Madu

Madu
Episode 66


__ADS_3

Akhirnya Azizah membalas pesanku juga. Sudah sangat lama aku menunggu balasan dari nya. Aku gemetaran, semoga saja ada info mengenai istriku Aisyah. Aku membuka pesan itu dan melihat ada beberapa gambar tangkap layar yang dikirim ke padaku. Aku mendownload nya dan ternyata itu adalah sebuah secreenshot percakapan WhatsApp.


Aku membaca dengan berurutan secreenshot percakapan itu dari gambar yang dikirim kan oleh Azizah padaku. Hidupku semakin hancur. Itu adalah percakapan Aisyah dengan Bundaku. Aku benar-benar tidak menyangka, jantungku serasa berhenti berdetak. Ternyata dalang dibalik hancurnya rumah tanggaku adalah Bundaku sendiri. Bunda yang memaksa dan mengancam Aisyah untuk mau dimadu. Bunda yang mengancam akan menjadikan Aisyah menjadi seorang janda jika tidak menuruti permintaan nya. Kenapa Bunda yang melahirkan diriku sekejam ini. Bunda pula yang memilihkan Siska si wanita kotor itu untuk menjadi istri mudaku.


"Bundaaaaaaaaaaaa!!!!!, arrghhhh!!, kenapa Bundaaaaa!!!!!, haaaahhhh!!!. Kenapa Bunda tega menghancurkan Aisyah dan Fatih Bundaaaa!!!. Fatih benci Bundaaaa!!!!!. Benci!!!!. Hiks... hiks... hiks....,".


Aku benar-benar seperti ingin mati saja. Aku kehilangan Aisyah istriku sendiri, aku menyiksa Aisyah, aku menyakiti hati dan fisiknya, aku mengabaikan nya, aku menyia-nyiakan Aisyahku karena wanita yang melahirkanku. Kenapa Bunda sekeji ini Bun?, apa salah Aisyah?!!!. Hiks... hiks..hiks... Tubuhku benar-benar lemas dan tak berdaya. Aku tidak menyangka Bunda begitu jahat pada Aisyah. Aisyah sudah banyak tersakiti. Maafkan aku Aisyah, maafkan aku.


Aku bangkit, aku harus segera minta penjelasan dari Bunda tentang apa yang sudah Bunda lakukan padaku dan Aisyah. Bunda harus minta maaf pada Aisyah!!, harus. Bunda yang sudah menghancurkan Aisyah. Bunda kenapa setega ini Bun, kenapa Bun.


Aku mengemudikan mobilku sangat kencang. Aku benci Bunda, aku sangat benci Bunda. Aku menyetir sambil menangis, wajahku merah. Aku benar-benar emosi, aku benar-benar kecewa dengan Bunda. Sepanjang jalan aku menangis.


"Kenapa Bunda tega!!!, Bundaaaa!l, argghh!!,".


Aku mengebut sangat kencang. Mobilku seperti mobil balap yang sangat kencang. Aku sudah tidak sabar harus mendapatkan pengakuan dari Bunda. Bunda harus menjelas kan sedetail mungkin, apa motif dan alasan Bunda melakukan ini semua pada Aisyah dan padaku. Untung saja hari ini Jakarta tidak terlalu macet. Aku bisa lebih cepat lagi sampai kerumah Bunda. Mobilku hampir saja menabrak sepeda motor karena aku melamun.


"Bundaaaa!!!, Bundaaaaaaaaaa!!!, Bunda dimanaaaaaa!!!. Bundaaaaaaaaaaa!!!,". Aku berteriak-teriak sangat kencang seperti orang kesurupan. Namun tidak ada jawaban. Aku sudah mencari-cari Bunda ke setiap ruangan, tapi Bunda tidak ada.

__ADS_1


"Bibi....!!!, biiii...!!,". Aku memanggil asisten rumah tanggaku Bi Ijah. Namanya sama seperti salah satu anggota three Bi.


"Iya den Fatih?!, ada apa den?!, kenapa den Fatih teriak-teriak seperti ini den?!,". Aku melihat wajah panik dari Bi Ijah.


"Bibi..?!!, kemana Bunda Bi?!, kemanaaaaaa!!. Kemana Bunda pergi Bi?!,". Aku benar-benar sudah tidak tahan, aku ingin tahu alasan Bunda.


