Madu

Madu
Madu Ep.7 (SEASON 2)


__ADS_3

Hari ini keputusanku sudah bulat. Aku akan menuliskan sebuah surat untuk Aisyah. Aku sudah sangat yakin, jika langkah yang kuambil ini sudah tepat. Hari ini, setelah menyiapkan makan dan mengingatkan putraku Fatih untuk meminum obatnya, aku akan segera menulis surat untuk mantan menantuku Aisyah. Aku masih ingat betul, alamat rumah Aisyah. Setelah menulis surat, hari ini juga surat itu harus kukirimkan ke alamat rumah Aisyah melalui pos.


"Nak, makanlah. Setelah itu kamu minum obat yah. Sekarang sudah pukul sepuluh siang. Sudah jamnya kamu untuk minum obat,". Ucapku kepada Fatih yang duduk dikursi meja makan.


"Ya Bunda. Bun?, kapan Fatih bisa bertemu Aisyah dan makan bersama dalam satu meja?. Kemana si sebenarnya perginya istriku Bun?, kenapa dia tak kunjung pulang hingga begitu lama?,". Fatih menatap kearahku yang sedang mengambil makanan untuknya.


"Sebentar lagi putraku. Aisyah akan datang bertemu denganmu. Sekarang kamu makanlah nak, dan kemudian minum obatnya yah,". Aku menyodorkan sepiring nasi beserta sayur dan lauknya.


Aku memperhatikan putraku satu-satunya yang makan dengan lahap. Setidaknya fisik putraku sudah membaik. Nafsu makannya sudah kembali, dan tidurnya pun sudah teratur. Tinggal psikisnya yang semoga lekas membaik. Fatih mengikuti perintah Bundanya, dia meminum obat-obatan yang harus dia minum. Setelah itu, dia kembali ke kamar. Aku membereskan bekas makan putraku. Dan kemudian berjalan menuju kamar. Kertas dan bolpoint serta sebuah amplop sudah kusiapkan untuk menulis surat pada Aisyah.


Jakarta, 31 Desember 2015


**Teruntuk Putriku Aisyah Fatimatul Salwa


Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh.


Aisyah putriku?, apa kabar kamu di Solo?. Semoga kamu, suamimu, dan keluargamu sehat semuanya ya nak. Aamiin


Aisyah, sebelumnya Bunda minta maaf jika telah lancang mengirimi kamu sebuah surat ini. Sungguh Bunda sudah menahannya agar tidak lagi mengganggu kehidupan Aisyah. Maafkan atas kesalahan Bunda padamu ya nak. Tapi Bunda tidak ada pilihan lain nak, selain memberikan sepucuk surat ini padamu. Sebelumnya pun, Bunda sudah berusaha menghubungi telepon rumah dan nomor ponsel kamu. Tapi ternyata tidak ada satupun yang aktif. Bunda mengerti, Aisyah hanya berusaha untuk keluar dari masa lalu Aisyah dengan putra Bunda. Dan menguatkan hati dan pikiran untuk terus bisa melanjutkan kehidupan Aisyah yang baru.


Aisyah, Bunda mohon nak. Untuk kali ini saja, tolong Aisyah bantu Bunda. Terlepas dari kejadian pahit antara Bunda, Fatih putra Bunda, dan dirimu nak Aisyah. Bunda mohon, dan benar-benar memohon pada Aisyah nak. Hanya Aisyah yang In syaaAlloh bisa membantu keadaan seperti dulu lagi. Nak bisakah Aisyah datang ke Jakarta untuk menemui Fatih?. Sekali saja nak, Bunda mohon. Datanglah ke Jakarta nak. Aisyah lihat dari sisi kemanusiaan nya saja yah nak, jangan melihat dari hal yang lainnya.


Bunda bersyukur dan bahagia, Aisyah bisa terus melanjutkan hidup Aisyah dengan suami Aisyah yang baru nak. Bunda berharap putra Bunda pun bisa sama seperti Aisyah. Bunda ingin putra Bunda satu-satunya bisa terus melanjutkan hidup, menguatkan hatinya, dan mengikhlaskan segalanya. Tapi untuk mencapai itu, Bunda sangat butuh bantuan Aisyah, datanglah nak ke Jakarta. Meskipun hanya sekali, meskipun hanya hitungan jam saja. Bunda Mohon nak, Bantu Bunda. Saat ini, Bunda hanya memiliki satu-satunya seorang putra. Bunda tidak lagi memiliki siapapun Aisyah. Bunda tidak ingin kehilangan Putra Bunda. Akan hidup dengan siapa jika Bunda sampai kehilangan Fatih?.


