
Jalanan menuju tempat yang aku dan mas Fahmi tuju lumayan terpencil. Aku bahkan baru tahu, jika ternyata kota Solo memiliki jalan persawahan yang sangat sejuk. Mungkin ini karena aku yang jarang atau bahkan hampir tidak pernah pergi-pergi. Sepanjang perjalanan aku sangat menikmati suasana dan semilir angin yang terus menerus berhembus tanpa ada rasa lelah. Nampaknya mas Fahmi memilih kendaraan yang tepat. Ya, motor. Menggunakan motor jadi teringat saat aku mengenakan becak. Udara disekitar bisa langsung aku rasakan, meskipun menggunakan becak lebih nikmat dibandingkan dengan motor. Laju becak lebih santai dari pada laju motor. Dikanan dan kiri, yang terlihat oleh kedua bola mataku hanyalah tanaman-tanaman padi yang bervariasi, sebagian ada yang sudah berwarna kuning, sebagiannya lagi ada yang masih berwarna hijau. Benar-benar pemandangan sangat indah.
Sejujurnya aku tidak tahu. Kemana sebenarnya mas Fahmi akan membawaku pergi?. Dia orang Jogja, tapi kenapa dia bisa mengetahui tempat seperti ini di Solo?. Jujur, sebenarnya aku sedang tidak ingin pergi kemanapun. Hatiku masih belum bisa menerima kenyataan pahit yang menurutku tidak akan pernah aku lupakan. Hanya saja, aku ingin menurut dengan laki-laki yang kini telah menjadi suamiku.
Motor yang aku dan mas Fahmi kendarai berhenti disalah satu rumah. Rumah ini dilengkapi gerbang bambu yang sangat menarik. Dikanan kirinya terdapat beberapa jenis bunga Bougenville dengan berbagai warna. Entah, rumah siapa ini?, apakah mas Fahmi memiliki saudara disini?.
"Ayok dik,".
"Sudah sampai mas?, ini rumah siapa?,".
Tanyaku pada mas Fahmi yang dengan sigap membantuku melepaskan helem yang kukenakan.
"Sudah, nanti juga kamu tahu kalo sudah masuk kedalam dik. Ayok dik, kita masuk sekarang saja,".
"I-iyah mas,".
Aku berjalan disamping mas Fahmi. Tanganku digenggam olehnya. Tapi aku berusaha melepaskan tanganku dari genggamannya. Aku masih belum terbiasa bersentuhan dengan mas Fahmi. Apalagi didepan umum, meskipun itu hanya sebatas bergandengan tangan. Butuh waktu bagiku untuk bisa memulai itu semua kembali seperti dulu. Aku membuntuti mas Fahmi yang kini berjalan didepanku. Awal masuk kedalam, tidak ada yang menarik atau bahkan istimewa. Yang aku lihat hanya ada beberapa pot bunga bekas dan yang baru. Serta peralatan untuk berkebun. Aku tidak habis pikir dengan keputusan laki-laki ini membawaku ke tempat ini.
"Dik, siap-siap ya,".
Ucap mas Fahmi sembari menggandeng tanganku lagi, genggaman ini lebih kuat dari sebelumnya. Aku tidak bisa melepaskannya selain pasrah dan mengikuti kemana mas Fahmi akan membawaku.
"Siap-siap?, memamgnya kenapa mas?,".
"Tidak apa-apa. Mas hanya berharap semoga kamu bisa sedikit senang dengan usaha mas yang satu ini,".
"Kita mau kemana mas?, ini sebenarnya tempat apa?, kok sepi sekali?,".
"Pokoknya ini tempat yang mas berharap kamu bisa suka dik,".
Mas Fatih membawaku melalui beberapa lorong-lorong kecil. Lorong yang sengaja di buat untuk menjadi daya tarik, namun bagiku tidak ada yang menarik. Sepanjang lorong hanya ada tulisan pepatah-pepatah, atau bahkan beberapa lukisan abstraksi yang memang terlihat sangat indah. Aku enggan bertanya lebih pada mas Fahmi. Sepanjang jalan aku hanya diam dan mengikuti tarikan tangan mas Fahmi.
"Dik, semoga mas berhasil dan kamu suka,".
"Berhasil apa mas?,".
Aku tidak mendapatkan jawaban apapun dari mas Fahmi. Tiba-tiba setelah memasuki pintu bambu yang bertuliskan "Welcome on The Paradise". Kedua bola mataku tak mampu berkedip, aku seperti manusia yang tersihir, hanya mampu diam dan ternganga melihat pemandangan yang sekarang terpapar didepan mataku. Aku merasa semua ini adalah mimpi, selama beberapa detik aku tidak bereaksi apapun. Aku hanya berkaca-kaca.
