
Sudah dua hari aku masih terdiam, tidak ingin makan. Aku benar-benar seperti mayat hidup yang hanya memanggil-manggil nama Aisyah tak henti-henti. Bahkan bekas kaca tiga hari yang lalu masih juga belum dibereskan. Three Bi pamit untuk berhenti menjadi asisten rumah tanggaku karena merasa sedih jika mengingat Aisyah yang kini entah kemana.
Aku harus bisa mendapatkan Aisyah lagi. Aku harus memohon maaf pada Asiyah. Aku harus mencari tau dimana keberadaan Aisyah saat ini.
Aku bangkit dan bergegas mencari tahu dimana Aisyah. Aku percaya aku bisa mendapatkan informasi dimana Aisyah berada.
"Hallo Assalamualaikum Umi, apa Aisyah ada di Solo?,". Aku memutuskan untuk menelepon Umi.
"Waallaikumussalam, Aisyah tidak ada di Solo nak Fatih. Ada apa?, apa Aisyah sedang tidak dengan kamu di Jakarta?,". Aku mendengar nada khawatir dan panik Umi dari seberang telepon.
"Oh tidak apa-apa Umi. Fatih hanya khawatir, tadi Asiyah pamit mau belanja sayuran. Tapi belum pulang. Aisyah dijakarta kok sama Fatih mi, Fatih terlalu cinta dengan putri Umi, hingga tanpa sadar tanya ke Umi,". Aku dengan sangat terpaksa berbohong kepada Umi mertuaku.
"Oh yasudah alhamdulillah kalo Aisyah baik-baik aja bersama kamu di Jakarta. Jaga Aisyah ya nak,".
"Baik Umi, assalamualaikum,".
"Waallaikumussalam,".
Tuuuuttt.... tuuttt .... tuutt... telepon terputus. Aku harus mencari mu kemana lagi Aisyah?, bahkan dirumah orang tua mu pun kamu tidak ada disana. Kemana sebenarnya kamu pergi Aisyah?. Mataku panas, aku sudah tidak mampu lagi membendung air mataku. Entah tetes keberapa aku menangisi Aisyah.
Aku sudah berusaha menghubungi beberapa teman-teman kuliah Aisyah yang di Solo maupun di Jakarta. Tapi hasilnya nihil. Tidak ada yang tahu informasi dimana Aisyah berada. Tidak ada yang dihubungi oleh Aisyah. Ya Allah... bantu Fatih. Aku benar-benar jadi laki-laki yang lumpuh dalam segalanya. Hanya gara-gara perempuan seperti Siska, aku menyiksa dan menyia-nyiakan Aisyah. Bahkan aku semakin jauh dari-Mu ya Allah. Fatih harus bagaimana?. Aku benar-benar sudah frustasi.
Ah, aku teringat. Masih ada satu lagi teman dekat dan sahabat Aisyah. Benar sekali, aku belum sempat menanyakan Aisyah pada Azizah. Aku bangun dari tempat dudukku dan mencari-cari nomor Azizah di Ponselku. Aku ingat, Aisyah pernah meminjam Handphoneku untuk mengirim pesan singkat untuk Azizah saat handphone nya rusak. Semoga kamu ada bersama Azizah ya Aisyah. Mas mau minta maaf. Tunggu mas Fatih ya sayang.
To Azizah:
"Assalamualaikum Azizah. Ini saya Fatih suami Aisyah. Maaf sebelumnya. Aku ingin menanyakan apa Aisyah bersama kamu?, oh setidaknya kapan terakhir Aisyah menghubungi mu?. Saya mohon balas pesan saya. Terimakasih,".
Aku memutuskan untuk bertanya pada Azizah melalui pesan singkat. Aku tidak mungkin langsung menelpon Azizah secara mendadak, apalagi kondisiku yang sedang tidak memungkinkan. Aku terlalu sering berteriak dan menangis, hingga tenggorokanku terasa sakit sekali. Aku berkali-kali memandangi layar handphoneku, tapi belum juga ada balasan dari Azizah. Aku semakin kalut, aku bingung harus bagaimana lagi.
#####
Cirebon hari ini sangat panas sekali. Aku bahkan hampir tiap hari ingin minum Es. Aku melihat Aisyah yang masih asik duduk di kebun belakang rumahku, yang memang ada beberapa bunga-bunga disana. Aisyah setiap hari hanya shalat, masuk kamar, dan duduk lagi di kebun belakang rumah sambil memandangi beberapa bunga yang bermekaran. Setidaknya Aisyah sudah bisa aku ajak bicara, setelah beberapa hari hanya diam.
__ADS_1
Aku kembali menuju kamarku, dan mengambil ponsel milikku. Ternyata ada pesan masuk dari nomor baru. Karena memang tidak ada nama nya di handphoneku. Setelah kubuka ternyata pesan itu dari pak Fatih, suami Aisyah. Mau apa dia mencari-cari Aisyah. Kenapa setelah satu Minggu lebih dia baru perduli dan mencari Aisyah, apa dia berantem dengan istri muda nya songong itu, atau malah sudah cerai dan sekarang mencari-cari Aisyah lagi. Aku benar-benar geram dengan semua yang sudah di lakukan oleh Pak Fatih dan ibunya, serta pastinya dengan nenek lampir yang sudah merebut Pak Fatih dari sahabatku Aisyah. Kalo saja Aisyah membolehkan aku pergi ke Jakarta, aku akan membuat babak belur si nenek lampir siksa, eh... Siska.
