
Ur Well dan Drun terus bertarung dengan Dewi Api. Yang memiliki kekuatan dan stamina seorang lelaki muda. Bahkan 2 orang terkuat di zaman itu pun tetap bukan tandingannya. Saat ia telah menelan pil api neraka.
Dewi Api benar-benar telah menjelma menjadi sosok yang sangat sulit mereka berdua hadapi. Padahal saat mengikuti turnamen kekuataan yang rutin dilakukan saat mereka muda. Dewi Api bahkan tak dapat mengalahkan Marandra sang Dewi Peramal Jingga, yang merupakan orang terkuat kelima di dunia. Tetapi terlemah di antara mereka berlima.
Dengan kekuataan penuh 100% shen yang mereka miliki pun. Drun dan Ur Well tak yakin dapat mengalahkan si perempuan tomboy itu. Apalagi saat ini, di mana mereka hanya memiliki kekuataan 70% tanpa menggunakan seluruh kekuataannya. Karena amanat dari guru mereka yang tak diperkenankan membunuh para murid dari kekasihnya itu.
Ur Well dan Drun semakin terpojok dengan serangan dari Dewi Api yang semakin masif dan mengganas itu. Seakan tak ingin memberi keduanya bernapas.
"Sial!, dia benar-benar menjadi jauh lebih kuat setelah menelan pil itu," gerutu Ur Well. Sambil menahan naga shen api merah milik Dewi Api yang kini berjumlah 10, yang keluar dari tiap jari-jemarinya.
Ur Well menggunakan shen berwarna merahnya dengan menciptakan tangan raksasa dari tangan kanan dan kirinyanya. Yang terus mencekik naga-naga shen api merah milik Dewi Api yang selalu dapat memulihkan dirinya. Seakan memiliki tubuh abadi, yang jika hancur. Akan terbentuk kembali dengan cepatnya.
"Pasti pil itu ada batas waktunya. Jadi bersabarlah Ur!" sahut Drun, dengan menebas naga-naga shen itu, dengan golok shen raksasanya yang berwarna kuning. Namun naga-naga shen api merah itu tumbuh kembali tiada henti. Yang membuat mereka nyaris putus-asa.
Walaupun perbincangan mereka berjarak 20 meter dari posisi Dewi Api. Tetapi perempuan kelelakian itu dapat mendengar perbincangan di antara mereka berdua dengan sangat jelas sekali.
"Sayangnya, aku pun tak tahu batas waktu itu. Oleh karena itu, aku akan mempercepat kematian kalian...," tiba-tiba saja kekuatan Dewi Api meningkat kembali secara dratis. Hingga Ur Well dan Drun pun terkena serangan dari naga-naga api shen milik Dewi Api. Yang membuat mereka berdua terdorong sejauh 10 meter dari tempat semula. Hingga mereka berdua sedikit kehilangan kendali atas tubuh mereka.
"Akan kuakhiri sekarang!" Dewi Api pun melaju dengan kecepatan tinggi ke arah mereka berdua. Setelah menghilangkan shen naga-naga api merahnya itu.
__ADS_1
Drun dan Ur Well belum sempat membuat pertahanan untuk serangan yang akan dilakukan oleh perempuan yang sebenarnya sudah tua itu. Perempuan yang sudah melebihi umur dari seorang nenek-nenek. Perempuan yang sudah berusia 122 tahun, namun berfisik seorang gadis berusia 20 tahun. Karena ilmu terlarang yang ia pelajari bersama kekasih sesama jenisnya, Dewi Angin. Yang sekaligus sebagai saudara seperguruannya.
Drun dan Ur Well seakan sudah pasrah akan mati di tempat itu oleh Dewi Api. Sekaligus mematahkan ramalan Dewi Peramal Jingga yang memiliki ketepatan 100%. Jika mereka berlima akan mati oleh manusia dari masa lalu. Yang tak lain adalah Mosa, ksatria dari abad ke 10 Masehi.
Akan tetapi tiba-tiba saja ada ribuan jarum peledak milik Marandra yang menyerang Dewi Api, yang segera menghentikan lesatannya. Dan segera membuat tirai pelindung dari shen berwarna merahnya. Yang menyala-nyala bagai api neraka. Yang menyelubungi seluruh tubuhnya.
Shen berwarna merah itu lalu menelan jarum-jarum peledak yang belum sempat meledak, menjadi debu-debu yang bertebangan di udara. Yang terembus oleh angin yang bertiup di tempat itu.