"MasyaAlloh, indah sekali tempatnya,".
Aku kembali asyik menikmati pemandangan yang ada. Suasana yang mendung, sangat mendukung sekali, semilir angin dari persawahan padi menambah lengkap keindahan ini. Apakah ini yang orang-orang bilang negeri diatas awan?, ya Allah sungguh indah ciptaan-Mu.
__ADS_1
"Ayok dik, kita jalan kesana,". Ucap mas Fahmi sembari menggandeng tanganku lagi. Kali ini aku bahkan tidak bisa berkata apa-apa selain berkaca-kaca melihat semua yang ada. Aku tidak pernah tahu, jika ternyata kota Solo memiliki keindahan tersembunyi seperti ini, keindahan yang masih sangat asri. Keindahan yang masih berusaha bertahan di tengah-tengah tua nya dunia.
"Dik, kamu bisa sepuasnya untuk memetik, dan merangkai seluruh bunga yang ada disini. Kamu bisa membawanya pulang,".
"Mas Fahmi?,".
"Iya dik?,".
"Tempat ini sangat indah sekali. Benar-benar sangat indah mas. Aisyah baru pertamakali merasakan keindahan seperti ini secara langsung,".
"Apa kamu senang dik?, apa kamu bahagia?. Oh, atau?, apa kamu suka?,".
Aku bertanya pada Aisyah yang masih saja terpana melihat keindahan dan pemandangan yang ada. Matanya berkaca-kaca, Aisyah diam tak berkutik. Dia mirip orang yang sedang disihir. Aku sangat berharap bisa membuat Aisyah bahagia, dan tentunya aku bisa merasakan senyumnya yang tulus tanpa beban. Aku ingin mendapatkan itu dari Aisyah. Selama ini, Aisyah hanya pura-pura kuat dan bahagia didepanku. Mungkin dia tidak ingin laki-laki yang kini menjadi suaminya ikut merasakan beban besar seperti yang sedang dialami olehnya. Bahkan aku sendiri tidak tahu, beban apa sebenarnya yang sedang istriku pikul?.
Berhari-hari aku berusaha mencari tempat yang bisa membuat Aisyah bahagia. Aku browsing kesana kemari mencari sebuah tempat yang mungkin Aisyah suka. Yup betul, aku hanya bisa berkata mungkin. Karena aku belum mengetahui banyak apa yang Aisyah suka, dan apa yang tidak. Bagaimana aku bisa berkenalan dengan jauh dengan istriku?, sedangkan sehari-harinya aku dan Aisyah hanya berbicara hanya untuk sekedar menyapa, atau diskusi sedikit. Selebihnya istriku Aisyah lebih suka diam. Aku belum berani bertanya, tentang apa yang terjadi ketika akad seminggu yang lalu. Saat ini aku hanya bisa bersabar, dan menelan rasa bingungku, penasaranku, dan rasa tidak enak yang lainnya. Hanya itu, tapi aku masih berharap aku tidak hanya memiliki Aisyah dari fisiknya saja, tapi juga batinnya. Detik ini, aku merasa belum memiliki Aisyah seutuhnya, tapi aku yakin suatu saat aku bisa mendapatkan itu. Aku hanya bisa berbaik sangka pada istriku saat ini.
"Mas..,".
Aisyah tidak menjawab pertanyaanku, dia malah berjalan seperti orang yang tersihir. Dia hanya memanggil namaku, dan kemudian pergi meninggalkanku. Aku berpikir, apakah Aisyah suka dengan tempat yang sudah susah payah aku carikan untuknya?. Aku sedikit berlalu menyusul Aisyah yang kini sedang asyik menciumi beberapa bunga.
"Mas, Jazakallahkhoyr,".
"Apa kamu bahagia dik sayang,".
"Alhamdulillah ya Allah,". Ucapku begitu setelah mendengar pernyataan Aisyah padaku. Usahaku tidak sia-sia.
"Mas Fahmi dari mana bisa tahu ada tempat seindah ini?,". Aku bertanya pada suamiku yang dari tadi hanya diam memandangiku.
"Rahasia,". Ucap mas Fahmi sambil terus tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca melihat kearahku.
