Manusia Masa Depan

Manusia Masa Depan
Bab 26 ( Jeni yang Hidup Kembali)


__ADS_3

Matahari kembali muncul dari ufuk timur, perlahan-lahan tapi pasti. Kegelapan pun akhirnya sirna terkena sinarnya. Semakin meninggi dan terus meninggi. Hingga akhirnya menerangi Bumi, dengan sinarannya.


Terlihat di atas sebuah bukit kapur, 650 km di barat Gunung Well. Tampak Master Waktu sedang memegang patung Budha Giok, mulutnya terlihat sedang berkomat-kamit, seakan sedang membaca mantra.


Di sampingnya berdiri sesosok wanita. Wajahnya mirip sekali dengan Kasandra, tapi ia bukanlah Kasandra. Ia adalah Jeni, kloningan dari Kasandara, Ibu dari Jean.


Rupanya ia telah dihidupkan kembali oleh Master Waktu. Entah dengan cara dan ilmu apa, tetapi pada kenyataannya Jeni telah hidup kembali saat ini.


"Jangan memaksakan diri, jika Tuan tidak mampu menggunakan patung itu. Terima saja takdirmu, Tuan. Patung itu tidak berjodoh dengan dirimu. Aku takut dirimu malah terkena efek dari penolakan patung itu. Jika Tuan terus memaksakan mantra, agar patung itu dapat Tuan gunakan. Ini ramalanku untuk dirimu, Tuan," ucap Jeni, dengan datarnya. Dengan tatapan ke arah Master Waktu.


Setelah ucapan Jeni itu berakhir. Tiba\-tiba saja patung itu mengeluarkan sinar emas. Yang membuat Master Waktu terkejut. Tangannya yang memegang patung itu, tiba-tiba saja terasa sakit seperti tersengat aliran listrik yang sangat tinggi. Hingga ia pun harus melepaskan patung itu, hingga jatuh ke tanah.


"Dasar patung sialan!, gara-gara ulahmu ini, tangan kiriku sudah tidak dapat digunakan lagi, lebih baik aku potong saja tangan kiriku ini"


Dari telapak tangan kananya, keluarlah cahaya biru. Yang segera ia tebaskan ke arah tangan kirinya. Hingga tangan kirinya terputus. Dan darah segar pun keluar dari luka itu. Tetapi bukan darah yang berwarna merah yang keluar dari lukanya itu. Tetapi darah yang berwarna hitam yang keluar dari lukanya itu.


"Tidak berguna, bukan berarti aku tidak bisa menggunakan tangan kiriku lagi," setelah mengucapkan hal itu, tiba-tiba saja dari bekas lukanya. Muncullah telapak tangan yang semakin memanjang dan terus memanjang. Hingga akhirnya membentuk tangan kirinya kembali.


Dan lukanya pun menghilang, yang membuat Jeni kagum melihatnya.


"Tuan, semakin lama aku mengenal Anda. Aku semakin mengagumi Anda. Anda benar-benar hebat dan sangat luar biasa sekali," ujar Jeni, tersenyum ke arah Master Waktu.


"Sehebat apapun diriku ini, percuma saja. Jika aku tidak bisa menggunakan patung itu. Entah mantra apa yang telah digunakan oleh Kakakku sebagai pengunci dan pembuka. Agar patung ini bisa aku gunakan. Jika tidak bisa aku gunakan patung hasil seni tertinggi Kakakku ini, lebih baik kuhancurkan saja!"


Terlihat Master Waktu lalu mengarahkan telunjuk tangan kanannya ke arah patung itu, yang kini tergeletak di tanah.


Tampak dari telunjuk tangan kanannya, keluarlah cahaya biru yang segera menghantam patung Budha Giok. Dari hantaman itu terjadilah guncangan hebat yang terasa hingga 1000 km jauhnya. Tapi jangankan hancur, tergores pun tidak. Patung budha Giok itu tetap utuh seperti sedia kala. Tanahnya pun masih utuh, seakan tanah tempat patung itu berada ikut terlindungi, oleh pelindung maya patung itu.


