
Malam kembali menjelang, Purnama masih tampak di langit. Di Puncak Gunung Well, terlihat sebuah bangunan besar berbentuk segitiga, dengan kubah tembus pandangnya. Berdiri dengan megah dan kokohnya di puncak gunung itu. Bangunan itu merupakan kediaman Or Well, dan pusat dari kekuasaan Gunung Well.
Di dalam bangunan itu Er Well sedang berbincang serius dengan seseorang yang sangat mirip dengan dirinya. Bedanya hanya pada rambutnya yang di cat merah menyala. Sesuai dengan warna pakaian yang ia pakai.
Ia adalah Or Well. Yang merupakan anggota Gura-Gura Lama, yang terkuat.
Er Well duduk di sofa berwarna merah dengan manisnya. Sedangkan Or Well terlihat tak bisa diam, ia merayap seperti cicak, di kubah tembus pandang bangunan itu.
"Ayah, seriuslah sedikit. Kedudukan Ayah sebagai orang terkuat di dunia ini akan terancam, dengan kehadiran orang yang mengaku bernama Master Waktu. Yang mengaku telah berusia 2000 tahun," ucap Er Well, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat ulah Or Well.
"Er, kenapa kau sangat merisaukan akan hal itu. Jika memang hal itu harus terjadi, terjadilah. Aku ini bukan orang yang haus akan kekuasaan atau pun gelar. Aku hanya ingin menikmati sisa hidupku ini," jawab Or Well, dengan tenangnya.
Tapi bagaimana dengan Master Waktu, apakah Ayah sanggup menghadapinya. Andai ia membuat kekacauan di Gunung Well ini?" tanya Er Well kembali.
"Jujur saja, setelah aku analisa kekuatannya lewat rekaman hologram Jim Wellmu. Kekuatanku masih jauh jika dibandingkan dengan dirinya itu. Bergabung dengan 4 anggota Gura-Gura Lama pun, kami berlima tetaplah bukan tandingannya. Tidak aku sangka masih ada manusia yang jauh lebih kuat dari kami berlima. Bahkan dari guru kami berlima. Yang telah menghilang sejak 80 tahun yang lalu," sahut Or Well lalu, berhenti merayap di kubah itu.
"Apa mungkin ia salah satu dari Guru kalian berlima?" tanya Er Well kembali.
"Aku pastikan bukan, Guru kami berlima sudah lepas dari ambisi apapun. Apalagi hanya untuk sebuah patung seperti itu. Mereka kalaupun masih hidup, pasti tidak akan berminat dengan benda itu," jelas Or Well.
Er Well tampak berpikir. Matanya menatap ke arah Ayahnya yang berada tepat di atas pandangannya.
"Jika Ayah tidak sanggup menghadapi Master Waktu, walaupun telah bergabung dengan 4 anggota Gura-Gura Lama lainnya. Lalu apa Ayah akan diam saja, jika dirinya benar-benar akan menyerang Gunung Well?" tanya Er Well, menanti jawaban dari Ayahnya.
"Tentu saja tidak, akan aku perjuangkan apapun yang aku miliki sampai mati. Jika ia benar-benar akan menyerang Gunung Well. Karena gunung ini adalah milikku," timpal Or Well dengan seriusnya.
Di saat mereka tengah berbincang, tiba-tiba saja Well ke 1, Kloningan dari Or Well masuk ke dalam ruangan itu. Sepertinya ia ingin menyampaikan sesuatu hal kepada Or Well dan Er Well.
"Ayah, Kakak Er. Mark sudah datang dan membawa teman-temannya. Apa mereka diperkenakan untuk masuk, Ayah?" tanyanya, dan tanpa berpikir panjang lagi. Or Well pun mempersilakannya.
"Suruh mereka semua masuk, biar aku punya banyak teman untuk bermain," ujar Or Well sekenanya.
"Baik Ayah," jawab Well ke 1, lalu pergi kembali dari ruangan itu.
"Ayah, sebaiknya kau jaga wibawamu di depan mereka. Jangan bertingkah seperti anak kecil. Sebaiknya Ayah turun, dan duduk di tempat Ayah," ujar Er Well.
"Kau ini seperti Pusia saja, terlalu taat pada peraturan kuno. Aku tidak mungkin menuruti semua perkataanmu itu, Junior," sahut Or Well dengan tegasnya.
Er well lalu terdiam tak banyak bicara lagi. Ia lebih terfokus pada kehadiran Mark dan kawan-kawannya yang telah ada di ruangan itu.
