Manusia Masa Depan

Manusia Masa Depan
Bab 131. (Menuju Tujuan Terakhir)


__ADS_3

 Titik hitam terlihat semakin membesar di tubuh bulat Matahari, hingga separuh tubuhnya sudah menghitam kelam. Orang biasanya yang melihatnya, pasti mengira matahari sedang mengalami gerhana. Gerhana yang tak biasa, karena dimulai dari sebuah titik di tengah matahari yang semakin membesar secara perlahan-lahan tetapi pasti.


Terlihat Matahari sudah berada di barat. Saat Lima Gura-Gura Lama melihat separuh lebih tubuh matahari sudah menghitam. Mereka yang sedang bersila memulihkan dirinya. Terlihat kebingungan dengan fenomena aneh, yang baru mereka lihat di sepanjang hidup mereka berlima selama ini.


"Kasa, apakah kau bisa melihat fenomena aneh pada matahari?" tanya Or Well kepada Kasandra.


"Menggabungkan shen kita berlima pun. Aku rasa jangkauan mata langitku tak mampu melihatnya. Mungkin hanya mata langit super yang mampu melihat, apa yang sebenarnya sedang terjadi pada matahari," jelas Kasandra.


"Apakah itu gerhana matahari?" tanya Dran kali ini.


"Aku rasa bukan. Aku rasa, ini ada hubungannya dengan orang-orang dari masa lalu itu," sahut Kasandra.


"Mereka itu, sebenarnya memiliki tujuan apa datang ke masa kita?" tanya Clerk entah kepada siapa.


"Mungkin mereka ingin berkuasa di masa kita ini," sahut Dran dengan pemikirannya.


"Sudahlah, jangan memikirkan tentang tujuan mereka datang ke masa kita. Lebih baik kita fokus memulihkan diri kita yang baru 85%. Karena mau tidak, mau. Pada akhirnya kita akan menghadapi mereka," tutur Pusia menutup perbincangan di antara mereka.


***


Sementara itu Syamshe dan Jeni yang sedang dipenjara oleh Chan di ruangan bawah tanah, yang dilapisi oleh shen hitamnya. Mendadak merasakan keanehan pada shen milik Chan yang melepas secara signifikan dengan waktu yang sangat cepat sekali. Hingga shen hitam milik Chan meredup warnanya. Hal itu begitu jelas terlihat di mata langit Jeni dan Syam. Hingga ibu dari Jean itu, menanyakan rasa penasarannya kepada Syam. Yang dipikirnya, pasti tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan situasi yang sedang mereka lihat dengan mata langit mereka berdua.


"Tuan Syam, sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan perisai shen hitam milik Chan. Yang melemah secara cepat ini?" tanya Jeni kepada Syam, yang tersenyum sebelum menjawab pertanyaan dari Jeni.


"Hanya ada 2 kemungkin yang sedang terjadi atas peristiwa ini. Pertama Chan sedang sekarat akibat melawan lawan yang lebih kuat darinya. Kedua ia dan para saudaranya sedang menggunakan jurus portal waktu, untuk mendatangkan majikannya ke masa depan ini," tutur Syam, terlihat cerah wajahnya. Mengetahui jika kekuatan Chan benar-benar sedang melemah. Di mana kekuatan shennya tinggal 15%.

__ADS_1


"Kalau begitu kita bisa melarikan dari dari penjara shen ini?" tanya Jeni, lalu tersenyum.


"Tentu saja, dan sekarang saatnya kita kabur ...," sahut Syamshe.


Syamshe lalu mengibaskan kedua tangannya. Hingga keluarlah cahaya biru dari kibasan tangannya yang segera menghancurkan penjara kayu yang dilapisi oleh shen hitam milik Chan. Penjara kayu itu langsung saja hancur berantakan.


 


Syam dan Jeni lalu melesat ke atas membobol atap ruangan bawah tanah yang menembus ke lantai rumah kayu itu. Terus melesat hingga membobol atap rumah kayu itu.


 


Saat berada di ruangan terbuka. Mereka berdua heran, karena melihat matahari yang sudah menghitam tubuhnya sebesar 89%. Jeni mengira, jika matahari sedang mengalami gerhana. Namun ia tak mengerti sama sekali, kenapa pola yang sedang dialami oleh matahari menuju gerhana totalnya. Sangat berbeda sekali, dengan apa yang pernah ia lihat selama ini.


"Tidak," sahut Syamshe singkat.


"Lalu kenapa matahari menghitam seperti itu?" tanya Jeni kembali.


"Itu adalah jurus membuka portal waktu yang dilakukan oleh Chan dan saudaranya. Agar majikannya dapat datang ke masa ini," tutur Syam.


"Ini gawat, kita hentikan mereka sekarang," kata Jeni dengan penuh kepanikannya.


"Kau ini terlalu naif. Melawan Chan saja, kita tidak mampu. Apalagi melawan mereka sekaligus," sahut Syam, lalu tersenyum kecut.


"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Jeni, dengan penuh selidik.

__ADS_1


"Lebih baik kita menuju tujuan terakhirmu. Memberikan pil dari 5 Dewa Warna kepada murid-muridnya," ucap Syam.


"Kau benar Tuan Syam. Tubuh ini pun, aku rasa tidak akan bertahan lama lagi. Aku melihat 5 Gura-Gura Lama, tidak begitu jauh dari tempat ini. Lebih baik kita ke sana sekarang," ucap Jeni lalu melesat ke arah utara dengan kecepatan tinggi untuk menemui 5 Gura-Gura Lama. Yang diikuti oleh Syamshe. 


***


Di tempat lain. Kenia dan Keneo sudah selesai melatih Er Well, Mark dan kawan-kawannya di dimensi tanpa waktu selama 1 tahun di tempat itu. Hingga shen Er Well pun meningkat menjadi level H. Sedangkan Jean dan Clark menjadi level S+. Sedangkan Mark, Nack dan Franco menjadi level S. Inginnya mereka terus berlatih, akan tetapi Kenia dan Keneo melarangnya. Berada di dimensi itu lebih dari satu tahun. Maka mereka tidak akan pernah bisa kembali ke dunia nyata yang mereka tempati saat ini.


 


Seperti biasa Kenia-Keneo berdiri di atas bukit kapur memandang ke arah matahari yang sudah 92% tubuhnya menghitam di arah barat. Mereka melihat matahari yang sedang menghitam itu dengan mata langit super mereka. Hingga si kembar hybrid itu dapat mengetahui, apa yang sebenarnya terjadi dengan sang surya.


"Ternyata ini ulah mereka berdua," ucap Kenia.


"Apa kita harus menghentikan ulah mereka itu?" tanya Kenia kepada Keneo.


"Kita berdua, tidak mungkin dapat menghentikan ulah mereka berdua itu. Jaraknya terlalu jauh, bagi kita untuk sampai secepat mungkin," sahut Kenia.


"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?"


"Tentu saja menunggu ulah mereka hingga matahari benar-benar menghitam. Setelah itu kita baru mengambil tindakan," ujar Kenia.


Mereka berdua lalu terdiam. Dengan pandangan terus menatap ke arah matahari yang tubuhnya semakin hilang ditelan hitamnya jurus Chan dan Chin, dari pandangan orang-orang yang melihat matahari dari bumi. Bumi yang sedang dilanda oleh zaman es yang begitu hebat.


 

__ADS_1


__ADS_2