Madu

Madu
Episode.51 (SEASON 2)


__ADS_3

"Aisyah!!. Aiisyaaahhhh!! ".


" Iyah Mas Fahmi. Ada apa Mas?. Kok tiba-tiba datang sambil teriak-teriak. Mas sebelum nya tidak pernah seperti ini? ".


"Diam!. Aisyah, Mas tidak bisa melanjutkan rumah tangga ini dengan dirimu lagi! ". Ucapku sembari berkacak pinggang, dan mondar-mandir tidak karuan.


"Ma-maksud Mas?!".


" Mulai detik ini, kamu aku talak!! ".


" Astaghfirullah!!. Mas Fahmi, sadar Mas. Mas kenapa sayang?. Kenapa pulang-pulang langsung berkata demikian. Istighfar Mas, cabut kata-kata Mas barusan. Hikkks... hikkks... ".


"Mas sedang tidak bercanda Aisyah".


Aku terpaksa melakukan ini pada Aisyah. Jujur saja, hatiku hancur. Rasanya sakit sekali harus mengucapkan perkataan yang aku sendiri sebenarnya tidak pernah ingin mengucapkan nya. Kata-kata yang bahkan tidak pernah aku pikirkan akan aku ucapkan pada Aisyah. Aku terpaksa, terpaksa harus merelakan Aisyah kembali dalam pelukan Fatih mantan suaminya lagi. Tulang-tulangku rasanya sangat sakit. Benar-benar menyakitkan. Aku harus berpura-pura membenci Aisyah dan mengatakan talak padanya, demi membayar hutang nyawa pada Bunda mantan suami dari istriku sendiri.


"Mas Fahmi, cabut kata-kata itu mas. Aisyah mohon Mas Fahmi. Hikkks... hikkks... ".


" Maaf, aku tidak bisa Aisyah".


"Salah Aisyah apa mas?. Jika memang Aisyah ada salah. Tolong beri tahu pada Aisyah. Aisyah akan meminta maaf dan akan memperbaiki kesalahan Aisyah".


" Kamu tidak ada salah apapun".


"Lalu kenapa, Mas Fahmi tega mentalak Aisyah?! ".


" Ma-Mas sudah tidak mencintai kamu lagi! ".


Hancur sudah segalanya. Mana mungkin aku tidak mencintai Aisyah. Justru, aku sangat mencintaimu Aisyah. Teramat sangat mencintai dirimu. Seandainya kamu tahu, mengatakan itu semua pada dirimu, seperti aku sedang memasrahkan diriku sendiri untuk di kuliti hidup-hidup. Sangat perih dan menyakitkan sekali Aisyah. Mantan mertua kamu, yang memaksaku untuk melakukan ini semua padamu. Jika saja, Mas tahu bahwa orang yang menolong mas di tragedi saat itu adalah Bunda dari mantan suami dirimu dulu, mungkin mas akan lebih memilih mati dari pada harus melakukan ini semua padamu. Faktanya, dia lah yang sudah menolong nyawa mas. Dan Bunda Layla, meminta mas untuk membayar hutang nyawa Mas padanya, hanya dengan membiarkan dirimu menikah dengan Fatih. Mas tidak ada keputusan lain, selain mengikuti keinginan mantan mertua kamu Aisyah.


"Aisyah mohon, jangan ceraikan Aisyah mas. Jangan tinggalkan Aisyah. Hikkkks... hiikks.. ".


Aisyah menangis, meraung-raung dan memohon padaku. Aisyah bahkan memegangi kakiku. Memintaku agar mencabut ucapan diriku barusan padanya. Sejujurnya aku sendiri tidak tega melakukan ini semua pada Aisyah. Tapi lagi-lagi aku dalam posisi yang sangat sulit. Sejujurnya bukan hanya Aisyah. Tapi hidupku juga akan hancur, karena perpisahan ini. Kenapa takdir selalu tidak berpihak pada diriku. Kenapa berkali-kali aku di uji dengan ujian yang sangat berat seperti ini.


"Aisyah mohon mas. Ya Allah, Mas Fahmi. Mas sudah janji. Akan selalu mendampingi Aisyah. Kenapa sekarang Mas membuang Aisyah begitu saja!!. Tanpa Aisyah tahu alasannya kenapa mas?! ".


" Sudahlah Asiyah. Mungkin sudah jalan nya harus begini! ".


