Madu

Madu
Madu Ep.22 (SEASON 2)


__ADS_3

Lima tahun berlalu...


"Umi.... Umi... Wawa ingin beli coklat,". Marwa kecil merengek meminta dibelikan coklat oleh Uminya.


"Jangan kebanyakan coklat nak. Nanti gigi Wawa keropos dan ompong,". Umi Wawa menasehati putrinya.


"Kan sedikit Umi. Ngga setiap hari Wawa minta dibelikan coklat. Boleh ya Mi...,".


"Kamu ini, baru dua hari yang lalu Abi bawakan coklat buat kamu loh,".


"Ya tapi sudah habis dimakan semua sama Wawa,". Rengek putriku pada Uminya.


Begitulah keadaan dan pemandangan setiap hariku. Melihat putriku tumbuh, dan sering berantem dengan Uminya. Alhamdulillah, Allah menitipkan seorang bayi perempuan padaku dan pada Aisyah istriku. Aisyah Marwa Putri Fahmi, itulah nama yang kini melekat pada anak berusia lima tahun yang sedang bernegosiasi dengan Uminya, agar berhasil dibelikan sebuah coklat. Lima tahun berlalu, aku masih bekerja di kantor yang sama, meskipun dengan jabatan yang berbeda. Adik perempuanku satu-satunya bahkan sudah menikah dengan laki-laki pilihannya. Alhamdulillah, kedua mertuaku sehat, juga dengan adik iparku. Ibuku juga sangat sehat. Marwa semakin cerdas, dia sangat cantik sekali mirip dengan Uminya. Bahkan dengan usia sekecil dia, dia sudah mengetahui bagaimana hakikatnya seorang perempuan didalam Islam. Pernah suatu ketika, aku dengan sengaja melepas jilbab yang dia kenakan ketika sedang tertidur pulas di pangkuan Uminya. Pikirku, dia akan sangat kepanasan, dan juga belum baligh. Tidak ada salah nya melepas jilbab nya. Tapi tiba-tiba ketika terbangun, aku mendapati Marwa putriku sedang duduk dan menangis. Khawatir sudah sangat jelas, bangun tidur tiba-tiba putriku menangis. Aku parno, aku takut ada sesuatu yang menyakiti putriku. Akhirnya aku tanyakan baik-baik padanya. Apa yang membuat putri Abi menangis?, dan jawaban dari Wawa mampu meneteskan air mataku. Marwa menjawab, bahwa dia malu karena rambutnya terlihat oleh banyak orang. Bayangkan saja, siapa yang tidak bangga menjadi orang tua, ketika mendapatkan hal demikian pada putrinya?. Jelas sangat bangga, ini adalah jaman dimana para orang tua merasa bangga dan bahagia ketika putrinya terlihat cantik dengan pakaian-pakaian yang terbuka. Modernisasi katanya, tapi faktanya menutup aurat pun harus di ajarkan sejak dini. Dan aku bersyukur, Aisyah selalu mengajarkan nilai-nilai Islam pada Marwa. Setidaknya, aku ingin putriku bisa menjaga harga dirinya dengan cara menutup aurat seperti yang dicontohkan oleh Uminya. Mendidik dan menjaga seorang anak perempuan, jauh lebih berat dibandingkan dengan anak laki-laki. Bahkan sampai ada sebuah hadist Rasulullah shalallahu alaihi wassalam yang artinya “Barangsiapa yang mengayomi dua anak perempuan hingga dewasa maka ia akan datang pada hari kiamat bersamaku” (Anas bin Malik berkata : Nabi menggabungkan jari-jari jemari beliau). (HR Muslim 2631). Mengayomi dihadist tersebut sama saja dengan memberikan nafkah, menunaikan hak-hak mereka (para anak perempuan), mendidik dan lain sebagainya.


"Abi..., Umi tidak mau membelikan coklat buat Wawa. Padahal kan Wawa pengen,". Marwa mengadu padaku, bahwa Uminya tetap bersikukuh untuk tidak memberikan apa yang Marwa minta.


"Abi, jangan diturutin. Dia sudah banyak makan coklat Bi. Kasian gigi-gigi nya, nanti pada keropos,". Aisyah mengingatkanku.


"Benar begitu Marwa putri Abi yang cantik?,".


"Marwa hanya ingin coklat Bi, beli yang kecil juga Wawa mau,". Putriku memang jago meluluh kan hati Abinya, sepertinya bakat dari Aisyah menurun ke Marwa.


