
Pongkha dan Pongkhi akhirnya berdiri tegak di atas tanah pulau berbentuk bundar yang sudah kehilangan bentuk aslinya, karena kerusakan yang begitu hebat. Akibat dari pertarungan mereka bertiga.
Walaupun stamina mereka sudah terkuras banyak dan sudah tidak dapat lagi melakukan jurus fusion menjadi Pongkhakhi. Tetapi mereka berdua berniat untuk melawan musuh mereka hingga titik darah penghabisan. Sampai kematian menjemput mereka berdua
Pasangan kembar itu lalu menelan pil pemulih stamina terakhir milik mereka. Walaupun hal itu tak akan membantu banyak dalam menghadapi duplikat Chen yang semakin mendekati mereka berdua di angkasa.
"Kita sudah kehabisan waktu, ternyata jurus fusion pun tidak dapat mengalahkannya," ucap Pongkha terhadap kembarannya, dengan suara yang lirih.
"Tapi kita masih memiliki simpanan shen di dahi ini," kata Pongkhi menunjuk ke arah keningnya yang ber'rajah huruf P. Yng merupakan shen cadangan mereka, yang mereka kumpulkan sedikit demi sedikit di setiap waktunya.
"Kau benar juga. Lebih baik kita gunakan shen cadangan itu sekarang," sahut Pongkha lalu menggunakan shen cadangannya untuk memperkuat dirinya. Yang juga segera dilakukan oleh Pongkhi.
Terlihat rajah berbentuk huruf 'P' di kening mereka pun menghilang. Bersamaan dengan mengalirnya shen cadangan pada tubuh mereka. Walaupun tubuh mereka sudah pulih berkat pil pemulih stamina mereka. Ditambah dengan shen cadangan yang mereka gunakan. Si kembar Pongkha-Pongkhi sadar. Diri mereka tak mungkin menang dari musuhnya itu. Walaupun mereka berdua bertarung mati-matian.
"Sebenarnya dia itu makhluk apa?. Dengan kekuatan fusion itu, 5 Gura-Gura bergabung pun. Tetap bukan tandingan kita," kata Pongkhi yang disahuti oleh duplikat Chen yang turun dari angkasa dan berdiri 5 meter dari mereka berdua dengan penuh keangkuhannya.
"Anggap saja aku dewa di masa ini. Dan jangan bandingkan aku dengan 5 lalat Gura-Gura itu. Apalagi dengan diri kalian yang selalu kehabisan stamina saat bertarung. Tetap saja, kalian menggunakan tubuh gabungan. Bagiku kalianlah tetaplah lalat. Yang bisa aku bunuh dengan mudahnya," tutur duplikat Chen dengan penuh kesombongannya.
"Dasar Jumawa!!" sahut Pongkha\-Pongkhi secara bersamaan.
__ADS_1
Pasangan kembar itu lalu menciptakan pedang dari shen mereka, yang mereka genggam dengan tangan kanannya. Seperti angin mereka berdua melesat untuk menyerang duplikat Chen dengan gencarnya. Yang telah menciptakan dua pedang hitam dari shennya, yang ia gunakan pada kedua tangannya. Untuk melayani si kembar Pongkha-Pongkhi.
"Sepertinya, kalian tidak mengenal kata menyerah ya?" ucap duplikat Chen di antara adu pedang di antara mereka.
"Karena kau telah menghancurkan pulau milik guru kami. Maka sampai mati pun, kami berdua akan bertarung dengan dirimu!" sahut Pongkha dengan sengitnya.
"Kalau begitu akan kukabulkan!" tiba-tiba saja, duplikat Chen meningkatkan shennya lagi. Hingga aura shen hitamnya dapat mendorong Pongkha dan Pongkhi ke belakang dengan masih memegang pedang putih shen mereka dengan kuatnya.
Tak hanya sampai disitu saja. Duplikat Chen lalu menyerang mereka berdua dengan bola shen hitam sebesar bola basket. Pongkha dan Pongkhi berusaha menahan serangan bola shen itu dengan menyilangkan pedang shen mereka. Akan tetapi kekuatan bola shen hitam yang dilepaskan oleh duplikat Chen terlalu besar bagi mereka berdua yang hanya memiliki shen level S.
