
5 guru dari Gura-Gura Lama yang dihempaskan oleh tangan raksasa itu. Akhirnya mendarat pada sebuah gurun pasir di Bumi dengan kerasnya. Hingga benturan itu membuat lubang sedalam 10 meter dengan diameter 100 meter. Untung saja tubuh mereka berlima masih diselubungi oleh shen mereka dengan mode muda mereka. Hingga mereka tak terluka sama sekali oleh benturan itu.
Mereka berlima lalu bangkit dengan pedang shen yang menghilang dari tangan mereka.
"Memakai mode muda pun percuma. Kita tetap saja kalah oleh para manusia masa lalu itu," gerutu Ur Well dengan penuh kekesalannya terhadap kejadian yang ia alami di Bulan.
Tampak angin yang menerpa gurun itu menerbangkan pasir-pasir yang ada di gurun itu untuk menutupi lubang benturan itu. Yang membuat para manusia terkuat di bumi itu. Memelesat keluar dari dalam lubang itu. Agar tubuh mereka tak tertimbun oleh pasir gurun yang bernama Gurun Iblis.
"Kekuatan kita pun sekarang tinggal 50%. Lebih baik kita hentikan mode muda kita," lanjut Punka lalu menghentikan mode mudanya. Hingga tubuh mereka pun kembali seperti semula. Tubuh berusia 50 tahun, padahal usia mereka berlima sudah mencapai 120 tahun.
Rekan-rekan Punka pun melakukan hal yang sama. Demi menghemat shen mereka yang tersisa akibat pertarungan mereka di Bulan.
"Aku rasa kekuatan kita sudah tak dapat berkembang lebih tinggi daripada ini," tutur Ur Well seakan sedang mengeluh.
"Lalu apa yang harus kita lakukan. Kita selalu gagal menghadapi para manusia masa lalu itu?" tanya Drun dengan menatap ke arah Ur Well. Seakan dirinya ingin membaca pikiran saudara seperguruannya itu.
Angin pun berhembus kencang di gurun pasir itu. Menerbangkan pasir-pasir di gurun itu dengan begitu mudahnya. Hingga lubang tempat mereka terjatuh telah tertimbun oleh pasir separuhnya.
Ur Well tetap terdiam tak menjawab pertanyaan dari Drun. Hingga Punka pun berbicara memecahkan keheningan di antara mereka berlima.
"Jika kekuatan kita sudah tak dapat berkembang lagi. Kita masih memiliki harapan...," Punka menggantung perkataannya itu. Hingga membuat rekan-rekannya menjadi penasaran, terutama Clirk yang daritadi hanya terdiam saja.
"Maksudmu apa, Suku Bulan Sabit Merah?" tanya Clirk dengan menatap tajam ke arah Punka.
__ADS_1
"Kita masih memiliki murid yang nyaris seperti kloningan kita. Aku rasa di masa depan mereka akan lebih kuat dari kita, dan melampui kita," tutur Punka sembari membayangkan Pusia yang sedang dilatih oleh dirinya. Begitu juga dengan yang lainnya. Yang membayangkan sosok murid mereka masing-masing.
"Tapi aku rasa. Sekuat apapun mereka nanti. Tetaplah bukan lawan dari orang-orang dari masa lalu itu. Mereka pasti akan lebih kuat dari sebelumnya, saat kembali dari masa mereka itu," ujar Ur Well dengan perhitungan yang matang.
"Oleh karena itu, kita harus mewariskan kekuatan kita kepada mereka."
"Maksud kau apa, Punka?"
"Kita akan memberikan pil shen kita. Yang kita kumpulkan selama ini kepada murid kita," jelas Punka yang segera dimengerti oleh rekan-rekannya itu.
"Baiklah, jika begitu kita temui murid-murid kita sekarang!" tutur Ur Well dengan penuh semangat. Padahal mereka sendiri tak tahu sedang berada di daerah mana.