"Semakin mengenalnya, semakin aku merasa ngeri melihat kemampuan dan kekuatannya itu. 5 anggota Gura-Gura Lama pun sebagai yang terkuat, aku rasa biar bergabung pun, mereka tidak mungkin dapat mengalahkannya. Sulit untuk menemukan kelemahannya. Tapi aku yakin sehebat dan sekuat apapun dirinya itu, pasti ia memiliki kelemahan. Aku hanya butuh kesabaran untuk menemukan kelemahan dirinya. Dengan keadaan seperti ini, pura-pura terkena jurus hipnotis dari dirinya. Agar ia tidak curiga," ujar Jeni di dalam hatinya.


"Wah!, wah!, karya seni yang hebat. Dihancurkan pun tidak bisa, tapi bagaimana ya, jika kekuatannya aku tambah, untuk menghancurkan patung itu." ujar Master Waktu.


Master Waktu lalu mengarahkan telapak tangan kanannya ke angkasa. Perlahan-lahan tapi pasti, muncullah bola cahaya hijau dari telapak tangan kananya. Dan ia pun berniat untuk meluncurkannya ke arah patung Budha Giok. Dengan kecepatan tinggi yang dapat menghancurkan wilayah sekitarnya.


"Hancur atau tidak hancur, pasti akan terjadi ledakan yang besar!" ucap Master Waktu, bersiap untuk meluncurkan serangannya itu.


Akan tetapi sebelum hal itu terjadi. Tiba-tiba saja muncul dari arah belakang dirinya, sesosok lelaki berusia 30 tahunan, dengan berpakaian berwarna putih panjang. Yang langsung mendekap dan membawa Master Waktu terbang setinggi 500 meteran dari permukaan tanah. Ia langsung memegang tangan kanan Master Waktu yang membuat bola cahaya hijau, lalu mengarahkannya ke arah tubuh Master Waktu. Hingga terjadi ledakan yang sangat hebat, yang membuat tubuh Master Waktu hancur berkeping-keping. Dan lalu jatuh ke tanah.


Terlihat Jeni sangat terkejut dengan kejadian yang ia lihat itu, yang terjadi begitu cepat. Apalagi setelah penyerang Master Waktu itu muncul di hadapannya. Kini ia tampak jelas di hadapan Jeni. Wajahnya begitu tampan, sekelas dengan Pusia. Rambutnya hitam dan diikat ekor kuda.


"Kau jangan begitu terkejut melihat kejadian tadi. Majikanmu tidak mungkin mati semudah itu, walaupun tubuhnya hancur seperti itu. Tapi selama tubuhnya masih ada yang menyentuh Bumi. Maka ia masih dapat hidup kembali, walaupun hal itu memerlukan sedikit waktu. Camkanlah kata-kataku itu, siapa tahu ini berguna bagi tujuan sejatimu. Dewi Peramal Junior...," ucapnya.


Jeni hanya diam tak merespons perkataan dari lelaki yang memiliki wajah serupa Pusia. Ia hanya menyaksikan keping-keping tubuh Master Waktu, yang mulai menyatu dan bersatu kembali. Hingga akhirnya pulih seperti semula.

__ADS_1


"JANGAN GANGGU BUDAKKU, KAKAK!" ucap Master Waktu, yang membuat lelaki yang dipanggil Kakak oleh Master Waktu itu, membalikan tubuhnya.


"Siapa yang ingin mengganggu budakmu, Mosa. Aku hanya ingin berbincang dengan dirinya. Tapi aku ajak bicara, ia hanya diam saja?" sahutnya, sambil melangkahkan kakinya, menjauhi Jeni.


"Tentu saja ia hanya diam saja. Karena otaknya telah aku cuci dengan jurus hipnotis. Ia akan, dan hanya ingin bicara dengan diriku saja," jelas Master Waktu, yang ternyata bernama Mosa.


"Kau itu masih saja mengandalkan jurus seperti itu untuk mengendalikan orang lain. Apa kau lupa, ini abad 30 yang akan segera berakhir. Bukan abad ke 10, di mana semestinya kita hidup. Apakah perjalanan waktu telah membuat otakmu kacau, Mosa?" ucapnya, lalu tersenyum ke arah Mosa.


"Jangan meremehkan jurusku itu. Biar bagaimana pun di abad ini, akulah makhluk yang terhebat dan terkuat!" ujar Mosa.


"Tapi setelah ada aku, apakah gelar itu masih pantas untukmu. Sudahlah Mosa, lupakan saja obsesimu untuk menjadi yang terkuat. Sampai-sampai demi obsesimu itu. Kau mengejar dan mencari karya seniku itu, hingga ke masa depan," katanya, sambil menunjuk ke arah patung Budha Giok.


