
Matahari masih terlihat di tengah langit biru tanpa batas. Ketika 5 guru, dari 5 Gura-Gura telah tiba di daerah berumput hijau yang begitu luas. Seakan tak berbatas sama sekali. Daerah itu berada 1000 km dari daerah gurun iblis yang memiliki luas nyaris 2 juta km2. Mereka sedikit lebih baik keadaannya dari kemarin hari. Kini shen mereka telah pulih hingga 70%, dari shen puncak yang mereka miliki.
Mereka berlima yang merupakan para manusia terkuat di masa itu terus melesat dengan kecepatan tinggi untuk mencapai, apa yang mereka sebut sebagai rumah. Tempat tinggal rahasia mereka yang tak diketahui oleh siapa pun keberadaannya. Bahkan oleh murid mereka sekali pun, selama ini.
"Ini sudah tanggal 13 ya?" tanya Punka entah kepada siapa, yang direspon oleh Marandra yang berlari di sisinya.
"Ya, tanggal kematian kita semua," sahut Marandra. Lalu tertawa lepas yang diikuti oleh rekan-rekannya. Seakan kematian mereka yang sudah dilihat oleh ramalan Marandra. Hanya sebuah lelucon yang tak perlu ditakuti oleh mereka sama sekali. Yang telah hidup selama 120 tahun.
"Oleh karena itu kita harus cepat kembali ke rumah. Sebelum kematian menjemput kita," tutur Ur Well seusai tertawa dengan lepasnya.
"Mara, bukannya lebih baik kau temui murid-murid kita untuk memberikan pil shen kita kepada mereka," kata Drun dengan sedikit serius. Yang langsung ditanggapi oleh Dewi Peramal Jingga.
"Sudah aku bilang. Percuma aku lakukan hal itu. Lebih baik ikuti saja ramalanku. Tenang saja, pil shen kita tetap aman. Walaupun kita akan mati nanti. Karena 80 tahun dari sekarang. Pil itu akan kuberikan kepada kloningan Kasandra. Setelah kita bangkit dari kematian," jabar Marandra tentang ramalan tentang masa depan mereka, yang sudah dapat ia baca sebulan yang lalu.
"Lalu setelah kita bangkit lagi. Apa yang akan terjadi nanti?" tanya Drun dengan penuh penasarannya.
"Ramalanku hanya sampai disitu. Mungkin setelah dibangkitkan kita akan mati lagi, untuk selama-lamanya...," sahut Marandra dengan entengnya.Tanpa sedikit pun beban diperkataannya itu.
Mereka berlima tertawa kembali dengan kerasnya, sembari terus berlari menuju rumah mereka dengan kecepatan tinggi. Hingga tiba-tiba saja muncullah hantaman angin dan api yang menghadang perjalanan mereka dengan kecepatan tinggi.
Mereka berlima benar-benar terkejut. Karena serangan itu dilepaskan oleh orang yang memiliki shen level S seperti mereka, walaupun dengan level yang lebih rendah dari mereka berlima. Mau tak mau mereka berlima melompat ke udara untuk menghindari serangan kombinasi dari 2 orang yang merupakan pasangan sejenis. Melompat dan melayang setinggi 50 meter dari atas tanah.
__ADS_1
Api yang dibantu angin akhirnya membakar padang rumput hijau yang ada di daerah itu. Yang bernama Lembah Api-Angin. Nama yang diberikan oleh Dewi Api dan Dewi Angin atas daerah kekuasaan mereka itu.
Mereka berlima sangat mengenali serangan kombinasi itu. Karena saat mereka muda, mereka sering bentrok dengan pasangan sejenis itu. Untuk memperebutkan posisi manusia terkuat pada masa itu. Pada turnamen yang terakhir kali diadakan 50 tahun yang lalu.
"Ini pasti serangan pasangan sejenis itu...," ujar Ur Well yang pernah menyukai Dewi Api, yang ditolak oleh Dewi Api mentah\-mentah. Yang terang-terangan menyukai sesama jenisnya. Yaitu Dewi Angin.
"Ya, siapa lagi kalau bukan mereka. Yang salah satunya pernah menolak cinta suciku ini," sambung Drun yang cintanya pernah ditolak mentah-mentah oleh Dewi Angin yang tak mencintai seseorang lelaki manapun. Sejak cintanya ditolak oleh Punka, yang lebih memilih Marandra sebagai kekasih hatinya.
"API-ANGIN KELUARLAH!" teriak Punka kali ini.
Terlihat dari dalam tanah di antara padang rumput hijau yang sedang terbakar hebat. Melesatlah 2 sosok tubuh ke arah mereka berlima yang segera berdiri melayang sejajar dengan mereka berlima dengan jarak hanya 2 meter di antara mereka.
