
Malam ini aku mengajak suamiku untuk sekedar menghirup udara luar. Aku minta diajak jalan-jalan ditaman kota. Aku harus segera membicarakan masalah ini dengan mas Fatih. Aku sudah istikharah, aku sudah berdoa dan meminta petunjuk, dan aku akhirnya memilih membagi mas Fatih untuk orang lain, sungguh ini sangat terpaksa. Bahkan aku merasa benci dengan diri sendiri. Aku lebih memilih dimadu dari pada aku menjadi janda. Aku hanya selalu berdoa agar Allah mau menguatkan hatiku yang sudah hancur.
"Mas, kita ke taman kota yuk. Kayanya udara malam ini sangat segar. Mas mau nggak?,".
"Ayuk sayang, sebentar mas siap-siap dulu ya sayang, ngga lama koo, kurang dari tiga menit,". Mas Fatih langsung berlalu kekamar untuk mengganti pakaian.
"Sudah selesai mas?,". Aku melirik ke arah mas Fatih, yang menggunakan baju lengan pendek warna putih dan bawahan celana bahan berwarna hitam. MasyaAlloh tabarakallah, suamiku emang sangat tampan ya Allah.
"Hiks..., hiks..., hiks,". Aku berlari dan langsung menangis dipelukan mas Fatih. Aku memeluk mas Fatih erat, sangat erat lebih dari biasanya. Aku ingin memeluk suamiku terakhir kali, sebelum ada perempuan lain yang juga memeluknya.
"Dik?, kamu kenapa?, ini mas susah nafasnya sayang. Jangan kencang-kencang meluknya,". Suara mas Fatih terdengar kesusahan. Benar saja, aku hampir membuat mas Fatih pingsan karena pelukanku.
"Aisyah hanya ingin memeluk mas saja kok. Bahagia rasanya bisa jadi istri mas,". Aku kembali mendekap tubuh suamiku. Tubuh ini yang sebentar lagi harus aku bagi dengan perempuan lain. Sakit sekali rasanya, seperti akan mati.
"Yasudah, ayok dik ke mobil. Nanti keburu kemalaman,". Aku berjalan membuntuti mas Fatih. Kami masuk mobil dan pergi menuju taman kota.
Aku rasa, taman kota adalah taman yang sangat cocok untuk aku membicarakan masalah ini dengan mas Fatih. Disana udaranya sangat segar dan sejuk. Tidak terlalu ramai tentunya. Hanya kelap-kelip lampu jalanan saja yang selalu menerangi. Pun, banyak orang jualan berbagai macam makanan dan minuman.
"Ya Allah, kuatkan Aisyah ya Rabb. Bantu Aisyah untuk kuat mengutarakan semuanya dengan mas Fatih,". Doaku dalam hati.
Tidak menunggu lama, mobil kami parkir di tempat parkir taman kota yang sudah di siapkan. Aku turun dari mobil dan mendekap erat tangan mas Fatih. Aku melendot seperti anak kecil. Aku ingin bermesraan dengan mas Fatih sebelum akhirnya harus merasakan ketegangan setelah membicarakan masalah permintaan Bunda.
Aku duduk dimeja dekat semak yang sedikit jauh dari orang lain. Aku tidak ingin masalah ini di dengar oleh orang lain. Aku saling berhadapan dengan mas Fatih, saling menatap, mas Fatih tersenyum dengan sangat tulus padaku.
Aku membuka pembicaraan "Mas Fatih?,".
__ADS_1
"Iya dik ada apa sayang?,".
"Mas, sebelumnya Aisyah minta maaf kalau selama Aisyah jadi istri mas banyak sekali kekurangan dan kesalahan yang mas tidak sukai. Aisyah minta maaf mas, belum bisa jadi yang terbaik. Semoga mas mau memaafkan Aisyah,". Aku tercekat. Ingin rasanya memeluk mas Fatih.
"Kamu kenapa si dik?, ada apa?, kamu sempurna untuk mas sayang. Kalaupun ada salah, mas sudah memaafkan jauh sebelum kamu sendiri meminta maaf kepada mas dik,".
"Mas...., mas..., Fatih...?,". Aku tergugup, tak berani memandang wajah mas Fatih. Aku terus menunduk.
"Iya Aisyah?, kenapa?,".
"Mas... Aisyah punya satu permintaan untuk mas Fatih,". Aku sangat takut, sungguh. Aku berusaha menahan tangis sedari tadi.
"Permintaan apa dik?, bilang saja sayang. Kalau memang bisa mas kasih, mas akan kasih untukmu sayang,".
"Mas, Aisyah ingin...., ingin.....,". Aku terdiam. Tak mampu melanjutkan ucapanku. Ya Allah sangat menyakitkan sekali.
