Manusia Masa Depan

Manusia Masa Depan
Bab 56 (Penyerang Gelap)


__ADS_3

 


Matahari semakin bergeser ke arah barat, arah yang dituju oleh para guru Gura-Gura lama untuk pulang. Mereka terus berlari dengan kecepatan tinggi. Di dataran yang dikelilingi oleh gunung-gunung di segala arah. Mereka tak kenal lelah sama sekali. Walaupun shen mereka terus menurun akibat dari pertarungan-pertarungan yang dilakukan, di dalam perjalanan menuju tempat yang mereka sebut rumah.


 


Rumah yang hanya diketahui oleh mereka saja. Tak terkecuali dengan murid-murid mereka yang tak mengetahui sama sekali rumah dari guru mereka selama ini.


Langit dengan Matahari yang meredup terus mengawasi perjalanan orang-orang terkuat di masa itu dari atas langit tanpa batas. Suhu udara pun hanya herkisar 6 derajat celcius. Udara cukup dingin itu tak berarti bagi mereka berlima sama sekali. Hingga tiba-tiba saja dari arah langit meluncurlah bola shen berwarna abu-abu yang menghalangi perjalanan mereka berlima secara mendadak.


Dengan mata langitnya. Marandra mengetahui serangan dari balik awan itu. Hingga ia dan teman-temannya dapat menghindarinya dengan mudahnya. Jika tidak mereka berlima dipastikan sudah terkena serangan itu. Yang akhirnya membentur permukaan Bumi dengan hebatnya, yang membuat lubang sedalam 200 meter dengan diameter 150 meter di tempat itu.


Debu-debu pun segera tercipta di tempat itu. Hingga membuat keruh udara dan pandangan mereka berlima. Hingga membuat 5 orang terkuat di masa itu melesat ke arah langit untuk mencari penyerang mereka. Terus melesat ke angkasa dengan kecepatan tinggi. Hingga mereka berlima tiba di gumpalan awan-awan seputih kapas dengan ketinggian 2000 meter dari tempat itu.


 


Dilihat dari tempat setinggi itu. Tempat mereka tadi ternyata sebuah cekungan besar yang dikelilingi oleh pegunungan bersalju dengan ketinggian 5000 Mdpl.


 


Mereka terus mencari di dalam awan-awan putih yang melayang di angkasa secara bersamaan. Tetapi walaupun sudah menggunakan mata langitnya. Marandra tak dapat menemukannya. Penyerang gelap itu, seakan memiliki penolak kemampuan mata langit milik suku peramal dari Bulan itu.


"Ada apa dengan mata langitku ini?" tanya Marandra berbicara sendiri dengan penuh kebingungannya. Akibat dari mata langitnya yang tak mampu mencari dan melihat penyerang gelap itu.


"Sepertinya, penyerang gelap itu. Memiliki jurus anti mata langitmu itu," sahut Drun. Mencoba menerka dengan kejadian tak berfungsinya mata langit Marandra.


"Apakah dia orang dari masa lalu itu?" pikir Clirk. Mencoba mengingat ramalan Marandra beberapa bulan yang lalu.

__ADS_1


"Lebih baik kita gabungkan shen kita. Agar mata langit Mara meningkat secara signifikan," usul Punka, sambil menatap rekan-rekannya satu persatu.


Lelaki dari Suku Bulan Sabit Merah itu lalu menempelkan tangan kanannya ke arah punggung Marandra. Sedangkan Clirk dengan tangan kirinya. Sedangkan Ur Well menempelkan tangan kanannya ke punggung Punka. Sementara itu Drun menempelkan tangan kirinya ke punggung Clirk. Kekuatan dan jangkauan mata langit Marandra pun meningkat menjadi 5 kali lipat.


Akan tetapi semuanya itu tak ada artinya. Mata langitnya tak mampu menemukan penyerang gelap itu sama sekali. Kemampuan mata warisan itu, seakan hilang begitu saja. Mata langit kini, seolah hanyalah mata bisa. Walaupun masih dapat melihat jarak jauh. Tanpa dapat menemukan penyerang gelap itu sejak daritadi.


Dewi Peramal Jingga benar-benar bingung dengan kenyataan yang sedang ia hadapi. Padahal ia sudah berputar-putar seperti gangsing beberapa kali. Akan tetapi tetap saja, mata langit tak menemukan penyerang gelap itu.


 


Hingga tiba-tiba saja muncullah sesosok berjubah abu-abu yang membelakangi mereka berlima dengan jarak 20 meter.


