Manusia Masa Depan

Manusia Masa Depan
Bab 117. (Kebimbangan)


__ADS_3

Sementara itu Kenia dan Keneo yang sedang melesat ke arah timur dengan jarak 5000 km sudah dapat merasakan pertarungan antara jelmaan Patung Budha Giok dan duplikat Chin dengan begitu jelasnya.


 


Ditambah lagi, mereka berdua sedang mengaktifkan mata langit super pemberian Markel. Hingga mereka berdua dapat melihat dengan sangat jelas sekali, melebihi penglihatan mata langit milik suku peramal bulan.


"Jadi benda itu yang disebut sebagai Patung Budha Giok di dalam pikiran Er Well yang sudah kita copy, Kakakku yang cantik?" tanya Keneo kepada Kenia yang terbang di sampingnya.


"Ya, benda pusaka yang sangat luar biasa sekali. Bisa berubah wujud dan menjadi seorang petarung dengan level shen setinggi itu," sahut Kenia, dengan penuh kekagumannya.


"Aku tidak tertarik dengan kekuatannya. Aku hanya tertarik, yang ada di dalam pikiran Er. Kalau benda itu dapat mengabulkan permintaan apapun bagi yang berjodoh dengan dirinya," tutur Keneo.


"Memang apa yang kau inginkan, jika patung itu ingin mengabulkan permintaanmu?" tanya Kenia dengan penuh selidik.


"Apa ya...?" Keneo terlihat berpikir sejenak.


"Mungkin aku ingin memiliki seorang kekasih...," Keneo tertawa setelah mengatakan keinginannya itu.


"Kasihan sekali dirimu, hanya ingin memiliki seorang kekasih. Hingga ingin dikabulkan oleh patung itu. Apakah tidak ada hal lebih penting daripada itu?" sahut Kenia, lalu ikut tertawa dengan lepasnya.


"Ya, sepanjang hidupku selama ini. Aku sudah melupakan perasaanku sebagai manusia. Walaupun kita ini sudah menjadi manusia hibrid seperti ini, sejak muda dulu," jelas Keneo lalu matanya pun meredup, mencoba menahan segala kesedihannya itu. Yang segera disadari oleh Kenia sebagai kembarannya.


"Nasibku pun tidak jauh berbeda dengan dirimu. Aku memiliki kekasih, tapi ia mati muda," ucap Kenia sembari membayangkan wajah Markel.


"Sudahlah, jangan diingat masa lalu. Itu akan sangat menyakitkan sekali...," ujar Keneo, dengan suara yang lirih.


Mereka berdua terus terbang dengan kecepatan tinggi menuju ke arah timur. Hingga 4000 km di utara mereka merasakan pancaran shen dari Chan. Mereka berdua lalu melirik ke arah utara dengan mata langit supernya untuk memastikan jika pancaran shen yang ia rasakan, benar pancaran shen dari Chan.

__ADS_1


"Ternyata benar, pancaran shen ini milik Lelaki Pesolek itu. Dan kipas kayu pusaka berwarna ungu itu ada di tangannya," kata Kenia terus melesat ke arah timur dengan kecepatan tinggi.


"Apakah kita harus mengejar dirinya? Atau kita berpisah jalan di sini, aku tetap pada tujuan kita. Dan kau mengejar Lelaki Pesolek itu, untuk belajar berhias seperti dirinya, agar dirimu bertambah cantik," tutur Keneo lalu mencandai kembarannya itu.


"Jangan-jangan kau yang malah terpikat dengan Lelaki Pesolek itu," balas Kenia mencandai Keneo.


"Enak saja. Sekarang bagaimana, keputusanmu. Mengejar dirinya untuk mengambil kipas kayu ungu pemberian kekasihmu itu. Atau tetap ikut bersamaku?" tanya Keneo kali ini serius.


"Lelaki Pesolek itu bukan hanya gayanya yang berbeda. Akan tetapi sifatnya pun sangat berbeda dengan para saudara kandungnya. Bisa dikatakan, ia tidak jahat," jawab Kenia belum memberi jawaban.


"Lalu keputusanmu apa?" tanya Keneo dengan penuh selidik terhadap kembarannya.