"Ayah, kau di sini juga?. Mana Kakek," tanya Mark sambil tersenyum kepada Er Well.
"Lihat tingkah Kakekmu itu, yang merayap di kubah ini. Masa kau tidak melihatnya!?" sahut Er Well, menunjuk ke arah Ayahnya. Yang dilihat oleh Mark dan kawan-kawannya. Yang merasa aneh melihat tingkah Or Well, legenda hidup dari Gura-Gura Lama. Yang bertingkah seperti seorang anak kecil.
"Aku tidak menyangka, Tuan Or yang begitu terkenal dan merupakan salah satu dari 5 legenda Gura-Gura Lama. Ternyata tingkahnya seperti ini?" ucap Franco. Yang langsung memancing reaksi dari Or Well.
"Memang kenapa dengan tingkahku ini?, ada yang salah?" ujar Or Well, lalu menatap ke arah Franco dengan tajamnya, yang terfokus ke arah tato Bulan sabit merah di dagunya.
Franco tampak tenang diperhatikan seperti itu. Walaupun hatinya takut, jika Or Well tersinggung dengan ucapannya itu.
"Oh...!, pantas kau itu cerewet. Walaupun kau itu tidak setampan Pusia. Aku bisa memastikan dirimu adalah murid si tampan Pusia. Dan kau itu berasal dari suku Bulan Sabit Merah murni," kata Or Well, lalu melompat turun dari atas kubah itu. Lalu duduk di samping Er Well.
Terlihat Franco bingung mendengar Suku Bulan Sabit Merah murni diucapkan oleh Or Well. Franco tak pernah tahu sama sekali, dan mendengar nama suku yang berasal dari koloni Bulan sebelumnya. Termasuk dari Pusia sendiri. Yang seakan ingin menyembunyikan jatidiri Franco yang sesungguhnya.
"Aku memang murid dari Pusia, Tuan Or. Tapi aku tidak tahu sama sekali, tentang Suku Bulan Sabit Merah murni?. Dan apa hubungannya dengan diriku ini?" tanya Franco, yang seakan ingin meminta penjelasan dari Or Well.
"Jadi Pusia tidak memberitahukan akan hal itu kepadamu?" tanya Or Well.
"Ya, Tuan Or. Dia tidak pernah menceritakan hal itu kepada diriku," sahut Franco.
"Sebaiknya kalian semua duduk, apa kalian tidak lelah berdiri saja daritadi. Dan jangan takut dengan diriku, aku ini tidak segalak rumor yang berkembang di luar sana. Aku ini orangnya bersahabat dengan siapa saja," ujar Or Well, berusaha mengalihkan topik pembicaraannya dengan Franco.
__ADS_1
Terlihat Mark dan teman-temannya lalu duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
Or Well tampak memperhatikan wajah mereka satu persatu. Ia lalu tersenyum dan bicara kembali.
"Seperti Reuni saja, bertemu dengan para pewaris kemampuan Gura-Gura Lama. Kau pasti Clark, cucu dari Clerk yang sangat ia banggakan itu. Karena masih muda, tapi sudah menjadi Pimpinan pembunuh bayaran di Kota Air Pasifik," ucapnya, sambil menatap ke arah Clark.
"Ya, aku Clark. Cucu dari Dewa Racun Clerk. Dan ini Nack, saudara angkatku," jawab Clark tegas.
Or Well tersenyum. Lalu menatap ke arah Jean dan Jean Kecil.
"2 wajah cantik ini mengingatkanku pada seorang wanita cantik, Dewi Peramal Kasandra. Pasti kalian cucu dari Kasandra?" tanya Or Well.
"Ya, aku Jean. Cucu dari Dewi Peramal Kasandra. Dan ini adalah Kloninganku. Jean Kecil namanya," jawab Jean.
Or Well, lalu menatap tajam ke arah Abel, Axel dan Adel. Pandangannya terfokus pada tanda Gura-Gura Baru yang dimiliki oleh mereka bertiga.
"Kalian bertiga anggota Gura-Gura Baru ya?. Ingin menyusup di Gunung Well?" ujar Or Well, sedikit keras.
"Ya, kami anggota Gura-Gura Baru. Tapi itu dulu, sekarang kami telah keluar dari Gura-Gura Baru. Dan ingin menjadi penduduk Gunung Well, yang anda pimpin ini, Tuan Or," timpal Abel mewakili teman-temannya itu.
Or Well lalu bangkit dan berjalan menghampiri mereka bertiga. Lalu berhenti tepat di hadapan mereka bertiga.