"Yasudah, tapi janji yang kecil saja ya coklatnya,".


"Siap Abi ganteng,". Jawabnya penuh dengan sorot kebahagiaan.


"Mas, ih gimana. Malah di turutin,". Kali ini Aisyah yang ngambek padaku. Aisyah memang paling tidak suka jika Marwa kebanyakan makan coklat atau permen.


"Wawa sudah janji beli yang kecil kan ya sayang?,".


"Iya Abi, yang kecil juga Wawa seneng,".


"Oke, let's go saatnya kita pergi beli coklat. Dadaaaah Umi, Assalamualaikum,". Ucapku pada istriku seraya pergi berlalu menggendong Wawaku.


Aku dan Marwah saling tertawa melihat eksepsi cemberut Bundanya. Aisyah memang dari dulu masih suka menggemaskan. Kalau sudah seperti ini, pulang-pulang aku harus membawa makanan kesukaannya, salad buah. Dijamin mukanya yang cemberut gara-gara coklat, seketika hilang ketika sedang makan salad buah. Dari awal menikah, sampai saat ini ada Marwah, Aisyah sangat suka sekali dengan yang namanya salad buah. Aku sendiri sebenarnya suka, tapi tidak semaniak Aisyah. Aku dan Marwah mendatangi salah satu mini market terdekat dan membeli beberapa cup salad buah, dan satu buah coklat ukuran kecil. Wawa anak yang cerdas, bahkan dia memenuhi janjinya untuk tidak minta coklat dengan ukuran yang besar. Bisa marah-marah Umi nya Wawa jika tahu, Abinya memberikan satu batang coklat dengan ukuran yang besar.


"Abi?, kenapa si Umi suka marah-marah kalau Wawa minta jajan atau coklat?,". Tiba-tiba dengan polosnya Marwa menanyakan padaku, mengapa Uminya sering marah jika masalah permen dan coklat.


"Putriku sayang, Umi itu sedang tidak marah-marah. Tapi Umi itu sebenarnya sangat cinta dan sayang pada Wawa. Makanya Umi suka marah-marah dan rewel kalo Wawa minta dibelikan coklat terus. Nanti gigi Wawa jadi ompong, terus keropos, dan sakit gimana?,". Aku menjelaskan alasan Uminya sering bawel jika masalah cokelat.


"Abi pernah sakit gigi?,".


Sebenarnya aku ingin tertawa mendengar pertanyaan polos dari Putriku Wawa. Karena dulu, aku sempat tidak punya gigi alias ompong ketika masuk kelas satu sekolah dasar. Ya itu karena dulu aku sangat bandel dan ngeyel sama Ibu. Aku meronta-ronta ketika akan dibawa ke dokter gigi. Bagaimana tidak, aku sudah di cekoki cerita-cerita menakutkan, seperti gigi yang akan copot ditarik menggunakan benang dan lain sebagainya.


"Pernah dong nak, dulu Abi sampai nangis pagi siang malam karena saking sakitnya. Terus Ayah juga sempat nangis waktu mau dibawa kedokter gigi,".

__ADS_1


"Memang, itu karena Abu banyak makan coklat ya Bi?,".


"Iya putriku, makanya Wawa jangan kebanyakan makan coklatnya yah. Jangan malas untuk gosok gigi,"


"Iyah deh, Wawa ngga rewel lagi. Terus nanti mau minta maaf sama Umi, soalnya Wawa suka nangis minta dibeliin coklat sama Umi,".


Aku berjalan kaki dan bergandengan bersama Wawa menuju kerumah. Rasanya sangat bahagia sekali, memiliki putri seperti Marwah. Dia bahkan bisa menjadi penyejuk dan penyemangat untuk diriku dan istriku Aisyah. Semoga saja, kelak saat Marwah sudah dewasa dan sudah saat nya untuk menikah dia akan mendapatkan laki-laki yang soleh, yang bisa menjaga dirinya dari kesengsaraan dunia, terlebih kesengsaraan api neraka.


"Abi, kapan Wawa sekolah. Wawa sering lihat ada anak yang tinggi nya kaya Wawa udah sekolah,". Pertanyaan yang sangat mengagetkan dari Marwah kecil.


"Hah?!, Marwah ingin sekolah nak?,".


"Iyah Abi, kaya anak-anak lain sudah pada sekolah,".


