Madu

Madu
Episode.56 (SEASON 2)


__ADS_3

tiga bulan berlalu, semenjak kejadian Bunda Layla yang menyebut diriku sebagai calon istri dari anak nya. Keluarga mantan suamiku tidak lagi mengganggu diriku dan mas Fahmi. Tapi inilah hidup, ujian datang silih berganti. Roda pasti berputar. Layaknya bunga, kadang mekar indah kadang juga tidak mekar sama sekali. Bagiku, ini adalah ujian terberat dalam hidupku setelah hancurnya rumah tangga ku yang dulu. Bahkan, ini jauh lebih mengerikan. Sebuah cobaan hidup yang aku yakin, bisa membuat patah semangat bagi siapa saja yang merasakan nya langsung. Sudah hampir seminggu lamanya. Laki-laki yang tujuh tahun lalu mengikrarkan janji sehidup semati denganku, terbaring koma. Suamiku, yang bahkan tidak pernah sedikitpun aku menyangka. Bahwa orang sebaik Mas Fahmi akan selalu diberikan ujian yang begitu berat dari Nya. Koma, adalah tingkatan paling dalam pada seseorang ketika tidak sadarkan diri. Saat ini, Allah pilih suamiku yang harus merasakan yang namanya koma. Antara hidup dan mati, di ambang ketidakpastian makhluk lemah bernama manusia harus bisa bertahan. Dari maut mengerikan yang kapan saja bisa datang menjemput.


"Nak, berhenti menangis".


Suara lemah yang terus memberikan semangat padaku. Siapa lagi jika bukan Ibu mertuaku. Wanita terhebat yang pernah aku punya setelah Umi ku sendiri. Disaat seperti ini, Ibu bahkan sangat tegar. Seperti tegar nya Ibu, saat ditinggalkan oleh bapak untuk selamanya. Entah, dari mana Ibu belajar kuat dan bisa menjadi setegar itu. Bahkan diriku sendiri rasanya masih sangat lemah. Rapuh, dan mudah hancur kapan saja. Bagaimana tidak, seminggu yang lalu. Aku di buat jatuh pingsan, ketika ada seseorang yang ternyata tetangga rumahku sendiri, tergopoh-gopoh menuju rumahku. Dia memberikan kabar duka, bahwa laki-laki yang sangat aku cintai mengalami kecelakaan hebat. Tidak hanya melibatkan dua kendaraan saja. Tapi kecelakaan itu melibatkan setidaknya enam kendaraan. Empat mobil, dan dua mini bus. Lagi-lagi Allah pilih mobil yang dikendarai oleh suamiku dari keempat itu. Kecelakaan beruntun tak terelakkan terjadi, ketika sebuah mini bus mengalami rem blong dengan kecepatan tinggi. Kecelakaan itu terjadi, mini bus itu melibatkan para pengendara yang lain. Termasuk mobil yang di kendarai oleh suamiku yang kala itu sedang perjalanan menuju pulang kerumah. Tidak ada yang bisa aku lakukan selain jatuh pingsan dan tidak sadarkan diri, begitu mendengar Mas Fahmi dalam kondisi kritis setelah mengalami kecelakaan beruntun itu. Kecelakaan itu bahkan menewaskan sebanyak sepuluh orang nyawa.


"Ibu, Aisyah takut Bu".


" Nak, percayalah. Semua yang terjadi adalah kehendak dari Allah. Kamu harus menjadi kuat. Apapun yang akan terjadi".


"Ibu, perut Aisyah semakin besar. Aisyah takut Bu, sangat takut".


" Putriku, hidup dan matinya seseorang sudah ada yang mengatur nya nak. Bukan kah kematian sudah menjadi hal yang pasti akan terjadi?.  “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Jumu’ah: 8). Ingat dengan arti ayat diatas?. Bahkan jika kita lari pun, kematian pasti akan datang Aisyah. Juga dalam Al-Qur'an surat Ali Imran ayat 185 yang artinya bahwa “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.”. Kita semua akan mati nak. Hanya saja hanya Allah yang tahu waktu nya. Kita hanya sedang menunggu giliran Aisyah".


"Ibu, Aisyah tidak kuat jika harus melahirkan anak kedua Aisyah tanpa Mas Fahmi".


" Apalagi Ibu yang melahirkan Fahmi, Aisyah. Tapi kehidupan tetap harus berlanjut. Percayalah, Fahmi akan kuat melewati masa koma nya".


