Madu

Madu
Episode 49


__ADS_3

Semua keperluan sudah disiapkan dengan sangat rapih dan sempurna. Lebih mewah dari saat acara resepsi pernikahan denganku dulu. Aku tidak marah, biarkan mungkin saja memang sudah menjadi hal yang lumrah di kota besar seperti Jakarta bila ada yang menikah, maka akan diadakan resepsi yang sangat mewah hingga menyewa gedung-gedung dengan harga yang mahal.


Resepsi pernikahan mas Fatih dengan siska dilaksanakan di salah satu gedung mewah di Jakarta, gedung Bajrama namanya. Gedung yang sangat luas, hari ini dihias dengan penuh bunga dan dekorasi pernikahan yang sangat indah. Hari ini, aku akan menyaksikan suamiku menikah lagi untuk kedua kalinya dengan wanita pilihan Bunda mertuaku. Jangan ditanya bagaimana rasanya hatiku saat itu, aku sendiri tidak mampu lagi mendeskripsikan bagaimana keadaanku saat ini.


Aku melihat suamiku berdandan dengan sangat tampan menggunakan jas hitam dengan jam tangan hitam pemberian dariku. Aku memperhatikan tubuh suamiku yang sebentar lagi akan menjadi milik perempuan lain selain aku. Rasanya hatiku benar-benar teriris, sangat menyakitkan.


"Bagaimana dik?, apa mas sudah tampan?,". Tanya mas Fatih kepadaku.


"Mas sangat teramat sangat tampan suamiku. Tidak ada laki-laki yang lebih tampan darimu mas Fatih. Laki-laki yang bisa membuat Aisyah jatuh hati berkali-kali,". Ucapku sambil menahan air mata.


"Terimakasih dik, hari ini mas emang harus terlihat tampan di depan istri mas yang baru. Mas harus terlihat sempurna dimata istri muda mas,".


"Iya mas, Aisyah yakin, Siska akan terpesona melihat mas Fatih,". Kali ini aku menyeka air mataku.


"Kamu kenapa menangis?,".


"Aisyah hanya terharu mas, ini kedua kalinya Aisyah melihat mas berdandan seperti ini, persis saat dua tahun yang lalu di Solo, Aisyah merasa seperti akan menikah lagi,".


"Iyah tapi faktanya hari ini aku menikah dengan Siska dik, bukan denganmu,".

__ADS_1


"Iyah mas, Aisyah mengerti. Semoga mas bisa bahagia dengan Siska yah mas,".


"Tentu dik, Siska akan jauh lebih membahagiakan mas dari pada kamu. Lihat saja bagaimana dia bisa menarik perhatian mas dengan mempesona. Hari ini pasti Siska sangat cantik, lebih cantik dari istri pertama mas,".


Aku hancur, berkali-kali mas Fatih mengabaikanku, membandingkan diriku dengan Siska. Sungguh rasanya sangat menyakitkan. Rasanya benar-benar sakit hingga ketulang-tulang tubuhku.


"Aamiin,". Jawabku.


Aku mengantar mas Fatih di tempat akan dilakukan akad pernikahan. Aku duduk di deretan belakang. Hari ini aku mengenakan gamis yang aku gunakan saat aku akad nikah bersama mas Fatih dulu, gamis putih yang merupakan baju pertama kali yang diberi oleh mas Fatih untukku. Aku ingin, baju ini menjadi saksi pula, bahwa aku telah kehilangan separuh dari suamiku. Bahwa aku telah pincang karena suamiku telah terbagi dengan perempuan lain, bahwa suamiku hari ini akan melakukan akad pernikahan untuk kedua kalinya. Biarlah, gamis ini menjadi saksi bisu, dihari kebahagiaanku dulu, dan hari kehancuran hidupku hari ini.


Semua penghulu dan saksi sudah bersiap. Tinggal menunggu mempelai perempuan datang. Sangat jauh berbeda saat menikah denganku dulu, aku tidak diperbolehkan untuk bersanding sampai mas Fatih benar-benar melakukan akad pernikahan dengan Abi dan disaksikan oleh beberapa orang serta dinyatakan sah. Aku mengedarkan pandanganku, mencari sosok perempuan yang sangat kejam yang telah menghancurkan hati dan hidupku, Bunda mertuaku.