 


"Hanya mata langit super yang dapat mendeteksi keberadaanku. Kalau aku memakai jurus itu," kata sosok berjubah abu-abu yang ternyata Mosa.


"Siapa kau!. Hingga mengetahui tentang mata langit super. Dan menyerang kami tadi?" tanya Punka secara beruntun kepada Mosa.


"Kau itu cerewet sekali seperti kakakku. Tapi baiklah akan kujawab semua pertanyaanmu itu." Mosa lalu terdiam, dan menatap mereka satu persatu dengan cara memutarkan dirinya itu.


"Aku adalah Mosa, pengelana waktu dari abad ke 10 masehi. Tentang mata langit super di masaku itu langka dibandingkan banyaknya keturunan mata langit biasa sepertimu, Marandra. Dan aku menyerang kalian, karena ingin menguji kekuatan kalian. Apakah kalian sudah puas dengan jawabanku itu," jelas Mosa dengan suara yang datar. Dan tangan dilihat di dadanya.


"Bagaimana bisa, kau mengetahui namaku?" tanya Marandra dengan penuh selidik.


"Kau itu sangat terkenal, Dewi Peramal Jingga. Jadi bagaimana bisa, aku tidak mengetahui tentang dirimu...," sahut Mosa lalu tersenyum tipis.


"Jangan berbohong. Bagaimana bisa seorang yang mengakui berasal dari abad ke 10 masehi. Bisa mengetahui tentang diriku?" tanya Marandra dengan penuh selidik.

__ADS_1


"Aku mengetahui tentang masa ini. Dari penjelajah waktu lainnya. Lagipula karena sebuah insiden, aku jadi terdampar di masa ini," jelas Mosa mengatakan kejadian yang sebenarnya.


"Maksudmu bagaimana?" tanya Ur Well kali ini. Dengan penuh rasa penasarannya.


"Aku seharusnya datang ke tahun 2999 masehi. Untuk menangkap murid kalian," tutur Mosa yang membuat mereka berlima tak senang mendengarnya.


"Untuk apa kau menangkap murid kami di masa depan," kata Clirk, telah merubah kuku-kuku jari tangannya menjadi hijau. Pertanda ia telah bersiap menyerang dengan racunnya.


"Untuk kujadikan koleksi seniku. Tapi di masa ini, mereka belum berusia 100 tahun. Jadi kalianlah penggantinya, untuk menjadi pasukan yang akan kubawa ke masa lalu. Untuk memerangi kejahatan," jelas Mosa, membuka rencananya itu.


"Oh, jadi kau itu orang dari masa lalu yang ada di penglihatanku...," tutur Marandra.


"Jadi Dewi Peramal Jingga sudah mengetahui semua. Aku tak perlu repot-repot untuk menjelaskannya. Menyerahlah sebelum semuanya terlambat...," sahut Mosa dengan penuh keangkuhannya.


"Kau terlalu meremehkan kami!" seru Clirk berniat menyerang ksatria dari abad ke 10 masehi itu.


Tiba-tiba saja Clirk maju dengan jari-jari tangannya yang sudah menjadi hijau. Pertanda ia telah menggunakan racun nomor wahid miliknya. Mosa masih terdiam, seakan tak menganggap serangan dari seorang Dewa Racun Hijau bukanlah hal yang berbahaya bagi dirinya.


Clirk lalu mengarahkan kedua tangan beracunnya ke perut Mosa. Kali ini Mosa tak tinggal diam. Ia pun mengeluarkan aura abu-abunya dari dalam tubuhnya. Hingga Clirk pun terpental ke tempat semula.


"Kau pikir, kau dapat mengalahkanku?" tangan Mosa pun mengarah ke arah Clirk. Lalu menarik Clirk dengan shennya. Clirk berusaha melawan dengan mengeluarkan aura shen hijaunya yang tersisa. Namun semua itu sia-sia saja. Clirk pelan tapi pasti tertarik ke arah ksatria dari abad ke 10 itu.


Melihat Clirk dalam keadaan terdesak. Ur, Drun, Punka dan Maranda. Bergerak maju menyerang Mosa bersama, dengan kekuatan shen yang tersisa di dalam diri mereka.


Pertarungan sengit tingkat tinggi pun terjadi di angkasa. Yang membuat langit ramai oleh warna-warni shen mereka yang saling berbenturan dengan dahsyatnya. Seolah sedang terjadi perang kembang api di langit.


 

__ADS_1


__ADS_2