawa bisa berpamitan dengan Ayah".


"Lalu? ".


" Terus, Umi nya Wawa bilang, kalau mereka sedang buru-buru. Jadi tidak bisa bertemu sama Ayah".


"Hmmm... Ilham tau kemana Wawa Pindah sekolah nak? ".


Aku melihat Ilham yang menggelengkan kepala nya pelan. Hmmm.. Anak-anak memang sangat unik. Teman baik nya mau pindah sekolah, malah tidak bertanya kemana akan pindah nya. Malah yang ada hanya sedih dah menangis.


" Tapi.. Umi nya Wawa bilang. Kalo Wawa akan pindah ke sekolah, yang semua murid nya perempuan, Ayah".

__ADS_1


"Semua murid nya perempuan? ".


" He'em"


Jawab Ilham sembari menundukkan kepala nya dalam-dalam.


Wajar saja, putraku sangat kehilangan teman baik nya. Dari pertama masuk ke sekolahan itu. Wawa lah yang menjadi teman pertama Ilham. Anak perempuan cantik itu sangat baik dan sopan. Bahkan dia sangat dewasa untuk anak seusia dirinya. Anak yang mandiri dan cantik. Sikapnya tidak terlalu kekanak-kanakan. Pastilah nak Wawa terlahir dari rahim wanita yang baik dan solihah. Mungkin jika aku tidak bercerai dengan Aisyah, aku juga bisa memiliki putri secantik dan sebaik nak Wawa. Huh, sudahlah. Harus bisa melupakan seseorang di masa lalu.


"Yasudah, bagaimana kalau kita sekarang main saja ke rumah nak Wawa?. Mumpung hari libur kan? ".


" Sungguh Ayah?! ".


" Iyah putra Ayah yang ganteng ".


Ilham langsung mengangkat kepala nya, dan menatap diriku dengan mata yang berbinar penuh kebahagiaan. Ilham bahkan langsung bangun dan memeluk erat diriku.


" Makasih Ayah".


"Iyah nak sama-sama. Ilham masih ingatkan jalan ke rumah Wawa?".


Aku tidak tahu dimana rumah nya nak Wawa. Karena memang aku belum pernah sekalipun berkunjung ke rumah mereka. Baru kali ini, aku akan datang dan bertamu dengan Ilham. Setidaknya Ilham bisa memberikan clue jalan ke rumah Nak Wawa.


"Masih Ayah, jalan ke rumah Wawa yang ada patung Gajah nya. Terus di jalan nya banyak bunga warna warni nya".


Patung Gajah. Hanya ada satu kompleks perumahan dengan gapura patung Gajah nya. Perumahan Yogyakarta Permai. Aku ingat, saat di undang di acara pernikahan salah satu teman kantor ku. Di sepanjang jalan masuk ke perumahan itu, memang dihiasi dengan banyak bunga warna-warni beraneka jenis. Kurasa itu yang di maksud Ilham.


"Yasudah, Ilham siap-siap ya nak. Ayah mau coba mengajak nenek. Siapa tahu ingin ikut".


" Siap Ayah".


Aku berjalan dan meninggalkan Ilham di kamar nya. Barangkali saja Bunda ingin ikut ke rumah keluarga nya nak Wawa. Ada baiknya aku tawari saja dulu.


"Iyah. Gimana?. Cucu Bunda ada di kamar kan?. Sedang apa dia? ".


" Ada kok Bun. Sedang siap-siap Bunda ".


" Siap-siap?. Memang nya Ilham mau kemana nak? ".


" Fatih sama Ilham mau berangkat berkunjung kerumah nya nak Wawa Bunda. Bunda mau ikut tidak? ".


" Oh, Bunda di rumah saja yah. Lagian Bunda sudah ada janji dengan Bunda. Dia mau kerumah, buat bicarain acara arisan ".


" Ooh begitu, yasudah deh. Fatih siap-siap dulu yah Bunda ".


