Madu

Madu
Madu Ep.26 (SEASON 2)


__ADS_3

Jika ada satu kesempatan, mungkin ini adalah kesempatan yang Allah berikan untukku. Ketika dalam keputusasaan, tidak memiliki secuil pun harapan, apalagi untuk mendapatkan kebahagiaan. Rasanya itu sudah tidak mungkin dalam benakku. Yang aku lakukan setiap hari hanyalah pasrah, pasrah, dan mengusap air mata. Meskipun aku tidak pernah meremehkan satu kata, doa. Doa ibarat mata panah yang bisa menembus segala hal yang tidak pernah bisa dibayangkan terjadi oleh akal pikiran manusia. Aku bahkan sampai menangis dan sujud syukur, begitu mendapatkan kabar dari dokter Heru, bahwa Fatih putra yang sangat kucintai satu-satunya bisa sembuh kembali seperti dulu, harapan yang dulu hilang kemudian Allah kembalikan lagi dalam hidupku. Aku memilih untuk mengirimkan Fatih ke Belanda untuk menjalankan pengobatan yang sudah dokter Heru berikan. Putraku dinyatakan sembuh. Rasanya itu adalah hari yang sangat membahagiakan dalam hidupku setelah melewati badai rumah tangga yang begitu mengerikan. Putraku pulang kerumah, dan langsung memeluk erat tubuh Bundanya. Tangisnya pecah Hinga nafasnya tersengal-sengal. Ada kira-kira lima belas menit Putraku memeluk diriku sangat kencang. Aku dan putraku menangis bersama, meluapkan kerinduan dan rasa syukur yang tiada tara. Allah itu maha adil, Dia memberikan ujian padaku begitu dahsyatnya, namun Allah juga yang memberikan kebahagiaan tiada terkira tanpa di sangka-sangka. Siapa orangnya yang menyangka bahwa orang yang terkena gangguan psikis berat, bahkan hingga terpaksa harus dibawa keluarga negeri tanpa jaminan sembuh, tiba-tiba datang dalam kondisi sudah seperti dulu?. Dan seorang ibu mana?, yang tidak sangat bahagia, ketika putra satu-satunya yang mengalami gangguan jiwa, tiba-tiba diberikan mukjizat berupa kesembuhan?. Hari-hari indah dilewati bersama Fatih, memberitahukan dan menceritakan segala pahit getir ketika psikologis nya belum kembali sembuh. Bagaimana pontang-panting nya aku, mengurus dirinya untuk berobat dan bolak-balik kerumah sakit jiwa hanya agar putra satu-satunya bisa sembuh. Hingga, betapa takut nya aku. Ketika ditengah-tengah susah mengurusi dirinya, monster itu datang lagi kerumah?. Ini benar-benar keajaiban luar biasa, buah dari kesabaran dan sebuah doa yang tidak pernah berhenti kulangitkan pada Nya.


"Bunda, maafkan Fatih dan terimakasih Bunda,".


Hanya itu, kata-kata yang keluar dari mulut putraku, begitu kembali dalam kondisi psikis yang sehat. Maaf dan terimakasih, mungkin dia sudah tidak bisa lagi berkata-kata. Selain maaf dan terimakasih padaku. Aku mengerti, ini memang sangatlah berat. Tapi sepertinya Allah masih ingin memberikan kesempatan padaku dan Fatih untuk bisa merasakan kebahagiaan setelah mengalami dan menelan pahitnya cobaan yang begitu mematikan. Kebahagiaan kami, semakin lengkap dengan hadirnya Ilham ditengah-tengah suasana keluargaku. Tepat sebulan setelah dinyatakan sembuh, putraku Fatih memilih untuk mengadopsi seorang anak laki-laki dari salah satu panti asuhan yang ada di Jakarta. Jelas aku sangat bahagia, meskipun Ilham bukanlah anak kandung dari putraku. Aku sangat menyayanginya seperti cucu kandungku sendiri. Semenjak kembalinya kesehatan psikis Fatih, putraku tidak pernah lagi bertanya mengenai Aisyah. Entahlah, dia benar-benar sudah lupa atau hanya ingin tidak mau mengingat mantan istrinya lagi. Bahkan, aku lah yang lebih dulu menceritakan tentang Aisyah. Tentang bagaimana mantan menantuku yang bahkan tidak perduli sama sekali padaku dan pada dirinya. Kuceritakan detail bagaimana kejadiannya. Surat-surat yang kutulis dan ku kirimkan padanya tidak ada satupun yang mendapat respon darinya. Fatih hanya terdiam ketika aku menceritakan itu, dan kemudian mengalihkan pembicaraan ke hal yang lainnya. Entahlah, aku sendiri tidak tahu, apa yang sebenarnya ada di hati dan pikiran Fatih begitu aku menceritakan kejelekan perilaku Aisyah yang sama sekali tidak memiliki rasa belas kasihan atau empati pada sesama. Seharusnya Fatih marah dan benci Aisyah, karena Aisyah bahkan tidak mau menolong jiwanya yang sudah terancam.


