
Kematian Chen yang sudah musnah oleh panah api shen merah milik Keneo, menjadi debu. Tentu saja sudah diketahui oleh leluhur dari pasukan robot Mars itu.
"Akhirnya, ia mati juga. Kakakku yang cantik...," ucap Keneo kepada Kenia yang melesat di samping kanannya.
"Tapi aku rasa, kau memerlukan tenaga yang besar untuk menghabisinya dengan salah satu jurus rahasia dari mata langit super itu?" tanya Kenia, dengan penuh selidik.
"Ya, aku tak menyangka. Menggunakan jurus rahasia dari mata langit super. Ternyata menguras lebih dari separuh shenku," jawab Keneo. Lalu merogoh kantung celananya untuk menelan pil pemulih stamina khusus milik mereka yang berwarna separuh merah dan putih.
"Untungnya, kita memiliki pil merah-putih ini," Keneo pun segera menelan pil itu. Hingga dalam sekejap shen sudah kembali putih, seperti sediakala.
"Setelah Chen mati oleh dirimu, dan Chun-Chon mati di dalam kubah pengurung raga. Maka jumlah mereka tinggal dua. Si kepang dua Chan dan Si kepang satu Chin," ujar Kenia.
"Walaupun mereka tinggal dua orang. Tetapi kekuatan mereka jauh di atas Chen. Aku pun tidak yakin dapat menghadapi mereka berdua sekaligus," tutur Keneo. Mempredeksi kekuatan lawannya.
"Kau itu seperti tak menganggap diriku ini. Kalau kita menghadapinya satu lawan satu. Paling tidak kita akan seimbang," ucap Kenia lalu tersenyum lepas.
"Lalu bagaimana dengan majikan mereka?" tanya Keneo, sembari mengingat suara yang sudah membuat mereka berdua tertidur selama 102 tshun. Tanpa mengetahui wujud dari Humsha yang berada di masa lalu.
"Aku rasa ia kesulitan untuk datang ke masa ini, karena sesuatu hal yang tidak kita ketahui sama sekali," timpal Kenia.
"Pasti orang itu sangat mengerikan...," kata Keneo.
"Sudahlah, jangan dibahas tentang hal itu lagi. Lebih baik kita percepat terbang kita untuk mencari pesanan kita itu," tutur Kenia lalu melesat lebih cepat dari yang tadi. Yang langsung diikuti oleh Keneo, dengan segala pertanyaan tentang sosok Humsha yang sebenarnya. Yang kesulitan untuk datang ke masa depan. Karena kekuatannya yang terlalu besar. Tanpa ia mengetahui cara efisien untuk menembus waktu dengan kekuatan shen ysng besar, seperti dirinya.
**
Sementara itu Chan yang sedang terbang menuju ke arah kutub utara bumi untuk bertemu Chin sesuai dengan janji pertemuan mereka. Sudah dapat merasakan, jika Chen, adik ketiganya itu sudah mati beberapa saat yang lalu.
__ADS_1
"Akhirnya ia mati juga. Saudara kandungku sekarang tinggal si Chin. Lebih baik aku hubungi lewat telepati dirinya, untuk memberitahu tentang kematian Chen," kata Chan lalu melakukan telepati bersama kakak kandungnya itu.
Tak memerlukan waktu lama. Telepati antar dua bersaudara itu pun terjadi dengan sempurna.
"Dasar lelaki pesolek, kau mengganggu aku saja!" ujar Chin dengan penuh kekesalannya terhadap Chan.
"Dasar lelaki arogan. Kau itu bisanya marah-marah saja. Aku ingin memberitahumu, kalau Chen sudah mati," jelas Chan, dengan terus terbang dengan kecepatan tinggi.
"Apa peduliku, kepada orang lemah seperti itu!," sahut Chin masih dengan nada yang ketus.
"Apa kau tidak pernah berpikir. Jika Chen mati. Maka untuk membuka portal ruang dan waktu untuk si brengsek Humsha, itu adalah 99% dari kekuatan kita. Itu sangat berbahaya bagi kita," jelas Chan, yang tak dianggap sama sekali oleh Chin sebagai sesuatu hal yang serius.
