
Chan yang membawa Syamshe, yang sedang pingsan, akibat dari ulahnya itu. Akhirnya tiba pada sebuah hutan hujan tropis di Sundaland Selatan, yang memang hijau sejak dari dahulu. Lelaki pesolek itu lalu menghentikan terbangnya, secara perlahan-lahan turun ke permukaan Bumi. Semakin rendah ia turun. Semakin terlihat jelas, jika di antara rimbunan hutan hujan tropis di wilayah itu. Terdapat sebuah rumah kayu besar. Rumah itu memang tak ada penghuninya sama sekali. Akan tetapi rumah kayu itu sering dikunjungi oleh Chan. Saat ia datang ke masa itu. Demi kepentingannya sendiri. Bukan kepentingan dari Pasukan Khusus Humsha.
Chan lalu turun di beranda rumah kayu itu. Ia lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah kayu itu. Yang entah kenapa pintu gesernya yang terbuat dari kayu dapat bergeser sendiri, saat Chan masuk. Dan tertutup kembali saat Chan telah ada di dalam rumah kayu itu, dengan sendirinya.
"Aku harus segera menyembunyikan dirinya. Agar saudara-saudaraku dan Si brengsek Humsha tak mengetahui keberadaan dirinya," kata Chan di dalam hatinya.
Dimulai dari kaki tubuh lelaki pesolek itu. Terlihat tenggelam ke dalam lantai rumah kayu itu secara perlahan-lahan. Terus tenggelam dan terus tenggelam secara pelan-pelan. Hingga seluruh tubuh Chan dan Syamshe yang ia bawanya. Muncul di ruangan bawah tanah rumah kayu itu.
Ruangan bawah tanah itu memiliki tinggi 5 meter hingga atapnya. Dengan penerangan bola shen sebesar matahari yang menggantung di langit-langit ruangan bawah tanah itu. Hingga membuat ruangan bawah tanah itu terang benerang, seperti siang di alam terbuka saja.
Chan terus melangkahkan kakinya dengan santainya. Hingga si kepang dua itu pun tiba pada sebuah penjara yang terbuat dari kayu yang telah dialiri oleh shennya. Hingga orang yang terpenjara di dalamnya dengan kekuatan shen di bawahnya pasti takkan bisa keluar dari dalam penjara kayu itu, untuk selamanya.
Di dalam penjara kayu itu ternyata sudah ada duplikat dirinya. Yang telah menaruh Jeni di dalam penjara yang dialiri oleh shen berwarna hitamnya itu.
"Kau itu lama sekali datangnya. Aku hampir bosan menunggumu," ujar Duplikat Chan, dengan nada yang mengeluh.
"Kau itu, bukannya duplikatku. Seharusnya kau tahu dengan apa yang terjadi dengan diriku semuanya," sahut Chan, lalu menembus penjara kayu itu bersama Syamshe yang lalu ia letakan di lantai penjara kayu itu dengan lembutnya. Saking takutnya lelaki pujaannya terluka.
"Seharusnya kau tak perlu menanggapi ajakan telepati itu," kata Duplikat Chan.
"Kalau aku mengabaikannya. Dia pasti akan terus menghubungiku," jawab Chan lalu keluar kembali bersama duplikat dengan menembus jeruji kayu penjara itu.
"Terserah kau sajalah. Tapi aku mencium, ada yang aneh dengan tubuh perempuan itu," tutur duplikat Chan, yang mencium aroma tubuh Jeni. Seperti tubuh orang yang sudah mati.
"Maksudmu apa?" tanya Chan dengan penuh penasarannya.
"Aroma tubuhnya, seperti orang yang sudah mati. Walaupun hanya tercium samar-samar saja," jelas Duplikat Chan.
"Daripada kau bicara yang aneh-aneh. Lebih baik kau masuk kembali ke dalam tubuhku," sahut Chan. Terlihat tubuh duplikat Chan pun masuk ke dalam tubuh Chan dengan begitu cepatnya.
__ADS_1
Chan lalu keluar dari dalam penjara kayu itu. Ia lalu menunjukan jari telunjuknya ke arah penjara kayu itu. Terlihat dari jari telunjuk kanannya, keluarlah cahaya hitam yang segera melesat ke arah penjara kayu yang segera diselubungi oleh aura shen hitam. Yang tak kasat mata oleh mata manusia biasa.
"Lebih baik, aku pergi sekarang untuk menemui Chin di Kutub Utara Bumi," kata Chan berkata sendiri.
Lelaki pesolek itu lalu melesat ke angkasa, dan menembus ruang bawah tanah itu. Hanya dalam kejapan mata. Ia pun telah tiba di dalam rumah kayu itu. Manusia dari abad ke 10 Masehi itu, terus melesat menembus atap rumah rumah kayu itu. Tanpa menimbulkan kerusakan sama sekali pada rumah kayu yang sebenarnya diciptakan oleh sihir miliknya itu. Hingga rumah itu pun hanya diketahui oleh dirinya sendiri.
Tiga puluh menit dari kepergian si kepang dua Chan. Syam dan Jeni siuman dari pingsannya secara bersamaan. Mereka berdua tak mengetahu sama sekali. Jika diri mereka sedang berada di mana saat ini.