"Nanti yah, kalau sudah sampai rumah. Kita ngomong sama Umi. Nanti Abi carikan sekolah TK yang bagus buat Wawa,".


"Beneran Abi?!, yeaaayyyy....!!, yeaaayyyy!!!. Wawa mau sekolaaaah,".


Mataku berkaca-kaca melihat putriku sangat bahagia seperti itu sembari berlari-lari. Aku dan Aisyah memang belum memasukkan Marwah ke sebuah sekolah. Rencananya tiga bulan kedepan setelah ada pembukaan pendaftaran calon siswa baru. Ini baru rencanaku, belum aku diskusikan dengan Aisyah. Berhubung Wawa sudah menanyakan, baiklah nanti akan aku bicarakan dengan bidadariku kalau putrinya yang cantik minta sekolah.


"Umi..... Umi....., Wawa ingin sekolah Mi,".


Marwah lari begitu sudah sampai didepan rumah. Dia berteriak-teriak memanggil dan mencari Uminya. Semangatnya luar biasa ingin sekolah. Aku yang dibelakang dia hanya tersenyum dan melihat pemandangan yang harus aku syukuri.


"Wawa ingin sekolah Mi, tadi Wawa sudah minta ke Abi Fahmi, katanya Abi suruh tanya ke Umi. Boleh kan Mi?,".


"Kalau mau sekolah, Wawa jangan kebanyakan makan coklat sama permen yah syaratnya. Nanti kena omel ibu guru. Gimana?,".


Marwah melirik ke arahku, seakan mencari kebenaran dari ucapan Uminya barusan.


"Apa iya Bi?, kalau Wawa sudah sekolah ngga boleh makan banyak coklat dan permen?,".


"Kalo kebanyakan ngga boleh sayang. Tapi kalau sedikit boleh,". Jawabku menenangkan putriku. Aku melihatnya tersenyum padaku dan kemudian dengan semangat nya kembali menatap Uminya.


"Setuju, Wawa ingin sekolah, dan makan sedikit permen sama coklat Mi,". Jawab Marwah pada Umi nya.


"Baik, setuju,". Aisyah dan Marwah saling memeluk, sedang aku hanya memandangi kejadian itu penuh haru.


Kami bertiga masuk kedalam rumah, Aisyah sibuk membereskan dan menyiapkan baju untuk Marwah mandi. Sedang aku duduk bersama Ibu dan Wawa diruang tamu. Ibu terlihat bahagia setiap melihat Cucunya. Meksipun aku sering sedih, ketika mengingat Bapak. Bapak lah yang sangat ingin bermain dengan Marwah. Bercanda dan tertawa dengan putriku. Yasudahlah, ada Ibu yang mewakili Bapak. Semoga saja bapak diberikan tempat terindah di sisi Allah.


"Wawa sayang, ayok nak mandi dulu. Sudah sore, nanti kalau sudah mandi baru boleh main lagi,". Sepertinya Aisyah sudah selesai menyiapkan baju ganti untukku dan untuk Marwah.


"Iyah Umi,". Marwah langsung lari menuju pelukan Umi nya. Sedang Ibu juga kembali ke dapur.


Aku diam dan sibuk dengan telepon genggamku. Memainkan smartphone untuk mencari informasi mengenai sekolah TK yang bagus untuk putriku. Keatas dan kebawah, klik ini klik itu. Handphoneku setia menemaniku untuk mendapatkan informasi tentang sekolah yang terbaik untuk Marwah. Namanya juga orang tua, pastilah segala sesuatu nya ingin yang terbaik untuk darah dagingnya. Ingin memberikan yang cocok dan bisa membuat anak bahagia. Aku sudah menemukan salah satu sekolah TK, yang menurutku sangat baik dan bagus dibandingkan sekolah lainnya. Nanti saja, setelah shalat isya akan aku bicarakan dengan Aisyah. Sekarang aku juga ingin mandi dan melepaskan segala penat dan lelah di tubuhku.

__ADS_1


"Abi...., bajunya sudah umi siapkan dikamar yah. Umi mau nemenin Marwah makan dulu,".


"Iyah Mi, Jazakillahkhoyr sayang,". Jawabku pada Aisyah.