" Iyah nak. Siap-siap sanah. Biar ngga kelamaan di jalan nya".


Aku melempar senyum pada Bunda, dan berlalu menuju kamarku. Aku membuka lemari, ku ambil sebuah baju hem dengan warna abu muda. Hem ini satu-satu nya barang yang berhasil aku simpan. Hem ini adalah baju yang pernah dibelikan oleh Aisyah tanpa Bunda tahu. Semua barang yang Aisyah berikan padaku, Bunda sudah membuang nya jauh-jauh. Dulu, saat aku mengenakan Hem ini. Aisyah selalu saja memuji diriku, dia bahkan mengatakan bahwa aku sangat lah tampan. Mungkin, untuk sebagian orang aku adalah laki-laki yang lemah. Laki-laki lemah yang mau saja terkungkung dengan masa lalu nya. Laki-laki yang bahkan tidak memiliki nyali untuk bisa mencintai perempuan lain. Biar, biarkan saja orang berkomentar buruk tentang diriku. Sebagian orang hanya bisa berkomentar tentang hidup kita tanpa tahu duduk perkaranya, tapi aku yakin. Mereka juga tidak akan pernah mampu jika harus mengalami apa yang aku alami dalam hidup mereka. Lagian, bukan hidup namanya jika tidak ada yang nyinyir tentang diri dan kehidupan kita. Faktanya memang sangat susah menghilangkan manusia terbaik yang pernah ada d hati.


"Ayaaahhh?!. Ilham sudah siap. Ayok berangkat".


Baru saja aku akan menyisir rambutku. Putraku sudah berteriak-teriak saja mengajak untuk segera berangkat. Nampaknya dia sangat ingin berkunjung lagi ke rumah teman baiknya Marwah. Aku bergegas menyisir rambutku yang sebenarnya tidak terlalu berantakan.


"Ayok nak".


Aku keluar dari kamar dan menggandeng Ilham menuju tempat Bunda berada. Aku akan berpamitan pada Bunda.

__ADS_1


" Bun, Fatih sama Ilham berangkat dulu yah".


Ucapku berpamitan sembari mencium punggung tangan Bunda. Ilham mengikuti diriku, dia juga bersalaman dengan Nenek nya.


"Hati-hati yah. Salam untuk keluarga nak Wawa dari Bunda yah. Sampaikan juga permintaan maaf Bunda. Karena belum bisa ikut main kesana".


" Siap Nyonya! ". Jawabku meledek.


Ilham aku gendong dan berjalan menuju garasi mobil. Sebenarnya putraku paling tidak suka jika aku gendong. Ilham akan selalu berteriak dan menekankan bahwa dirinya sudah besar dan malu jika harus di gendong oleh Ayah nya. Tapi entah kali ini, dia tidak menolak dan hanya diam saja. Mungkin karena dia sedang sangat senang, akan bertemu dengan teman baik nya lagi. Rasanya hatiku juga ikut merasakan rasa senang nya.


"Ayah, baju Ayah baru ya? ".


Tiba-tiba putraku bertanya mengenai Hem yang aku gunakan.


" Engga kok nak. Baju ini sudah sangat lama. Memang nya kenapa nak? ".


" Ngga papa Ayah. Ilham hanya baru melihat baju ini. Ayah terlihat ganteng pakai baju ini Ayah".


"Ah, putra Ayah udah pintar ngerayu nih. Sepertinya ada mau nya kalo muji begini Hayooo.. ngaku?! ".


" Ilham tidak berbohong Ayah. Ayah nya ilham memang ganteng pake baju ini".


Rasanya sangat bahagia sekali. Kukira, Aisyah dulu hanya bergurau saja mengatakan aku sangat tampan menggunakan Hem ini. Ternyata putraku yang masih kecil saja mengatakan hal yang sama seperti Aisyah dulu. Aku tersenyum mengingat masa itu.


