Madu

Madu
Episode.58 (SEASON 2)


__ADS_3

"Brukkk...!! ".


Ah, gara-gara terburu-buru, aku bahkan menabrak belanjaan seorang ibu-ibu.


" Ma-maaf Bu, saya tidak sengaja. Saya sedang buru-buru tadi".


Ucapku dengan terus membereskan belanjaan si Ibu yang jatuh berserakan karena tertabrak olehku. Aku bahkan tidak sempat melihat ke arah orang yang aku tabrak belanjaan nya tanpa sengaja.


"Tidak mengapa nak. Biarkan saja, nanti saya yang bereskan".


" Jangan Bu, Ibu tetap di sana. Ini salah saya, jadi harus saya yang bertanggung jawab dan membereskan belanjaan Ibu ini".


Tanganku masih sibuk, memunguti sayur dan buah yang menggelinding kesana kemari. Ceroboh sekali diriku, bahkan tidak bisa sedikit tenang saja. Jika sudah seperti ini, yang ada malah aku akan telat lama. Ditambah, rasa tidak enak dengan Ibu ini yang belanjaan nya beberapa ada yang rusak karena ulahku. Ada baiknya, aku ganti saja dengan uang, untuk buah dan sayur yang rusak. Aku tidak mungkin ada waktu untuk mengganti dengan barang. Atasan sudah menelepon ingin segera bertemu denganku untuk menandatangani sebuah kontrak kerja dengan kantor ku.


"Ma-maaf Bu, beberapa belanjaan Ibu ada yang rusak. Ini saya ganti saja dengan uang yah Bu. Maaf saya tidak bisa mengganti dengan barang lagi. Saya sedang buru-buru Bu. Sekali lagi maaf".


Ucapku dengan pandangan mata yang sibuk membuka dompet dan mengambil beberapa lembar uang pecahan lima puluh ribuan.


" Nak Fatih?! ".


" I-Ibu?. Jika tidak salah, ini Ibu nya Fahmi kan?. Ibu mertua nya Aisyah?! ".


" Iya nak, benar. Ibu adalah Ibu kandung Fahmi juga Ibu mertua Aisyah. MasyaAllah, lama sekali tidak berjumpa nak Fatih. Bagaimana kabar nya?".


"Seperti yang Ibu lihat. Alhamdulillah Fatih sehat. Ibu kok sendirian ke pasar?. Dimana Fahmi dan Aisyah?. Sudah lama saya tidak bertemu dengan mereka".


Tidak ada jawaban dari pertanyaan ku pada Ibu nya Fahmi. Tapi aku melihat ada guratan kesedihan dari wajah Ibu ini. Entahlah, apa yang barusan aku tanyakan adalah pertanyaan yang salah, sehingga membuat Ibu begitu sangat sedih. Ah, lagi-lagi aku sangat ceroboh.


"Maaf Bu, kenapa Ibu sedih?. Apa ada yang salah dari pertanyaan saya barusan. Jika iya, Fatih minta maaf Bu".


" Tidak nak. Pertanyaan kamu benar. Hanya saja Ibu tidak tahu harus menjawab apa padamu nak Fatih".


"Maksud Ibu? ".


" Apa nak Fatih sibuk?. Jika tidak, Ibu ingin menceritakan semuanya pada nak Fatih. Tapi jika sedang buru-buru, gampang lain kali saja Ibu ceritanya".


"Oh, sebenarnya sih sangat buru-buru makanya tadi sampai menabrak belanjaan Ibu. Tapi seperti nya, rekan kerja Fatih sudah keburu emosi karena menunggu lama. Jadi tidak mengapa, lagi pula Fatih juga sudah lumayan terlambat lama Bu".


" Apa tidak mengapa nak? ".


" Tidak apa-apa Bu. Tadi Ibu mau menceritakan apa sama Fatih, Bu? ".


" Baiknya kita bicara sambil duduk di bangku itu saja ya nak. Ibu terlalu tua, sudah tidak kuat untuk. berdiri terlalu lama. Tidak apa kan? ".


Ibu dari suami mantan istriku, mengajakku untuk duduk di salah satu bangku yang tersedia dekat pasar.

__ADS_1


" Oh, iya baik Bu. Maaf, Fatih malah tidak kepikiran sampai situ".


Aku dan Ibu mertua Aisyah duduk di bangku. Masih menunggu apa yang akan diceritakan oleh Ibu nya Fahmi. Sepertinya, sangat berat sekali cerita yang akan dibagi denganku. Mimik wajah Ibu, bahkan berubah menjadi sangat sendu. Ibu nya Fahmi, menghela nafas panjang dan kemudian mulai membuka mulutnya untuk bercerita padaku.