Aku tidak pernah sedikitpun terpikirkan akan dibawa oleh mas Fahmi ke tempat yang seindah ini. Tempat yang lumayan luas, ini adalah surganya para pecinta bunga. Ada banyak sekali jenis dan nama bunga disini, bahkan aku yang mengaku sebagai pecinta dan sangat suka dengan bunga pun, ada yang aku sendiri baru lihat, ternyata ada bunga seperti ini dan itu. Disebelah utara kebun bunga ini, aku bisa melihat dengan jelas perbukitan yang sangat asri, sedangkan dari arah selatan dari kejauhan bisa terlihat hamparan sawah yang tadi baru saja aku lewati. Semua bunga disini terawat sangat indah, semuanya bermekaran sangat segar.
"Dik, maukah kamu ajari mas untuk membuat rangkaian bunga yang indah?,".
"Kenapa mas tiba-tiba ingin belajar merangkai bunga?,". Aku melihat dengan tatapan heran pada mas Fahmi.
"Ya nggak papa dik, jika nanti mas sudah bisa merangkai bunga, mas kan jadi bisa bikinkan kamu rangkaian bunga hasil karya mas sendiri,".
"Oh begitu, kirain mas mau buka bisnis toko bunga,".
"Wah, bisa juga tuh dik. Boleh lah kapan-kapan kita coba buka toko bunga ya dik. Nanti biar bunga abadi mas yang jaga toko nya,".
__ADS_1
"Bunga abadi?, siapa mas?,".
"Aisyah Fatimatul Salwa,". Ucap mas Fatih sambil mengelus lembut kepalaku.
"Iiih, apaan si mas,".
Ahhh, lagi dan lagi. Kata-kata itu dikeluarkan oleh mulut bidadariku. Haruskah aku bosan?, atau menjadikan kebiasaan?. Aku melihat Aisyah yang kemudian berlalu dan meninggalkanku. Aku hanya mampu menggelang-gelengkan kepala, tersenyum, dan kemudian menyusul istriku yang sedang asyik memetik beberapa bunga, setelah menyewa peralatan yang ada. Dari jauh, aku sangat tahu betul, bahwa Aisyah begitu sangat antusias dan bahagia. Itu terbukti dari semangatnya dia saat ini, saat sedang memetik beberapa bunga-bunga indah yang akan dia rangkai dan dibawa pulang.
"Dik, ini namanya bunga apa?,". Aku bertanya pada Aisyah, setelah aku menyusul dan menghampirinya.
"Ini namanya bunga Aster mas. Aster ini punya banyak warna dan jenis. Lucu-lucu sekali kan yah,".
"Iya dik, lucu dan cantik seperti kamu, pasti kamu habis ini bilang "iiih apaan si mas". Iya kan?, hayoo ngaku,".
"Hahaha.... mas jangan gitu dong. Aisyah malu,".
Ah, rasanya bahagia sekali mendengar tawanya yang begitu renyah dan tulus. Ini kali pertama aku mendengar tawa istriku setelah satu Minggu menikah dengannya. Selebihnya Aisyah hanya tersenyum dengan beban yang besar, yang aku sendiri tidak tahu menahu apa akar masalahnya. Aku sangat ingin tahu sebenarnya, apa yang terjadi satu Minggu yang lalu ketika setelah proses akad pernikahanku dengannya. Karena biar bagaimanapun, aku memiliki hak untuk tahu apa yang menjadi beban istriku. Aku ingin tahu apa yang sedang dipikirkan Aisyah. Haruskah aku bertanya pada Umi dan Abi mertuaku?, tapi sopankah jika aku menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada kedua orang tua istriku?, dan apa Aisyah akan marah jika aku mencari tahu pada Umi dan Abinya?. Astaghfirullah, aku harus bagaimana?. Aku juga tidak tahan jika sering melihat perempuan yang kini telah menjadi istriku terus-menerus melamun, menangis, dan bersedih. Aku menikahi Aisyah, karena aku ingin bisa membahagiakan dirinya. Tapi jika seperti ini keadaannya, aku juga tidak nyaman.
"Mas, apa kamu mau melamun saja?, tanpa mau bantuin Aisyah memetik bunganya?, katanya mau belajar merangkai bunga?,". Ucap Aisyah padaku. Benar saja, sedari tadi aku tengah asyik dengan pikiranku sendiri. Aku asyik memikirkan hal, yang aku sendiri tidak tahu akan kapan mendapatkan jawabannya.
"O-oh, i-iya dik. Maaf ya nas malah melamun. Sini mas bantu memetik bunganya. Tapi dik, mas tidak tahu bunga seperti apa yang harus diambil?,".
