Manusia Masa Depan

Manusia Masa Depan
Bab 113. (Kematian Chen Si Kepang Tiga)


__ADS_3

 


Setelah Keneo melepaskan panah api shennya ke arah Chen, yang melesat dengan kecepatan tinggi ke arah utara. Kenia lalu tiba di tempat itu, untuk menghampiri kembarannya itu.


"Apakah kau yakin, anak panah api itu dapat membunuhnya?" tanya Kenia, dengan lirikan mata ke arah Keneo.


"Tentu saja aku yakin, Kakakku Yang Cantik... Karena panah api itu sudah kusisipi sihir dengan bantuan mata langit super ini. Panah api itu tidak akan musnah, sebelum Chen mati," sahut Keneo memperlihatkan mata langitnya yang ada pada mata kirinya kepada Kenia.


"Ternyata kau menggunakan salah satu kekuatan dari mata langit super itu. Sayangnya kalau Chen shennya di atas kita, pasti panah api itu akan dapat dihancurkan."


"Tapi sayangnya, shen Chen di bawah kita," timpal Keneo. Lalu tertawa lepas bersama Kenia.


"Sekarang lebih baik, kita temui anak-anak itu. Dengan mata langit super ini, kita dapat menemukan mereka dengan mudah. Sesuai dengan gambaran yang ada di ingatan Er Well," ucap Kenia, masih mengaktifkan mata langit supernya yang ada di mata kanannya, dengan tatapan ke arah timur laut.


"Ya, di jarak 6011km. Mereka berada dari tempat ini," sahut Keneo lalu melesat dengan kecepatan tinggi ke arah tujuannya.


"Kau itu, selalu saja mencuri start...," ucap Kenia lalu melesat menyusulnya kembarannya, ke arah timur laut.


****


Sementara itu Chen yang melesat ke arah utara dengan kecepatan tinggi. Akhirnya memperlambat lesatannya karena penjahat dari abad ke 10 Masehi itu. Merasa Keneo maupun Kenia tak mengejar dirinya.


"Sial! Bagaimana aku bisa hanya dipecundangi oleh Keneo seorang? Padahal sebelum mereka berdua tersegel oleh kutukan Tuan Humsha. Kekuatannya shennya berada di bawahku. Tapi kenapa sekarang, kekuatannya jauh di atas diriku," gerutu Chen di dalam hatinya, dengan penuh kekesalannya.


"Tidak ada pilihan lainnya lagi. Aku harus meminta bantuan Chan dan Chin untuk mengalahkan si kembar hybrid itu," ucapnya di dalam hatinya. Lalu melakukan telepati kepada kedua kakak kandungnya, untuk meminta bantuan mereka berdua.


Sembari melesat terbang dengan kecepatan rendah di langit. Chen melakukan telepati yang segera terhubung oleh dua saudara kandungnya itu. Yang sedang berada jauh dari Chen berada saat ini.


"Apakah kau sudah sampai di kutub utara Bumi, Chen?" tanya Chin yang memang sedang berada di kutub utara Bumi.


"Aku masih berada di daerah utara Sundaland," sahut Chen dengan riangnya. Namun sudah membuat Chin benar-benar kesal mendengarnya.

__ADS_1


"Kau itu benar-benar tidak mendengarkan perintah Tuan Humsha, untuk segera berkumpul di kutub utara Bumi," sahut Chin dengan penuh kekesalannya.


"Dengarkan aku bicara dulu. Aku tadinya ingin segera ke sana, setelah membunuh 5 Gura-Gura Lama. Tapi tiba-tiba, Keneo dan Kenia datang menyelamatkan mereka," jelas Chen, yang langsung disambung oleh perkataan Chan.


"Pasti kau kalah oleh mereka berdua. Dan kau ingin meminta bantuan kami berdua, bukannya begitu?" tebak Chan. Yang membuat Chen, mau tak mau harus jujur kepada kedua kakak kandungnya itu. Tentang keinginannya itu.


"Ya, itu memang yang kuinginkan dari kalian," jawab Chen.


"Sayangnya, aku sedang sibuk dengan urusanku sendiri...," ucap Chin, lalu menghentikan telepati di antara mereka bertiga.


"Kau itu sebagai kakak pertama. Tidak pernah mempedulikan adik-adikmu...," kata Chen dengan penuh kekesalannya.


"Lalu bagaimana denganmu Chan?" tanya Chen menaruh harapan besar. Agar kakak keduanya, membantunya untuk menghadapi Kenia-Keneo.


"Kau sendiri yang cari masalah. Jadi silakan selesaikan masalahmu sendiri...," timpal Chan lalu menghentikan telepatinya itu.


"Dasar mereka berdua sama saja. Tidak pernah peduli dengan adik-adiknya," ujar Chen berbicara sendiri.