"Aku tetap ikut bersamamu. Karena misi ini lebih penting dari hal apapun," sahut Kenia.


"Kalau begitu, lebih baik kita percepat terbang kita. Atau semuanya akan terlambat," Keneo lalu mempercepat terbangnya dari semula, yang diikuti oleh Keneo agar lebih cepat tiba di tujuan mereka.


**


 


"Dia itu, sama saja dengan adik-adiknya. Suka sekali bermain-main dan mempermainkan musuhnya. Apa dia tidak pernah belajar, kalau ketiga adiknya mati. Karena suka bermain-main dengan maut?" ucap Chan di dalam hatinya, sempat melirik ke arah timur di mana pertarungan hebat itu sedang terjadi.


"Kalau Kenia dan Keneo bergabung untuk menyerang Chin. Dengan 100% kekuatannya, aku rasa ia akan kalah telak. Apalagi hanya duplikatnya itu," ucap Chan masih di dalam hatinya.


"Lebih baik, aku melakukan telepati dengan dirinya," Chan lalu melakukan telepati dengan kakak pertamanya itu.


Tidak perlu memerlukan waktu lama. Telepati antar kakak-adik itu pun terjadi.

__ADS_1


"Ada apa lagi kau menghubungiku? Ingin memberitahu, kalau si lemah Chen sudah mati?" ujar Chin, yang sedang berbaring santai di hamparan salju di kutub utara, dengan menatap matahari redup yang berada tepat di tengah langit.


"Aku tidak ingin membicarakan Chen. Aku ingin membicarakan, dirimu Chin," jelas Chan dengan tegasnya.


"Memang kenapa dengan diriku, Chan?" tanya Chin dengan penuh kebingungannya.


"Apakah kau tidak pernah belajar, dengan kematian adik-adik kita?" tanya Chan dengan penuh kekesalannya.


"Maksudmu?" sahut Chin dengan penuh kebingungannya.


"Mereka mati karena suka bermain-main dan mempermainkan musuhnya," tutur Chan dengan penuh kekesalannya.


"Itu lebih baik. Daripada dirimu, yang tak pernah membunuh seseorang baik di masa lalu, maupun di masa depan ini," ejek Chin, seakan sedang menghina adik kandungnya, yang memang tak pernah membunuh manusia sama sekali sepanjang hidupnya. Sangat berbeda sekali dengan para saudaranya yang suka membunuh manusia, baik diperintah oleh Humsha atau pun hanya keinginannya sendiri.


"Peduli setan dengan perkataanmu itu. Dan aku peringatkan kau, kalau Kenia\-Keneo sedang menuju ke tempat duplikatmu berada. Aku pastikan dia akan mati!" sahut Chan dengan ketusnya.


"Hanya duplikatku yang akan mati. Tapi kau sudah begitu panik, apalagi kalau aku yang mati?" timpal Chin.


"Aku tak mempedulikan, kau mati atau tidak. Tapi aku mempedulikan klan kita. Kalau kau mati, otomatis si Brengsek Humsha tidak dapat ke masa ini. Karena aku tidak sanggup membuka portal waktu seorang diri," jelas Chan.


"Bukannya itu yang kau inginkan? Tuan Humsha tidak bisa datang ke masa ini?" tanya Chin dengan penuh keheranannya.


"Itu saat ia belum mengancam akan memusnahkan klan kita yang nyaris punah itu di masa lalu. Aku malah berpikiran, kalau dirinya sudah tiba di masa lalu. Kita dapat meninggalkannya di masa ini. Kita akan kembali ke masa lalu," tutur Chan, menguraikan tentang rencananya itu.


"Terserah kau saja. Aku tetap pada pendirianku, akan tetap setia kepada Tuan Humsha...," sahut Chin lalu memutuskan telepati bersama Chan.


 

__ADS_1


"Dasar keras kepala...," ujar Chan lirih, dengan penuh kekesalannya.


Chan terus melesat ke arah utara dengan kecepatan tinggi. Untuk menuju di mana Chin berada. Agar segera membuka gerbang waktu, untuk Humsha tiba di tempat itu.


__ADS_2