Madu

Madu
Episode 59


__ADS_3

Mas Fatih sudah pulang, ini saat nya aku kasih kabar bahwa aku hamil. Dia pasti akan bahagia dan semangat mendengar berita ini. Lagi pula hasil test pack sudah aku taruh di dalam kotak kado yang sengaja aku letakkan di meja rias kamarku dan mas Fatih.


"Mas?, ngapain masuk kamar itu?,". Sial, mas Fatih malah masuk ke kamar Aisyah, bukannya ke kamarku.


"Aku ingin ketemu Aisyah,".


"Mas, ke kamar kita dulu saja yah sayang,". Aku berusaha membujuk mas Fatih untuk masuk ke dalam kamarku.


"Nanti, setelah dari kamar Aisyah aku ke kamar kamu Siska,". Laki-laki menyebalkan. Sungutku.


Lama sekali Mas Fatih di kamar kakak maduku yang dungu dan sok alim itu. Sedang apa si mereka, menyebalkan. Sudah tiga puluh menit mas Fatih tidak keluar-keluar dari kamar itu.


"Mas?,". Akhirnya laki-laki ini keluar juga dari kamar itu.


"Iya siska, ada apa?,".


"Mas sedang apa?!, kok lama sekali dari kamar Aisyah!,". Tanyaku sebal.


"Rahasia,".


Jawaban yang memuakkan. Aku membuntuti laki-laki ini yang berjalan menuju kamarku. Dan menjengkelkan sekali, dia sama sekali tidak melirik ke arah meja rias, dan langsung keluar lagi untuk mandi. Dasar buta.


Aku ikut membuntuti mas Fatih, dan duduk di sofa ruang TV. Aku melihat Aisyah keluar dari kamar. Perempuan itu, aku benci melihatnya. Lihat saja, sebentar lagi kamu akan di usir keluar dari rumah mewah ini oleh suami mu sendiri. Segalanya yang suami mu punya akan jatuh padaku. Siap-siap saja menjadi janda dan gembel Aisyah.


"Siska?!, kamu hamil?!,". Tiba-tiba aku melihat mas Fatih membawa satu kotak mirip kotak hadiah dan satu batang stik test pack.

__ADS_1


"Iya mas, aku hamil anak kita,". Dan aku mendengar Siska mengucapkan kata-kata bohong pada mas Fatih.


"Alhamdulillah ya Allah, akhirnya aku akan punya keturunan. Terimakasih sayang,". Ucap mas Fatih pada Siska, kini mas Fatih memeluk siska sangat erat, bahkan dia sama sekali tidak memperdulikan hadirku, padahal baru saja tadi dia meminta "sesuatu" dariku.


Hatiku hancur melihat semua ini, mas Fatih ditipu oleh Siska. Itu bukan anak kandung kamu mas, tapi anak Siska dengan selingkuhannya. Aku sakit melihat Siska di cium berkali-kali kening nya oleh mas Fatih. Mas Fatih terlihat sangat bahagia, aku baru pertama kali melihat wajah nya yang tampan sebahagia itu lagi. Aku mencoba menahan air mataku, melihat semua adegan memilukan itu. Entah berapa lama mas Fatih terus mengelus perut Siska, dan memeluk serta mencium Siska berkali-kali. Sedang aku masih diam mematung melihat pemandangan itu sambil menahan air mata.


"Dik... Aisyah, sebentar lagi kita akan punya anak dari Adik madumu Siska,". Ucap mas Fatih setelah melihat dan menyadari posisiku.


Aku tak mampu menjawab apa-apa. Aku hanya diam, aku bingung harus bereaksi seperti apa. Aku hanya diam mematung. Aku masih pilu melihat nasib keluargaku yang mengenaskan dan memilukan.


"Lihat mas, istri tua kamu tidak ada reaksi bahagia sama sekali mendengar kehamilan anak kita?!,". Kali ini Siska menghasut mas Fatih di depanku. Seketika aku melirik tajam ke arah Siska.


"Aisyah!!!, kenapa kamu melotot ke arah Siska, kamu tidak suka hah?!, jika istri muda mas hamil!, iya?!, jawab!,". Kini mas Fatih berteriak dan marah padaku, mas Fatih benar-benar sudah terhasut oleh omongan Siska.