"Putraku?, tahukah kamu?. Bahwa monster itu sempat datang beberapa kali menemui bunda?. Sungguh, Bunda saat itu tidak berani membuka pintu rumah dan terus bersembunyi didalam kamar,".

__ADS_1


"Monster?, siapa Bunda?,". Sepertinya Fatih putraku tidak tahu siapa yang aku sebut dengan monster itu.


"Mantan Ayah kamu yang sangat jahat,". Aku tahu, tidak ada yang namanya mantan orang tua. Tapi aku tidak sudi, menyebut dia sebagai Ayah nya.


"A-apa?!!. Ayah datang kerumah Bun?. Mau apa dia Bun?. Dia tidak berbuat sesuatu pada bunda kan?. Bunda tidak di apa-apa kan sama dia kan Bun?,". Putraku sangat cemas. Dia takut bunda nya disakiti lagi oleh mantan ayah nya yang sangat jahat itu. Aku sangat tahu, bagaimana sorot kebencian, emosi, dan kekecewaan yang menggebu-gebu dalam sorot mata tajam Fatih.


"Maafkan Fatih Bunda. Gara-gara Fatih nyawa Bunda terancam karena teror laki-laki jahat itu Bun. Tapi bunda jangan khawatir. Sekarang Fatih sudah pulih, Fatih sudah sehat. Dan putra bunda satu-satunya tidak akan pernah membiarkan siapapun menyakiti bunda. Apalagi laki-laki itu Bunda,".

__ADS_1


"Tidak apa-apa nak. Bunda tidak menyalahkan kamu. Semua ini sudah menjadi takdir dan skenario kehidupan dari Tuhan, yang harus kita jalani. Sepahit apapun jalannya. Kita harus tetap kuat,".


"Iyah Bunda. Terimakasih telah mengurus Fatih hingga Fatih bisa kembali seperti dulu. Semoga Allah membalas kebaikan Bunda yang sangat luar biasa untuk putra Bunda. Aamiin,".


"Aamiin,".


Ini hari ketiga, aku dan putra Fatih pindah rumah dan pindah kota. Awalnya aku ingin pindah ke kota Bandung. Namun Fatih ingin di kota solo. Aku tidak ridho, aku sudah sangat susah payah agar putraku bisa sembuh dan kembali seperti semula serta tidak lagi mengingat-ingat Aisyah mantan istrinya yang bahkan sudah tidak perduli sedikitpun padanya. Aisyah tinggal di kota Solo, jelas akan banyak kenangan yang kembali teringat oleh putraku Fatih. Aku dan Fatih sempat adu mulut, dia sempat membela diri bahwa tujuannya memilih kota solo bukanlah karena Aisyah. Aku tidak tahu, apa yang dikatakan oleh Fatih benar adanya atau hanya sebuah omong kosong. Akhirnya aku memberikan opsi kota Yogyakarta. Meskipun dekat dengan kota Solo, setidaknya putraku tidak satu kota dengan Aisyah di solo. Aku sudah tidak ingin, Fatih mengenang semua tentang perempuan bernama Aisyah yang hampir membuatku kehilangan putraku satu-satunya. Aku sudah bertekad, setelah kesembuhan Fatih. Sebagai seorang Bunda, aku ingin agar Fatih bisa melanjutkan hidupnya dengan normal dan menikah dengan perempuan lain yang lebih bisa membahagiakan putraku. Jika mantan menantuku bisa hidup bahagia dengan suaminya yang baru, maka putraku juga sebaliknya harus bisa hidup bahagia dengan perempuan baru yang lebih segalanya dari Aisyah. Aku yakin, perempuan mana yang tidak kepincut melihat tampannya wajah putraku Fatih. Sangat mudah bagi Fatih untuk bisa mendapatkan perempuan cantik dan baik. Aku yakin itu, Fatih bahkan sangat telaten mengurus dan menyayangi Ilham seperti anak kandung sendiri. Itu membuktikan bahwa sebenarnya dia sudah ingin sekali mendapatkan keturunan yang merupakan darah dagingnya sendiri. Tapi untuk itu, dia tetap harus menikah dengan perempuan yang pas dan cocok. Nanti akan aku bicarakan padanya.

__ADS_1


Teror yang dilakukan oleh mantan suamiku yang sangat beringas, serakah dan kejam itu benar-benar membuatku bergidik ketakutan. Aku muak dengan semua sikap dan perilakunya padaku dulu, dulu aku diam dan berkorban demi kebahagiaan putraku satu-satunya Fatih. Tapi sekarang, aku tidak akan pernah tinggal diam dan membiarkan dia berusaha merusak kembali segalanya yang sudah susah payah dan berdarah-darah aku bangun bersama Fatih.


__ADS_2