"Aku kira, ramalanmu itu akan meleset, Mara?" ujar Ur Well saat senuanya sudah berdiri sejajar di udara.
"Sudah aku bilang ramalanku itu tak pernah meleset," sahut Marandra terus menyerang Dewi Api dengan jarum-jarum kecil
peledaknya.
"Belum, kami melarikan diri untuk menjalankan rencana kita," sahut Punka membeberkan rencana mereka.
"Rencana?" tanya Drun dengan penuh kebingungannya. Dengan napas yang mulai teratur.
"Nanti juga kau akan tahu," Sahut Punka, sembari melirik ke arah Dewi Angin yang mulai terlihat dari kejauhan. Yang menuju ke arah mereka dengan kecepatan tinggi.
Bersamaan dengan berakhirnya perkataan guru dari Pusia itu. Dewi Angin pun muncul di tempat itu. Saat Punka mengakhiri perkataannya itu. Ia pun sudah bersiap mengibaskan kipas shennya ke arah mereka berlima dengan kekuatan penuh miliknya.
"Beraninya kalian melarikan diru dari diriku. Baiklah aku kubuat kalian benar-benar jauh dari diriku," seusai berkata seperti itu. Dewi Angin lalu mengibaskan kipas shennya ke arah mereka berlima. Yang tak berpikir sama sekali. Jika Dewi Angin akan langsung menyerang dengan kipas shen berbentuk kerucut gunung apa itu.
Ada angin yang begitu besar keluar dari dalam kipas shen itu. Yang segera menghempaskan mereka berlima ke arah barat dengan kecepatan tinggi. Tanpa mereka sempat melakukan perlawanan sama sekali.
__ADS_1
Kehadiran Dewi Angin yang langsung menghempaskan mereka berlima. Telah membuat Dewi Api terkejut. Karena telah merusak kesenangannya itu.
"Apa yang kau lakukan, Angin?" tanya Dewi Api dengan nada ketaksukaannya kepada Dewi Angin.
"Aku sudah menghempaskan mereka. Aku kesal dengan mereka," sahut Dewi Angin dengan nada yang cuek.
"Tapi kita belum mendapatkan pil shen milik mereka," kata Dewi Api, menatap ke arah Ur Well dan kawan-kawannya terhempas ke arah barat dengan kecepatan tinggi.
"Kau itu bisanya hanya mempersulit sesuatu hal yang mudah. Kita tinggal cari saja mereka. Tenang saja, aku dapat mencium angin yang membawa mereka pergi...," ucap Dewi Angin dengan nada yang ketus.
Dewi Angin lalu melesat dengan kecepatan tinggi menuju ke mana anginnya telah menghempaskan kelima musuhnya itu. Yang disusul oleh Dewi Api dari belakang.
Mereka berdua terus melesat dengan kecepatan tinggi. Akan tetapi mereka berdua telah kehilangan jejak guru dari 5 Gura-Gura Lama. Dewi Angin pun hanya dapat mencium samar-samar bau angin ysng keluar dari kipas shennya. Akibat dari Clirk yang telah menebarkan racun penghilang rasa pada angin yang sudah menghempaskan mereka itu.
"Kurang ajar!. Ini pasti ulah dari Clirk si Dewa Racun Hijau. Ia menyebarkan racun pada anginku!" teriak Dewi Angin, sembari menghentikan lesatannya di udara. Dengan mengendus-endus ke mana anginnya berada saat ini.
"Lagipula, kau itu ceroboh sekali angin. Datang-datang main hempaskan mereka dengan anginmu itu!" kata Dewi Api, berdiri di udara di samping Dewi Angin.
"Kau jangan salahkan sku!" bentak Dewi Angin dengan raut penuh kekesalannya.
"Dasar perempuan, selalu tak ingin disalahkan!" balas Dewi Api.
"Kau juga perempuan!" sahut Dewi Angin bertambah keras.
"Kau itu!" Dewi Api pun menghentikan perkataannya itu. Karena ia tahu. Kalau ia melanjutkan pertengkaran itu. Maka urusannya akan semakin panjang dan rumit. Yang akan membuat kepalanya menjadi pusing tujuh keliling.
"Akhirnya, aku mencium bau anginku lagi...," kata Dewi Angin berbicara sendiri.
Dewi Angin lalu melesat kembali dengan kecepatan tinggi ke arah barat. Yang didampingi oleh Dewi Api, mengeja parar guru dari Gura-Gura Lama.
__ADS_1