Bola shen hitam itu menghantam tubuh si kembar Pongkha dan Pongkhi dengan begitu dahsyatnya. Hingga tubuh mereka pun terpental setinggi 25 meter ke angkasa. Walaupun keadaan Pongkha dan Pongkhi sudah sekarat. Akan tetapi duplikat Chen tetap memburu mereka berdua. Duplikat dari si kepang tiga itu. Melesat ke angkasa, lalu menciptakan bola shen hitam kembali ke arah Pongkha dan Pongkhi yang sudah tak berdaya itu.
Saat serangan dari duplikat Chen itu berada 5 meter dari tubuh Pongkha-Pongkhi yang melayang di udara. Tiba-tiba saja muncullah cahaya putih yang menghantam ke arah bola shen hitam milik duplikat Chen dari lubang ruang dan waktu yang memakan tubuh si kembar Pongkha dan Pongkhi ke dalamnya.
Bola shen hitam itu pun melesat ke arah duplikat Chen yang segera menghindari serangan balik itu.
"Ini seperti kekuatan guru...," ujar Pongkha, lalu tak sadarkan diri.
"Akhirnya, guru muncul juga...," sambung Pongkhi lalu tak sadarkan diri.
Tubuh mereka berdua pun semakin masuk ke dalam lubang ruang dan waktu yang entah diciptakan oleh siapa. Yang dikira guru dari si kembar Pongkha dan Pongkhi.Yang telah hilang selama ini.
Duplikat Chen pun kesal. Karena ada orang lain yang ikut campur dalam urusannya. Penjahat dari masa lalu itu benar-benar murka. Dengan orang yang berani ikut campur dalam urusannya.
__ADS_1
"Siapa kau!. Berani ikut campur urusanku?" teriak duplikat Chen.
"Kau ini hanya tubuh duplikat, tapi berisik sekali. Lebih baik kau kembali ke tubuh aslimu," sahut suara tanpa wujud dari dalam lubang ruang waktu yang telah membawa tubuh si Pongkha dan Pongkhi.
Dari dalam lubang ruang dan waktu itu. Muncullah seberkas cahaya putih yang langsung menghantam tubuh duplikat Chen dengan dahsyatnya.
"Kekuatan ini, setara dengan kekuatan Tuan Humsa..," ujar duplikat Chen.
Tubuhnya pun lalu hancur, dan berubah menjadi cahaya hitam yang segera melesat dengan kecepatan tinggi ke arah di mana Chen berada. Terlihat lubang ruang dan waktu itu pun lenyap tanpa meninggalkan jejak sedikit pun. Membawa si kembar Pongkha dan Pongkhi entah ke mana.
Cahaya hitam dari kehancuran tubuh duplikat Chen terus melesat dengan kecepatan tinggi menuju ke arah Chen yang masih terbang menuju Gunung Well untuk mencari Or Well. Hingga akhirnya cahaya hitam itu masuk ke dalam tubuh Chen. Hingga dirinya memiliki seluruh kekuatannya kembali. Dengan ingatan, apa yang sudah dilakukan oleh tubuh duplikatnya.
"Sebenarnya siapa yang sudah menyelamatkan si kembar itu?" tanya Chen di dalam hatinya.
"Peduli setan!. Yang penting sekarang saatnya mencari Or Well di Gunung Well," jawabnya di dalam hatinya.
Si Kepang Tiga lalu melesat dengan kecepatan jauh lebih tinggi dari yang tadi. Karena kekuataanya sudah penuh. Hingga mata langit milik Jean kehilangan jejaknya.
"Orang itu bergerak jauh lebih cepat lagi menuju Gunung Well. Aku pun sudah kehilangan jejaknya," kata Jean berbicara kepada Clark.
"Wajar saja kau kehilangan jejak dirinya. Kekuataannya aku rasa di atas gabungan 5 orang dari legenda Gura-Gura Lama. Bahkan Tuan Syam dari masa lalu pun bukan tandingan dirinya," timpal Clark.
"Sebenarnya dia itu siapa?" pertanyaan Jean pun tak di jawab oleh Clark. Karena ia pun tak tahu harus menjawab apa.
__ADS_1
Mereka berdua terus berlari dengan kecepatan tinggi. Mengejar Chen yang tak mungkin dapat mereka kejar sama sekali. Di Semenanjung Sundaland yang begitu luas.