" Tidak Mas, Asiyah tidak mau. Aisyah ingin membesarkan anak-anak kita bersama Mas. Aisyah tidak mau Mas. Mas Fahmi, Aisyah mohon. Hikkks... hikkks.. ".

__ADS_1


" Tenang saja, akan ada laki-laki yang menggantikan posisiku dalam hidupmu. Maaf, aku harus melakukan ini semua padamu ".


" Mas, Aisyah hanya mencintai Mas Fahmi. Tidak ada laki-laki lain di hidup Aisyah. Aisyah tidak ingin menjadi janda lagi Mas. Aisyah Mohon. Ya Allah, rasanya sangat menyakitkan Mas. Sangat sakit. Hikkks... hhikkks...!! ".


" Bangunlah Aisyah. Jangan seperti ini. Lagi pula kamu cantik, baik. Mas yakin akan ada laki-laki yang mau menikahi dirimu. Jujur mas juga tidak ingin semua ini terjadi, tapi kita hanya manusia biasa. Semuanya sudah dikehendaki seperti ini oleh Tuhan ".


" Tidak Mas, Aisyah tidak mau. Aisyah ingin menua bersama dengan Mas Fahmi. Hanya dengan Mas Fahmi. Apa alasan Mas menceriakan Aisyah dengan cara seperti ini. Aisyah yakin, Mas Fahmi masih sangat mencintai Aisyah!!. Mas Fahmi berbohong pada Aisyah!!".


"Dengar Aisyah, jangan membuat aku emosi lagi. Aku sudah tidak mencintai dirimu lagi. Sudah tidak ada lagi cinta di hatiku untuk mu!! ".


" Mas, ini tidak adil Mas Fahmi. Mas Fahmi tidak bisa menceraikan begitu saja. Lagi pula, Aisyah sedang hamil mas. Apa Mas Fahmi tega?! ".


" Sebenarnya tidak tega. Tapi ini sudah jalannya".


"Mas, Mas Fahmi tidak bisa menceraikan Aisyah dalam kondisi hamil seperti ini Mas!! ".


"Mas tahu itu. Tapi berkas perceraian sudah masuk ke pengadilan. Sambil menunggu kamu lahiran".


Mungkin, aku sudah menjadi laki-laki yang terpaksa jahat. Lebih jahat dari yang Fatih lakukan pada Aisyah. Sedari tadi, aku berusaha menahan air mata ku yang terus mendesak ingin keluar. Aku tidak boleh ketahuan hancur dan sedih di hadapan Aisyah. Sebisa mungkin aku memalingkan wajahku dari Aisyah. Aku tidak kuat melihat Aisyah seperti ini. Pernikahan yang seharusnya bahagia, harus terpaksa hancur. Kenapa harus aku yang ditakdirkan untuk menghancurkan pernikahan ku sendiri. Jika aku tahu ujungnya akan menyakiti banyak hati orang yang aku cintai, akan lebih baik nyawaku tidak tertolong saat itu. Kejadian seperti ini, sebenarnya juga membunuh diriku secara perlahan tanpa ampun. Siapa yang tidak menderita melihat orang sangat kita cintai harus hancur karena diri kita sendiri.


"Apa Mas sudah memiliki wanita lain, dibelakang Aisyah?!. Jawab Mas!. Hiks... hiikks... Kenapa Mas Fahmi tega menduakan Aisyah?!. Kenapa Mas Fahmi tega mengkhianati Aisyah!!".


"Mas Jawab!!. Hiks... hiks.. hiks".


Aisyah terus-menerus mendesak diriku. Meminta jawaban atas pertanyaan yang tidak aku lakukan sama sekali. Kelopak mataku sudah sangat panas. Aku sudah tidak kuat jika terus berada di dekat Aisyah. Rasanya menyakitkan sekali. Aku berjalan begitu saja, meninggalkan Aisyah yang masih terduduk di lantai sembari menangis tersedu-sedu tanpa henti. Kondisi Aisyah sangat memprihatinkan. Aku tidak kuat, aku sudah ingin menangis sekeras-kerasnya tanpa di ketahui oleh Aisyah.


"Mas Fahmi!!, jangan pergi Mas. Jawab pertanyaan Aisyah. Hiks... Baiklah kalau memang itu mau Mas. Aisyah akan pergi untuk selamanya dari kehidupan Mas Fahmi!!. Agar Mas Fahmi bahagia dengan wanita yang kini dicintai oleh Mas!!. Maaf!!, kalau Aisyah masih belum menjadi istri yang seperti Mas Fahmi inginkan".


