
Siapa orangnya yang ingin terus terjebak oleh pedihnya masa lalu?. Menelan segala rasa sakit yang tidak diinginkan datang, seorang diri pula?. Terus menerus berlumuran kenangan-kenangan pahit nan menyakitkan?. Aku yakin, tak ada satu orang pun yang ingin kembali terjebak dengan yang namanya kenangan yang mematikan dan amat sangat menyakitkan. Begitu juga aku, seorang perempuan yang telah berjuang dan bertahan demi utuhnya sebuah rumah tangga, yang rela menderita demi memperjuangkan cinta. Namun toh pada akhirnya, tetap aku yang akhirnya harus mengalah dan mengikhlaskan segala yang telah aku mulai. Saat ini, orang-orang yang pernah ada dan hidup di masa lalu yang sedang aku usahakan secara mati-matian untuk kulupakan, tiba-tiba hanya dengan sebuah surat. Oh tidak, tapi dengan tiga buah surat, mengharuskan aku kembali terjun dan melumuriku dengan kenangan-kenangan pahit yang telah lama aku kubur didalam sanubariku. Siapa orangnya yang datang kembali kelingkaran masa lalu, tanpa teringat pedihnya kenangan-kenangan yang pernah delewati dengan berdarah-darah dan banjir air mata?. Aku perempuan biasa, perempuan itu makhluk yang daya ingat nya begitu sangat luar biasa. Apalagi mengingat hal-hal yang pernah membuat hancur hati dan hidupnya. Sekuat apapun aku untuk tidak teringat, jika aku bertemu kembali dengan orang-orang yang menjadi aktor dicerita kelamku dulu, pastilah aku tetap aku teringat. Aku tidak mungkin bisa menghindari itu.
"Mas?, sedang apa?,". Aku menghampiri mas Fahmi yang sedang asyik duduk dimeja tugasnya.
Suamiku sengaja membuat sebuah ruang, untuk dirinya mengerjakan segala hal tentang perkejaannya. Bisa dibilang kantor mini, didalamnya ada banyak berkas-berkas yang tertata sangat rapi. Banyak sekali tumpukan kertas yang entah aku tidak pernah tahu berisi apa semua kertas-kertas itu. Sebuah meja, lengkap dengan alat tulis dan kawan-kawan nya pun, ikut menambah ruangan sederhana ini jadi lebih mirip sebuah kantor. Tentunya, mas Fahmi memajang fotoku dan dirinya di salah satu sudut ruangan itu. Aku pernah bertanya, untuk apa memasang foto aku dan dirinya di ruang kerja?. Jawabannya cukup sederhana, namun begitu mampu membuat jiwaku melayang dan sangat bahagia. Jawabannya adalah "Untuk membuatku semangat mencari nafkah yang halal untuk istriku". Perempuan mana yang tidak berkaca-kaca matanya mendengar jawaban seperti itu dari suaminya?. Disaat banyak laki-laki yang menjadikan istrinya sebagai tulang punggung, suamiku begitu giat mencari nafkah yang halal untuk bisa memberikanku makanan yang mempunyai banyak keberkahan. Bukan rahasia umum nampaknya, jika saat ini banyak sekali pekerjaan instan namun haram. Pekerjaan mudah mendapatkan rupiah, tapi tidak berkah dan Allah tidak pernah ridho, karena memang caranya yang salah. Tapi suamiku, dia berusaha mencari pekerjaan yang halal, agar apa yang dia berikan padaku bernilai kebaikan dan keberkahan disisi Allah.
"Mas sedang menyelesaikan sedikit kerjaan dik. Qodarullah (Takdir Allah) tadi di kantor ngga sempat diselesaikan. Jadi mas bawa ke rumah. Maaf ya dik, waktu dengan kamu jadi berkurang,".
"Oh begitu. Tidak mengapa mas. Semangat nggih mas. Semoga Allah mudahkan, jadi segera selesai,". Ucapku sambil mengangguk-anggukan kepala.
"Jazakillahkhoyr (Semoga Allah memberikan kebaikan untukmu/perempuan? istriku,".
"Wa antum Jazakallahkhoyr mas. Aisyah tinggal kedapur sebentar yah mas,". Pamitku pada mas Fahmi yang masih fokus dengan kertas-kertas yang ada di meja kerjanya.
"Iya sayang,". Jawab mas Fahmi singkat.