"Jika kalian bertiga serius ingin menjadi penduduk Gunung Well. Aku tidak suka dengan tanda Gura-Gura Baru itu. Aku ingin tanda itu hilang dari dahi kalian" kata Or Well.
"Jika bisa, kami pun ingin menghilangkan tanda ini, tapi masalahnya kami tidak bisa menghilangkan tanda yang dibuat oleh Tuan Dran ini," jelas Abel, Or well nampak tersenyum mendengar jawaban itu.
"Jika Dran sendiri, yang membuat tanda itu. Sepertinya aku sendiri yang harus turun tangan untuk menghilangkan tanda itu...."
kedua tangan Or Well lalu bergerak. Tangan kanan Or Well menyentuh tanda Gura\-Gura Baru, yang ada di dahi Abel. Sedangkan yang kiri ke dahi Axel. Terlihat jelas dari kedua tangannya. Keluarlah asap hitam yang bersumber dari tanda Gura-Gura Baru, yang sedang ia musnahkan dari dahi Abel dan Axel. Yang kini tanda Gura-Gura Baru dan nomor keanggotaannya itu telah hilang dari dahi mereka.
Or Well lalu menyentuhkan tangan kanannya ke arah tanda Gura-Gura Baru yang ada di dahi Adel. Dan hal yang sama pun terjadi pada diri Adel, tanda Gura-Gura Baru dan nomor keanggotaannya itu telah hilang dari dahinya.
"Pasti dengan hilangnya tanda Gura-Gura Baru itu. Dran akan segera melacak keberadaan kalian bertiga," ujar Or Well, sambil membayangkan wajah Dran. Yang merupakan salah satu dari 5 anggota Gura-Gura Lama. Dan merupakan ketua dari Gura-Gura Baru.
"Jadi, dengan hilangnya tanda Gura\-Gura Baru itu. Kami telah resmi menjadi penduduk Gunung Well?" tanya Abel.
"Syarat apapun akan kami terima," jawab Abel.
Or Well tersenyum kepada mereka bertiga. Mendengar jawaban dari Abel.
"Bagaimana, jika kalian bertiga menyusup dan menghancurkan Gura-Gura Baru dari dalam?" ucap Or Well nampak serius.
Mereka bertiga tampak terdiam, tetapi sesaat kemudian. Abel angkat bicara kembali, mewakili 2 temannya itu.
"Mungkin kami bisa melakukan hal apapun untuk Tuan Or, tapi kami tidak bisa melakukan hal itu. Untuk menyusup dan menghancurkan Gura-Gura Baru dari dalam. Bukannya kami takut untuk melakukan hal itu. Tapi kami tidak mungkin mengkhianati orang yang paling berjasa dalam hidup kami bertiga. Lebih baik Tuan Or, bunuh kami bertiga. Daripada kami harus melakukan hal itu," mendengar ucapan dari Abel itu, Or Well tersenyum lalu tertawa dengan kerasnya.
"Ha...!, aku suka dengan sikap kalian itu. Jangan dianggap serius ucapanku tadi, aku hanya bercanda. Lagipula biar bagaimanapun, aku ini salah satu anggota Gura\-Gura Lama. Jadi mana mungkin aku menghancurkan Gura-Gura Baru. Walaupun beda visi dan misi dengan Gura-Gura Lama. Ternyata, walaupun Dran itu sedikit gila. Tapi berhasil menanamkan nilai dan arti kesetian pada diri kalian," ujar Or Well, lalu duduk kembali di samping Er Well.
"Lalu bagaimana dengan keputusan Tuan Or, apakah kami diterima sebagai penduduk Gunung Well?" tanya Abel.
"Ya, kalian aku terima menjadi penduduk Gunung Well. Tapi kalian harus mematuhi semua peraturan yang aku buat. Terutama peraturan tentang keluar masuknya kalian ke Gunung Well. Tanpa perintah atau ijin dariku, kalian tidak bisa keluar dari Gunung Well. Tapi jika kalian ingin masuk ke Gunung Well. Kalian hanya perlu laporan dengan penjaga pos di kaki Gunung Well," jelas Or Well tegas.
"Kami mengerti, dan akan mematuhi semua peraturan itu," ucap Abel, yang dianggukin oleh Axel dan Adel.
Or Well lalu menatap ke arah Franco, ia seakan tahu apa yang ada di dalam pikiran Franco itu.