"Nak Fatih, tadi kamu tanya kenapa Ibu sendiri. Dan kemana Aisyah dan Fahmi? ".


"I-iyah Bu. Kemana mereka?. Fatih sudah lama tidak bertemu dengan Fahmi juga dengan Aisyah. Pasti cucu kedua Ibu sudah lahir yah. Dan sedang lucu-lucu nya. Pasti Fahmi sangat bahagia memiliki banyak buah hati". Ucapku bersemangat.


" Itulah nak. Entah harus dari mana Ibu menceritakan nya padamu. Kejadian itu terjadi sangat cepat nak. Rasanya bahkan masih seperti mimpi, mimpi buruk bagi Ibu khususnya, juga Aisyah pastinya".


Aku masih terdiam, masih menunggu cerita dari Ibu nya Fahmi lagi. Aku tidak berani banyak bertanya. Takut salah omong atau membuat suasana menjadi semakin tidak enak.


"Fahmi sudah meninggal dunia, nak Fahmi. Dan Aisyah kini menjadi seorang janda dengan dua anak yang masih kecil-kecil".


" Innalillahi wa innalillahi rojiun!. Apa Fatih tidak salah dengar Bu?!. Fa-fahmi meninggal dunia?!. Tapi kenapa Bu?!. Dan kapan?, ya Allah bahkan Fatih tidak mendengar kabar nya sama sekali".


Jujur, rasanya sangat kaget dan terkejut. Rasanya seperti tidak percaya, atau mungkin aku memang salah mendengar ucapan dari Ibu nya Fahmi barusan.


"Tidak nak Fatih, apa yang kamu dengar barusan adalah benar. Putra Ibu, Fahmi. Telah meninggal dunia sepuluh bulan yang lalu nak".


" Tapi kenapa Bu?. Apa Fahmi sakit?! ".


" Tidak, putra Ibu meninggal bukan karena sakit. Fahmi menjadi salah satu korban kecelakaan beruntun nak Fatih. Saat itu, Fahmi sedang dalam perjalanan pulang ke rumah setelah bekerja".


"Kecelakaan beruntun Bu?!".


Buliran air mata menetes dari pojok mata Ibu mertua Aisyah. Aku yakin, ini sangat berat baginya. Kehilangan putra yang sangat dicintai itu sangat menyakitkan. Apalagi ini adalah perpisahan untuk selamanya di dunia. Aku tidak pernah menyangka, Fahmi akan meninggal secepat ini.


"Ibu, yang kuat yah. Fatih yakin, Fahmi sudah tenang di sana Bu".


" Iya nak, hanya saja bertemu denganmu rasanya seperti Ibu sedang bertemu dengan Fahmi. Rindu sekali dengan Fahmi nak. Rumah bahkan terkesan sepi semenjak kepergian Fahmi untuk selamanya. Padahal saat itu, Fahmi sempat sadarkan diri dari masa kritis dan koma yang di hadapinya. Setelah hampir tujuh hari koma, Fahmi sempat sadarkan diri nak Fatih. Saat itu, jutaan rasa syukur mengalir dari bibir Ibu juga Aisyah. Tapi seperti nya, Allah hanya memberikan waktu sebentar pada Fahmi, untuk setidaknya melihat keluarganya untuk yang terakhir. kalinya. Kondisi Fahmi langsung drop kembali nak, tidak lama setelah dia sadarkan diri. Koma kedua ini lah, setelah berbagi daya dan upaya. Akhirnya Fahmi menyerah, dan memilih untuk kembali pada Rabb nya, mendahului Ibu yang bahkan sudah sangat tua ini".


"Fatih ikut berduka Bu, atas kematian Fahmi. Jujur saja, Fatih masih sangat tidak menyangka. Bahwa Fahmi telah meninggal dunia. Dan sekali lagi mohon maaf Bu, Fatih dan keluarga bahkan tidak tahu tentang kabar duka ini. Jika hari ini Fatih tidak. bertemu dengan Ibu, mungkin entah sampai kapan. Fatih tidak tahu mengenai kabar Fahmi".


" Tidak apa-apa nak, Ibu mengerti. Oh iya, bagaimana kabar Bunda, Ilham, dan istrimu nak? ".


" Alhamdulillah, kabar Ilham dan Bunda sehat. Untuk istri, Fatih seorang duda Bu".


"Hah?!. Duda?!. Maksudnya Ibu nya nak Ilham meninggal dunia?. Maaf nak Fatih, Ibu tidak mengerti".