Aku berlalu berjalan meninggalkan ruang kerja mas Fahmi. Aku ingin membuatkan satu cangkir coklat hangat untuk suamiku. Dalam keadaan banyak beban, atau banyak hal yang di pikirkan, coklat mampu memberikan efek tenang dan nyaman. Sehingga sedikit menjadi obat untuk otak yang sedang bekerja keras. Lagi pula, cuaca diluar sana sepertinya akan turun hujan lebat. Angin dan petir nya lumayan menakutkan. Aku belum bisa menceritakan mengenai dua surat baru yang dikirimkan oleh Bunda mantan mertuaku pada mas Fahmi. Dia masih sibuk dengan amanah nya. Mungkin nanti saja, jika mas Fahmi telah selesai mengurus semua tugas-tugas nya. Tapi, ada baiknya aku tanya dulu saja, takut mas Fahmi dalam kondisi lelah dan tidak mood setelah pusing mengerjakan tugas kantornya. Nanti yang ada malah kesalah pahaman yang terjadi.
"Mas, Aisyah buatkan coklat hangat untuk mas. Diminum ya mas, setidaknya biar mas sedikit relaks di tengah-tengah pusing sedang mengerjakan tugas kantor,". Aku meletakkan secangkir coklat hangat yang tadi aku buat di meja bagian depan mas Fahmi.
"MasyaAlloh, terimakasih banyak dik. Makasih yah sudah selalu melayani mas dengan baik dan penuh kasih sayang,".
"Sama-sama mas. Diminum ya mas, Aisyah ke kamar dulu. Nanti kalau sudah selesai kabarin yah mas. Maksudku Aisyah, nanti mas nyusul Aisyah,".
"Iyah dik sayang. Paling bentar lagi juga selesai. Yasudah mas lanjutkan dulu yah,".
"Iyah mas,".
Aku berjalan menuju ke pintu depan, sudah kebiasaanku. Untuk mengontrol semua pintu dan jendela ketika akan tidur. Ya tujuannya sih, untuk jaga-jaga saja. Karena kan kita tidak akan pernah tahu, apa yang akan terjadi sedetik yang akan datang. Aku keliling dan mengecek, Alhamdulillah semuanya sudah terkunci dan aman. Aku tidak jadi dikamar, aku lebih memilih menunggu mas Fahmi di ruang TV, sambil membaca-baca buku yang ada.
Ah, kenapa tiba-tiba aku begitu rindu dengan itu anak?. Pikiran tentang Azizah tiba-tiba datang tanpa pamit dan permisi. Apa dia sudah menikah?, atau malah sudah punya dedek bayi?. Sedang apa anak itu disana, rasanya sangat rindu dengan Azizah. Benar-benar sangat rindu. Semenjak mengabari akan tinggal di luar negeri padaku beberapa bulan yang lalu, aku sekarang sudah tidak pernah ada komunikasi lagi dengan Azizah. Apa dia masih cerewet dan menyebalkan seperti dulu?. Kapan aku bisa bertemu denganmu lagi Azizah, rindu berbagi segalanya padamu. Orang yang sangat baik, semoga disana kamu bahagia dan baik-baik saja. Apa suamimu dapat orang bule?, kapan balik ke Indonesia?. Ahh, tak terasa air mataku menetes mengingat semua kenanganku dengan Azizah. Sungguh, benar-benar sangat rindu padanya. Jika bertemu, ingin rasanya aku tanyanya padanya dari A-Z. Menghabiskan waktu berjam-jam dengannya, bercanda, tertawa, bahkan hingga menangis bersamanya seperti dulu. Kangen sekali dengan tingkah lakunya yang konyol dan seenaknya. Ingin sekali menceritakan padamu Zah, bahwa sahabatmu yang dulu pernah kabur beberapa hari dirumah mu, kini telah menemukan laki-laki baru yang luar biasa baiknya. Aku yakin, kamu juga akan kaget mendengar cerita hidupku yang saat ini. Rindu tawamu, rindu cemberutmu, aku rindu segalanya tentangmu sahabatku Azizah.
"Hikss..... hiks... hiks...,". Aku menyeka air mataku.
"Sayang?, kenapa nangis dik?. Mas ada salah?,". Tanya mas Fahmi yang tiba-tiba datang dari arah belakang.
"Tidak mas, Aisyah tiba-tiba terserang kangen dan rindu yang teramat sangat besar pada sahabat baik Aisyah. Namanya Azizah, itu loh mas. Yang kemarin-kemarin pernah Aisyah ceritakan, yang Aisyah kabur ke Cirebon,".
__ADS_1
"Loh, kamu mau ketemu?. Ayok mas antar ke Cirebon kalo Aisyah kangen,".