"Sepertinya kau memikirkan ucapanku tadi, tentang Suku Bulan Sabit Merah murni?" ucap Or Well, yang membuat Franco sedikit terkejut.
"Bagaimana, Tuan Or tahu dengan pikiranku itu?" tanya Franco.
"Jika seperti ini saja, Mark bodoh itu pun dapat melakukannya," jawab Or Well, seakan menyindir Mark.
"Jika aku ini bodoh, berarti kakek itu aneh. Jika sudah tahu apa yang dipikirkan oleh Franco, kenapa kakek tidak memberitahunya saja. Dasar kakek yang aneh," mendengar ucapan Mark itu, Or Well pun tertawa.
__ADS_1
"Ha...ha...!, selain anggota Gura-Gura Lama. Hanya dirimu, Mark. Yang berani mengatakan aku ini aneh," Or Well pun lalu menghentikan tawanya itu.
Ia kini tampak serius, matanya menatap tajam ke arah dagu Franco dengan tanda Bulan sabit merah itu.
"Baiklah Fran, akan aku ceritakan dan aku jelaskan apa dan siapa Suku Bulan Sabit Merah murni itu. Aku tidak akan mengulang cerita yang pernah diceritakan oleh Pusia kepadaku."
Or Well lalu menarik napasnya dalam-dalam, sebelum ia bercerita tentang Suku Bulan Sabit Merah murni.
"Suku Bulan Sabit Merah, adalah salah satu suku dari 9 suku yang mendiami koloni Bulan. Dengan jumlah manusia paling sedikit. Dan dengan kutukan tidak boleh menikah dengan sesama Suku Bulan Sabit Merah murni. Maka saat terjadi penyerangan besar-besaran oleh pasukan robot yang entah dari mana asalnya itu, 100 tahun yang lalu ke Bulan, Mars dan Bumi. Maka penduduk koloni Bulan dan Mars, yang terbatas itu akhirnya punah, hanya ada beberapa orang dari Suku Bulan Sabit Merah yang berhasil menyelamatkan diri dan kembali ke Bumi, sebagai tempat asal mereka. Termasuk Pusia, yang saat itu masih bayi," ujar Or Well, lalu mengakhirinya ceritanya itu.
"Kenapa Pusia merahasiakan hal ini kepadaku?. Walaupun aku ini Anak Angkat Jhon Swett, tapi aku lebih dekat dan tinggal lebih lama dengannya. Daripada dengan Ayah Angkatku itu?" tanya Franco sendiri, Tapi Or Well menjawabnya.
"Aku rasa ia memiliki alasan sendiri untuk tidak menceritakan hal ini kepada dirimu. Aku tahu sifat Pusia seperti apa. Walaupun bisa dibilang ia seorang penyendiri. Tapi ia sangat peduli dengan orang yang dekat dengan dirinya. Mungkin Pusia berpikir, ia tidak ingin membuat dirimu merasa sendiri, seperti dirinya, karena mengetahui sukunya telah punah dan berasal dari Bulan. Apakah kau pernah melihat ia sering menatap Bulan purnama dengan tatapan hampa?" Franco tampak berpikir, berusaha mengingat tentang hal itu.
"Ya, sering dan selalu menatap Bulan purnama dengan tatapan kosong. Aku tidak tahu, mengapa ia sering melakukan hal itu?" jawab Franco dengan ingatannya itu.
"Karena ia merindukan kampung halamannya dan sukunya. Yang hanya bisa ia dengar dari Gurunya," timpal Or Well.
"Ternyata Pusia sangat menderita kehidupannya, pantas saja ia menjadi seorang penyendiri seperti itu. Bagaimanapun diriku ini masih lebih beruntung daripada dirinya. Aku tidak tahu cerita itu, sampai Tuan Or menceritakannya kepadaku. Aku juga tidak memiliki hubungan emosi dengan Suku Bulan Sabit Merah dan koloni manusia di Bulan," ucap Franco.
Semuanya lalu terdiam, tapi tiba\-tiba saja Jim Well milik Or Well berbunyi. Pertanda ada yang menghubunginya. Or Well melihat Jim Wellnya itu.
Tampak wajah lelaki yang seusia dengan dirinya dengan rambut dicat kuning, berwajah agak tirus dengan kulit sedikit lebih hitam dari sawo matang. Rambutnya tidak panjang, tapi berdiri ke atas di depan dan sedikit berekor di belakangnya. Dan di dahinya ada tanda Gura-Gura Baru bernomor 1. Ya, ia adalah Dran, ketua dari Gura-Gura Baru. Dan teman lama Or Well, yang merupakan anggota Gura-Gura Lama.