Kurang lebih itulah kata-kata terakhir yang aku dengar dari Aisyah. Kata-kata Aisyah barusan, benar-benar menghancurkan diriku berkali-kali tanpa ampun. Aku memilih untuk duduk di teras belakang rumah, menangis sekeras-kerasnya. Meluapkan segala perih dan lara di hati. Meratapi kehancuran rumah tangga yang sudah susah payah dan mati-matian aku bangun. Kenapa ujian begitu besar. Kenapa badai ini begitu kuat, bahkan aku sampai kalah menghadapi semua ini.


"Abi, apa itu talak?. Kenapa Umi menangis sampai seperti itu setelah mendengar kata talak dari Abi? ".


Suara imut, tiba-tiba muncul dari arah belakang diriku. Sangat paham betul diriku, siapa pemilik imut ini. Aku langsung menengok ke belakang dan benar, Marwah putriku berdiri disana, tepat dibelakang diriku. Marwah dengan polos bertanya padaku, tentang makna talak dan lain sebagainya. Apa yang harus aku jelaskan pada buah hatiku. Aku semakin tidak karuan, mendengar pertanyaan dari gadis kecil yang tidak berdosa ini. Mana mungkin aku menjelaskan pada nya, bahwa talak itu artinya Umi dan Abu nya akan berpisah dan tidak lagi bersama?. Semuanya gara-gara diriku, anakku akan menjadi anak yang broken home dalam usia sekecil ini. Marwah pun menangis, entahlah apa yang membuat dia menangis. Atau sebenarnya dia tahu apa itu talak. Aku tidak bisa berkata-kata lagi, lidahku seperti mati. Sangat susah untuk mengeluarkan kata, meksipun hanya satu kata saja.


"Abi, kenapa Abi mengatakan. Kalau Abi sudah tidak cinta dengan Umi?. Apa itu artinya, Abi juga tidak cinta dengan Wawa? ".


Ya Allah, kenapa sangat berat ujian-Mu padaku. Apa dosaku sampai aku harus menerima ujian seberat ini. Apa salahku ya Rabb, kenapa lagi-lagi aku yang di pilih untuk memikul badai yang besar ini?. Sekarang apa yang harus aku jelaskan pada gadis kecil titipan dari-Mu ini?.


" Sini nak, peluk Abi".

__ADS_1


"Wawa tidak mau peluk Abi. Abi nya Wawa tidak pernah membuat Umi menangis. Abi nya Wawa juga sangat mencintai Umi".


" Nak.. ".


" Abi, jika Abi tidak mencintai Umi tidak apa-apa. Biar Wawa dan calon adek Wawa yang sayang dan cinta ke Umi".


Aku berteriak dan menangis sejadi-jadinya didepan putriku sendiri. Tersungkur sembari terus meraung. Rasanya sangat menyakitkan sekali. Benar-benar hancur semuanya. Perih sekali, aku tidak pernah menyangka Marwah akan mengatakan itu semua padaku. Sebegitu cinta nya dia dengan Umi nya. Bagaimana tidak hancur, putriku sendiri bahkan tidak mau memeluk diriku lagi. Marwah terlalu kecil, untuk aku jelaskan duduk permasalahan yang sebenarnya. Biarlah, jika nantinya putri ku juga akan membenci diriku karena telah menyakiti Umi nya. Mungkin ini cara Tuhan, untuk menjemput nyawaku secara perlahan-lahan.


"Fahmi!! ".


Kali ini Ibuku yang datang menghampiri diriku. Entahlah, kemana perginya Marwah. Mungkin dia masuk kedalam menemani Umi nya yang masih hancur karena diriku.


" I-Ibu".


Aku bangun dan mendongakkan kepalaku. Aku menatap wajah wanita yang sudah melahirkan diriku. Aku memandang nya lekat, dan sangat lekat. Ibu tidak berkata apapun lagi. Ibu hanya diam tidak bersuara memandang diriku yang masih bercucuran air mata.


"Plakkk!! ".


Tamparan keras mendarat tepat di pipiku. Seumur hidupku, baru kali ini Ibu menampar diriku. Baru saat ini aku merasakan sakitnya tamparan dari tangan Ibu. Aku semakin tidak berdaya, bertubi-tubi aku hancur. Duniaku gelap, sangat gelap. Tidak ada cahaya satu pun yang bisa menerangi langkahku esok. Marwah dan Ibu, mereka bahkan membenci diriku. Dengan siapa aku akan berbagi segala duka lara ku. Aku tidak memiliki siapapun untuk ku jadikan tempat berbagi, setidaknya untuk mengetahui bagaimana hancur nya aku saat ini.