"Ngga bisa mas. Azizah sudah pindah tinggalnya. Terakhir dia pamit pada Aisyah, kalau dia pindah ke luar negeri bersama keluarganya yang lainnya,".
"Ohalah, jauh dong dek. Apa kamu tidak ada nomor dia yang bisa dihubungi?,". Mas Fatih kemudian menyusul dan duduk disampingku.
"Kalau ada sih, Aisyah ngga nangis-nangis kaya gini mas. Aisyah sudah lama sekali tidak pernah ada komunikasi lagi dengan Azizah mas. Makanya rindu sekali sama anak itu,".
"Kalau rindu, kirimkan doa-doa baik kamu untuknya sayang. In syaaAlloh kalau doa, pasti akan sampai pada orangnya. Jika raga tak mampu bertemu, setidaknya doa-doa kita bertamu untuknya dik. Sejauh apapun jarak, doa pasti akan sampai,".
"Iyah mas, Aisyah selalu doakan orang-orang yang Aisyah cintai mas,".
"Waaahh, mas masuk kedalamnya dong. Maksudnya mas, mas juga didoakan sama kamu berarti dik. Hehehe...,".
"Sudah pasti suamiku. Tidak pernah putus doa-doa Aisyah untuk mas Fahmi,". Ucapku sembari tersenyum pada suamiku.
"MasyaAlloh, terimakasih istriku. Oh iya, tadi katanya mau dikamar?. Kok malah sekarang ada di ruang TV?. Atau memang sudah pindah dari kamar ke sini dik?,".
"Ngga kok mas, emang Aisyah sengaja tunggu disini. Oh iya, apa mas capek?,".
"Iyah mas, tapi kalau mas sedang capek ya gampang besok saja. Ngga papa kok,".
"Ngga sayang, sok atuh cerita saja. Ada apa?,". Mas Fahmi begitu serius menatapku dan menantikan apa yang ingin aku ceritakan padanya.
"Mas, tadi pagi. Waktu mas sedang mandi dan siap-siap untuk berangkat kerja. Tiba-tiba handphone Aisyah bunyi. Ternyata ada panggilan masuk dari Umi. Terus Umi kasih kabar, katanya ada dua amplop yang datang dari kurir kantor pos,".
"Surat?, dari Jakarta lagi?, dari Bundanya mantan suami kamu lagi dik?,".
"Iyah mas, benar sekali tebakan mas barusan. Dua amplop surat itu datang dari Jakarta dan semuanya dari Bunda mantan suami Aisyah mas. Bunda tanya, mau diambilnya kapan?,".
"Lalu kamu jawab apa dik?,". Mas Fahmi penasaran.
"Aisyah minta tolong ke Umi mas. Untuk menaruhnya di laci lemari dikamar Aisyah. Mas?, sepertinya Bunda memang dalam kondisi yang sulit. Bunda bahkan hingga tiga kali mengirimi Aisyah surat mas,". Aku mencoba menyampaikan keresahan hatiku dari tadi pagi pada mas Fahmi.
"Hmmm... iya juga sih dik. Kalau tidak urgent tidak mungkin Bundanya mantan suami kamu mengirimkan tiga surat pada kamu dik,".
"Lalu bagaimana mas?,". Tanyaku meminta keputusan mas Fahmi.
__ADS_1
"Kalau Aisyah ingin membantu mereka. Tidak mengapa sayang. Mas antar dan dampingi Aisyah ke Jakarta,".
"A-apa mas tidak keberatan?. Mas tidak bercanda?. Atau maksud Aisyah, apa sudah mas pikirkan baik-baik mas?,". Aku mencoba mengkonfirmasi apa yang barusan mas Fahmi ucapkan padaku.
"Aisyah, kita kan harus membantu orang lain yang memang dalam kesulitan. Meskipun sejujurnya mas takut, istri mas terjebak pada masa lalu lagi. Tapi tidak mengapa dik, mas akan selalu jaga kamu, dan dampingi kamu terus,".
"Mas?, Aisyah hanya mengikuti semua perintah mas selama dalam kebaikan. Selama mas ridho. Aisyah nurut dan manut mas. Tapi Aisyah minta tolong, mas Fahmi jangan salah paham. Dan jangan pernah jauh-jauh dari samping Aisyah ya mas,". Mataku berkaca-kaca, kenapa hati mas Fahmi begitu kuat dan baik?.