Sepertinya Dran telah tahu, jika ketiga anak buahnya itu ada di Gunung Well.
Mengetahui Dran yang menghubunginya. Or Well lalu menekan tombol Jim Wellnya. Yang membuat hologram Dran keluar dari Jim Wellnya itu. Muncul dengan ukuran aslinya di hadapan mereka semua. Dan Dran pun langsung berbicara kepada Or Well.
"Kakek Aneh!, beraninya kau menangkap anak buahku, dan merekrut mereka menjadi penduduk Gunung Well!" ucap Dran tanpa jeda.
"Dasar Kakek Gila yang cerewet!, tidak pernah berubah. Selalu menuduh orang tanpa alasan dan fakta yang pasti," timpal Or Well, dengan tak kalah sengitnya.
"Faktanya telah ada, mereka bertiga ada di tempatmu. Dan tanda keanggotaan mereka telah kau hilangkan. Aku kurang bukti apalagi!?. Mereka bertiga milikku, bukan milikmu. Jadi kembalikan mereka bertiga, atau akan aku serang Gunung Well dengan kekuatan penuh...!" ancam Dran kepada Or Well.
"Kau ini cerewet sekali, Dran!. Jika ingin serang, serang saja. Kau pikir, diriku ini takut dengan dirimu?. Ingat Dran, 50 tahun lalu. Aku ini yang terhebat di antara kita berlima. Dan hal itu tidak akan pernah berubah keadaannya hingga saat ini, akulah yang terkuat, di antara kita berlima," ujar Or Well dengan tegasnya.
"TAPI SEKARANG AKU INI LEBIH KUAT DARI DIRIMU!" ucap Dran ngotot, yang membuat Or Well menjadi ngotot pula. keadaan itu terus berlangsung cukup lama. Hingga Er Well pun ikut bicara, untuk melerai adu mulut itu.
"Ditambah si Dewa Racun Clerk, pasti keadaannya akan menjadi lebih ribut. Ayah, Paman Dran. Kalian ini seperti anak kecil saja, jika berhologram saja seperti ini. Apalagi jika kalian bertemu langsung. Bisa langsung baku hantam kalian, tapi setelah lelah. Pasti kalian akan saling berpelukan. Paman Dran lebih baik kau tanyakan kepada ketiga anak buahmu itu. Apa yang sebenarnya terjadi," ucap Er Well, yang membuat Dran dan Or Well menghentikan ocehan mereka.
"Kau benar juga Well Junior," respon Dran, menghentikan ocehannya. Lalu ia pun bertanya kepada ketiga anak buahnya itu.
"Kalian bertiga, apa yang sebenarnya terjadi dengan diri kalian. Apa Kakek Aneh itu memaksa kalian untuk untuk bergabung dan menjadi penduduk Gunung Well?" tanya Dran, dengan penuh selidik.
"Tidak, ini keinginan kami sendiri untuk menjadi penduduk Gunung Well. Dan kami telah menyatakan diri keluar dari keanggotaan Gura-Gura Baru," ucap Abel, mewakili teman-temannya.
Dan hal itu membuat Dran marah besar.
"BERANINYA KALIAN MENGATAKAN HAL ITU. KEMBALI KE PULAU GURA-GURA SEKARANG JUGA. ATAU AKU BUNUH KALIAN NANTI!," ujar Dran dengan kerasnya.
"Tidak!, kami tidak ingin membuat kekacauan lagi," sahut Abel.
"BERANINYA KALIAN MENANTANG KEINGINANKU!" ucap Dran, dengan penuh kegeramannya.
"Sudahlah Dran, relakan mereka memilih jalan hidupnya sendiri. Kau tidak bisa memaksakan kehendakmu kepada mereka lagi. Sekarang mereka berada di bawah perlindunganku," kata Or Well, dengan tegasnya, lalu menekan tombol Jim Wellnya. Hingga membuat hubungan hologram itu terputus, bersama lenyapnya hologram Dran.
"Sebaiknya kalian beristirahat. Mark bawa teman-temanmu untuk istirahat," perintah Or Well.
Mark lalu berdiri yang diikuti oleh oleh teman-temannya.
"Kalian ikuti aku," ucap Mark, lalu melangkahkan kakinya. Yang diikuti oleh teman-temannya. Keluar dari ruangan itu, di mana Or Well dan Er Well berada.
Mereka berdua lalu berbincang kembali untuk menghabisi malam itu.
__ADS_1