"Tapi apa yang kau dapat selama 100 tahun di masa depan ini, hanya semu bukan?. Kau telah mendapatkan patung itu, tapi tidak bisa menggunakannya. Sungguh sangat menyedihkan keadaanmu itu. Lebih baik kau pulang bersamaku, ke masa lalu. Dan menjalani hidup sesuai dengan takdir yang ada," ucapnya, dan Mosa tampak tak sedang dengan ucapannya itu.


"Kak Syam, jangan memaksaku untuk pulang ke masa lalu. Aku sudah 100 tahun berada di masa depan ini. Daripada kau menyuruh aku pulang ke masa lalu. Lebih baik kau beritahu aku, mantra pembuka untuk menggunakan karya senimu itu!" ujar Mosa.


Lelaki yang dipanggil Syam itu tampak tersenyum, lalu menjawabnya.


"Sayang sekali, aku juga tidak bisa menggunakan patung itu. Lagipula saat menciptakan karya seniku itu. Aku tidak menggunakan mantra apapun. Aku hanya memberi tanda, siapa saja yang dapat menggunakan patung itu . Tanda itu harus aku buat saat pengguna patung itu masih bayi. Dan aku melakukannya 23 tahun yang lalu di zaman ini," jelas Syam.


"Siapa orang itu. Dan sekarang berada di mana, aku akan mencarinya?" tanya Mosa, dengan rasa penasarannya itu.


"Ada 3 orang, dan aku rasa kau tidak perlu mencarinya. Mereka yang akan mencari patung itu, demi mengembalikan keadaan Bumi sebelum dihancurkan oleh pasukan robot Mars dan Bulan," jawab Syam.


"Aku tidak percaya, jika hanya mereka yang dapat menggunakan patung itu. Kau pasti sedang berbohong kak Syam. Aku akan memaksamu untuk memberitahuku, bagaimana caranya menggunakan patung itu," kata Mosa, lalu menyerang Syam dengan tiba-tiba.


"Fantasis, pertarungan yang luar biasa. Mungkin dengan kekuatan selevel ini. 5 anggota Gura-Gura Lama pun harus menggunakan kekuatan maksimal mereka. Tapi masalahnya, apakah mereka ingin bertarung dengan level seperti ini, dengan kekuatan maksimal mereka. Masih diragukan, karena setelah menggunakan kekuatan maksimal mereka. Mereka akan menjadi tua sesuai dengan umur fisik mereka. Walaupun hanya 1 hari saja, menjadi tua adalah mimpi terburuk bagi mereka berlima. Yang lebih menakutkan daripada kematian. Karena mereka adalah pemuja keremajaan," ujar Jeni di dalam hatinya.


Pertarungan pun terus terjadi, hingga akhirnya Mosa terkena pukulan tangan kanan Syam, lalu jatuh ke tanah. Yang dihampiri oleh Syam.


"Masih tetap begini keadaannya, kau tetap saja kalah dariku. Malah aku lihat kekuatan dan kemampuanmu menurun, di saat kita bertarung di masa lalu. jika seperti ini terus, siapa yang patut dipersalahkan?. Kau boleh menjadi yang terkuat di zaman ini. Tapi di masa lalu, kau dan aku hanyalah ksatria kelas menengah. Jadi di zaman ini kau tidak memiliki lawan yang tangguh, pantas saja kemampuan dan kekuatanmu tidak dapat berkembang, bahkan cenderung menurun. Wajahmu pun jauh terlihat cepat tua daripada diriku," ucap Syam, dengan panjang lebarnya.


"Kau masih saja tetap cerewet, tetap saja begitu masih seperti dulu. Di masa lalu kita memang ksatria kelas menengah. Tapi di zaman ini kita telah melampui, apa itu yang namanya batas kemampuan manusia. Bisa dibilang kita ini telah setara kemampuannya dan kekuatannya, dengan para Dewa dalam legenda di masa lalu. Dan saat kembali nanti ke masa lalu, aku telah menjadi yang terkuat di antara para ksatria di masa lalu. Dan aku akan membawa seluruh koleksi seniku ke masa lalu, setelah itu mereka akan aku hidupkan dengan ilmu yang aku miliki. Dan aku pun akan menjadi penguasa tunggal di masa lalu dan masa ini. Akan kuciptakan Bumi yang damai, tanpa kekacauan sedikit pun," tutur Mosa, mengutarakan obsesinya kepada Syam. Lalu bangkit dari jatuhnya, dan saling berhadapan dengan Syam kembali.


