
Hari ini Ibu dan Mas Fahmi sedang keluar untuk membeli beberapa snack khas Yogyakarta. Rencananya akan di paket kan ke saudara Ibu yang ada di Jakarta. Sedang aku dan Wawa memilih untuk tetap di rumah. Rupanya mengurus perpindahan sekolah, lumayan memakan tenaga, waktu, juga pikiran. Aku kira akan sederhana, sesederhana aku mencintai mas Fahmi. Ternyata malah sebaliknya. Regulasi nya sangat ribet dan bertele-tele. Memasak dan mengurus rumah jauh lebih enak dari pada mengurus perpindahan sekolah Marwah. Seingatku, dulu waktu aku sekolah tidaklah serumit ini. Tinggal bawa surat keterangan pindah, dan seketika bisa langsung berangkat di sekolah yang baru besok pagi nya. Entahlah, jaman sudah berubah drastis. Tidak ada cara lain selain mengikuti perkembangan zaman saja. Dari pada pusing mikirin zaman yang semakin maju semakin membuat stress. Lebih baik aku ke dapur dan bersiap untuk memasak menu makan siang nanti.
Setelah berbelanja pasti Ibu dan Mas Fahmi sangat lah lapar. Mereka pasti senang jika pulang ke rumah sudah siap semuanya di meja. Kebetulan hari ini aku akan masak makanan kesukaan Ibu dan suamiku. Sayur capcai kesukaan Mas Fahmi dan oseng brokoli kesukaan Ibu. Aku dan Wawa ngikut. Karena memang, Wawa sama persis dengan dirinya. Apa yang ada di meja itu yang dimakan tanpa protes.
"Umiii.... ".
Aku seperti mendengar suara Wawa berteriak memanggil.
" Umiii... ada tamu! ".
Ternyata benar. Putriku memang memanggil Umi nya. Aku kira, aku yang salah mendengar. Maklumlah, yang namanya Aisyah kalau sudah di dapur rasanya tidak mau di ganggu.
"Oh.. Iya nak. Suruh masuk dulu. Nanti Umi ke depan. Ini sedang tanggung goreng nya, takut gosong". Ucapku pada Wawa.
Heran, cepat sekali datang nya. Padahal biasanya Bu Erni akan datang jam satu siang. Meskipun aku pesan puding nya dari semalam. Aku melirik ke arah jam dinding kayu yang terpasang di dinding dapur, baru pukul sembilan lebih sepuluh menit. Atau memang orderan Bu Erni hari ini sedang tidak banyak ya, makanya cepat. Semalam Mas Fahmi bilang padaku, bahwa dia ingin makan puding yang di jual oleh Bu Erni tetangga kompleks. Jadilah di era yang modern ini, tinggal chatting saja, pesanan akan datang. Aku buru-buru mengangkat gorengan dari wajan dan mematikan kompor nya. Setelah beberes, aku dengan tergesa-gesa menuju ke ruang tamu depan sembari membawa pecahan uang lima puluh ribuan untuk membayar pesanan puding nya.
"Tumben cepet banget dateng nya Bu Er.... ".
Mataku terbelalak. Jantungku serasa berhenti bedetak. Duniaku bahkan tidak mau lagi berputar. Rasanya saat itu, aku ingin marah se marah-marah nya pada Marwah. Kenapa Wawa tidak bilang pada Umi nya, kalau yang datang bukanlah Bu Erni. Rasanya ingin berteriak dan pergi sejauh mungkin. Hatiku dan emosiku semakin tidak terkontrol. Kenapa takdir tidak berpihak padaku?. Aku menghindari dengan mati-matian, tapi takdir malah membawa nya datang lebih dekat dan bahkan sangat dekat. Uang yang aku pegang jatuh begitu saja di lantai. Rasanya perih sekali melihat orang itu. Dua orang laki-laki sedang duduk di ruang tamu rumahku. Laki-laki yang sangat tidak ingin aku temui. Laki-laki yang sudah menghancurkan segalanya. Dia masa lalu yang tidak seharusnya hadir kembali.
"Umii... ".