Tolong Aisyah pikirkan baik-baik ya nak. Bunda tidak ada maksud lain nak. Selain menentukan nasib Fatih. Fatih sangat membutuhkan kamu sekarang nak. Bukan maksud Bunda menjebak Aisyah berada dalam masalah kami, bahkan tak ada sedikitpun niatan Bunda untuk merusak kebahagiaan Aisyah sekarang. Sungguh, Bunda benar-benar sangat membutuhkan kehadiran Aisyah ke Jakarta untuk menemui Putra Bunda yang sedang tidak baik-baik saja.


Bunda minta maaf ya nak, Bunda tidak bisa menjelaskan dan menceritakan secara detail kondisi dan keadaan Fatih sekarang padamu. Karena akan membutuhkan banyak pena dan kertas jika Bunda ceritakan segalanya. Datanglah ke Jakarta nak, dan kamu lihat sendiri bagaimana kondisi mantan suami Aisyah saat ini. Bunda tidak mengada-ada Aisyah. Tolong bantu Bunda dan Fatih atas rasa kemanusiaan dan persaudaraan.

__ADS_1


Mohon maaf nak, jika ada salah kata dalam surat yang Bunda tulis. Bunda tunggu kehadiran Aisyah ke Jakarta ya nak. Benar-benar sangat Bunda tunggu Aisyah. Semoga bisa secepatnya.


Salam kangen


Bunda dr. Layla.


Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh**


Aku melipat kertas itu dan memasukkannya kedalam amplop. Aku berjalan keluar rumah menuju ke kantor pos terdekat. Aku harus segera mengirimkan surat ini pada Aisyah sekarang juga. Surat itu kuserahkan pada petugas pos, dan kemudian membayar ongkos yang harus dibayarkan. Setelah urusan di kantor pos selesai. Aku segera kembali menuju rumah. Aku tidak ingin, ketika Fatih terbangun dia mendapati bahwa dirinya hanya seorang diri tanpa siapapun. Aku takut itu akan semakin memperburuk keadaan psikis yang bermasalah setelah merasa kesepian karena kehilangan Aisyah.


Aku melihat putraku masih tertidur. Efek dari obat yang di resepkan oleh dokter Heru, memang memberikan efen sedative (membuat kantuk atau memenangkan). Aku memilih tidak membangunkan Fatih. Dan kembali menuju ke kamar. Rasanya sangat lega sudah mengirimkan surat untuk Aisyah. Semoga Aisyah cepat membaca surat itu, dan tergerak hatinya untuk membantu dan datang ke Jakarta menemui Fatih. Terkadang aku pun merasa takut, aku takut salah mengambil langkah dan keputusan seperti dulu. Tapi kuberharap semoga kali ini, aku benar-benar mengambil keputusan yang tepat. Aku merebahkan tubuhku, tak terasa air mataku menangis. Kenapa begitu berat cobaan yang diberikan dalam hidupku?. Aku kehilangan segalanya, yang kupunya sekarang hanya seorang putra yang hati dan pikirannya sedang terperangkap karena belum bisa menerima kenyataan dan keadaan yang ada. Aku menengadah dan memandang langit-langit kamarku. Haruskah aku mencarikan seorang perempuan untuk putraku jika dia sudah sembuh?, atau aku membiarkan putraku memilih dan menentukan jalan hidupnya sendiri. Laki-laki itu, kemana dia sekarang?. Sangat disayangkan, hanya karena bisnisnya dia merelakan dan mengorbankan segalanya. Dia menghancurkan aku dan putra kandungnya sendiri. Seandainya dia tidak serakah, pastilah saat ini keadaannya akan baik-baik saja. Fatih tidak akan terpukul berat karena kehilangan, dan pastinya saat ini aku sudah memiliki seorang cucu dari Aisyah yang sangat lucu. Tapi faktanya, Allah menakdirkannya lain. Badai rumah tangga begitu besar, hingga kapal yang berpuluh-puluh tahun dipertahankan dan dijaga pun akhirnya karam. Sekarang aku hanya mantan pensiunan dokter, yang saat ini menangis meratapi diri dan nasibnya yang mengenaskan.


"Bunda?, Bun,". .


Aku mendengar suara putraku. Dia sudah terbangun dari tidurnya. Aku bergegas menuju ke asal suara Fatih. Aku melihat putraku sedang duduk di sofa depan ruang tv.


"Iya nak, ada apa putraku?. Kamu sudah bangun?,". Tanyaku pada Fatih.


"Bunda tidak dari mana-mana nak. Dari tadi Bunda menunggu kamu bangun. Jadi Bunda ikut tiduran didalam kamar Bunda. Ada apa sayang?,". .