"Semakin gila saja jalan pikiranmu itu, mosa. Apakah mungkin, manusia yang telah kau bunuh dan kau jadikan koleksi senimu di masa ini. Dapat kau bawa ke masa lalu?. Aku rasa itu tidak mungkin. Saat koleksi senimu itu tiba di masa lalu, mereka pun akan lenyap kembali ke mana mereka berasal. Kau tahu kenapa, karena mereka belum ada di masa lalu. Sehebat apapun dirimu, kau tidak mungkin dapat merubah takdir. Takdir mereka itu ada di masa ini, bukan di masa lalu. Kau ini berpikiran terlalu naif, bermimpi sangat terlalu tinggi. Ingin menjadi penguasa tunggal di masa lalu dan masa ini," Syam lalu menghentikan ucapannya.


 


Ia pandang Mosa dengan tajamnya, lalu melanjutkan ucapannya kembali.


"Aku rasa itu tidak mungkin, setiap masa memiliki sejarahnya masing-masing. Kau tidak mungkin dapat merubah sejarah, karena sejarah adalah bagian dari takdir. Aku sarankan lebih baik, kau gunakan saja kemampuanmu untuk menghidupkan orang mati. Untuk menghidupkan orang-orang yang telah mati oleh pasukan robot Mars dan Bulan. Mungkin dengan cara itu, kau akan menjadi penguasa tunggal di masa ini. Karena jasamu itu," lanjut Syam, lalu tersenyum ke arah Mosa.


"Mereka yang mati di tangan pasukan robot Mars dan Bulan. Aku rasa tidak memiliki nilai seni. Aku hanya ingin menghidupkan manusia-manusia yang memiliki nilai seni tinggi seperti dirinya," ucap Mosa, menunjuk ke arah Jeni.

__ADS_1


"SENI!, kau selalu saja bicara tentang seni?. Padahal tanpa dengan dan adanya manusia. Seni itu tidak akan pernah ada di dunia ini," timpal Syam.


"Kau itu tidak tahu arti seni yang sesungguhnya. Jika begitu, kau akan kujadikan karya seni tertinggi dan terindahku!" ucap Mosa, lalu menyerang Syam dengan tiba-tiba. Yang segera diantisipasi oleh Syam.


Ia pun kembali terbang, yang diikuti oleh Mosa yang menyerang secara agresif. Tangan kanan Mosa mengarah ke dada Syam. Satu senti lagi, dada Syam nyaris terkena pukulan Mosa dengan shen tingkat tingginya itu. Tetapi dari lengan kanan Syam, muncullah seutas cambuk yang segera membelenggu tangan kanan Mosa, lalu seluruh tubuhnya itu.


"Jika payah, tetap saja payah.... Sudah hentikan semua ini, pertarungan kita ini tengah diamati oleh orang-orang terkuat di masa ini. Pancaran shen kita, pasti telah mereka tangkap. Para junior mereka pun telah bergerak ke tempat ini dengan kecepatan yang luar biasa, untuk ukuran mereka. Aku rasa mereka telah mengetahui keberadaan patung itu, dari pada menerima pancaran shen kita," kata Syam, sambil memandang ke arah barat, tempat Gunung Well berada.


"Baguslah jika mereka kemari, aku akan gunakan mereka sebagai alat untuk kepentingan diriku. Biar mereka yang mengaktifkan patung itu, dan akulah yang akan mengajukan permintaan itu. Untuk dikabulkan," kata Mosa, dengan senyum penuh kelicikannya.


"Tapi sayangnya, patung itu hanya akan mengabulkan. Kepada siapa yang telah aku beri tanda sejak bayi itu. Jadi silakan, tetaplah kau bermimpi, Mosa," timpal Syam.


"Jika begitu, aku akan jadikan mereka koleksi seniku," ucap Mosa.


"Jurusmu tidak akan mempan untuk mereka, tubuh mereka masih terlalu muda. Belum mencapai 100 tahun. Mungkin kau dengan sangat mudah dapat membunuh mereka, tapi kau tidak mungkin dapat menjadikannya koleksi senimu, bukannya kau itu berjiwa seni tinggi. Masa berminat untuk mengkoleksi mereka, yang masih bernilai seni rendah," ujar Syam.