"Kau itu terlalu bersemangat. Apakah kau tahu, kita itu sedang berada di mana?" respon Marandra kali ini.
"Tidak tahu. Tapi bukannya kau bisa menggunakan mata langitmu?" jawab Ur Well dengan tegasnya.
"Siapa mereka?" tanya Drun dengan penuh tanda tanya.
"Mana aku tahu...," sahut Marandra datar.
Tiba-tiba saja Clirk menempelkan tangannya ke pundak Marandra. Hingga guru dari Clerk pun dapat melihat dengan apa yang dilihat oleh mata langit milik Maranda dengan begitu jelasnya.
Orang yang dijuluki sebagai Dewa Racun Hijau itu pun begitu terkejut. Ketika melihat 3 orang yang dilihat oleh mata langit milik Dewi Peramal Jingga itu.
"Ternyata mereka lagi.... Pantas saja bau ini tak asing bagiku," kata Clirk sembari melepaskan tangannya dari pundak Marandra. Yang memancing rekan-rekannya untuk mengetahui siapa sebenarnya ketiga orang yang sedang menuju ke tempat mereka berada.
__ADS_1
"Sebenarnya siapa mereka, Hijau?" tanya Ur Well dengan rasa penasaran yang tinggi. Yang langsung dijawab oleh Clirk.
"Mereka adalah 3 Setan Racun Gurun Iblis. Murid dari Iblis Racun yang aku bunuh 30 tahun yang lalu," jelas Clirk.
"Jadi mereka ingin menuntut balas atas kematian guru mereka 30 tahun yang lalu di Kutub Utara," ujar Ur Well sembari mengingat sosok Iblis Racun yang merupakan salah satu orang terkuat di bumi pada masa itu.
"Aku rasa tidak. Mereka hanya mencium diri kita yang sedang terluka dengan shen besar yang bisa mereka hisap dengan mudahnya," Clirk lalu tersenyum tipis.
"Jadi mereka sama saja dengan gurunya. Yang suka menghisap shen orang yang terluka seperti kita, hingga mati," tutur Marandra. Mengingat sosok dari Iblis Racun yang sangat tergila-gila kepadanya di waktu muda dulu.
"Untung saja kau membunuhnya waktu itu. Jika tidak pasti dia sudah lebih kuat dari kita saat ini," sambung Punka.
"Sudah jangan membahasnya lagi. Lebih baik kalian fokuskan diri untuk mengeluarkan pil shen kalian dengan tenang," ujar Clirk.
"Apa kau yakin bisa menghadapi mereka seorang diri?. Dengan keadaanmu yang seperti ini?" tanya Punka dengan penuh keraguannya.
"Tenang saja, mereka lebih lemah dari murid kita. Dan lebih baik kalian menerima serumku ini," dari keempat jari tangan kanan Clirk keluarlah 4 cahaya hijau yang merupakan serum dari berbagai racun yang ada di zaman itu. Yang ada di tubuh Clirk selama ini.
Tampak berusaha menghindar sama sekali. Mereka berempat menerima serum itu ke dalam tubuh mereka dengan senang hati.
"Kenapa kau memberi kami serummu?" tanya Drun.
"Itu buat jaga-jaga saja. Aku tahu betapa liciknya mereka. Pasti mereka akan menyerang kalian, untuk mengambil pil shen kalian," jelas Clirk
"Ternyata sifat mereka sama dengan gurunya," tutur Punka. Lalu melangkahkan kakinya sejauh 10 meter dari tempat semula, yang diikuti oleh Marandra, Ur Well dan Drun.
__ADS_1
Mereka berempat lalu bersila dan mengeluarkan shen mereka untuk mengeluarkan pil shen mereka. Sekaligus memulihkan diri mereka dengan mata yang terpejam. Tanpa ingin ikut campur dalam urusan Dewa Racun Hijau di masa lalu.