Belum selesai Wawa berbicara denganku. Aku langsung mundur dan pergi dari ruangan itu. Saat itu diriku sedang tidak mengenakan cadar ku. Bodoh nya aku, seharusnya aku bertanya dulu pada Wawa siapa yang datang. Aku malu, dia melihat wajahku lagi setelah bertahun-tahun tidak bertemu. Rasanya aku sangat berdosa, seperti sedang mengkhianati Mas Fahmi. Bagaimana mungkin aku tidak mengenakan cadar ku di depan laki-laki asing yang bukan mahram (Mahram adalah semua orang yang haram untuk dinikahi selamanya karena sebab keturunan, persusuan dan pernikahan dalam syariat Islam) ku. Laki-laki itu dengan mudah melihat wajahku lagi. Aku tidak peduli, sekalipun dia pernah melihat wajahku di masa lalu. Tapi hari ini situasi dan status nya sudah berbeda. Dia sudah menjadi laki-laki asing dalam hidupku. Laki-laki yang tidak berhak melihat wajahku. Harus bagaimana sekarang?. Aku bahkan sudah mengizinkan tamu laki-laki masuk kedalam rumahku di saat tidak ada Mas Fahmi dan Ibu dirumah. Terlebih tamu ini adalah Mas Fatih, mantan suamiku sendiri. Apa yang akan dipikirkan Mas Fahmi jika dia pulang dan mendapati istrinya sedang menerima tamu laki-laki yang tidak lain adalah mantan suaminya.
"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan?. Menyuruh Mas Fatih pulang dan pergi dari rumah, atau membiarkan nya?. Apa yang akan terjadi ya Rabb jika Mas Fahmi melihat semua ini".
Ucapku dalam hati di tengah air mata yang tak lagi terbendung.
" Umi?. Umi kenapa belum keluar juga?. Ayah nya Ilham menunggu Umi".
Suara Marwah terdengar dari luar kamar. Rasanya aku tidak ingin pergi ke ruang tamu lagi. Suasana nya sangat tidak mengenakan. Kenapa semua ini harus terjadi?. Kenapa ya Allah, masa lalu yang sudah berusaha Asiyah kubur dalam-dalam bersama kenangan nya, tiba-tiba muncul begitu saja bagaikan angin yang berhembus tanpa permisi. Sekarang aku harus bersikap bagaimana?. Berpura-pura tidak mengenal dirinya?. Itu tidak akan mungkin terjadi, laki-laki itu yang pernah menjadi bagian di masa lalu hidupku. Mana bisa aku berpura-pura tidak mengenal nya?. Tapi, mengaku sudah saling kenal pun tidak akan mungkin, apa yang akan dipikirkan oleh dua bocah kecil yang tidak tahu menahun tentang semua ini?.
"Allahumma laa sahla illa maa ja’altahu sahlaa, wa anta taj’alul hazna idza syi’ta sahlaa” [artinya: Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah. Dan engkau menjadikan kesedihan (kesulitan), jika Engkau kehendaki pasti akan menjadi mudah]. (HR. Ibnu Hibban 3/255)".
Aku berdoa memohon kemudahan. Abi dan Umi selalu mengajarkan doa ini padaku. Mereka menyuruhku untuk membaca doa ini ketika diriku sedang dalam kesulitan, dan menginginkan kemudahan dalam menghadapi nya. Aku yakin, kemudahan hanya akan datang dari Allah, dan Sesuatu yang sulit sekalipun bisa menjadi mudah jika Allah kehendaki. Hanya kepada Allah lah hatiku bergantung, bukan bergantung pada diri sendiri yang lemah. Percaya atau tidak jika hati terlalu yakin atau terlalu PD (percaya diri) sehingga melupakan Rabb di atas sana, maka sungguh urusan tersebut akan semakin sulit. Ingatlah bahwa barangsiapa yang senantiasa bertawakkal pada Allah, maka Allah akan mempermudah urusannya.
Aku mengambil cadar yang tersimpan di lemari. Aku memakai cadar senada dengan jilbabku. Mau tidak mau aku harus tetap menemui mantan suamiku dengan putra nya. Bagaimanapun kedepannya nanti, aku hanya bisa pasrah. Kedua kakiku rasanya sangat berat untuk melangkah, semoga saja Mas Fatih segera pulang dari rumahku. Nafasku sebenarnya sesak dan tidak bisa bernafas lega. Aku berkeringat dan gemetar. Bukan karena aku masih memiliki perasaan dengan mantan suamiku, tapi karena memang semua ini terjadi begitu sangat cepat.
"Umi sini".
__ADS_1
Marwah putriku langsung memanggil dan menyuruhku untuk duduk, begitu melihat Umi nya muncul dari dalam rumah.