Mosa pun tampak berpikir dengan pikirannya.


"Benar juga katanya. Aku tidak mungkin dapat menghidupkan orang yang aku bunuh, jika umurnya belum mencapai 100 tahun. Tapi jika mati dengan orang lain, aku pasti mampu menghidupkannya. Masalah lainnya, jurus mengawetkan mayat, tidak mungkin akan berfungsi kepada mereka. Aku bisa saja menggunakan cara untuk mengawetkan mayat yang ada di zaman ini. Tapi itu tidak bernilai seni tinggi," kata Mosa di dalam hatinya.


"Kau benar Kak Syam, mereka belum saatnya kujadikan koleksi seniku. Nilai seni mereka masih terlalu rendah. Saat ini hanya ada 5 orang yang aku anggap bernilai seni tinggi. Mereka adalah anggota kelompok Gura-Gura Lama. Setelah guru mereka aku jadikan koleksi seniku 80 tahun yang lalu, kini giliran mereka berlima yang akan kujadikan koleksi seniku," ujar Mosa, lalu tertawa.


"Semakin kacau saja jalan pikiranmu itu. Sudahlah lebih baik aku pergi saja, aku tidak ingin keberadaanku diketahui oleh mereka," ucap Syam, lalu melepaskan belenggu cambuknya dari tubuh Mosa, ia lalu melayang lebih tinggi. Lalu melesat dengan kecepatan tinggi, menuju ke arah selatan. Sedangkan Mosa lalu turun dan menghampiri Jeni, yang menatap tajam ke mana perginya Syam.


"Kekuatan shennya lebih tinggi dari dirinya, ia juga dapat mengalahkan Mosa dengan mudahnya. Yang lebih mengejutkan lagi, ia memiliki senjata seperti cambuk milik Paman Pusia. Apakah ia leluhur dari Paman Pusia?. Keadaan semakin rumit saja, menggunakan ramalanku yang tidak sehebat ramalan Ibuku pun percuma. Rasanya sulit untuk meramal dirinya, sepertinya ia memiliki jurus penolak ramalan. Tapi biar bagaimanapun, aku harus menyelidiki dirinya," ucap Jeni di dalam hatinya, tanpa menyadari kehadiran Mosa yang telah ada di hadapannya itu.


"Kau sedang memikirkan apa, peramalku?" tanya Mosa yang membuat Jeni sedikit terkejut.


"Aku sedang tidak memikirkan apa\-apa, aku hanya mengagumi kehebatannya itu. Tapi sudahlah, jangan dibahas tentang hal itu lagi. Aku melihat mereka telah semakin mendekati tempat ini, dan salah satu dari mereka adalah anakku. Aku tidak ingin bertemu dengan dirinya sekarang ini. Lebih baik kita kembali ke markas kita, biar kita bisa mengamati keadaan dari sana. Agar kita tahu, bagaimana caranya mereka bisa menggunakan patung itu," sahut Jeni, berusaha untuk mengajak Mosa pergi dari tempat itu.


"Baiklah Peramalku, aku akan menuruti saranmu itu. Tapi aku tidak akan membiarkan mereka mendapatkan patung Budha Giok itu dengan mudahnya. Mereka harus melawan rambutku terlebih dahulu," Mosa lalu mencabut sehelai rambutnya dari kepalanya, menggenggamnya. Sambil mulutnya berkomat-kamit membaca mantra-mantra. Lalu melemparkannya ke tanah. Dan perlahan-lahan tapi pasti, rambut itu pun berubah menjadi sesosok manusia. Wajahnya mirip Mosa, tetapi dengan penampilan yang lebih muda. Ia pun lalu berlutut di hadapan Mosa.


"Tuan, tugas apa yang harus hamba kerjakan?" ucapnya, bertanya kepada Mosa.


"Jaga patung itu, hadang siapa saja yang akan mengambil patung itu," jawab Mosa.


"Baik!, perintah Tuan akan hamba lakukan," sahutnya, lalu masuk ke dalam tanah.


"Saatnya kita pergi, Peramalku," Mosa lalu melesat ke utara yang diikuti oleh Jeni dari belakang.


Matahari terlihat semakin meninggi di langit, seakan ingin menyaksikan. Kejadian apa lagi yang akan terjadi di bukit kapur itu selanjutnya.


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2