"Aisyah!, dengar baik-baik!, kamu harus menjaga Siska dan bayi nya!!. Kalau sampai ada apa-apa sama Siska dan bayi nya, kamu orang yang pertama akan mas salah kan!!,". Suara mas Fatih menggelegar dan mengancamku dengan sadisnya. Apa salahku?, kenapa harus aku yang disalahkan jika terjadi sesuatu pada Siska?. Aku bukan pengawal nya, bukan pula seseorang yang harus menjaga nya.


"Hiks... hiks... hiks...,". Aku tak tahan membendung air mataku. Hatiku hancur. Benar-benar semakin menyakitkan.


"Tidak perlu menangis!!!,". Bentak mas Fatih.


"Mas?!, apa salah Aisyah?!. Kenapa harus Aisyah yang menjaga Siska dan bayi nya mas?,". Ucapku sambil terisak.


"Karena kamu kakak madu nya?!, sudah seharusnya kamu menjaga adik madumu dan calon anak mu Aisyah?!!. Meskipun bayi itu tidak lahir dari rahim mu, tapi bayi yang di rahim Siska adalah anak dari ku, suamimu juga Aisyah!,". Kali ini mas Fatih membentakku dan memegang lenganku dengan sangat keras.


"Lepaskan mas, Aisyah kesakitan... Hiks.. hiks... hiks...,". Tangan mas Fatih dilenganku sangat membuat sakit. Aku tidak kuat menahan rasa sakit itu.

__ADS_1


Tangisku semakin pecah. Hari ini mas Fatih tidak hanya menyakiti batin dan hatiku, tapi mulai menyakiti fisikku. Ya Allah sakit sekali rasanya di sia-siakan seperti ini. Pedih rasanya, di bentak dan di kasari depan adik madu sendiri. Kenapa mas Fatih semakin kejam seperti ini?.


"Kamu harus menurut dengan semua perkataan Siska dan aku Aisyah!!. Ingat, jangan sampai membahayakan calon anakku dan Siska!!,". Ucap mas Fatih sambil melepaskan tangannya dengan kasar dariku.


Aku berlari meninggalkan mas Fatih dan Siska yang asyik senyum-senyum melihat aku dibentak dan di kasari oleh mas Fatih di depannya. Hati Aisyah hancur ya Allah. Kenapa mas Fatih semakin kasar padaku?, apa salah ku ya Allah. Benar-benar sangat menyakitkan.


Aku merasakan pegal di area lengan yang tadi di pegang dengan keras oleh mas Fatih. Aku membuka lengan gamisku dan membuka hingga ke bagian yang sakit tadi, tertinggal bekas merah disana. Mas Fatih benar-benar menggunakan semua tenaga nya untuk mencengkeramku. Seandainya kamu tahu mas Fatih, kalau bayi di kandungan Siska bukanlah darah dagingmu, kamu tega menyakitiku hanya karena melindungi dan membela perempuan yang telah mengkhianati dan menipu dengan sangat licik.


Aku masih menangis, berjalan keluar kamar untuk mengambil air es untuk mengompres bekas merah di lengan yang tadi di cengkeram, masih sangat perih dan sakit rasanya. Ya Allah... kuatkan Aisyah ya Allah.


"Astaghfirullah non, non Aisyah kenapa?!,". Tanya Bi Inah yang kaget melihat lengan tanganku yang mulai membiru.


"Oh ngga papa Bi, ini tadi kebentur saja. Ngga sengaja Bu,". Ucapku berbohong. Aku tetap harus menjaga nama baik dan kehormatan suamiku di depan siapapun. Biarlah semua ini aku yang menanggung nya, hingga aku benar-benar berada di titik tidak mampu untuk bertahan lagi.


Bi Inah dengan telaten mengompres bekas cengkeraman mas Fatih dengan sangat pelan agar tidak menyakitiku.


"Kalau sakit bilang yah non, dan lain kali hati-hati ya non,". Ucap Bi Inah padaku.


"Terimakasih banyak Bi, sudah sangat baik pada Aisyah. Maaf Aisyah tidak bisa membalas apa-apa pada Bibi. semoga segala kebaikan Bibi dibalas sama Allah dengan kenikmatan dan kebaikan yang banyak ya Bi,". ucapku pada Bi Inah.


"Aamiin. Terimakasih doa nya non Aisyah,".


"Sama-sama Bi,".


Aku masih terduduk, dan menyeka air mataku, sambil tangan kiriku di kompres oleh Bi Inah.

__ADS_1


__ADS_2