" Ayah nya Ilham. Ini Umi nya Wawa. Maaf yah, tadi Umi langsung masuk. Soalnya Umi nya Wawa nggak boleh ketemu tamu laki-laki kalau tidak pake cadar. Jadi tadi Umi nya Wawa langsung masuk buat pakai cadar dulu ".
" Memang nya kenapa Umi nya kamu harus pakai Cadar? ".
" Ilham, Umi nya aku kan cantik. Jadi harus pakai cadar. Biar cantik nya Umi cuman untuk Abi nya aku saja. Iya kan Umi? ".
Marwah putri yang sangat cerdas. Sekali di beri tahu dan pemahaman dia langsung mengerti. Bahkan hari ini, Wawa menjelaskan pada teman laki-laki nya Ilham, tentang alasan Umi nya mengenakan cadar. Aku bahkan tidak menyangka, Marwah akan menjelaskan itu semua di depan Ilham juga di depan laki-laki yang merupakan mantan suami Umi nya. Aku hanya mengangguk kan kepala pelan. Mengiyakan konfirmasi dari Marwah. Suasana sangat canggung. Mas Fatih hanya diam, begitu juga dengan aku. Aku tidak tahu, harus mulai bicara dari mana?. Hatiku kacau, aku gemeteran. Was-was dan sangat takut Mas Fahmi suamiku akan salah paham dengan apa yang dia lihat sekarang. Sebentar lagi, suamiku dan Ibu mertuaku pasti akan segera pulang. Aku harus menjelaskan apa pada mereka?. Mulutku seperti terkunci, tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutku sedari tadi. Detik jarum jam rasanya berputar sangat lama, bahkan mungkin malah tidak berputar sama sekali.
"Ayah, kenalkan diri Ayah pada Umi nya Wawa".
" Ehh... oh i-iya nak. Ayah sudah kenal kok".
Suara Mas Fatih gugup.
"Hah?, Ayah nya Ilham sudah kenal Umi nya Wawa yah? ". Suara Wawa terdengar sangat gembira.
" Eh, be-belum nak Wawa. Maksudnya, Ayah nya Ilham sudah tahu, kalau Itu Umi nya Wawa".
"Oh, kirain sudah kenal. Oh iya, Maaf yah Ayah nya Ilham. Abi nya Wawa sedang tidak ada dirumah. Tapi sebentar lagi akan pulang kok".
Ah, seandainya nak Ilham tahu. Kalau Ayah nya dulu pernah sangat dekat, sedekat nadi dengan Umi nya Marwah. Bahkan tanpa kamu merengek memaksa Ayah mu, untuk memperkenalkan diri pun. Umi nya Marwah sudah sangat mengenal nya dengan baik. Jauh lebih mengenal dari pada kamu nak Ilham.
"Eh-iya. Maaf, Saya Fatih. Saya Ayah dari nak Ilham. teman Marwah".
Aku hanya mendengarkan dan masih menunduk. Aku tidak berbicara apapun didepan Mas Fatih. Aku tidak mau melihat dan memandang nya lagi. Cukup tadi saja, aku tanpa sengaja menatap lekat pada nya.
" Umi, ayok Umi gantian beri tahu nama Umi pada Ayah nya Ilham".
Sekarang malah Marwah yang merengek dan memaksaku untuk berkenalan dengan Ayah temannya.
"Tidak perlu nak. Nanti saja. Kita tunggu Abi pulang yah".
Jawabku memberi pengertian pada Marwah.
" Kenapa harus menunggu Abi pulang Umi?. Itu akan sangat lama. Kan Umi tinggal kasih tahu saja. nama Umi sama Abi nya Ilham ".
Marwah masih mendesak ku. Dia bertanya-tanya kenapa Umi nya untuk memperkenalkan diri saja sangat sulit dan cenderung menolak berbicara. Baiklah, dari pada Wawa semakin penasaran dan memikirkan yang tidak seharusnya. Ada baiknya aku sebutkan saja namaku di depan tamu yang sebenarnya tidak membutuhkan aku untuk memperkenalkan diri.
__ADS_1
"Aisy... ".
" Aisyah Fatimatul Salwa".