"Ibu, sudah seminggu suami Aisyah tidak juga sadarkan diri Bu. Rasanya sangat hancur. Aisyah tidak ingin kehilangan Mas Fahmi Bu".


Ibu mertuaku memeluk erat tubuhku. Aku terus menangis di pelukan Ibu. Tidak mampu rasanya menghadapi kemungkinan terpahit yang bisa saja terjadi. Kemungkinan terpahit, ketika maut memaksa diriku harus berpisah dengan Mas Fahmi apalagi dalam kondisi hamil seperti ini. Apa yang harus aku lakukan sekarang, seribu doa selalu aku langitkan setiap detik untuk meminta kekuatan dan kesembuhan dari suamiku. Jujur, rasanya aku ingin memeluk erat tubuh Mas Fahmi, mencium pipi nya. Dan membisikkan bahwa aku sangat takut kehilangan dirinya. Ingin rasanya aku menceritakan padanya, bahwa anak kedua nya semakin aktif dalam perut ku, ingin segera bertemu dengannya. Tapi, aku dibatasi oleh prosedur rumah sakit. Yang mengharuskan aku menjaga jarak. Suami terbaring seorang diri di ruang ICU. Tanpa boleh di jenguk oleh siapapun. Termasuk aku istrinya.


"Nak, sudahlah. Kamu bahkan belum makan sedari tadi. Ayok kita pulang dulu saja. Kasian Wawa, dari pagi di titipkan dirumah bude Nur. Dia pasti rindu dirimu. Dan bayi yang ada di perut harus mendapatkan hak nya nak".


" Tidak Bu, Aisyah tidak lapar. Ibu saja yang pulang. Aisyah tidak mau meninggalkan Mas Fahmi seorang diri disini Bu".


"Aisyah, kamu disini juga tidak bisa langsung menyentuh Fahmi. Pulang lah dulu, nanti setelah maghrib kita kesini lagi. Tubuh kita juga punya hak untuk diberi waktu istirahat sayang"


"Ta-tapi, Bu... ".


" Ayok, percaya pada Ibu yah. Jangan seperti ini, kasihan sama Ibu, Wawa, juga calon anak kedua kalian".


"Baiklah, Ibu ke depan duluan. Nanti Aisyah menyusul sebentar lagi".


" Yasudah, jangan lama-lama yah. Ibu tunggu di ruang tunggu lobby rumah sakit".


"Iyah Bu".


Mataku memandangi tubuh Ibu mertuaku yang berangsur-angsur meninggalkan diriku. Diriku yang masih berdiri di depan ruangan. Ruangan penghubung yang membuat diriku bisa melihat kekasih hatiku, meskipun dibatasi dengan kaca yang tebal.


" Mas Fahmi, Aisyah tahu Mas. Mas Fahmi adalah laki-laki yang kuat. Mas Fahmi laki-laki yang baik. Aisyah percaya, cinta nya Aisyah akan mampu melewati masa kritis ini. Mas Fahmi pasti bisa bangkit dan keluar dari masa koma yang selama ini memisahkan Aisyah dan Mas Fahmi. Hiks.. hiks...


Mas Fahmi, calon anak kedua kita. Semakin hari semakin aktif Mas. Sepertinya dia ingin segera bermain dengan Abi nya. Mas Fahmi harus sembuh yah. Harus kuat. Aisyah pamit pulang dulu yah Mas. Nanti habis maghrib Aisyah balik nemenin Mas lagi disini sayang. Love you".


Aku berbicara sendiri, tidak bukan sendiri. Tapi aku. berbicara dengan suamiku. Dia pasti mendengarkan semua ucapan diriku. Meskipun terhalang oleh kaca yang tebal. Mas Fahmi pasti mendengar semua ucapan ku barusan. Aku menyeka air mataku. Kaki ini rasanya sangat berat meski hanya melangkah sejengkal saja. Aku tidak ingin meninggalkan Mas Fahmi seorang diri, meskipun hanya sedetik saja. Tidak perduli rasanya, dengan banyak nya tetesan air mata yang mengalir karena menangisi kondisi suamiku yang sedang berjuang antara hidup dan mati. Langkah kakiku bergerak mundur, sangat berat. Tapi Ibu sudah cukup lama menunggu diriku di lobby rumah sakit.


"Ayok nak".

__ADS_1


" Iyah Ibu".