"Jeni, kau tertangkap juga oleh lelaki pesolek itu?" tanya Syam, lalu bangkit dan duduk bersila untuk memulihkan dirinya.
"Kau saja tertangkap. Apalagi aku...," sahut Jeni lalu tertawa lepas. Sambil bangkit dan duduk bersila untuk memulihkan dirinya.
"Ternyata lelaki pesolek itu menepati perkataannya," kaya Syam yang membuat Jeni kebingungan mendengarnya.
"Maksud Tuan Syam, apa?" tanya Jeni dengan penuh kebingungannya.
"Dia berjanji, akan menangkap dirimu untuk menemani diriku," jawab Syamshe. Terus bersila untuk memulihkan kekuatannya.
Dari telapak tangan kanannya. Muncullah cakram berwarna jingga yang langsung ia hempaskan ke arah pintu penjara kayu itu. Cakram berwarna jingga itu menghantam pintu penjara kayu itu. Akan tetapi cakram jingga itu menghilang begitu saja, seakan tertelan oleh sesuatu hal yang terlihat.
Jeni merasa heran, sebenarnya apa yang sudah terjadi dengan serangannya itu. Hingga akhirnya Syam bicara.
"Kau tak perlu heran seperti itu, Dewi Peramal Junior. Coba kau aktifkan mata langitmu," tutur Syam, yang telah mengaktifkan mata langitnya kembali.
Jeni lalu mengaktifkan mata langitnya. Hingga ia dapat melihat dengan jelas. Jika penjara kayu itu sudah diselubungi oleh shen hitam berwarna hitam yang sangat pekat milik Chan.
"Sial!," teriak Jeni dengan penuh kekesalannya.
"Kau tak perlu kesal seperti itu. Kekuatan kita digabung pun. Kita tetap tak dapat menghancurkan selubung shen milik lelaki pesolek itu," jelas Syam.
"Aku tak percaya," ucap Jeni bertambah kesal.
__ADS_1
"Apakah kita perlu mencobanya?" tanya Syam, lalu tersenyum.
"Tentu saja kita perlu mencobanya," timpal Jeni lalu mengadahkan kedua telapak tangannya ke arah depan.
"Baiklah kalau kau penasaran," Sahut Syam lalu bangkit dan berdiri di samping kloningan Kasandra itu.
Syam lalu mengarahkan kedua telapak tangannya ke arah depan, sama seperti yang dilakukan oleh Jeni. Terlihat dari sepasang telapak tangan Syam muncullah shen berbentuk segitiga berwarna biru. Sedangkan dari kedua telapak Jeni, muncullah Cakram berwarna jingga.
Tanpa dikomando oleh siapa pun. Mereka berdua melepaskan serangan mereka secara bersamaan. Empat serangan shen itu melesat dan menghantam pintu penjara kayu yang tetap berdiri kokoh. Serangan gabungan itu memang tidak langsung menghilang seperti serangan pertama Jeni. Akan tetapi serangan gabungan itu memudar secara berangsur-angsur. Bersamaan dengan getaran bumi hebat. Akibat dari serangan itu. Hingga membuat amblasan tanah di dalam ruangan tanah tanah, yang tak dilindungi oleh shen berwarna hitam milik Chan.
"Apakah kau sudah puas dengan hasilnya?" tanya Syam, lalu duduk bersila kembali.
"Sudah, tapi aku benar-benar ketakutan. Tak bisa memberikan wasiat dari guru, dari Gura-Gura Lama. Aku takut kehabisan waktu," ujar Jeni dengan nada sedih. Lalu duduk bersila kembali.
"Apakah kau bisa meramal dirimu sendiri?" tanya Syam yang masih mengaktifkan mata langitnya.
"Tentu saja tidak. Sehebatnya seorang peramal mumpumi, tidak mungkin dapat meramal dirinya sendiri. Itu yang aku tahu..," sahut Jeni.
"Tidak saja, kita dapat keluar dari penjara ini nanti. Dan kau dapat memberikan warisan itu kepada mereka berlima," ujar Syam, menggunakan kemampuan meramalnya yang merupakan kemampuan khusus Suku Peramal Bulan selain mata langit.
Jeni terlihat tak mempercayai, apa yang dikatakan oleh ksatria dari abad ke 10 Masehi itu.
"Kau jangan membual, Tuan Syam?"
"Aku sedang tak membual. Aku sedang meramal. Aku ini murni dari Suku Langit Biru. Yang memiliki kemampuan dari Suku Bulan Sabit Merah dan Suku Peramal Bulan sekaligus. Anggap saja, aku ini leluhur dari dua suku koloni bulan itu," ungkap Syam.
"Kau benar juga Tuan Syam. Tapi kalau aku mati, sebelum bertemu mereka. Tolong berikan pil shen itu kepada mereka berlina, Tuan Syam.
"Tenang saja, ramalanku pasti terjadi," sahut Syam lalu memejamkan kedua matanya, yang diikuti oleh Jeni.
Mereka pun terdiam. Menunggu apa yang diramalkan oleh Syamshe terjadi nanti.Di hari esok nanti.
__ADS_1