
Sementara itu, Humsha sudah sampai di Bulan. Dirinya benar-benar bahagia, karena Dewi Kipas Ungu tak mengejar dirinya sama sekali. Bahkan ia mengira gadis itu tak mampu mengejar dirinya. Karena kecepatan yang ia gunakan luar biasa.
"Ternyata gadis itu tak mampu mengejar diriku. Tetap akulah yang terhebat di masa ini!!" teriak Humsha berbicara sendiri, dengan penuh keangkuhannya.
"Hebat darimana, Bocah!" kata Dewi Kipas Ungu, yang tiba-tiba muncul di belakang Humsha.
Humsha langsung saja melesat, lalu berbalik arah dengan jarak 10 meter dari tempat semula. Ketika mendengar suara gadis misterius itu.
"Bagaimana bisa, energi kehidupanmu tidak mampu aku deteksi?" tanya Humsha dengan penuh keheranannya. Hingga ia pun teringat dengan lukisan yang pernah ia lihat. Gadis itu serupa dengan gadis dalam lukisan yang merupakan leluhur dari Sekte Langit Ungu. Yang merupakan sekte terkuat dari 7 Sekte Langit.
"Karena aku bukanlah, makhkuk dunia fana ...," sahut Dewi Kipas Ungu.
"Jangan-jangan kau itu, leluhur dari sekte Langit Ungu?" tanya Humsha dengan penuh kekhawatirannya.
"Siapa aku, itu tidak penting .... Baiklah aku akan memberimu kesempatan untuk bermain selama 5 menit, sebelum kau kukirim ke dimensi ciptaanku. Pencuri kitab serap raga ...," kata Dewi Kipas Ungu. Hingga Humsha pun teringat dengan kitab yang sudah ia kuasai dasarnya itu. Ia berencana menghisap kekuatan dari Dewi. Kipas Ungu, dengan jurus penghisap yang ia miliki.
"Baiklah, kalau itu permintaanmu!" Humsha lalu menciptakan sepasang pedang panjang dari shen hitamnya.
Penjahat dari abad ke 10 Masehi itu lalu melesat menyerang ke arah Dewi Kipas Ungu dengan begitu agresifnya. Hingga ia pun menciptakan 4 duplikatnya yang menyerang Dewi Kipas Ungu secara bersamaan. Sedangkan dirinya yang asli mengawasinya dari kejauhan.
"Gadis itu tak mungkin dapat merasakan shenku. Karena aku sudah menghilangkannya. Aku hanya menunggu dirinya lengah ...," kata Humsha di dalam hatinya.
Humsha pun lalu menemukan celah yang ia cari. Ia langsung saja melesat, dan menempelkan tangan kanannya ke arah kepala Dewi Kipas Ungu, dengan menggunakan jurus dasar dari kitab serap jiwa.
__ADS_1
"Kena Kau!" kata Humsha.
"Dasar bocah tidak tahu tata krama. Baiklah, kalau kau ingin merasakan jurus serap jiwa yang sebenarnya ...," sahut Dewi Kipas Ungu.
Humsha bukan merasakan menyerap kekuatan lawannya. Akan tetapi malah merasa kekuatannya yang terserap ke dalam tubuh gadis itu secara cepat. Hingga 4 duplikatnya pun hilang.
"Ini bukan jurus serap jiwa!"teriak Humsha.
"Sudah aku bilang, aku akan mengirimmu ke dimensi ciptaanku," selesai berkata seperti itu. Tubuh Humsha pun tersedot ke dalam kepala Dewi Kipas Ungu.
"Sekarang, aku akan meminta bayaran kepada mereka," katanya berbicara sendiri. Lalu menghilang begitu saja dari tempat itu.
Dewi Kipas Ungu lalu muncul di mana Kenia dan yang lainnya berada. Ia melayang 10 meter di atas mereka semua.
"Sejak awal pun kami sudah siap. Sekarang lakukanlah ...," sahut Kenia.
"Baiklah, aku akan lakukan sekarang," Dewi Kipas Ungu lalu mengarahkan telapak tangan kanannya ke arah Kenia dan yang lainnya.
Terlihat Kenia lalu berubah menjadi cahaya putih, Keneo menjadi cahaya merah, Or Well berubah menjadi cahaya merah, Dran berubah menjadi cahaya kuning, Clerk berubah menjadi cahaya hijau, Pusia menjadi cahaya biru dan Kasandra menjadi cahaya jingga. 7 cahaya itu lalu masuk ke dalam telapak tangan Dewi Kipas Ungu yang terbuka lebar.
"Tugasku sudah selesai. Lebih baik kalian jangan pernah menggunakan aku lagi ...," ujar Dewi Kipas Ungu lalu merubah dirinya kembali ke wujud kipas kayu berwarna ungu. Kipas pusaka itu lalu melesat turun, yang langsung ditangkap oleh Jean.
"Lebih baik, kipas ini aku yang pegang," kata Jean, lalu menyelipkan kipas pusaka itu di pinggangnya.
__ADS_1
"Ya, kipas itu lebih baik ada di tanganmu Jean," kata Syam.
"Lalu apa rencanamu selanjutnya, Tuan Syam?" tanya Jean.
"Aku dan Chin, akan kembali ke masa kami. Aku akan berusaha meminta bantuan Dewi Waktu, untuk menghidupkan Patung Budha Giok. Untuk kalian gunakan di masa depan ini," sahut Syam.
"Memang bisa?" tanya Jean kembali.
"Tentu saja bisa-" perkataan Syam itu pun dipotong oleh Chin.
"Kau ini banyak sekali bicara. Lebih baik kita pulang sekarang, lubang ruang waktu sudah kuciptakan," kata Chin, menarik tangan Syam, lalu melompat membawa Syam ke lubang ruang dan waktu yang akan mengantarkan mereka ke asal mereka. Yaitu abad 10 Masehi.
Lubang ruang dan waktu itu pun lalu menghilang begitu saja. Saat Syam dan Chin sudah masuk ke dalamnya.
"Aku pamit kepada kalian. Aku ingin mencari gunung, seperti Gunung Well," ucap Er Well. Lalu melesat dengan kecepatan tinggi ke arah timur.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Mark dengan penuh kebingungannya.
"Lebih baik kita mengelilingi dunia ini. Untuk mencari tempat yang cocok membangun rumah kita," sahut Jean.
"Baiklah, kita lakukan sekarang," ujar Mark, lalu melesat ke arah barat yang diikuti oleh teman-temannya meninggalkan tempat itu.
Mereka pergi untuk membangun masa depan mereka. Yang belum tentu damai, dan aman dari kejahatan yang akan datang di masa depan nanti.
__ADS_1
...Tamat...