Aku tidak berkata apapun sepanjang perjalanan. Pandangan mataku hanya mampu melihat kearah jendela mobil. Mengenang semua kenangan indah dan manis bersama Mas Fahmi. Cadar ku basah dengan air mata. Ibu mertuaku bahkan tertidur karena beliau sangat ke lelehan menunggu Mas Fahmi dirumah sakit. Tapi mataku tidak bisa sedikit pun terpejam. Wajah Mas Fahmi selalu terbayang didepan mataku. Seolah-olah aku tidak boleh pergi meninggalkan dirinya sendirian dirumah sakit. Kenangan manis dan indah bersama dengan Mas Fahmi, bertebaran dipikiran ku. Tidak sedikit, aku juga membayangkan bagaimana jika akhirnya, Allah mengambil Mas Fahmi dari samping diriku. Rasanya duniaku mungkin akan lumpuh. Sedikitpun rasanya aku tidak bisa kuat. Melahirkan seorang bayi, tanpa ada dukungan dari suami. Apa yang akan aku jelaskan pada bayi polos itu.


"Ya Allah, jangan ambil Mas Fahmi dari Aisyah. Aisyah belum sanggup".


Ucapku lirih sembari menyeka air mata.


" Nak?. Maaf Ibu tertidur terlalu lama. Sudah sampai? ".


" Tidak apa Ibu. Ibu pasti sangat letih. Sebentar lagi sampai ke rumah Bude Nur".


"Kamu tidak tidur nak? ".


"Bagaimana Aisyah bisa tidur Ibu. Sedangkan belahan jiwa Aisyah masih berjuang sendirian dirumah sakit".


" Pesan Ibu, jadilah wanita yang kuat nak".


"Akan Aisyah coba Ibu".


Mobil yang dikendarai oleh sopir berbelok kerumah Bude Nur. Marwah terpaksa harus dititip kan. Tidak mungkin membawa Marwah ke rumah sakit. Apalagi dia sekolah. Dan pasti, akan ada banyak pertanyaan yang keluar dari gadis manis yang cerdas ini. Meksipun sebenarnya tidak tega, menitipkan Marwah seperti ini.


" Sudah, biar Ibu saja yang turun nak. Kamu di mobil saja. Lagi pula kamu terlihat sangat lelah nak".


"Apa tidak apa jika Ibu yang turun? ".


"Baiklah Bu".


Benar apa yang diucapkan Ibu barusan. Tubuhku memang sangat lelah. Letih sekali rasanya. Apalagi dalam kondisi sedang hamil seperti ini. Beberapa hari ini, tenaga juga pikiran terkuras karena memikirkan Mas Fahmi. Jarang tidur, sering menangis, bahkan jadi sering lupa makan. Aku harus tetap kuat, Mas Fahmi butuh diriku. Tubuhku tidak boleh tumbang. Aku yakin, aku dan Mas Fahmi juga keluargaku bisa melewati ujian ini. Diriku harus tetap bisa bersyukur, meskipun sangat sulit. Diluar sana, pasti lebih banyak orang yang memiliki ujian lebih besar dari yang aku rasakan saat ini. Mas Fahmi pernah bilang padaku, apapun ujiannya. Aku harus tetap bisa bersyukur dan bersabar. Jika kedua kunci itu hilang, maka akan hancur semuanya.


"Assalamu'alaikum Umi".


Suara imut dari Marwah mengucapkan salam padaku. Wajah nya sangat ceria. Mungkin Marwah tidak tahu, bahwa Abi nya sedang terbaring koma. Karena Ibu yang menyuruh diriku untuk menyembunyikan fakta bahwa Abi nya Marwah koma karena mengalami kecelakaan hebat. Ibu tidak ingin, Marwah terganggu sekolah nya. Marwah harus tetap ceria. Marwah hanya tahu, bahwa Abi nya sedang berjuang. Abi nya sedang berkerja keras untuk bisa berkumpul kembali dengan dirinya dan juga keluarga nya yang lain.


"Waalaikumsalam sayang".


Ucapku terpaksa melempar sisa senyum yang bahkan hampir hilang dari hidupku.


" Umi, Marwah kangen Abi. Kapan Abi pulang? ".


Aku diam. Tidak tahu harus menjawab apa. Sedari tadi saja, aku berusaha untuk menahan agar tidak menangis didepan Wawa. Melihat wajah Marwah, rasanya menyakitkan. Teringat Mas Fahmi yang masih terbaring koma di rumah sakit. Hatiku sakit rasanya. Anak sekecil ini, sudah mendapatkan ujian yang berat. Yang datang silih berganti.


