
Ledakan dari bola shen hitam milik Chen itu begitu dahsyat. Hingga Gunung Well yang merupakan gunung api soliter raksasa di Sundaland. Lenyap dari permukaan Bumi, saat itu juga. Tergantikan oleh lubang selebar 100 km dengan kedalaman 2 km. Awan hitam seperti bunga kol terbentuk setinggi 10 km dari atas laut. Awan berbentuk bunga kol itu berisi debu-debu yang begitu pekat. Di mana Chen masih ada di dalamnya.
"Sial!, aku terjebak dipusaran debu ini. Sebaiknya aku menuju arah barat...," ucap Chen di dalam hatinya, lalu melesat dengan kecepatan tinggi ke arah barat untuk keluar dari awan berbentuk bunga kol yang masih terlihat jelas dari kejauhan.
Bukan makin memudar awan berbentuk bunga kol berwarna hitam itu. Akan tetapi semakin jelas dan meninggi ke angkasa. Hingga Jean dan Clark yang berada 500 km dari tempat itu dapat melihat jelas awan hitam berbentuk bunga kol itu. Mereka berdua menghentikan lari mereka, ketika mereka berdua merasakan getaran gempa bumi yang begitu hebat. Akibat dari penghancuran Gunung Well oleh Chen beberapa saat yang lalu.
"Tidak mungkin Gunung Well hancur seperti itu?" tanya Jean berbicara sendiri. Dengan memandang ke arah awan hitam berbentuk bunga kol dengan mata langitnya.
Clark dengan matanya sendiri hanya dapat melihat awan hitam berbentuk bunga kol itu. Tidak dapat melihat sejelas Jean, melihat dengan mata langitnya. Yang melihat Gunung Well sudah berubah menjadi sebuah kaldera raksasa.
"Sebenarnya apa yang kau lihat itu Jean, dengan mata langitmu itu?" tanya Clark dengan penuh kebingungannya.
"Coba kau berbagi penglihatan denganku. Agar kau dapat melihat sendiri, apa sebenarnya yang sudah terjadi dengan Gunung Well," sahut Jean tanpa ingin menjelaskan sama sekali dengan apa yang sudah dilihatnya dengan mata langitnya itu.
Clark lalu menempelkan telapak tangannya ke pundak Jean sambil menghantarkan shennya. Agar radius jangkauan mata langit Jean dapat meluas. Dengan cara itu juga, ia pun dapat melihat dengan apa yang dilihat oleh mata langit Jean.
"Mana Gunung Well, Jean?" tanya Clark dengan kepolosannya tak melihat Gunung Well sama sekali. Ia hanya melihat kaldera raksasa yang berbentuk bulat.
"Gunung Well sudah hancur. Tergantikan oleh kaldera raksasa itu," jawab Jean lalu menatap ke utara Semenanjung Sundaland.
"Lalu sekarang kita harus bagaimana?" tanya Clark.
"Kita akan ke utara. Kita akan menemui Mark dan kawan-kawannya yang sedang mencari patung Budha Giok," jawab Jean lalu berbalik arah ke arah utara.
"Kenapa kau tidak menghubungi via hologram saja?" tanya Clark kembali.
"Tidak perlu. Nanti ia shock, dan tak ada yang dapat menenangkannya. Saat mendengar Gunung Well dan isinya hancur," tutur Jean lalu berlari kembali ke arah utara yang diikuti oleh Clark.
__ADS_1
***
Abel, Adel dan Axel yang terbang melesat ke arah timur menjauhi Gunung Well. Begitu merasakan, betapa dahsyatnya kekuataan yang menghancurkan Gunung Well. Mereka bertiga pun menghentikan lesatan mereka di jarak 400 km dari Gunung Well. Dan berbalik arah ke arah mereka pergi. Ternyata tiga mantan anggota Gura-Gura Baru itu luput dari penglihatan mata langit milik Jean. Yang fokus melihat kehancuran Gunung Well saja.
"Kekuatan macam apa yang orang itu miliki. Hingga dapat menghancurkan Gunung Well dengan mudahnya?" kata Adel kepada kedua rekannya.
"Sudah jangan dipikirkan. Lebih baik kita temui Mark, sesuai dengan reaksi antar jim well milik Tuan Er Well dengan jim well milik Mark," sahut Abel memperhatikan kerlap-kerlip jim well milik Er Well yang ia kenakan di tangan kirinya. Jim Well itu memang diatur untuk bereaksi terhadap jim well yang dikenakan oleh Mark Well.