"Terserah mas saja, mau merangkai bunga yang mana. Asal saat memetik harus hati-hati ya, tangkainya jangan terlalu pendek. Jadi nanti saat dirangkai tidak susah,". Ucapku pada mas Fahmi.
Aku tidak tahu, apa yang sedang dipikirkan oleh mas Fahmi. Laki-laki yang satu Minggu yang lalu telah sah menjadi suamiku, melamun sangat lama. Entah apa yang sedang ada dalam pikiran mas Fahmi. Jujur, sebenarnya aku juga merasa bersalah. Aku belum bisa menceritakan tentang aku dan mantan suamiku mas Fatih. Aku tidak ingin teringat mas Fatih lagi, walaupun aku tahu, semakin ingin aku tidak mengingatnya. Maka akan semakin ingat aku padanya. Aku tidak membenci mas Fatih. Sudah kumaafkan segala salah dan khilafnya padaku. Aku harus bagaimana?, nyatanya perpisahanku dengan mantan suamiku mas Fatih begitu sangat menyakitkan dan nelangsa.
Aku kini memiliki mas Fahmi. Laki-laki yang mau menerima dan merangkul segala masa laluku. Tapi aku harus seperti apa?, nyatanya setelah kedatangan mas Fatih dan Bunda diacara akad pernikahanku dengan mas Fahmi, benar-benar menjadi beban dan pukulan terberat serta terbesar dalam hidupku. Bahkan saat itu, aku sampai tak sadarkan diri. Aku, mas Fatih, dan Bunda ternyata hanyalah korban. Kami berpisah dengan cara yang sangat menyakitkan. Benar-benar sangat menyakitkan. Tentu itu tidak mudah bagiku untuk secepat itu melupakan segalanya. Aku butuh waktu untuk bisa ikhlas dan benar-benar menjalani kehidupan rumah tanggaku yang baru. Mas Fahmi, aku sungguh tidak ingin mengecewakan dirinya. Aku terjebak. Aku menjadi serba salah. Tapi aku yakin, aku harus mampu dan harus bisa mengikhlaskan segalanya. Dan kembali lagi, aku hanya butuh waktu untuk merealisasikan itu. Tetapi, aku sendiri tidak tahu, kapan waktu mampu membantuku mengikhlaskan dan melepaskan, serta merelakan segala yang telah terjadi dalam hidupku. Aku manusia biasa, aku wanita biasa. Sekuat apapun aku berusa tegar, nyatanya ujian ini benar-benar sangat berat dan menyakitkan.
"Dik Aisyah, mas sudah dapat banyak bunga nih,". Ucapas Fahmi padaku.
Aku melihat, mas Fahmi dengan bahagianya menunjukan keranjang yang kini sudah berisi berbagai macam dan warna bunga yang sangat cantik.
"MasyaAlloh, sini mas. Kita rangkai,". Ucapku sembari menepi ke gazebo yang memang sudah disediakan untuk merangkai bunga yang sudah dipetik,".
"Oke,dik,". Ucap mas Fahmi yang kini menyusulku di gazebo.
"Sekarang pisahkan dulu, bunganya berdasarkan besar, dan warnanya ya mas. Agar nanti mudah saat akan merangkai bunganya,". Aku memberikan arahan pada mas Fahmi. Dan aku melihat mas Fahmi dengan sigap mengikuti perintah dan arahan dariku.
Semilir angin, dan cuaca yang mendung begitu menyejukkan. Mungkin ini akan menjadi tempat favoritku di Solo, setelah rumah. Jilbab dan cadarku bergerak terkena angin. Mas Fahmi nampak dengan sigap merapihkan cadarku yang tersingkap.
"Anginnya nakal ya dik, dia pengen melihat wajah cantikmu,". Ucapku pada Aisyah yang nampak malu.
__ADS_1
"Iiih, apaan si Mas,".
Lagi-lagi aku mendapatkan kata-kata itu. Yasudahlah, aku memang harus terbiasa mendengar kata-kata itu dari bidadariku ini. Aisyah mengajariku merangkai bunga dengan sangat telaten, hingga akhirnya aku mampu membuat rangkaian bunga yang jelas hasilnya sangat jauh jika dibandingkan dengan buatan tangan Aisyah. Setidaknya aku sudah mencoba, dan memang susah untuk laki-laki. Serta not bad lah, untuk pemula. Aku dan Aisyah pulang dan sampai dirumah sekitar pukul setengah empat sore.