"Sabar den, tenang dulu. Nyonya pergi den dari rumah?!,". Jawab Bi Ijah.


"Apaaaaaa?!!!, apa maksudnya Bunda kabur Bi?!!!. Kemana Bunda pergi Bi!!. Tolong jawab. Hiks... hiks.. hiks,". Aku sudah tidak mampu membendung air mataku. Kenapa wanita yang melahirkanku begitu sangat kejam. Bahkan sudah merencanakan akan kabur dari rumah. Fatih benci Bunda... Fatih benci Bunda .. ucapku di sela Isak tangis.


"Den, tenangkan diri dulu. Biar bibi yang menjelaskan kepada den Fatih apa yang sebenarnya terjadi pada Nyonya den,".


"Tidak den, Bunda tidak seburuk itu den. Bibi yang menjadi saksi selama belasan tahun ini den. Bibi orang yang sering menangisi nyonya, Bibi menyaksikan semuanya dirumah ini den,".


"Apa maksud nya Bi?!!!, kenapa Bibi mengatakan Bunda tidak buruk, padahal jelas-jelas Bunda menghancurkan Aisyah dan putra satu-satunya...!!. Hiks... hiks... apaaaa!!, apa yang Bi Ijah lihat Bi?!!. Jelaskan.... Fatih butuh informasi Bi. Kenapa Bunda tega melakukan ini semua pada Aisyah dan Fatih Bi??!!,".


"Den, ini sudah terjadi sangat lama. Bahkan sejak den Fatih kuliah di Madinah. Den... Tuan besar, Ayah dari deh Fatih yang jahat, bukan nyonya,".

__ADS_1


"Apa maksudnya?!!!, kenapa jadi menyalahkan Ayah?!!!,".


"Biar bibi ceritakan den, jauh sebelum den Fatih pulang dari Madinah. Semua ini terjadi den, Ayah den Fatih diam-diam memiliki selingkuhan, ayah den Fatih memiliki istri lagi tanpa di ketahuilah oleh nyonya. Dan ketika nyonya mengetahui bahwa tuan besar menikahi seorang perempuan diam-diam, nyonya memutuskan untuk pensiun dini dari profesinya sebagai seorang dokter den. Den Fatih, seandainya den Fatih tahu. Nyonya besar sangat tersiksa selama bertahun-tahun. Tuan jarang pulang kerumah dan lebih sering tidur dan pergi dengan istri simpanannya. Hampir setiap hari nyonya di pukul dan diberikan perlakuan kasar den dari Ayah den Fatih. Bahkan itu juga terjadi ketika setelah den Fatih balik ke Solo lagi, tuan besar marah dan murka, karena nyonya tidak mengabari bahwa den Fatih akan pulang ke Jakarta. Tuan mengancam nyonya agar den Fatih tidak pernah tahu kebusukan tuan besar. Tuan besar bahkan sering membawa istri simpanannya itu kerumah ini. Dan lagi-lagi nyonya di pukul, di tampar, dan di tendang oleh tuan besar jika sampai menyusahkan istri simpanan tuan besar den. Kadang bibi menangisi nyonya yang sampai terkulai lemas di lantai. Nyonya tidak mau bercerai dari tuan besar, karena nyonya ingin putra satu-satunya yang bernama Muhammad Fatih, memiliki keluarga dengan orang tua yang lengkap. Karena itu den, nyonya ikhlas dan rela selama bertahun-tahun di madu dan di siksa habis-habisan oleh Ayah den Fatih dan istri simpanannya, hanya demi agar den Fatih memiliki keluarga yang utuh,".


Aku melihat Bi Ijah bercerita dengan menangis. Aku benar-benar tidak menyangka.Ternyata sosok kepala keluarga yang selama ini aku bangga-banggakan tidak lebih dari seorang sampah. Pantas saja saat aku pulang bersama Aisyah. Aku melihat ada beberapa bekas lebam di lengan dan punggung Bunda. Tapi bodohnya aku tidak bertanya apa yang terjadi pada Bunda. Maafkan Fatih Bunda, Fatih tidak bisa menjaga Bunda, ucapku dalam hati.


"Lalu Bi?, kenapa Bunda melakukan itu semua pada Aisyah bi?!,".