"Bismillah dik, niat kita kan baik. Mau menolong saudara seiman kita sayang. Allah pasti akan jaga kita. Kita hadapi apapun yang akan ada didepan kita yah dik. Engga kok, mas akan selalu disamping Aisyah. Kamu jangan takut, masa mau berbuat baik takut?,".
Aku tahu, mas Fahmi hanya ingin menenangkan hatiku yang sedang tidak karuan. Sejujurnya aku juga paham, jika mas Fahmi sangat takut kehilanganku. Tapi akhlak baiknya mampu mengalahkan rasa takutnya. Laki-laki mana yang bisa mengijinkan istrinya menemui mantan suaminya dan mantan mertuanya?. Sakit hati sudah pasti, takut kehilangan apalagi. Tapi suamiku berusaha mengesampingkan segala sesuatu yang berhubungan dengan dirinya sendiri. Sederhana nya, mas Fahmi berusaha tidak egois. Aku sendiri sebenarnya takut. Semua kenangan buruk dan sangat menyakitkan itu masih jelas terekam dalam memori otakku. Benar-benar membuat trauma. Jika mas Fahmi suamiku bisa sekuat itu, maka aku juga harus kuat. Selama mas Fahmi mendampingiku, aku percaya masa lalu tidak akan pernah berhasil menerobos masuk lagi dalam pusaran kehidupanku yang baru. Aku harus menyiapkan hati, jika sewaktu-waktu semua kenangan yang dulu ada mendesak dan menyerangku tanpa ampun. Aku harus kuat, benar kata mas Fahmi. Aku ini niatnya mau membantu, jadi tidak boleh takut untuk berbuat kebaikan. Hadapi segalanya, hidup memang akan lebih menantang karena sebuah ujian. Aku berulangkali berusaha meyakinkan hatiku sendiri, menguatkan perasaanku sendiri. Bismillah.
"Bismillah mas, selama mas ridho dan selalu disamping Aisyah. Aisyah berani menghadapi segalanya,". Ucapku mantap, seraya menyenderkan kepalaku dipundak mas Fahmi. Aku merasakan mas Fahmi mengelus lembut kepala dan pipiku. Rasanya begitu nyaman.
"Iya dik, jadi kapan kita akan berangkat ke Jakarta?,". Tanya mas Fahmi padaku.
"Nunggu mas ada libur kerja kan?,". Jawabku singkat.
"Jangan dik, lebih cepat lebih baik. Sepertinya Bunda mantan mertuamu sangat membutuhkan kamu dik. Sebelum terlambat. Nanti mas coba ajukan ijin dulu ke atasan yah. Bismillah, semoga dapat ijin dua hari,".
"Mas?, serius mau ambil ijin lagi?. Nanti mas kena marah mas,". Aku refleks mendongakkan kepalaku kearah wajah mas Fahmi.
"Serius dik. Mau berbuat baik, jangan ditunda-tunda. Sebelum nanti malah berubah pikiran lagi. Tidak apa-apa sayang, nanti mas ambil ijin lagi. In syaaAlloh boleh. Kamu jangan khawatir yah,".
"Maafkan Aisyah ya mas. Aisyah malah membawa-bawa masa dalam masa lalu Aisyah,". Aku merasa bersalah.
"Jangan minta maaf sayang. Ini terjadi setelah kita menikah dik. Ini adalah masalah mas juga. Sudah tidak apa-apa. In syaaAlloh, besok mas mau bilang ambil ijin. Jadi secepatnya kita bisa ke Jakarta,".
"MasyaAlloh,". Hanya itu kata-kata yang mampu kuucapkan dari mulutku. Air mataku tidak mampu kutahan lagi. Jatuh begitu saja di pipiku. Aku menyederkan kepalaku lagi di pundak mas Fahmi. Aku dan mas Fahmi terdiam bersama. Kami sibuk dengan hati dan pikiran masing-masing yang sedang bergemuruh karena menahan rasa tidak enak.
"Dik, istirahat yuk. Besok kan mas harus kerja,". Mas Fahmi mengajakku untuk istirahat. Benar saja, besok suamiku harus kerja, dan tadi juga baru selesai mengerjakan tugas-tugas kantornya. Aku sampai kelupaan.
"Astaghfirullah, maafkan Aisyah mas. Aisyah malah kelupaan. Ayok mas, istirahat,".
"Iya dik, nggak papa. Yuk,".
Aku dan mas Fahmi, istirahat kira-kira ketika jam dinding menunjukkan pukul 22:00 WIB. Semoga segalanya dimudahkan dan dilancarkan, ucapku dalam hati.
__ADS_1