
Setelah berlarut dalam kesedihan ia mampu tenang seusai diberi semangat dan kata kata motivasi dari Zayn. Kini pria itu memutuskan menemani Sella berbelanja baju calon buah hatinya.
"Sel, ini sangat lucu," pekik Zayn gemas langsung memasukkan baju coklat polos itu.
"Astaga, Zayn! ini harganya 600 ribu." Sella menggelengkan kepala terkejut menatap harga baju bayi itu.
"Gapapa, aku suka beli aja."
"600 ribu itu bisa membeli hal lainnya, Zayn," delik Sella.
"Bawel, jangan di keluarin."
Zayn kembali melihat ranjang bayi, duh! ia jadi pengen punya anak juga.
"Sel, sini kita beli ranjang bayi juga."
"Mahal, Zayn," bisik Sella melihat harga keranjang bayi yang menurutnya bisa DP rumah kecil.
"Aku yang bayar, sini gemes banget liatnya. Kamu mau yang mana?" tanya Zayn menatap dua buah keranjang yang menurutnya paling bagus dan tentunya paling mahal.
"Dua duanya bagus, bingung," kekeh Sella. Dua keranjang itu sungguh punya dua saya tarik masing masing.
"Yang putih bagaimana? clasic banget ada ukiran gini kesannya berkelas," usul Zayn.
"Bagus, tapi buat dompet menipis," cibir Sella beralih pada stroller.
"Nggak masalah, beli ya. Ini bagus banget. Mas tolong ini mau ya! nanti saya kasih alamatnya," ucap Zayn menunjuk keranjang putih itu.
Sella hanya bisa menggeleng, keranjang itu memang sangat bagus mungkin jika anaknya lahir nanti berasa jadi pangeran sungguhan.
"Stroller yang ini apa nggak ada warna tuanya?" tanya Sella.
"Ada, Mbak. Tapi warna tuanya sisa coklat tua dan biru tua."
"Menurut kamu yang mana?" ucap Sella pada Zayn.
"Yang coklat tua bagus tuh, cocok banget buat baby nanti. Terus kamarnya kita cat pakai warna netral," ucap Zayn seakan bayi Sella adalah anaknya.
__ADS_1
"Yaudah, Mas. Coklat tua ya."
"Ayo, tadi aku liat ada topi gemes banget." Zayn menarik Sella.
"Baby belum lahir udah kamu beliin topi," ucap Sella terkekeh.
Zayn tersenyum malu. "Aku juga pengen punya anak."
"Nikah makannya."
"Abis ini aku langsung nikah," balas Zayn asal.
"Kapan?" goda Sella.
"Tunggu kamu jadi Janda."
Sella tertawa keras. "Aku serius, Zayn."
"Aku juga serius, Sella." Zayn tersenyum. Wanita itu seketika terdiam memicingkan matanya tak menemukan kebohongan dalam malam Zayn.
"Zayn... "
Setelah berbelanja, Sella mengeluarkan ATM miliknya.
"Yang ini saja." Zayn ikut menyodorkan ATM miliknya.
"Jangan, Mbak. Punya saya aja."
Mba kasir menatap bingung, bukannya suami istri ya?
"Maaf, jadi yang mana."
"Ini."
"Ini." ucap mereka bersamaan.
"Zayn... " rengek Sella membuat Zayn harus menahan rasa gemasnya.
__ADS_1
Tangan Zayn terangkat membenarkan tata letak surai Sella. "Aku aja, udah ini aja."
"Makasi ya, Zayn. Harusnya aku yang bayar kan ini baby ku," ucap Sella. Barang mereka akan dikirim ke alamat rumah yang sudah Sella kirimkan barusan.
"Hari ini dia menjadi baby ku juga," kekeh Zayn membukakan pintu mobil untuk Sella.
"Apa si," gumam Sella tersenyum malu.
"Mau makan sesuatu? ngidam gitu."
Sella melirik keluar jendela banyak sekali penjual makanan di pinggir trotoar.
"Aku mau bakso tusuk."
Zayn mengangguk menepikan mobilnya lalu turun membelikan pesanan Sella.
"Makasih, Zayn. Hari ini kamu ngeluarin banyak banget uang buat aku dan baby," ucap Sella terharu memakan bakso tusuk miliknya.
"Sttt.... jangan bahas lagi. Aku mau, suapin."
"Enak?" tanya Sella.
"Enak kalau kamu yang nyuapin," balas Zayn terkekeh.
Sella hanya menanggapi dengan kekehan. Ia membuka pintunya saat mereka sudah sampai di rumah.
"Sel," panggil Zayn.
"Iya, Zayn?"
"Ucapanku tadi itu serius," lanjut Zayn.
Sella mengernyit dahinya bingung. "Yang mana, Zayn?"
"Menunggu kamu janda lalu aku akan menikahimu."
***
__ADS_1
mecha bck jgn lupa like vote nya kritik blh pake bahasa yg baik ya