
Di tempat lain, di mana anggota nomor 2 dari 5 kepang bersaudara sedang terbang tinggi di atas Bumi. Dengan tujuannya mengejar lelaki pujaannya, yaitu Syamshe. Yang sedang bersama Jeni untuk menemukan 5 legenda Gura-Gura Lama. Chan tiba di masa ini paling belakangan di antara 4 saudaranya. Ia sebenarnya malas untuk kembali ke masa depan. Kalau saja ia tak mendengar langsung perkataan dari Humsha yang akan membunuh Syamshe, karena menyaingi ketampanannya. Chan ingin melindungi lelaki pujaannya dengan sepenuh hatinya. Walaupun harus mengorbankan nyawanya.
Chan memang berbeda dengan empat saudara kandungnya itu. Walaupun mereka memiliki fisik dan wajah yang serupa. Tetapi Chan memakai bedak tipis pada wajahnya dan lip balm pada bibirnya. Sifatnya pun sangat berbeda sekali dengan 4 anggota kepang bersaudara lainnya. Sifatnya lembut dan lebih suka perdamaian daripada keributan, selama ini.
"Syamshe... Syamshe. Ke mana pun kau pergi. Aku pasti akan menemukan dirimu...," ucap Chan berkata sendiri. Lalu tersenyum membayangkan wajah Syam yang memiliki nama panjang Syamshe.
Lelaki pesolek itu terus terbang dengan kecepatan tinggi. Hingga ia pun melihat asap hitam di kejauhan yang berasal dari sebuah desa yang berada di pinggir sebuah hutan.
"Sepertinya ada yang memerlukan bantuanku. Aku harus ke tempat itu...," ujar Chan lalu melesat ke arah asal dari asap hitam itu. Tanpa mempedulikan lagi tujuannya untuk mengejar Syamshe lelaki pujaannya.
Semakin dekat, asap hitam itu semakin terlihat jelas. Ternyata asap hitam itu berasal dari kebakaran hebat dari sebuah desa yang ada di tepi hutan di selatan Benua Asia. Chan juga belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di sana. Lelaki pesolek itu lalu menghentikan terbangnya setinggi 400 meter di atas kebakaran hebat itu.
Si Kepang dua lalu menadahkan tangannya ke langit. Terlihat dari telapak tangannya muncullah cahaya hitam yang menarik awan-awan pembawa hujan menuju ke arah tangan kanannya. Awan-awan pembawa hujan itu terus berkumpul di atas Chan berada. Hingga pada radius 2 km. Chan membuyarkan isi kandungan dari kumpulan awan pembawa hujan itu. Dengan menembakan cahaya hitam yang ada di telapak tangannya.
Hujan deras pun terjadi membasahi desa itu. Hingga asap hitam yang membumbung tinggi, padam dengan cepatnya.
"Aku ini sebenarnya heran dengan diriku sendiri. Kenapa diriku berbeda dengan para saudaraku itu. Kenapa aku bisa berbuat baik seperti ini?" tanya Chan di dalam hatinya. Membandingkan dirinya dengan 4 kepang bersaudara lainnya.
Hujan deras itu pun akhirnya berakhir. Memusnahkan asap-asap hitam yang membakar desa yang ada di bawah Chan. Lelaki pesolek itu menjadi penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan desa yang ada di bawahnya. Pikirannya berkata, kebakaran itu bukanlah kebakaran biasa.
__ADS_1
"Lebih baik aku turun ke desa itu," ujar Chan sembari menyeka wajahnya yang tak terkena air hujan. Karena ia melindungi tubuhnya dengan aura shennya. Chan takut, air hujan akan membuat luntur bedak tipis yang ia pakainya.
Chan lalu melesat ke arah bawah, menuju desa yang ternyata sedang diserang oleh sekelompok perampok. Yang sedang menyandera penduduk desa itu untuk dijadikan ritual untuk meningkatkan kekuataan shen mereka. Belum sempat Chan mendarat di permukaan Bumi. Chan sudah diserang oleh ratusan panas beracun yang dilepaskan oleh seratusan perampok dari bawah.
"Ternyata desa ini sedang di rampok. Tetapi kenapa begitu banyak perampok, kalau hanya untuk merampok desa sekecil ini?" tanya Chan di dalam hatinya.
Chan tak menghindari serangan panah-panah beracun itu. Ia membiarkan shen hitam yang nenyelubungi dirinya. Yang meluruhkan panah-panah beracun itu menjadi debu. Walaupun panah-panah beracun mereka hancur menjadi debu karena terkena shen milik Chan. Para perampok itu tak mengenal kata jera sama sekali. Hingga mereka pun menyerang Chan kembali, yang belum sempat mendarat, dengan lebih masif dengan panah-panah beracun mereka. Yang akhirnya hancur menjadi debu dan hilang tertiup oleh angin.