"Den, semua yang Bunda lakukan pada non Aisyah, tidak lain dan tidak bukan adalah tuan besar yang menyuruh nya non. Sebenarnya nyonya sudah menolak non, dan lagi-lagi Bunda den Fatih menerima kekerasan fisik, bahkan hingga sempat masuk rumah sakit karena terjadi pendarahan den. Ayah den Fatih tidak suka sebenarnya dengan non Aisyah dengan alasan non Aisyah adalah anak orang miskin, terlebih lagi tuan besar tidak suka dengan pakaian yang digunakan oleh istri den Fatih. Tapi tuan besar sangat licik, tuan besar menyalurkan rasa tidak sukanya kepada non Asiyah melalui Bunda den Fatih, nyonya di paksa untuk menggertak dan mengancam non Aisyah agar mau berbagi den Fatih dengan wanita lain. Termasuk non Siska, tuan besar lah yang memilihkan non Siska. Karena non Siska adalah anak dari teman bisnis tuan besar, tuan besar mencarikan perempuan yang berbanding terbalik dengan non Aisyah. Bahkan nyonya besar saat akan mengantar den Fatih untuk menikah dengan non Siska sempat berkata pada Bi Ijah, bahwa nyonya besar tidak kuat melihat non Aisyah. Nyonya besar sangat menyayangi non Aisyah, bahkan hampir setiap hari sebelum tidur Nyonya besar selalu menangis memanggil-manggil nama non Aisyah sambil mengucapkan dan memohon-mohon maaf pada non Aisyah sampai nyonya besar tertidur. Dan sekarang, nyonya besar kabur dari rumah ketika mengetahui tuan besar mengancam akan membunuh nyonya, jika tidak mau menuruti semua perkataan tuan besar dengan istri simpanannya itu den,".


Hidupku hancur. Dua perempuan yang sangat aku cintai hancur dan pergi entah kemana karena perilaku bejat Ayahku sendiri. Aku sangat benci Ayah!!!!. Aku tidak akan pernah memaafkan Ayah!, sampai Bunda dan Aisyah sudah membalas kan rasa sakitnya pada Ayah!, tidak akan,!. Aku melihat Bi Ijah basah kuyup karena tangisnya yang pecah. Bi Ijah adalah asisten rumah tangga sejak aku kecil hingga sekarang.


"Bibi?!!, kemana bunda pergi Bi?!, dan kemana laki-laki kejam itu Bi?!,".


"Terakhir nyonya besar bilang pada Bibi, jika kelak semua nya terungkap. Nyonya menitipkan omongan pada Bibi agar disampaikan pada den Fatih, nyonya bilang agar den Fatih fokus memperbaiki hubungan dan meminta maaf pada Aisyah, harus bisa membahagiakan Aisyah dan berjanji tidak akan pernah menyakiti Aisyah barang sedikit pun, nyonya juga bilang, agar den Fatih dan non Aisyah mau memaafkan dosa dan kesalahan nyonya besar pada kalian berdua, dan terakhir nyonya bilang, bahwa nyonya pergi di tempat yang aman. Yang tuan besar tidak akan bisa menemukan nyonya, dan den Fatih tidak boleh khawatir,".


"Aaarrghhh.....!!!, aayaaaaahhhhhh!!!. Aku tidak akan pernah memaafkan Ayah!!!!, tidak akan!!. Laki-laki jahat!!, karena Ayah aku kehilangan dua perempuan yang sangat berharga dalam hidup Fatih!!???,". Aku berteriak-teriak sangat kencang. Aku benar-benar sangat emosi. Aku kecewa. Aku hancur.

__ADS_1


"Den, istighfar... den Fatih harus bisa memperbaiki hubungan dengan non Aisyah dan menjelaskan yang sebenarnya terjadi den, jangan biarkan non Aisyah membenci Bunda, karena Bunda den Fatih sama sekali tidak salah, Bunda den Fatih berada dalam dua pilihan yang sangat berat. Tidak perlu memikirkan laki-laki jahat itu den, fokuslah dulu untuk Aisyah, Bibi akan memantau keberadaan nyonya besar den,".


"Baik bi, Fatih nitip Bunda dulu ya Bi, Fatih mau berusaha cari Aisyah dulu... Hiks.. hiks.. hiks..,". Aku bangun dan mengusap air mataku. Aku bergegas lari dan masuk kedalam mobil. Aku harus ke kota Cirebon, menjemput Aisyah dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


__ADS_2