
Cahaya-cahaya merah dan putih masih nampak berterbangan di langit Bumi dengan begitu ramainya. Tak terkecuali dengan langit di Pulau Gura-Gura. Sebuah pulau yang berbentuk huruf 'G', yang terletak 100 km di sebelah timur Semenanjung Sundaland. Dengan bentuk dataran yang melingkar dan tipis, yang terdapat Laguna di dalam teritorial pulau itu.
Nampak malam telah menjelang. Tetapi cahaya-cahaya merah dan putih itu, telah membuat langit malam lebih terang dari biasanya. Ditambah lagi dengan kehadiran gugusan bintang-bintang di langit. Yang menambah ramai langit Bumi, di zaman es modern.
Terlihat di puncak bukit tertinggi di pulau itu. Dran, sedang di kelilingi oleh 8 anak buahnya yang tersisa. Mereka bersembilan nampak mengamati langit malam itu. Dengan tatapan terfokus pada cahaya-cahaya merah dan putih yang sedang menuju ke arah Bulan di langit.
"Cahaya-cahaya apa itu, yang sedang menuju ke arah Bulan?" ucap Dran, seakan sedang berbicara sendiri. Tetapi hal itu ditanggapi oleh salah satu anaknya itu.
"Sepertinya itu, cahaya-cahaya yang ditarik oleh sesuatu kekuatan besar. Yang berasal dari Bulan," ucap gura-gura bernomor 2, yang berdiri tepat di hadapan Dran.
"Apakah itu ada hubungannya dengan 2 raja robot Mars dan Bulan, yang telah mati itu, Tuan Dran?" tanya gura-gura bernomor 3, yang berada di samping kiri gura-gura nomor 2.
Nampak Dran memandang ke arah Bulan. Lalu Dran mengeluarkan shennya. Terlihat dari dalam tubuhnya. Keluarlah cahaya kuning yang menyelimuti seluruh tubuhnya. Dan sebagian dari cahaya kuning itu membentuk sayap di kedua punggungnya. Sepertinya, Dran akan melakukan sesuatu hal dengan shennya itu. Kakinya pun melayang di atas tanah Pulau Gura-Gura. Setinggi satu jengkal dari puncak bukit tertinggi di Pulau Gura-Gura.
"Aku tidak tahu sama sekali tentang hal itu. Tapi untuk memastikan akan hal itu. Aku akan pergi ke Bulan sekarang. Aku titipkan pulau ini kepada kalian berdelapan...," ujar Dran memberi perintah kepada delapan anak buahnya.
Setelah mengucapkan akan hal itu. Dran lalu memelesat ke angkasa menuju ke arah Bulan di langit. Meninggalkan Pulau Gura-Gura, yang selama ini sangat jarang ia tinggalkan itu. Demi menyelidiki tentang cahaya merah dan putih yang berterbangan menuju ke arah Bulan.
__ADS_1
"Tidak seperti biasanya Tuan Dran begitu khawatir hingga harus meninggalkan Pulau Gura-Gura demi menyelidiki cahaya-cahaya itu, ke Bulan...," tutur Gura-Gura Baru bernomor 4.
"Ya, kau benar. Aku malah mengkhawatir Pulau ini. Daripada cahaya-cahaya itu," sahut Gura-Gura Baru nomor 5, yang membuat lainnya penasaran dibuatnya.
"Memang kenapa dengan pulau ini?" tanya Gura-Gura Baru nomor 7.
"Aku bermimpi. Pulau ini hancur oleh meteor raksasa,"sahut Gura-Gura Baru nomor 5.
"Hanya mimpi. Sudahlah jangan terlalu dipikirkan," Kata Gura-Gura nomor 8.
"Tapi mimpiku sering menjadi kenyataan," ujar Gura-Gura Baru nomor 5.
Tak ada yang membantah sama sekali perkataan wakil dari Dran itu. Mereka berdelapan lalu memelesat dan berpencar ke delapan arah yang berbeda.
★★★★★
__ADS_1
Sementara itu di tempat lain, di Semenanjung Sundaland bagian utara. Nampak Mark, Franco, Nack dan Jean Kecil yang duduk di bahu kanan Nack. Terlihat menghentikan perjalanan mereka, di dalam pencarian patung Budha giok. Yang mereka cari selama ini.
Mereka berempat nampak memperhatikan cahaya merah dan putih, yang sedang menuju ke arah Bulan di langit.
"Cahaya-cahaya apakah yang sedang menuju ke Bulan?" ucap Mark, sambil menunjukan jari telunjuk kanannya ke arah Bulan separuh di langit.
"Sepertinya itu, bukan cahaya-cahaya biasa...," sahut Nack, tanpa memberi jawaban pertanyaan dari Mark.
"Ya, itu bukan cahaya-cahaya biasa...," sambung Franco, sambil menatap ke arah Bulan.
"Sebaiknya, kita selidiki hal ini," usul Jean Kecil.
"Tidak perlu, lebih baik kita fokus dalam pencarian patung Budha giok. Daripada kita harus melibatkan, diri dalam hal ini," ujar Mark, lalu berlari kembali. Untuk melanjutkan perjalanan dalam pencariannya mencari patung Budha giok.
"Sepertinya, kita harus menuruti keinginannya itu, Nack....," sambung Franco, lalu berlari kembali. Menyusul Mark. Yang diikuti oleh Nack dari belakang. Untuk mencari keberadaan patung Budha giok, yang belum diketahui keberadaannya sama sekali oleh mereka selama ini.
__ADS_1