"Bun, sampai kapan Fatih akan sendirian?,". Fatih melirik ke arahku tajam.


"Fatih sehat dulu, setelah itu baru memikirkan masalah pasangan ya nak,". Ucapku pelan pada putraku.


"Fatih sehat Bun. Fatih makannya banyak,".


"Nak, apa yang Fatih lakukan, jika Aisyah punya suami baru?, maksudnya Bunda jika Aisyah mencintai laki-laki lain?,".

__ADS_1


"Bunda bicara apa?, Aisyah itu perempuan baik-baik Bun, tidak akan Aisyah jatuh cinta sama laki-laki lain. Aisyah itu istri Fatih Bun. Dia tidak mungkin melakukan hal semengerikan itu. Lagi pula, kenapa Bunda berkata demikian?,".


"Bunda mengerti, Bunda hanya bertanya padamu nak. Jika Aisyah yang sangat kamu cinta, ternyata mencintai laki-laki lain. Apa kamu bisa mengikhlaskan Aisyah untuk orang lain nak?,". Aku bertanya hal demikian pada putraku, aku hanya menyiapkan mental dan perasaan nya jika Aisyah menghendaki akan datang bersama suaminya ke Jakarta untuk menemui Fatih putraku.


"Tapi Bun, Aisyah itu istri Fatih. Aisyah tidak mungkin mengkhianati Fatih Bun. Bunda kenapa si?, kenapa Bunda begitu ngotot kalau Aisyah akan mencintai laki-laki lain selain Fatih Bun?,". Nada bicara Fatih seperti tidak suka atas semua pertanyaan yang kuberikan padanya.


Sebagai seorang ibu, yang melahirkan dan membesarkan dirinya. Aku hanya ingin putraku satu-satunya sadar, jika Aisyah itu hanyalah bagian dari masa lalunya, Aisyah hanyalah mantan istrinya. Dan aku ingin putraku bisa kuat menerima segala hal yang ada. Sampai detik ini, Fatih masih menganggap bahwa Aisyah masih istri sah dirinya. Aku akan terus mengingatkan pada putraku, bahwa Aisyah bukan lagi hak dan miliknya. Aisyah telah memiliki kebahagiaan nya sendiri bersama laki-laki lain. Dan aku ingin putraku juga bisa seperti Aisyah. Bahagia dan melanjutkan hidupnya.


"Nak, Fatih tahu tidak?, bahwa cinta itu tentang pengorbanan. Bahwa cinta itu tentang bagaimana kita bisa bersabar, tentang bagaimana kita bisa ikhlas. Dan tentang bagaimana kita bisa melepaskan dan merelakan?. Dan terkadang nak, tidak selamanya yang kita cintai itu harus kita miliki putraku sayang. Ketika Fatih mampu melepaskan dan mengikhlaskan apa yang Fatih cinta, sesungguhnya itu adalah level mencintai paling tinggi nak,". Aku memberikan pemahaman tentang cinta dan mencintai pada putraku.


Aku tidak mendapatkan respon atau tanggapan apapun dari Fatih. Dia hanya diam dan kemudian meneteskan air matanya. Entahlah, apa yang mampu membuatnya menangis. Apakah dia bisa memahami yang baru saja Bunda nya ucapkan?. Semoga saja, apa yang tadi kujelaskan pada putraku bisa memberikan efek positif bagi psikis dan hatinya. Semoga dia bisa sedikit demi sedikit menerima kepergian Aisyah dalam hati dan hidupnya. Aku percaya, Allah memiliki rencana indah dibalik semua ujian yang sedang aku dan putraku jalani. Dan Allah lebih mengetahui, apa yang terbaik untuk Fatih dan diriku. Doaku tidak pernah berhenti tercurahkan untuk anakku satu-satunya.


"Nak?, kenapa Fatih menangis?, adakah salah dari perkataan Bunda barusan padamu?. Jika ada, Bunda minta maaf ya nak. Bunda hanya mengingatkan padamu, bahwa kelak orang yang saling mencintai akan dan harus siap kehilangan. Sama halnya Bunda yang sangat-sangat mencintaimu putraku. Ketika Bunda mencintai Fatih, maka Bunda juga harus siap kehilangan Fatih. Entah itu kehilangan untuk selamanya atau kehilangan karena hal lainnya. Jadi kuatkan hatimu nak, jadilah laki-laki yang tegar. Jika Fatih memang mencintai Aisyah, maka Fatih harus siap merelakan dan mengikhlaskan, apabila suatu saat nanti, Aisyah pergi dari kehidupan dirimu nak,". Aku tak tahan lagi, aku menyeka air mataku. Dan kemudian mengusap lembut pipi putraku.