"Ayah kok tersenyum terus? ".


" Hehehe... Ayah hanya sedang bahagia nak".


"Oohh... Ayah, kenapa baru sekarang pakai baju ini?".


" Entahlah nak, tiba-tiba saja Ayah sedang ingin sekali mengenakan baju Hem ini".


"Oh begitu".


Ilham sangat kritis anak nya. Dia akan terus bertanya sampai dia puas mendapatkan jawaban yang dia inginkan. Aku kadang kewalahan menjawab semua pertanyaan-pertanyaan Ilham pada diriku. Tidak jarang ada pertanyaan yang aku tidak bisa menjawab nya. Seperti saat itu, tiba-tiba putraku bertanya, kapan dirinya memiliki seorang Mamah seperti teman-teman nya yang lainnya. Saat itu rasanya jantung ku hampir saja copot dari tempat nya. Bisa-bisa nya putraku bertanya hal seperti itu. Walaupun pertanyaan seperti itu adalah pertanyaan yang lumrah. Anak kecil mana yang tidak merindukan hadirnya kasih sayang seorang Ibu dalam hidupnya. Apalagi Ilham sudah menjadi anak yatim piatu sejak bayi.


"Nak, ini benar kan patung Gajah yang Ilham maksud? ".


" Iyah betul Ayah. Bener ini patung Gajah nya".


"Baiklah, nanti tunjukkan ya, gang nya yang mana. Ingat kan? ".


" Ilham kan pintar. Jadi ingat dong Ayah ".


" Percaya deh. Putra nya siapa dulu, Ayah Fatih gitu loh".


Jam tangan yang kugunakan menunjukkan pukul sepuluh pagi. Waktu yang sangat pas untuk berkunjung, tidak terlalu pagi juga tidak terlalu siang menurutku. Mobil yang digunakan olehku dan Ilham berbelok ke salah satu gang komplek perumahan. Aku mengikuti arahan dari putraku. Daya ingat putraku benar-benar tidak bisa di ragukan. Bahkan dia sangat detil mengarahkan kepadaku. Kemana aku harus belok, cat rumah nya berwarna apa, pintu nya berwarna apa, bahkan sampai ke tulisan RT/RW yang terpasang di tembok depan rumah Wawa pun dia ingat. Sepanjang perjalanan aku banyak ngobrol dengan Ilham. Bahkan sampai tidak terasa sekarang mobil sudah terparkir di depan pintu rumah teman baik nya putraku, nak Marwah. Aku membereskan bajuku dan rambutku. Aku memandang rumah sederhana yang berdiri gagah didepan ku. Rumah yang sangat asri, tidak terlalu besar, juga tidak kecil. Banyak sekali bunga-bunga cantik tumbuh subur menghiasi rumah ini.


"Ayok Ayah".


Ilham menggandeng tanganku. Begitu turun dari mobil. Aku bergandengan dengan putraku dan berjalan menghampiri pintu rumah nak Wawa.


" Oh, sebentar nak. Ayah lupa belum ambil bingkisan nya di bagasi belakang".


Aku kembali menuju ke mobil, dan membuka bagasi belakang. Ada sedikit bingkisan untuk keluarga Marwah. Sebenarnya bingkisan ini, tadinya akan aku berikan untuk salah satu teman kantorku yang baru saja meresmikan usaha nya. Tapi tidak apalah, untuk keluarga nya nak Wawa dulu saja. Nanti gampang aku beli lagi yang untuk temanku. Aku menutup pintu belakang mobil. Kemudian berjalan dengan menenteng bingkisan parcel di tangan, berjalan menghampiri putraku Ilham yang sudah berdiri di depan pintu rumah nak Wawa.

__ADS_1


"Toookk... tokk... tokkk.. Assalamu'alaikum".


Aku mengetuk pintu rumah sembari mengucapkan salam.


__ADS_2