Apa yang harus aku lakukan?, aku benar-benar bingung. Apa aku kasih tahu Aisyah?, jika suaminya mengirimkan pesan singkat padaku dan mencari dirinya. Ah tidak, aku tidak ingin Aisyah tersakiti lagi. Beberapa menit aku memutar otakku, bolak-balik kekiri dan kekanan untuk memutuskan apa yang akan aku lakukan, sungguh aku tidak ingin Aisyah disakiti lagi. Aku ingin lihat sahabatku yang baik ini bahagia.
Oke, aku kirimkan saja gambar yang beberapa waktu lalu pernah Aisyah kirim kan padaku. Agar Pak Fatih bisa mengerti dan membaca sendiri tanpa aku jelaskan akar masalah nya. Sepertinya ideku akan berhasil, Pak Fatih akan menjadi laki-laki yang menyesal seumur hidupnya. Rasakan saja Pak gimana kehilangan mutiara yang sudah sempat susah-susah bapak cari hingga ke kota Solo, tapi akhirnya di sia-siakan karena kerikil yang memalsu sebagai mutiara. Aku tersenyum.
To 081237789946:
"Silahkan Pak Fatih baca baik-baik, dan resapi. Itu sudah saya kirimkan secara urut,".
Aku mengirimkan beberapa gambar pada pak Fatih. Biarkan dia berpikir dan akhirnya menyesal seumur hidupnya, karena telah membuang dan menyiksa batin dan fisik sahabatku Aisyah. Aku berjalan menghampiri Aisyah yang masih asyik memandangi tanaman bunga-bunga itu. Kadang aku perihatin melihat nya, gadis sebaik dan secantik dia begitu berat ujiannya. Air mataku berdesakan ingin menangis, tapi aku menahan nya. Aku tidak ingin Aisyah melihat diriku menangisi dirinya.
"Zah sini...,". Aisyah memanggilku untuk mendekat padanya.
"Ada apa Syah?, tumben lu manggil-manggil gue?,". Ucapku sambil menghampiri Aisyah.
"Zah, coba kamu ambil satu tangkai bunga itu ,". Aisyah menunjukkan tangannya ke salah satu bunga aster yang ada di seberang nya.
Aku mengikuti perintah Aisyah padaku. Aku memetik setangkai bunga itu dan kemudian memandangi bunga itu dengan tatapan yang bingung. Untuk apa ini orang nyuruh gue untuk metik bunga ini, kurang kerjaan. Ucapku dalam hati.
"Coba kamu cium aromanya Zah,".
"Elah lu kenapa si, sekarang nyuruh gue buat nyium bunga ini. Kurang kerjaan,". Sanggahku kesal.
"Udah jangan cerewet, cepat cium Azizah,".
"Yaudah iya ini gue cium, udah Syah. Terus apalagi?,".
"Baunya apa Zah?,".
"Wangi Syah. Gue baru tau aster jenis ini baunya wangi. Hahaha,".
"Bagus, sekarang kamu injak-injak itu bunga Zah,".
__ADS_1
"Buset lu, sekarang udah dipetik, di cium, terus di injak-injak?!,".
"Udah cepet Zah,".
Aku membuang bunga yang tadi sudah aku petik dan cium itu kemudian menginjak-injak hingga hancur.
"Sudah Syah. Hahaha,". Aku tertawa seperti orang gila, karena mengikuti semua ucapan Aisyah.
"Zah, bunga itu adalah aku. Aku adalah bunga yang telah di petik oleh mas Fatih, dia sudah mencium wangi itu, dan kemudian aku di injak-injak hingga hancur. Dan itu sangat menyakitkan,".
Aku kaget dengan ucapan Aisyah barusan. Dalam sekali rasanya. Benar-benar sangat menyakitkan.
"Aisyah....,". Panggilku sambil menyeka air mata.
"Aku sudah hancur seperti bunga itu Zah, aku dihancurkan tanpa ampun, aku hancur Azizah... Hiks.. hiks...,".
Aku memeluk Aisyah dengan sangat erat. Kesedihan nya begitu dalam. Rasa sakit hatinya begitu sangat menyakitinya. Dia seperti orang yang benar-benar tidak memilik harapan. Allah tidak tidur Aisyah. Kamu pasti mendapatkan balasan terindah atas perjuangan mu untuk bunda mertua mu dan suami mu. Meskipun balasan itu tidak kamu dapatkan di dunia.
"Huekkk... huekkk.. huekkk,".
Ah Aisyah mual-mual lagi, sudah beberapa hari ini dia mual-mual. Mungkin dia masuk angin atau malah asam lambung nya naik. Karena Aisyah pernah bilang kalau dia punya riwayat magh.
"Syah, besok kita ke dokter ya?, gue khawatir udah beberapa hari elu mual-mual. Elu pasti drop fisiknya gara-gara banyak mikir masalah ini,".
"Iyah gampang Zah, nanti kalo aku udah benar-benar tidak kuat, aku minta antar ke dokter ya sama kamu,".
"Yaelah elu, jangan nunggu parah dong. Gimana si?!,".
"Seriusan, aku ngga papa. Masuk angin aja kok,".
"Yasudah lu buruan masuk kamar. Lagian bentar lagi mau hujan. Mendung dan banyak angin juga,".
"Iya Azizah bawel. Makasih ya udah baik banget sama aku Zah,".
__ADS_1
"Udah gausah drama-drama. Kalo elu ga nurut gue mau jahat nih. Hahahaha,". Aku mencoba menghibur Aisyah, dan dia hanya tersenyum sangat sebentar sekali.
Kamu harus bahagia Aisyah, tinggalkan semua masalah yang sudah menggerogoti fisikmu. Lupakan semua orang yang sudah menyakitimu, ucapku dalam hati.