Terus menunggu dan tetap menunggu kehadiran Keneo. Tetapi si kepang tiga Chen belum melihat sama sekali sosok dari leluhur dari pasukan robot Mars itu. Chen malah mendapati sosok panah api dari kejauhan yang sedang menuju ke arah dirinya dengan kecepatan tinggi.


"Bagaimana bisa, Keneo bisa mengirim panah api yang dapat bergerak sendiri?" tanya Chen di dalam hatinya, dengan tatapan ke arah panah api yang semakin mendekati dirinya.


"Aku harus menahannya dengan jurus 6 Gerbang Iblis."


Chen lalu mengarahkan kedua tangannya ke arah depan. Dari sepasang telapak tangannya itu muncullah cahaya hitam yang segera membentuk wujud 6 gerbang berbentuk topeng iblis bertanduk 6. Di mana Chen berada di dalamnya. Gerbang iblis itu memiliki tinggi 5 meter, dengan panjang 25 meter.


Panah api buatan dari shen Keneo itu lalu menghantam gerbang awal dari 6 lapis gerbang iblis itu. Hingga terjadilah benturan yang begitu hebat. Untung saja getaran itu terjadi di udara. Kalau saja getaran itu terjadi di daratan, maka akan terjadi gempa bumi hebat. Jika terjadi di lautan, maka akan terjadi tsunami hebat.


Melihat jurus 6 gerbang iblisnya dapat menahan panah api shen Keneo. Chen pun tertawa lepas. Seakan kemenangan sudah berada di tangannya. Akan tetapi disela kegembiraannya itu. Tiba-tiba saja ia mendengar suara Keneo yang ditrasfer melalui panah api shennya itu.


"Chen, kau jangan merasa menang dulu. Bagaimana kalau kutingkatkan shen panah apiku itu," ucap Keneo.

__ADS_1


Mendadak saja kekuatan panah api shen milik Keneo itu meningkat tajam. Hingga satu persatu dari 6 gerbang iblis ciptaan Chen hancur menjadi debu. Yang membuat Chen begitu panik.


"Aku harus meninggalkan gerbang iblis terakhir ini," kata Chen di dalam hatinya.


Si kepang tiga Chen lalu melesat keluar dari dalam gerbang keenam gerbang iblis yang akhirnya musnah menjadi debu. Dengan kecepatan maksimal yang ia miliki.


"Apakah kau pikir, dirimu dapat melarikan diri dari panah apiku...," ujar Keneo berbicara melalui panah apinya itu.


Panah api dari shen Keneo itu lalu melesat dengan kecepatan tinggi mengejar Chen. Yang benar-benar terkejut, menerima kenyataan yang sedang ia hadapi.


"Sial! Keneo benar-benar tak ingin melepaskan diriku. Mau tak mau aku harus menghancurjan panah api itu. Atau aku akan dikejar-kejar terus oleh panah api itu," kata Chen di dalam hatinya.


 


Chen lalu menghentikan terbangnya, berbalik arah dan menciptakan rantai dari shen hitamnya untuk menghadapi panah api dari shen merah milik leluhur robot Mars itu.


 


Chen lalu melemparkan rantai shen hitam untuk menghancurkan atau paling tidak menangkap panah api itu. Akan tetapi panah api shen Keneo itu seakan memiliki nyawa dan pikiran sendiri. Hingga ia pun dapat membelah diri, hingga menjadi ratusan jumlahnya. Yang langsung mengepung Chen dengan jarak 10 meter.


 


Bukannya hanya dari arah depan dan belakang tubuh Chen yang dikurung oleh belahan panah api merah itu. Akan tetapi di atas bawah dan atas dirinya. Belahan-belahan panah api itu sudah mengurungnya. Hingga ia pun sudah tak memiliki pilihan lain, kecuali membuat perisai pelindung dirinya dari shen hitam miliknya.


 


"Sepertinya aku sudah tidak memiliki harapan untuk hidup...," kata Chen berbicara lirih. Sembari mengerahkan seluruh kekuatannya untuk membuat perisai pelindung yang terus dihujani oleh belahan dari panah api shen merah milik Keneo.


Akhirnya perisai pelindung dari shen hitam milik Chen itu dapat ditembus oleh panah-panah api shen merah milik Keneo. Chen sudah tak dapat mempertahankan perisai pelindungnya yang akhirnya musnah. Hingga panah-panah api shen merah itu menghujani Chen. Hingga tubuhnya pun terbakar menjadi debu yang terbawa oleh angin. Bersamaan dengan matinya Chen. Panah-panah api itu pun ikut musnah dan hilang begitu saja. Tanpa meninggalkan jejak apapun. Hanya ada keheningan yang ada di tempat itu.


 

__ADS_1


__ADS_2