"Ibu membesarkan dirimu, mendidik dirimu dengan kasih sayang. Bukan untuk menjadikan kamu, laki-laki yang mudah mengatakan talak pada wanita yang telah rela menjadi istrimu!!!. Bukan untuk menjadikan kamu, laki-laki yang mudah menyakiti hati perempuan!!".


"I-Ibu, dengarkan Fahmi Bu. Hiks.. ".


" Tidak ada yang mau Ibu dengar darimu, Fahmi. Ibu sudah mendengar semua yang kamu katakan pada Aisyah!. Ibu kecewa, Ibu tidak pernah menyangka, putra kebanggaan Ibu akan melakukan hal sekotor itu. Apa kamu tidak ingat!!, bahwa kamu juga memiliki seorang anak perempuan, Fahmi!. Aisyah juga seperti Marwah!!. Dia anak perempuan yang kamu nikahi untuk kamu lindungi dan kamu jaga!!. Bukan untuk di sakiti dan dicampakkan begitu saja!!. Apa kamu rela, jika Marwah diperlakukan seperti kamu memperlakukan Aisyah sekarang!!!. Kamu memang sudah tidak waras Fahmi!!. Ibu sangat kecewa padamu!!. Wanita sebaik Aisyah kamu sia-siakan hanya karena perempuan lain!!? ".


" Ti-tidak Bu!. Tolong mengerti posisi Fahmi. Hiks".


"Posisi apa lagi!. Jangan suruh Ibu untuk mengerti posisi kamu!. Dirimu sendiri saja, tidak bisa mengerti bagaimana hancur nya hati kami. Ibu, Marwah, dan terutama istrimu Aisyah!!. Pergi dari rumah ini Fahmi!! ".


"Tidak Bu!. Jangan usir Fahmi dari rumah ini!. Fahmi mohon Bu. Hiks... ".


" Ibu tidak sudi melihat wajah kamu lagi disini. Fahmi putra Ibu tidak sejahat kamu. Kamu bukan Fahmiku!. Pergi dari rumah ini sekarang! ".


Aku berlari dan memegang kaki Ibu. Meraung dan menangis seperti yang dilakukan Aisyah padaku. Ibu tidak mengatakan apapun, tapi aku tahu. Ibu juga menangis , ada air mata Ibu yang jatuh mengenai dahiku. Aku tidak hanya menyakiti Aisyah, putri ku Marwah, tapi aku juga menyakiti wanita yang sudah melahirkan diriku. Aku menghancurkan semua orang yang aku cintai. Jika aku harus pergi dari rumah ini, kemana aku harus melanjutkan hidup. Sebatang kara tanpa satupun keluarga. Sekarang, aku benar-benar hancur. Semua nya membenci diriku, tidak ada yang mau menerima diriku, bahkan Ibu kandungku sendiri. Aisyah memang pantas, mendapat cinta dan kasih sayang dari Wawa juga Ibuku. Ibu bahkan tidak mau mendengarkan penjelasan dari ku. Padahal, Ibu adalah harapan satu-satunya yang aku miliki. Tapi faktanya, Wanita yang melahirkan diriku juga mengusir anaknya sendiri dari rumah. Lebih sakit nya lagi, Ibu mengira aku menceraikan Aisyah karena ada wanita lain dalam hidupku. Aku tidak serendah itu.


"Maafkan Fahmi Bu, suatu saat. Ibu akan mengerti kenapa Fahmi melakukan semua ini. Fahmi sangat mencintai Ibu. Ibu adalah wanita yang sangat berarti dalam hidup Fahmi. Terimakasih Ibu sudah membesarkan Fahmi dan telah menyayangi Fahmi. Fahmi pamit Bu"..


Aku berjalan dengan gontai. Meninggalkan rumah yang sudah memberikan banyak kenangan. Lebih dari itu, aku sudah kehilangan segalanya. Semuanya yang sangat berharga dalam hidupku. Cinta, seorang anak, dan seorang Ibu kandung, kini aku kehilangan semuanya. Siapa yang harus disalahkan dalam semua ini?. Aku atau Bunda mantan mertua Aisyah?.

__ADS_1


__ADS_2