"Lalu kau maunya apa? Kalau hanya jalan itu yang ada, ya lakukan saja. Yang penting Tuan Humsha bisa datang ke masa ini," kata Chin.
Di saat mereka berdua terus berdebat seperti itu. Tiba-tiba saja Humsha ikut dalam telepati itu. Ia memang memiliki kemampuan telepati antar waktu, dan dapat mengetahui jika para anak buahnya sedang melakukan telepati.
"Tidak di mana pun, kalian berdua ribut saja. Membuat aku kesal saja...," kata Humsha yang membuat Chan dan Chin mendadak terdiam seribu bahasa.
"Chan, kau jangan takut. Aku tidak akan membunuhmu. Saat aku berada di masa depan. Cepat temui Chin, untuk membuka portal waktu untuk diriku," tutur Humsha.
"Kalau aku tidak mau?" tantang Chan.
"Aku akan membunuh seluruh klanmu di sini," ancam Humsa kepada Chan.
"Kau itu, selalu saja mengancam seperti itu. Kalau saja Klan kami tidak saling membunuh dan menyebabkan kehilangan orang-orang terkuat di klan kami. Apa kau masih bisa mengancam aku, dengan kata seperti itu?" tutur Chan, dengan nada sinis.
__ADS_1
"Sayangnya yang terkuat hanya tinggal kalian berlima. Kalian bergabung berlima pun, dapat aku kalahkan dengan mudah. Apalagi klan kalian yang sudah menjadi lemah. Sekarang kau ingin menuruti keinginanku, atau tidak?" tutur Humsha dengan ancamannya.
"Baiklah, aku akan melakukannya!" sahut Chan, lalu memutuskan hubungan telepati dengan Chin. Yang membuat secara otomatis hubungan telepati bersama Humsha yang ada di masa lalu pun terputus.
"Andai saja Patung Budha Giok dapat aku bawa dan kugunakan di masa lalu. Pastinya aku ingin menghidupkan seluruh klanku yang terbunuh dalam perang saudara itu. Agar klanku pulih. Dan si brengsek Humsa, tak dapat mengendalikan aku dan klanku," ujar Chan di dalam hatinya terus melesat ke arah utara dengan kecepatan tinggi.
***
Sementara itu 5 legenda Gura-Gura Lama yang sedang memulihkan dirinya. Terlihat semakin membaik keadaannya. Mereka berlima tak pernah menyangka. Jika bantuan yang diberikan oleh Kenia, begitu luar biasa. Hingga diri mereka dapat pulih lebih cepat dari biasanya yang memerlukan beberapa hari. Kasandra terlihat mengaktifkan mata langitnya untuk menyaksikan pertarungan antara Chen dan Keneo yang sudah berakhir beberapa waktu yang lalu.
Kasandra dan teman-temannya tak tahan memejamkan matanya lama-lama. Sedangkan mereka merasakan pancaran shen yang sedang bertarung dengan level tingkat tinggi.
"Apakah tadi itu pancaran shen dari pertarungan antara Keneo dan Chen?" tanya Or Well dengan penuh penasarannya kepada Kasandra.
"Ya, dan Chen si penghancur Gunung Well dan Pulau Gura-Gura kini sudah mati," sahut Kasandra.
"Syukurlah, kalau dia sudah mati. Dendam Gunung Well dan Pulau Gura-Gura sudah terbalaskan oleh paman guru kita," ucap Or Well. Lalu tertawa lepas.
"Or, apakah kau sudah gila. Tertawa hingga sekeras itu?" tanya Dran dengan penuh kekesalannya.
"Aku bukannya sudah gila. Akan tetapi merasa senang. Karena musuh yang tidak mungkin kita kalahkan dengan kekuatan kita saat ini. Ternyata, dapat dibunuh dengan mudah oleh paman guru kita," tutur Or Well.
Mereka berlima lalu terdiam. Kembali memejamkan matanya, untuk fokus memulihkan shen mereka. Bersama angin yang berhembus dengan kencangnya di tempat itu.
__ADS_1