Sungguh lah, aku sangat bersyukur memiliki seorang istri seperti Aisyah. Dia mendidik anakku dengan sangat baik dan sabar. Hingga Marwah tumbuh menjadi seorang anak yang sangat cerdas dan berakhlak baik. Istriku bahkan dengan telaten tanpa mengeluh meladeniku berbarengan dengan mengurusi Marwah. Aisyah tidak banyak menuntut apapun padaku, dari awal menikah dia selalu bersyukur dengan apa yang aku berikan padanya. Istriku selalu ada, dan selalu mensupportku dalam segala kondisi. Suka dan dukaku, kubagikan dan kulewati bersamanya. Semoga saja aku bisa menua bersama nya. Menikmati rasanya momong cucu bersama Aisyah.


Salat Isya telah berlalu....


"Dek?,". Panggilku pada Aisyah yang telah selesai menidurkan Marwah dikamarnya,".


"Iyah mas, ada apa?,". Jawabnya sembari mendekat ke arahku.


"Kamu masih sibuk?, mas mau diskusi dan membicarakan masalah sekolah Wawa,".


"Sudah engga kok mas. Marwah juga sudah tidur,".


"Dik, tadi sore mas sudah cari-cari informasi mengenai sekolah TK untuk Marwah. Ada satu sekolah yang mas sangat sreg dihati dek. Nama sekolahnya TK Alawaliyah Islami Boarding School. Jadi disana Marwah tidak hanya bermain-main saja, tapi juga diajarkan nilai-nilai keislaman melalui metode pembelajaran yang sesuai untuk anak-anak TK,". Jelasku pada Aisyah tentang sekolah yang aku temukan di internet.


"Dimana lokasinya mas?,".


"Alhamdulillah nya, lokasi sekolah Marwah tidak jauh dari kantor mas kerja sayang. Nanti berangkat dan pulang bisa bareng dengan aku,".


"Mana coba mas, ada foto sekolahnya tidak?,".


"Ada dik,". Aku menunjukan handphoneku pada Aisyah.


"Lumayan besar juga bangunan nya yah mas. Ya boleh kah, kalau dirasa disitu putri kita bisa berkembang dan bermain dengan baik. Yang terpenting mah, Wawa nya mau di sekolahkan disitu mas,".


"Menurut kamu, putri kita mau tidak yah dek?,".


"Ya sepertinya sih mau, yang penting sekolah kalau dia mah mas. Terus untuk biaya nya bagaimana?,".


"Biaya mah urusan mas dek. Mas sudah menyiapkan ini sebenarnya dari jauh-jauh hari. Hanya saja selalu lupa saat akan menyampaikan ke kamu. Terus tiba-tiba saja tadi sore Wawa bilang ingin sekolah. Jadilah aku ingat, dan sekarang diskusi dengan kamu dik,".


"Baru punya anak satu sudah pelupa, hehehe,". Ledekku pada mas Fahmi.


"Kan mau nambah?, ya kan sayang?. Berapa tiga lagi?. Hahahaha...,".


"Apa si ih, mas mah. Nambah-nambah Mulu,".


Aku melihat Aisyah tersenyum dengan malu-malu. Wajahnya memerah, mungkin dia sangat malu ketika aku bercanda seperti itu. Padahal aku dengannya sudah lima tahun berumah tangga. Tapi begitulah istriku Aisyah, dia masih saja seperti gadis yang baru menjadi pengantin baru, malu-malu jika membicarakan masalah yang satu ini. Padahal bagi pasangan suami istri itu sudah menjadi hal yang wajar dan biasa. Aku jujur sangat bersyukur, Aisyah masih menjaga rasa malunya bahkan didepan suaminya sendiri. Karena dalam Islam, rasa malu adalah sebagian dari iman, dan merupakan salah satu cabang iman. Bisa dilihat dijaman sekarang, betapa banyak orang yang kehilangan rasa malunya. Entahlah, apa yang ada dipikiran mereka. Bagi perempuan, yang menjadi mahkota adalah rasa malunya. Dan istriku masih menjaga mahkota itu, bahkan didepan suaminya sendiri yang telah sah dihadapan Allah dan negara. Alhamdulillah ya Allah, aku diberikan bidadari seperti Aisyah Fatimatul Salwa.


"Yasudah, istirahat yuk cintaku,". Candaku lagi pada Aisyah.


Aisyah tidak menjawab apapun, dan kemudian meninggalkanku menuju kamar. Aku hanya tertawa melihat nya yang salah tingkah.

__ADS_1


__ADS_2