"Abi sedang sibuk cucuku. Nanti sebentar lagi paling telepon akan segera pulang untuk bertemu dengan putri nya yang cantik ini".


Kali ini, Ibu yang akhirnya menjawab pertanyaan Marwah padaku. Ibu nampak nya tahu, bahwa aku tidak kuat dan tidak mampu menjawab pertanyaan dari Marwah. Ibu bahkan mengalihkan pandangan Marwah, yang sedari tadi melihat dan memandangi diriku. Dengan begini, aku ada kesempatan untuk segera menghapus air mata yang tidak lagi terbendung tanpa diketahui oleh Marwah.


"Oma, kenapa sih. Abi sibuk sekali dengan pekerjaan di kantor nya. Padahal sudah tujuh hari loh. Abi tidak pulang. Memang nya orang kerja di kantor itu sangat sibuk ya Oma?. Abi emang tidak kangen dengan adik bayi dan Wawa ya? ".

__ADS_1


Marwah mulai protes pada Oma nya. Dia menanyakan kenapa Abi nya lebih memilih untuk terus bekerja dibandingkan berkumpul dengan dirinya dan calon adiknya.


" Nak, kan itu sudah jadi tugas laki-laki sayang. Kalau Abi nya Wawa tidak bekerja. Nanti siapa yang. mencari uang. Hayoo".


"Tapi Oma, Ayah nya temen Wawa juga bekerja. Tapi Ayah mereka selalu pulang setiap hari".


" Sayang, kan biasanya. Abi nya Wawa juga pulang nak setiap hari. Ini hanya karena Abi memang sedang sibuk saja. Makanya belum bisa pulang kerumah".


Ucapku yang akhrinya ikut angkat bicara. Menjelaskan pada putriku yang terus mendesak menanyakan perihal Abi nya.


"Drrrt.. drttt... ".


Ponselku berkedip. Ada panggilan masuk pada ponselku. Entahlah, siapa yang menelepon.


" Hallo, Assalamu'alaikum. Kami dari rumah Sakit Permata. Apa benar ini keluarga dari pasien atas nama Fahmi?".


"Ha-hallo. Iya benar Mba. Ada apa yah? ".


Jantungku berdegup kencang. Sebuah panggilan telepon masuk pada telepon seluler milikku. Ternyata panggilan itu adalah dari rumah sakit dimana suamiku dirawat. Berita apa yang akan aku dengar sekarang ya Allah. Semoga ini berita baik.


" Mohon maaf Ibu, saya mau menginformasikan. Bahwa pasien Fahmi sudah sadarkan diri. Silahkan pihak keluarga bisa melihat kondisinya. Tapi tetap patuhi semua prosedur rumah sakit yah. Sekarang pasien masih tetap berada di ruang ICU".


"Alhamdulillah ya Allah. Terimakasih banyak mba untuk Informasi nya. Baik nanti kami akan segera kesana".


" Baik Bu, kami tutup dahulu telepon nya. Selamat Sore ".


" Sore".


Apa yang aku dengar barusan, rasanya seperti angin segar yang berhembus lembut. Berita bahagia akhirnya aku dapatkan. Suamiku melewati masa koma nya. Mas Fahmi ku kuat menghadapi kritis nya. Layaknya orang yang sedang berpuasa seharian, aku seperti meneguk segelas es teh. Benar-benar menyegarkan sekali. Alhamdulillah ya Allah.


"Siapa Aisyah?. Ada kabar apa?! ".


"Ibu. Hiks.. hiks.. tadi dari rumah sakit Permata Bu".


" Ada apa nak?!. Mereka memberi kabar apa barusan?! ".


" Bu, Mas Fahmi Bu. Alhamdulillah Bu. Mas Fahmi sudah sadarkan diri Bu".


"Alhamdulillah ya Allah. Benarkah itu? ".


" Iyah Bu, sekarang mas Fahmi masih diruang ICU".


"Baiklah. Maghrib nanti kita langsung ke rumah sakit yah nak".


Ibu dan aku saling berpegangan tangan. Rasanya sangat membahagiakan. Untung saja, Marwah tertidur. Jadi dia tidak mendengar dengan sadar apa yang barusan aku bicarakan dengan Ibu.


" Terimakasih ya Allah. Sudah memberikan kesempatan pada suami Aisyah agar bisa berkumpul kembali dengan anak dan istrinya".

__ADS_1


Doaku lirih dengan senyum yang sedikit tergurat pada sudut bibirku.


__ADS_2