Aku mengedarkan pandanganku menuju pintu depan. Benar, disana Siska sedang berjalan dengan di gandeng oleh dua orang perempuan yang mungkin itu adalah ibunya dan satu nya...., ah itu Bunda mertuaku. Perempuan yang dengan sangat kejam memintaku untuk membagi suamiku dengan perempuan lain, perempuan yang mengancamku agar aku menuruti kemauannya, perempuan yang mengancamku untuk menjadikanku seorang janda apabila menolak permintaan nya, dan perempuan itu pula yang dua tahun lalu memelukku dengan sangat hangat ketika aku telah sah menjadi istri dari putra satu-satunya. Aku menyeka air mataku.


"Baik, semua sudah siap. Mempelai perempuan dan laki-laki juga sudah ada. Para saksi juga sudah lengkap, serta wali dari perempuan juga sudah hadir. Mari kita mulai prosesi akad nikah antara ananda Muhammad Fatih dengan ananda Siska Priatin,". Ucap salah seorang panitia walimah.


Aku berusaha menyiapkan mental ku. Dan dari tadi Bunda mertuaku sama sekali tidak melirik atau melihat kepadaku, padahal posisi tempat dudukku sangat mudah untuk dia lihat. Sehina itukah aku dimatanya. Astaghfirullah.., aku berkali-kali mengucapkan istighfar.


"Bismillah, saya nikah, dan kawinkan. Putri sulung saya Siska Priatin binti Raharjo, dengan kamu ananda Muhammad Fatih bin Hartono Dwi Cahyo, dengan emas kawin sebesar 60 gram dan seperangkat alat shalat di bayar tunai,".

__ADS_1


"Saya terima nikah dan kawinnya Siska Priatin binti Raharjo dengan mas kawin tersebut di bayar tunai,".


"Bagaimana saksi?,".


"Sah!. Sah!. Sah!,".


"Alhamdulillah, Barakallahu laka wa baraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fiil Khairin (”Mudah-mudahan Allah memberkahi engkau dalam segala hal (yang baik) dan mempersatukan kamu berdua dalam kebaikan”),".


Aku melihat, suamiku sangat tampan hari ini. Lebih tampan dari hari-hari yang biasanya. Jantungku berdegup kencang. Ya Allah, sangat menyakitkan sekali rasanya ya Rabb. Rasanya dunia benar-benar hancur. Aku menyaksikan suamiku menikah lagi di depanku dengan wanita lain. Aku terduduk, aku menangis melihat semua ini. Aku tak mampu menahan air mataku lagi, hatiku hancur, sangat menyakitkan sekali berbagi suami dengan paksaan seperti ini. Cadarku basah dengan air mata. Aku tidak memperdulikan lagi. Aku melirik ke arah Bunda mertuaku, masih sama. Bunda sama sekali tidak melirik kepadaku. Bunda tidak perduli denganku yang menangis sesenggukan karena melihat kenyataan yang menyakitkan ini. Tubuhku gemetar hebat.


Aku melihat Siska mencium tangan suamiku. dan mas Fatih mencium kening Siska, adik maduku. Aku tidak kuat lagi menyaksikan ini semua. Ini benar-benar menyakitiku, aku benar-benar sudah membagi mas Fatih dengan perempuan lain. Aku benar-benar harus berbagi segalanya dengan Siska.


Aku mundur dari tempat dudukku, dan pergi dari tempat acara. Aku sungguh tidak mampu lagi melihat suamiku bermesraan dengan Siska. Benar-benar menghancurkanku. Aku lari dan memilih pulang kerumah dari gedung pernikahan itu. Aisyah tidak sanggup ya Allah, ucapku lirih.


Sampai di rumah, aku menjerit-jerit, aku menangis sekeras-kerasnya. Aku benar-benar sudah hancur,


"Umi..., tolong Aisyah Mi. Abi... Aisyah sakit Bi hatinya. Kenapa Aisyah tidak bisa mendapatkan kebahagiaan Bi, Aisyah tidak mempu Bi tolong Aisyah Umi Abi,". Ucapku di sela tangisku yang pecah.


Three Bi langsung memelukku erat, mereka ikut menangis denganku, seolah-olah mereka merasakan apa yang sedang aku rasakan detik ini. Hancur tak tersisa.

__ADS_1


__ADS_2