Chan terlihat begitu kesal menghadapi para pemanah itu. Hingga akhirnya dirinya memutuskan untuk membunuh para pemanah itu dengan panah mereka sendiri. Agar para perampok yang sedang memanahnya, dapat merasakan betapa beracunnya panah milik mereka itu.
"Sebenarnya aku tak suka membunuh. Namun akhirnya naluri membunuhku sebagai anggota 5 kepang bersaudara keluar juga. Karena ulah mereka itu, jadi jangan salahkan aku. Jika kalian harus mati dengan senjata kalian itu...," ujar Chan berbicara sendiri.
Lelaki pesolek itu lalu memandangi panah-panah beracun yang menyerang. Terlihat panah-panah beracun itu pun berhenti melayang. Akibat jurus yang sedang dilakukan oleh Chan.
Entah Chan memiliki sihir apa. Seluruh panah beracun yang mengepung dirinya berbalik arah menyerang para tuannya yang melepas dirinya untuk menyerang Chan. Para perampok pemanah itu tak menyangka sama sekali. Jika panah beracun milik mereka. Akan menyerang balik diri mereka dengan sendirinya. Panah-panah beracun itu seolah memiliki nyawa dan pikiran sendiri. Panah-panah beracun itu mengejar-ejar tuan mereka. Hingga tuan mereka pun mati menjadi debu, terkena senjata mereka sendiri.
Hanya dalam waktu relatif singkat. Para pemanah itu pun mati seluruhnya, menjadi debu debu tanpa meninggalkan jasad mereka sama sekali. Hanya menyisakan perampok yang tak memanah Chan. Termasuk tiga pimpinan mereka, yang merupakan lelaki berusia 40 tahun dengan wajah penuh berewok. Sedangkan anak buah yang tersisa berjumlah 10 orang.
Chan lalu mendarat dengan mulusnya di permukaan Bumi. Ia lalu menatap puluhan warga desa yang dipenuhi oleh ketakutan kepada perampok itu. Chan tahu para penduduk desa itu hanyalah orang biasa yang tak memiliki shen sama sekali. Ia pun memutuskan untuk menghabisi 13 orang perampok yang tersisa. Agar tak membuat masalah lagi dengan manusia-manusia biasa di masa depan nanti.
__ADS_1
"Siapa kau. Tiba-tiba saja datang, untuk ikut campur urusan kami," kata perampok yang merupakan pimpinan dari perampok itu.
Chan tak menjawab langsung pertanyaan itu. Dirinya mengamati shen mereka yang ternyata hanya berada di level D.
"Anggap saja aku dewa kematian, yang akan mencabut nyawa kalian. Seperti aku sudah mencabut nyawa teman-teman kalian tadi," sahut Chan dengan penuh kesombongannya.
"Jumawa sekali kau!. Kau belum tahu, kami adalah 13 pedang iblis," tutur ketua perampok itu.
"Sayangnya aku tak mengenal kalian. Dalam catatan para penjelajah waktu yang aku baca. Di Bumi aku hanya mengenal para Gura-Gura Lama dan guru mereka 5 Dewa Warna. Sedangkan di Bulan, aku hanya mengenal Kenia-Kenio, yang merupakan leluhur dari para robot Mars dan Bulan," jelas Chan.
Ketigabelas perampok itu tak mengenal Kenia-Kenio sama sekali. Karena si kembar hybrid itu tak tercatat di dalam sejarah Bumi. Sedangkan 5 anggota Gura-Gura Lama dan para gurunya. Mereka kenal sebagai legenda di Bumi.
"Kau jangan membual mengenal para legenda itu," ujar ketua perampok itu.
"Percaya atau tak percaya, itu bukan urusanku. Sekarang lebih baik kalian maju bersama untuk menyerang diriku. Atau aku akan langsung mengirim kalian ke alam baka...," tutur Chan dengan suara lembut tapi dingin.
Tak ada pilihan bagi ketigabelas perampok itu. Kecuali menyerang Chan dengan pedang mereka. Ketigabelas perampok dengan julukan 13 pedang iblis menyerang Chan dengan kekuataan maksimal mereka. Akan tetapi bagi Chan mereka hanyalah lalat. Hanya dengan menggunakan aura shen hitamnya yang diperluas hingga mencapai 13 perampok itu. Tubuh 13 anggota pedang iblis itu pun langsung terbakar menjadi debu.
"Saatnya mengejar lelaki pujaanku kembali...," kata Chan berbicara sendiri. Lalu melesat dengan kecepatan tinggi ke arah timur. Arah di mana Syam dan Jeni berada.
__ADS_1
Lelaki pesolek itu tak mempedulikan sama sekali penduduk desa yang sudah ia selamatkan. Padahal mereka ingin berterimakasih kepada Dewa Penolong mereka yang telah menghabisi perampok yang dipimpin oleh 13 pedang iblis.