
Seiring dengan berjalannya waktu. Cahaya jingga hasil ledakan dari jurus bunuh diri Jean Kecil, akhirnya memudar juga. Sosok Jean Kecil benar-benar sudah menghilang dari tempat itu. Dirinya benar-benar sudah mati tanpa meninggalkan sedikit jasadnya sama sekali. Sedangkan sosok duplikat Chin masih berdiri dengan kokohnya di tempat semula. Seakan ledakan dahsyat yang sudah menghancurkan kubah pelindungnya, tak berarti sama sekali. Dirinya tak mengalami luka sedikit pun.
Pengorbanan yang dilakukan oleh Jean Kecil, ternyata sia-sia saja.
"Andai saja Chun yang menerima serangan ini. Pasti dirinya sudah terluka parah," pikir duplikat Chin, lalu memandang ke arah utara di mana Mark dan teman-temannya melarikan diri.
"Sebaiknya, aku kejar mereka sekarang. Aku pastikan, mereka tidak akan menjadi batu sanjungan bagi kami di masa depan nanti," ujar duplikat Chin di dalam hatinya.
Duplikat dari si kepang satu Chin lalu melesat dengan kecepatan tinggi ke arah utara. Untuk mengejar Mark dan teman-temannya. Dirinya tak ingin para anak muda itu menjadi batu sanjungan bagi dirinya, saudaranya dan majikannya Humsha di masa depan nanti.
Ledakan yang dihasilkan oleh jurus bunuh diri milik Jean Kecil begitu terasa bagi Jean. Hingga ia pun menghentikan terbangnya dan menatap ke arah selatan dengan mata langitnya. Hingga membuat Mark dan teman-temannya ikut menghentikan terbangnya. Dan ikut menatap ke arah selatan.
"Sebenarnya apa yang sudah terjadi dengan tempat, di mana Jean Kecil berada?" tanya Mark kepada Jean.
"Jean Kecil sudah meledakan dirinya. Dia sudah mati ...," jelas Jean dengan nada lirih, menahan segala kepedihannya.
Semuanya pun terkejut mendengar perkataan dari Jean. Semuanya belum mempercayai, jika Jean Kecil sudah mati.
"Lalu bagaimana dengan Patung Budha Giok?" tanya Mark.
"Mungkin dia sudah dimusnahkan oleh orang itu. Sekarang lebih baik kita lanjutkan perjalanan kita. Karena orang berkepang satu itu sedang menuju ke arah sini dengan kecepatan sangat luar biasa. Mungkin dirinya akan tiba di tempat ini dalam waktu 15 menit," ucap Jean lalu berbalik arah yang diikuti oleh teman-temannya.
__ADS_1
Akan tetapi sebelum mereka melanjutkan perjalanan mereka. Abel pun berkata mewakili teman-temannya.
"Biar kami tetap di sini, untuk menghadang dirinya. Agar kalian memiliki kesempatan untuk meloloskan diri lebih besar, daripada kami ikut bersama kalian," ucap Abel.
"Kalian hanya mengantarkan nyawa saja. Berani menghadangnya, lebih baik kita pergi sekarang," sahut Mark.
"Ikut bersamanya, kami tetap akan mati bersama kalian. Biarkan kami berkorban untuk kalian. Anggap saja, ini balasan kami untuk kalian, yang sudah menerima kami sebagai teman kalian selama ini," kata Abel. Yang dilanjutkan oleh perkataan Axel.
"Tenang saja, kami memiliki teknik khusus, untuk menghadapi dirinya. Paling tidak, kami tak akan mati sia-sia di tangannya," sambung Axel.
Tiga mantan dari anggota Gura-Gura Baru, lalu berbalik arah kembali dan melesat ke arah selatan, tanpa meminta persetujuan siapa pun lagi. Meninggalkan Mark dan teman-temannya, yang akhirnya melanjutkan perjalanannya kembali.
Ketiga orang itu terus melesat ke arah selatan. Di mana Chin sedang melesat dengan kecepatan luar biasa. Mantan anak buah Dran itu lalu berhenti di jarak 50 km dari tempat semula.
"Tapi sebelum itu kita telan pil peningkatan kekuatan untuk sesaat. Yang diberikan oleh Tuan Er, yang harus digunakan saat kita terdesak," sahut Abel sang pemanah. Sambil merogoh kantung celana panjangnya dengan tangan kanannya.
Abel lalu memberikan pil yang sudah ada di tangannya kepafa Axel dan Adel yang segera menelannya tanpa memerlukan air sedikit pun.
Setelah pil peningkat kekuatan untuk menambah shen untuk orang dengan shen di bawah A. Ketiga mantan anggota Gura-Gura Baru itu. Merasakan shen mereka meningkat hingga level A. Sehingga mereka bertiga dapat menjalankan rencana mereka dengan sempurna.
"Adel, kau ciptakan kabut-kabut tebal dengan radius maksimal yang dapat kau lakukan," perintah Abel kepada Adel.
"Baiklah, Ketua Biru Gura-Gura Baru ...," sahut Adel sang penguasa benang baja.
__ADS_1
Adel lalu meniupkan mulutnya ke segala arah. Dari dalam mulutnya itu keluarlah asap-asap hitam yang segera menyebar dan membentuk kabut tebal yang meluas ke segala arah.
"Kau itu, jangan mengungkit masa lalu kita," ucap Abel. Yang tak digubris sama sekali oleh Adel yang terus sibuk membuat kabut tebal dari dalam mulutnya.
Akhirnya kabut tebal pun tercipta dengan radius 2 km. Mereka bertiga lalu bersembunyi di dalam kabut tebal yang paling pekat. Yang tidak dapat dilihat oleh mata biasa.
Menunggu dan terus menunggu duplikat Chin untuk tiba di dalam jebakan mereka, yang telah menyebar ke tiga arah untuk menjalankan peran mereka masing-masing di dalam rencana mereka.
5 menit pun berselang. Terlihat duplikat Chin mulai memasuki area berkabut tebal itu dengan kecepatan tinggi. Yang belum ia sadari sama sekali, jika dirinya sudah masuk ke dalam jebakan 3 mantan anggota Gura-Gura Baru Biru.
Pandangannya benar-benar sangat terbatas di dalam kabut tebal ini.
"Sepertinya, ini bukan kabut tebal biasa?" tanya duplikat Chin di dalam hatinya. Terus melesat masuk ke dalam kabut tebal ciptaan Adel.
Duplikat penjahat dari abad ke 10 Masehi itu.Terus masuk ke dalam kabut tebal itu. Hingga tiba\tiba saja ia terkejut, ada ratusan anak panah yang menyerang dirinya secara masif. Panah\panah itu seakan memiliki jiwa dan pemikiran sendiri, untuk membunuh dan menyerang duplikat Chin.
Mau tak mau duplikat Chin menghentikan terbangnya untuk menghadapi panah-panah dari panah pusaka milik Abel, yang merupakan pemberian dari Dran. Saat dirinya masih menjadi anggota Gura-Gura Baru Biru.
"Sepertinya mereka ingin bermain-main dengan diriku ... Baiklah akan kulayani permainan kalian, sebentar saja ..." ucap duplikat Chin di dalam hatinya. Sambil terus mengibas-ibaskan panah-panah yang berasal dari panah Abel, yang bernama panah perenggut jiwa.
__ADS_1