" Tidak Bu, tidak. Bukan begitu maksud Fatih. Fatih memang sudah hampir delapan tahun menduda Bu".


"Hah?!. Delapan tahun menduda nak?!. Lalu Ilham? ".


" Iya, Ibu. Ilham bukan anak kandung Fatih. Fatih mengambil Ilham dari panti".

__ADS_1


"Nak Fatih. Ibu tidak salah dengar kan?. Kamu sudah menduda selama hampir delapan tahun lama nya nak?. Itu bahkan sama seperti usia pernikahan Fahmi dengan Aisyah nak?! ".


Tersenyum, hanya itu yang bisa aku lakukan. Memang faktanya begitulah adanya. Aku memilih menduda semenjak Aisyah sah menjadi istri dari Fahmi. Delapan tahun Aisyah menjadi istri Fahmi. Maka selama itu pula aku berstatus sebagai duda. Ini memang sangat konyol, tapi itulah yang terjadi di hidupku saat ini.


" Benar Ibu. Dihari pertama Fahmi mempersunting Aisyah. Itu pula yang menjadi awal Fatih menjadi duda. Hingga detik ini, Fatih bertemu dengan Ibu sekarang".


"Tapi kenapa nak?!. Kenapa anak seperti dirimu tidak menikah lagi nak Fatih?!. Ibu yakin, banyak perempuan diluar sana yang mau dijadikan istri oleh mu".


" Haruskah Fatih menceritakan didepan Ibu. Didepan Ibu mertua Aisyah?. Benar apa yang Ibu bilang, memang tidak sulit bagi Fatih untuk mendapatkan seorang pendamping jika Fatih mau. Bahkan, Fatih sering bertengkar hebat dengan Bunda Fatih sendiri, gara-gara masalah ini. Alhamdulillah, akhirnya Bunda memilih mengalah dan tidak lagi menekan dan memaksa Fatih untuk menikah lagu Bu".


"Tidak apa nak. Cerita saja pada Ibu, jika Ibu boleh tahu. Mengapa kamu masih saja menjadi seorang duda, bahkan hingga hampir delapan tahun lama nya?! ".


" Ibu, entahlah bagaimana caranya aku menjelaskan apa yang terjadi padaku. Bertahun-tahun lamanya, aku tidak bisa mencari pengganti Aisyah dalam hidupku Bu. Aku sudah berkali-kali, atau bahkan mungkin ratusan kali berusaha untuk melupakan Aisyah. Lagi-lagi Fatih selalu gagal Bu. Rasanya sangat tersiksa, mencintai wanita yang sudah bersuami. Tidak Fatih temui, wanita sebaik Aisyah Bu. Aisyah bahkan seperti bidadari bagi Fatih. Sulit mencari pengganti yang seperti dirinya".


"Segitunya kah kamu mencintai Aisyah, nak Fatih?. Sampai hampir delapan tahun memutuskan untuk hidup menjadi seorang duda?! ".


" Iyah Bu, mungkin bagi sebagian orang. Mereka menganggap Fatih adalah laki-laki lemah. Laki-laki konyol yang memilih hidup menduda karena tergila-gila dengan satu orang wanita. Disaat, diluar sana banyak laki-laki yang mudah menikah berkali-kali. Fatih masih bertahan dengan status duda".


"Hmmm.. jujur saja, Aisyah saat ini benar-benar berada di titik yang paling memprihatinkan nak Fatih. Aisyah memang berbeda dengan wanita lainnya. Disaat dirinya sedang terpuruk, Aisyah bahkan sangat tegar. Saat ini, dialah yang menjadi tulang punggung keluarga. Semenjak ditinggal oleh Fahmi untuk selamanya. Tapi, Ibu bahkan tidak pernah sekalipun mendengar Aisyah mengeluh. Apalagi saat Aisyah melahirkan anak kedua nya tanpa sosok suami. Ibu rasanya tidak kuat melihat Aisyah nak. Perempuan yang hebat, bahkan Ibu merasa sangat bersyukur memiliki Aisyah sebagai menantu. Setelah kepergian Fahmi, Aisyah tidak pernah berubah sikap pada Ibu nak. Bagaimana dia memperlakukan Ibu, menyayangi Ibu sama seperti saat Fahmi masih hidup. Tidak ada yang berubah, kecuali Aisyah yang semakin sayang pada Ibu".


"Fatih percaya Bu, Itulah mengapa Fatih tidak bisa menikah hingga detik ini. Cinta Fatih untuk Aisyah tidak pernah berubah Bu. Maaf, tadi Ibu bilang Aisyah sekarang menjadi tulang punggung keluarga?!. Maksudnya Aisyah....? ".