Belum selesai aku menyebut namaku, Mas Fatih sudah lebih dahulu menyebut namaku bahkan lengkap dengan nama panjang ku. Jujur, aku risih dan tidak suka mendengar dia memanggil namaku, apalagi selengkap itu. Kenapa laki-laki ini masih saja mengenal nama panjang diriku, dan ah, Aku baru sadar, baju yang dikenakan dia adalah pemberian dariku dulu. Sebenarnya apa maksud dia datang kemari dengan mengenakan baju hem yang bertahun-tahun lamanya aku berikan pada nya dulu?. Baju yang dulu, aku berikan dengan penuh kasih dan cinta pada suamiku, ya saat itu memang Mas Fatih masih lah suamiku dan belum terbagi dengan perempuan lain yang bernama Siska. Apa yang sebenarnya dia inginkan?. Jangan-jangan Mas Fatih sudah tahu?, kalau Umi nya Wawa adalah Aisyah mantan istrinya dulu?. Tapi seperti nya tidak mungkin, karena saat pertama aku keluar dari dalam rumah ke ruang tamu. Wajah Mas Fatih sama shock nya denganku. Bahkan wajah nya berubah menjadi pucat pasi.
"Wahh... dari mana Ayah nya Ilham tahu nama panjang Umi nya Wawa?".
Marwah putriku merasa heran, orang tua temannya hafal nama panjang Umi nya. Sungguh, aku sangat kesal dengan dia. Untuk apa dia menyebut namaku selengkap itu di depan putriku Marwah.
" Oh, Ayah nya Ilham baca dari daftar nama orang tua siswa di sekolah Marwah yang lama nak".
"Ooo... ".
Jawab Wawa manggut-manggut.
Aku yakin, Mas Fatih berbohong pada putriku. Dia tidak mungkin melihat daftar nama wali siswa di sekolah Marwah yang lama. Kenapa mereka tidak juga lekas pulang dari sini?. Padahal sedari tadi aku sengaja cuek dan lebih banyak diam. Agar Mas Fatih merasa kikuk dan tidak enak, kemudian langsung pamit pulang. Ini sudah sepuluh menit berlalu. Tapi laki-laki ini masih saja tidak pamit untuk pulang. Bagaimana lagi caranya agar dia segera pulang?.
"Umi, biasanya Umi kalau ada tamu buat teh sama bawa makanan. Kok sekarang engga? ".
Lagi-lagi Wawa mempersulit situasi Umi nya. Rasanya ingin mengatakan, itu sengaja agar Ayah nya temannya itu cepat pulang dari sini.
Aku berdiri dan akan kebelakang untuk membuat minuman yang sedari tadi memang sengaja tidak aku suguhkan. Kalau saja bukan karena ada nak Ilham sudah aku suruh Mas Fatih segera pulang dari sini. Aneh, kenapa dia kesini tidak bersama istrinya?. Kemana mamah nya Ilham. Apa sedang sibuk?, makanya mereka tidak ikut kemari. Entahlah, aku tidak mau pusing memikirkan yang tidak penting.
"Oh, tidak usah. Kami mau pamit pulang".
Ah, akhirnya. Laki-laki ini akan pergi juga dari rumahku. Rasanya sangat bahagia mendengar dia mengatakan itu, kenapa tidak dari tadi saja.
"Ayah, kenapa cepat sekali mainnya. Kan Ayah belum bertemu dengan Nenek dan Ayah nya Wawa. Jangan pulang dulu Ayah. Ilham bahkan belum mendengar cerita Wawa tentang sekolah baru nya".
Astaghfirullah Ilham. Aku hanya bisa mengucap istighfar dalam hati. Kenapa anak-anak tidak pernah peka dengan keadaan. Sudah bagus Ayah nya akan pamit pulang, nak Ilham malah tidak mau pulang. Hanya bisa pasrah rasanya. Aku bahkan belum duduk kembali di tempatku semula.
"Lain waktu saja nak cerita nya. Nanti bisa lewat telepon yah. Ayah ada urusan kantor".
" Ayah, ini kan hari minggu. Memang nya urusan kantor apa? ".
Ayah dan anak malah saling negosiasi. Alhasil aku memilih duduk kembali, meskipun kursi yang aku duduki terasa seperti ada jarum nya. Jarum yang menusuk hebat, hingga aku tidak ingin duduk kembali di kursi yang sama. Dingin dan diam, hanya itu yang aku lakukan. Aku hanya berdoa, agar semuanya baik-baik saja. Sudah hampir jam sebelas, sebentar lagi Mas Fahmi pasti akan sampai rumah. Semoga saja sebelum Mas Fahmi pulang, laki-laki ini sudah tidak ada di rumahku lagi untuk bertamu.
"Assalamu'alaikum... ".
__ADS_1
Mas Fahmi, mengucapkan salam dari depan gerbang rumah.