"Mas, Aisyah ingin mas Fatih menikah lagi mas, Aisyah ingin mas punya istri muda,". Aku hancur. Sangat menyakitkan sekali rasanya.
"Dik?!, kamu jangan bercanda. Kamu kenapa si?!, ngomong yang ngga jelas seperti ini?!, kamu ada masalah apa?, mas ga akan mau menikah lagi dik. Mas sudah bahagia punya kamu,".
"Mas, Aisyah pengen punya adik madu, Aisyah pengen mas menikah lagi mas. Entah mas mau marah kepada Aisyah juga silahkan. Yang jelas, Aisyah ingin mas menikah lagi. Titik!,". Aisyah berapi-api menyuruhku untuk menikah lagi, aku bingung ada apa dengan istriku?, apa dia sedang bercanda?, tapi nampaknya tidak, bahkan sesaat setelah mengatakan seperti itu, dia berdiri dan lari menuju mobil. Mana mungkin aku menikah lagi?, aku sangat mencintaimu Aisyah.
"Dik...., dik tunggu,". Aku berteriak mengejar Aisyah.
Aku dipeluk mas Fatih, sangat erat. Bahkan erat sekali seperti saat aku memeluknya ketika masih dirumah. Mas Fatih berkali-kali mencium keningku. Aku sudah tidak mampu menahan air mataku. Rasanya sudah sangat menyakitkan sekali. Aku tidak sanggup.
__ADS_1
"Sayang, kamu sepertinya kelelahan. Jadi ngomongnya ngelantur gini,". Aku mencoba menenangkan Aisyah.
"Hiks.., hiks..., engga mas. Aisyah serius. Aisyah pengen mas menikah lagi, Aisyah ingin mas punya istri baru..., hiks hiks hiks,".
"Dik, jangan seperti ini. Mas tahu betul kamu sangat pencemburu. Mas masih ingat saat kamu cemburu dengan Salwa, dan ngga mungkin mas memilik perempuan lain dik. mas sudah bahagia dengan kamu,".
"Mas tolong, kabulkan permintaan Aisyah kalo ini. Demi Aisyah mas. Pokoknya mau tidak mau, suka atau tidak mas tetap harus menikah lagi mas..., hiks...., hiks.., hiks..,".
"Sudah, sekarang kita pulang saja yah. Ayuk masuk mobil dik,". Mas Fatih masih dengan sabar meladeniku. Aku tau, suamiku akan menolak permintaanku ini, aku paham betul. Selama ini dia selalu berusaha menjaga hatiku dan perasaanku, tidak akan mungkin dia mau menikahi perempuan lain.
Aku dan mas Fatih masuk mobil dan pergi dari taman. Sedari tadi aku hanya diam dengan tatapan kosong. Berkali-kali mas Fatih mencoba menggenggam tanganku, tapi aku menghindar. Aku sedang berada di titik sangat marah, marah semarah-marahnya dengan Bunda mertuaku. Kenapa Allah kirimkan seorang mertua yang begitu kejam kepadaku. Umi..., Aisyah pengen peluk Umi ucapku dalam hati.
"Dik...., lupakan masalah tadi yah. Kita sudah sangat bahagia. Mas sangat tidak ingin ada orang lain dalam kehidupan kita,".
Aku masih terdiam. Tidak merespon apapun. Hanya air mataku saja yang terus menetes. Cadarku basah. Aku sudah tidak memperdulikan lagi kondisiku yang sudah tidak enak dipandang ini, lagi pula aku emang sudah hancur.
"Engga, Aisyah tetap ingin mas menikah lagi. Titik. Bagaimanapun caranya. Aisyah ingin punya adik madu,".
"Dik, istighfar. Kamu kenapa tiba-tiba begini si?, ada apa?,".
"Tidak ada apa-apa, Aisyah hanya ingin mas menikah lagi, mas punya istri muda,".
"Astaghfirullah...., kamu sudah tidak cinta dengan mas lagi?, hingga ingin membagi mas dengan perempuan lain?, apa salah mas?, kenapa kamu begini ke mas?, selama ini kamu tak bahagia menikah denganku?, kamu terpaksa dik?, hingga sekarang kamu menyuruhku untuk menikah lagi?, hah?!, iya?,". Aku mulai kesal dengan Asiyah yang keras kepala. Aku sakit mendapatkan perlakuan seperti ini darinya.
"Jawab Aisyah?!, kenapa kamu diam saja?!,". Emosiku benar-benar sudah meluap. Baru kali ini aku sekesal ini dengan istriku.
__ADS_1
Aku mengemudikan mobilku dengan kecepatan yang tinggi, aku tidak memperdulikan Aisyah yang pucat dan ketakutan. Untuk apa dia menangis terus, untuk apa?!. Padahal dia sendiri yang menyakiti hatiku. Aku sangat kesal, sangat-sangat jahat permintaannya padaku.