"Bun?, bisakah Bunda memeluk Fatih?,". Ucap putraku sembari menitikkan air matanya. Dia melirik ke arahku. Wajahnya begitu sayu dan sangat nelangsa. Aku mengerti, dia sangat kehilangan dan kesepian.


"Sini nak, Bunda peluk. Kamu yang kuat ya sayang. Meskipun suatu saat kamu kehilangan Aisyah. Tapi Fatih masih memiliki Bunda nak. Bunda tidak akan meninggalkan kamu dalam kondisi apapun. Semampu Bunda, Bunda akan selalu ada untuk kamu. Jadi jangan khawatir putraku. Kamu tidak sendiri, kamu masih memiliki seorang Bunda yang sangat mencintaimu nak. Hiks... hiks... hiks...,". Aku menangis dipelukan putraku. Pun Fatih putraku yang juga sesenggukan menangis di pelukan Bunda nya.


Beginilah hari-hariku dengan putraku satu-satunya Muhammad Fatih yang sekarang masih dalam kondisi psikis yang tidak stabil. Setelah kejadian mengenaskan itu, dua keluarga langsung hancur dalam satu waktu. Iyah, dua keluarga. Keluargaku sendiri dan keluarga putraku dengan istrinya. Kami kehilangan orang-orang yang kami cintai. Para asisten rumah tangga kami, yang berpuluh-puluh tahun berkerja padaku pun, memilih mundur dan tidak berkerja setelah kejadian pahit itu. Aku hanya berusaha kuat untuk anakku. Tidak bisa dibayangkan, jika aku juga dalam kondisi yang sama dengan putraku. Sungguh sangat mengenaskan sekali nasibku dan nasib putraku Fatih. Setiap hari, aku hanya bisa menangis bersama putraku. Setiap hari pula, aku tidak pernah putus berdoa untuk segalanya. Termasuk untuk kesehatan putraku. Badai dan ujian hidupku dan putraku memang begitu dahsyat dan sangat besar. Tapi aku adalah seorang ibu, aku tidak boleh kalah. Allah telah menunjukku untuk menerima ujian ini dari Nya. Aku percaya, itu semua karena Allah tahu, bahwa aku mampu dan aku kuat melewati badai ini meksipun hanya berdua dengan putraku. Menangis bukan berarti aku lemah, itu hanya satu dari sekian banyak perwakilan dari begitu besarnya beban yang sedang aku jalani. Sangat manusiawi jika aku menangis, aku perempuan biasa. Tapi Allah jadikan aku menjadi lebih kuat untuk menghadapi segalanya saat ini.


Yang terpenting saat ini, putraku sembuh dan seperti sediakala. Setelah itu, aku akan menata masa depan dan hidup yang baru bersama anak semata wayangku. Aku tidak mungkin berjalan sendiri dan meninggalkan putraku. Biarlah saat ini, aku terdiam di zona yang sama, sampai Fatih benar-benar pulih dan bisa diajak kerja sama bersama Bundanya untuk bangkit dari segala keterpurukan dan duka lara. Aku yakin, akan banyak kebahagiaan yang akan kuterima bersama putraku atas kesabaran selama ini, menjalani ujian hidup yang Allah berikan pada kami. Roda kehidupan pasti berputar, tidak selamanya dalam posisi yang sama.


"Bun, kapan-kapan ajak Fatih ya Bun jalan-jalan,".


"Pasti nak, asal syaratnya Fatih harus kuat, harus sehat, dan harus segagah dulu yah. Nanti kita jalan-jalan sepuasnya ya nak,". Ucapku pada anakku sembari tersenyum padanya.


Sejujurnya aku trauma membawa Fatih keluar untuk pergi jalan-jalan. Jika keadaan psikologis nya belum pulih. Kejadian saat itu masih terngiang. Aku tidak ingin putraku terluka didepan banyak orang seperti saat itu. Itu sangat menyakitkan bagiku sebagai Bunda nya.

__ADS_1


"Sekarang mandi nak, setelah itu kita minum teh bersama ya. Bunda siapkan teh nya dulu, sembari kamu mandi ya nak,". Ucapku sembari mengecup kening putraku dan berlalu menuju dapur.


Aku melihat Fatih yang beranjak menuju kamarnya. Aku tersenyum, aku bahagia karena Allah masih memberikanku Fatih dalam hidupku. Setidaknya aku memiliki alasan dan kekuatan untuk menghadapi ujian hidup yang ada.


__ADS_2