" Iyah nak Fatih. Aisyah sekarang membuka bisnis kecil-kecilan dengan berjualan kue. Aisyah juga terkadang menerima pesanan catering untuk acara syukuran atau lainnya. Dari situlah, Aisyah mengumpulkan pundi-pundi rupiah untuk tetap bertahan hidup membesarkan kedua anak nya, juga mengurus Ibu. Sejujurnya, Ibu merasa tidak enak dengan Aisyah nak Fatih. Aisyah memperlakukan Ibu layaknya Ibu kandung sendiri. Terkadang Ibu kasihan melihat Aisyah. Dia harus mengurus dua anak yang masih kecil, juga harus bekerja keras mencari nafkah".


Belum sempat aku menyelesaikan ucapan ku. Sepertinya Ibu mertua Aisyah tahu, kemana arah pertanyaan diriku. Dan menangkap apa yang sedang ingin aku ketahui jawabannya. Sejujurnya, hatiku ikut merasakan sakit juga sedih. Tidak tega rasanya mendengar wanita yang sangat aku cintai harus berjualan kue hanya demi untuk menyambung hidup. Tapi tidak ada yang bisa aku lakukan sekarang. Aku bukan siapa-siapa nya Aisyah, aku masih berstatus sama seperti dulu. Berstatus mantan suami Aisyah. Aku yakin, Aisyah masih sangat mencintai Fahmi. Meskipun kini, Fahmi sudah tiada, dan sudah meninggal dunia cukup lama. Aku tahu betul, jika Aisyah adalah wanita yang sangat setia dengan orang yang dicintainya.


"Ibu, kenapa Aisyah tidak menikah lagi?. Maaf, bukan maksud Fatih ingin bertanya demikian. Ma-maksudnya, agar Aisyah bisa sedikit lebih ringan karena sudah ada yang menanggung nafkah nya jika menikah lagi Bu".


Meminta maaf terlebih dahulu nampaknya lebih baik. Aku takut, Ibu nya almarhum Fahmi salah paham dengan pertanyaan ku barusan.


"Entah nak. Ibu sudah mencoba menanyakan hal itu pada Aisyah. Tapi Aisyah selalu menjawab dengan senyuman dan kemudian mengalihkan pembicaraan. Ibu tidak mempunyai hak untuk memaksa Aisyah agar mau menikah lagi nak. Biar bagaimanapun, Ibu hanyalah seorang Ibu mertua. Apalagi anak Ibu yang menikah dengan Aisyah sudah lama meninggal dunia. Semua kembali lagi pada Aisyah. Ibu takut salah omong nak Fatih".


"Hmm... begitu. Fatih mengerti Bu. Karena jujur, Fatih sangat paham bagaimana Aisyah. Aisyah perempuan yang sangat setia dengan pasangannya Bu. Lagi pula, Fatih yakin sekali. Sulit rasanya bagi Aisyah untuk mencintai laki-laki lain selain Fahmi. Fahmi laki-laki yang sangat baik Bu. Putra Ibu laki-laki yang sangat luar biasa. Bahkan Fatih banyak belajar dari putra Ibu ".


"Intinya, Ibu hanya bisa mendoakan. Jika pun kelak Allah akan memberikan pengganti Fahmi untuk Aisyah. Semoga laki-laki itu adalah laki-laki yang baik, dan mau menerima Aisyah dengan kedua anak nya. Kalau begitu, Ibu pamit pulang yah nak. Sudah terlalu lama, nanti Aisyah khawatir".


"Aamiin, Oh iya Bu. Mau Fatih antar? ".


" Tidak usah nak Fatih. Ibu lebih nyaman pakai angkutan umum saja. Belanjaan Ibu yang rusak tidak perlu kamu ganti nak. Makasih yah, sudah mau mendengarkan cerita Ibu. Ibu pamit dulu, assalamu'alaikum ".


" Maaf Bu, jika ada salah kata dari Fatih saat mengobrol tadi. Semoga Ibu sekeluarga selalu sehat. Aamiin..., Wa'alaikumussalam ".


Aku memperhatikan tubuh wanita yang mulai renta. Berjalan dengan menenteng beberapa keresek belanjaan.


" Andaikan saja, Aisyah mau membuka hatinya lagi untukku. Aku akan siap lahir batin untuk menerima dirinya juga kedua anak hasil dari pernikahan dirinya dengan Fahmi".

__ADS_1


Aku bergumam lirih, sembari kembali menuju mobil.


__ADS_2