"Karena si tampan Punka yang memanggil kami berdua. Makanya kami segera kemari...," ujar Dewi Angin dengan memakai gaun berwarna putih. Dengan wajah cantik bertipe oriental, dan berambut hitam panjang tergerai dengan fisik berusia 20 tahun. Padahal usia dirinya dan Dewi Api 121, lebih tua dari para guru dari 5 Gura-Gura lama.
Suaranya yang sengaja didesah-desahkan membuat untuk menarik perhatian Punka. Telah membuat Marandra muak mendengarnya.
"Aku dan Api memang remaja dan akan selalu remaja," sahut Dewi Angin dengan gaya yang semakin manja.
"Kalian itu selalu remaja, karena menghisap saripati remaja lelaki, Bukannya begitu?" tanya Punka dengan nada datar.
"Wah...wah..., ternyata ketahuan si tampan Punka ya...," sahut Dewi Angin.
"Sudahlah, sebenarnya kalian ini maunya apa?. Jangan menghalangi perjalanan kami!" tutur Ur Well mulai kesal menghadapi pasangan sejenis itu.
"Kami ingin pil shen kalian," sahut Dewi Api yang kali ini berbicara dengan tegasnya. Sesuai dengan pakaian lelaki yang terbuat dari kulit buaya. Dengan wajah bertipe oriental berambut pendek berdiri seperti seorang lelaki.
__ADS_1
"Kalau kami tak ingin memberikannya?" tanya Ur Well, dengan penuh keangkuhannya.
"Kami akan merebutnya," jawab Dewi Api yang tiba-tiba saja melesat ke arah Marandra untuk merebut kantong kain berwarna jingga Dewi Peramal Jingga itu.
Akan tetapi belum sempat Dewi Api yang berpakaian merah menyala itu, menyentuh Marandra. Ur Well menghadangnya dengan cara mendorongnya dengan aura merahnya. Hingga Dewi Api kembali ke tempatnya semula.
"Pertanyaannya apakah kalian mampu melakukannya?" kata Ur Well. Dengan menunjuk ke arah Dewi Api.
"Tentu saja kami mampu. Kalau kalian berlima adalah yang terkuat dari 1 sampai 5. Mangka kami adalah peringkat 6 dan 7. Tapi dengan kondisi kalian yang sedang terluka parah seperti itu. Peringkat itu bisa berubah," sahut Dewi Api dengan kepercayaan diri yang tinggi. Jika mereka berdua bisa nemngalahkan guru dari para Gura-Gura lama saat ini, dengan luka yang dialami oleh mereka. Akibat bentrokan mereka berlima dengan Chon dan Chun, 2 dari 5 kepang bersaudara di Bulan beberapa waktu yang lalu.
"Walaupun kami terluka parah seperti ini. Aku rasa, kalian masih kesulitan mengalahkan kami berlima," jawab Ur Well dengan suara datar.
"Kalau begitu kita buktikan!"
Seusai berkata seperti itu. Dewi Api lalu maju menyerang Ur Well tanpa basa-basi lagi. Ia gunakan kekuataan penuhnya yang mencapai level S. Hingga dirinya diselubungi oleh aura merah api membara yang membuat daerah sekitarnya menjadi begitu panas. Walaupun sama-sama memiliki shen level S. Akan tetapi shen level S yang dimiliki oleh para guru dari Gura-Gura Lama, adalah mode dasar mereka. Bukan mode maksimal mereka, seperti shen level S milik Dewi Api dan Dewi Angin.
Akan tetapi dengan hanya memiliki 70% dari kekuatan aslinya. Ur Well nampak kesulitan menghadapi Dewi Api yang menyerang secara agresif. Hingga Ur Well pun terpojok jika harus terus menggunakan mode dasarnya. Hingga akhirnya ia pun menggunakan mode maksimalnya yang berada di level S+. Hingga tubuhnya pun diselimuti oleh aura merah yang begitu pekat. Namun baru saja ia menggunakan mode maksimalnya itu. Drun menghampirinya, untuk menghentikan Ur Well menggunakan mode maksimalnya itu.
"Ur, jangan kau gunakan kekuatan maksimalmu untuk menghadapi mereka berdua. Itu akan mempercepat shenmu habis, lebih baik kau simpan untuk menghadapi orang dari masa lalu itu.
"Kalau begitu, aku akan kalah oleh dirinya. Kalau aku tak menggunakan kekuatan maksimalku!" sahut Ur sembari menangkis serangan bola-bola api yang keluar dari dalam mulut Dewi Api secara terus-menerus.
"Aku akan membantumu," mendengar perkataan dari Drun. Ur Well lalu menurunkan shennya ke mode normal kembali. Hingga aura merah yang menyelimuti dirinya menjadi normal kembali.
"Kalian ini bicara saja. Aku akan mengalahkan kalian berdua dengan cepat!" tiba.tiba saja Dewi Api mengubah serangannya. Dari bola-bola api kecil shen yang keluar dari dalam mulutnya. Menjadi serangan naga api shen yang ia kendalikan dengan kedua tangannya.
__ADS_1