"Aku juga mencium bau dari dua orang yang tak asing bagi kita," kata Axel sembari mengendus ke arah utara di mana Jean dan Clark sedang berlari dengan kecepatan tinggi.
Axel memang memiliki penciuman yang sangat tajam sebagai seorang pemburu. Ia secara genetika diwarisi memiliki penciuman hingga 1000 km. Hingga dengan mudah ia dapat mencium keberadaan Jean dan Clark yang berada 300 km di utara mereka.
"Jean dan Clark, yang aku maksud. Sepertinya mereka juga sedang mencari Mark dan kawan-kawannya," jelas Axel.
"Kalau begitu kita susul mereka," respon Abel, lalu melesat dengan kecepatan tinggi ke arah utara. Yang diikuti oleh Adel dan Axel.
***
Sementara itu para Gura-Gura Lama yang sedang menuju sumber dari shen guru mereka. Akhirnya kehilangan jejak shen guru mereka. Walaupun begitu, mereka berlima tetap melanjutkan perjalanan mereka. Dengan harapan dapat menemukan sisa-sisa shen guru mereka. Akan tetapi saat mereka terbang tinggi di angkasa. Dran dan Or Well merasakan jantung mereka berdebar dengan sangat kencangnya. Hingga mereka berdua pun menghentikan terbang mereka. Yang segera diikuti oleh ketiga rekannya.
"Kenapa kalian berhenti?" tanya Pusia kepada Dran dan Or Well.
__ADS_1
"Aku merasakan firasat buruk terhadap pulauku," sahut Dran.
"Aku juga merasakan firasat buruk terhadap gunungku," timpal Or Well.
"Kalau begitu, coba kita lihat dengan mata langitku. Mumpung jarak yang kita tempuh baru 3500 dari Gunung Well," sambung Kasandra.
Seperti sudah dikomando oleh Kasandra. Dran dan Or Well lalu menempelkan tangan mereka ke pundak Kasandra sembari mengalirkan shen mereka ke tubuh Kasandra. Hingga jangkauan mata langit pun menjadi 3000 km belum cukup untuk menjangkau letak Gunung Well. Clerk lalu menempelkan tangan kanannya ke pundak Dran. Sedangkan Pusia menempelkan tangannya ke pundak Or Well. Hingga jangkauan mata langit Kasandra menjadi 5000 km.
Saat hal itu terjadi mereka berlima tak melihat Gunung Well sama sekali. Sosok Gunung Well yang mereka kenal selama ini. Sudah tergantikan oleh sebuah kaldera raksasa dengan diameter 100 km, dengan kedalaman 2 km. Yang mulai terisi oleh air yang muncul dari mata air dari segala arah di tempat itu.
"Ini benar-benar keterlaluan!. Siapa yang berani menghancurkan gunungku!" teriak Or Well dengan segala amarahnya berniat untuk meninggalkan tempat itu. Namun dicegah oleh Dran yang belum melihat keadaan Pulau Gura-Gura.
"Or, Kau jangan pergi dulu. Aku belum melihat Pulau Gura-Gura," ujar Dran, yang membuat Or Well mengurungkan niatnya sementara waktu.
Mereka berlima lalu melihat ke arah di mana Pulau Gura-Gura berada. Akan tetapi mereka tak menemukan pulau itu sama sekali. Mereka hanya mendapati kehancuran pulau yang berada di sekitar Pulau Gura-Gura. Hingga Dran pun mengambil kesimpulan jika pulau miliknya sudah dihancurkan oleh orang yang menghancurkan Gunung Well.
"Sebenarnya siapa yang sudah menghancurkan Pulau Gura-Gura dan Gunung Well?" tanya Dran bertanya sendiri. Yang disambung oleh perkataan Kasandra.
"Itu dia orangnya!" seru Kasandra. Melihat sosok Chen sedang terbang dengan kecepatan rendah 100 km dari barat kaldera raksasa bekas berdirinya Gunung Well.
"Kalau begitu kita harus mehukumnya!. Karena ia sudah menghancurkan markas kita!" kata Or Well lalu melesat dengan kecepatan tinggi meninggalkan teman-temannya.
"Or tunggu aku!" teriak Dran, lalu melesat ke arah Or Well pergi.
"Mereka itu selalu saja terburu-buru...," ucap Pusia lalu melesat, menyusul ke arah di mana Dran dan Or Well pergi.
Tak ada pilihan lainnya bagi Clerk dan Kasandra, selain menyusul Rekan-rekannya. Yang belum mengetahui betapa mengerikannya kekuatan shen dari si kepang tiga Chen, yang berasal dari abad ke 10 Masehi.
__ADS_1