Manusia Masa Depan

Manusia Masa Depan
Bab 69. (Lahirnya Pulau Gura-Gura)


__ADS_3

 


Tubuh Pongkhi dan Pongkha terus terjun bebas dengan kecepatan tinggi ke arah bawah, tanpa dapat mereka kendalikan sama sekali. Karena Pongkha dan Pongkhi sudah kehabisan shen, akibat dari jurus naga kembar yang sudah mereka gunakan. Hingga pulau berbentuk bulat itu lenyap sama sekali. Tergantikan oleh laut yang terus bergemuruh dengan hebatnya.


 


Akan tetapi saat berada 50 meter dari permukaan laut, di bekas pulau berbentuk bulat itu berada. Dran dan Clerk yang daritadi tak terlihat sama sekali. Tiba-tiba saja menyambar tubuh pasangan kembar itu. 2 murid dari 5 Dewa Warna itu, lalu melesat ke arah pulau berbentuk 'G' dengan kecepatan tinggi, dengan jarak yang tak begitu jauh dari tempat pertarunhan mereka berempat.


Hanya dalam beberapa menit. Mereka berdua pun tiba di pulau yang di masa depan akan bernama Pulau Gura-Gura.


Dran dan Clerk lalu melemparkan tubuh mereka berdua di pantai pulau itu. Saat mereka menginjakan kaki di pasir di pulau berbentuk 'G' itu.


 


"Kalian ini, cepat sekali kehabisan shen seperti ini?. Aku rasa, bertemu dengan lawan yang lebih hebat dari kami. Pasti kalian berdua sudah mati daritadi," kata Clerk sembari mengambil 2 pil pemulih shen dari kantong celananya.


Pongkha-Pongkhi terlihat bangkit, lalu duduk bersila untuk memulihkan shen mereka yang benar-benar habis tanpa tersisa sedikit pun. Dalam keadaan seperti itu, mereka berdua selayaknya manusia biasa yang tak memiliki shen sama sekali. Yang sangat mudah sekali untuk dibunuh, semudah membunuh seekor lalat.


 


Tapi untung saja mereka berdua memiliki kemampuan untuk menyerap energi alam yang ada di sekitar mereka, dengan kecepatan tinggi. Akan tetapi apa yang sedang mereka lakukan itu. Efeknya akan jauh lebih lama. Daripada menelan pil penambah stamina milik mereka. Yang kualitasnya di bawah pil pemulih stamina milik si Dewa Racun Clerk.


 


"Kenapa kalian tak membunuh kami?" tanya Pongkha dengan nada lirih. Yang langsung dijawab oleh Dran dengan penuh ketenangannya.


"Buat apa, kami membunuh kalian berdua. Kami hanya ingin pulau ini. Sejak dari awal, kami berdua tidak memiliki niat untuk membunuh kalian sama sekali," tutur Dran dengan panjang lebarnya. Yang langsung disambung oleh perkataan Clerk.

__ADS_1


"Lebih baik kalian telan pil pemulih stamina ini," Clerk melemparkan 2 pil pemulih stamina ke arah Pongkha-Pongkhi yang segera menangkap dan menelannya tanpa berpikir apa pun. Tentang pil pemulih stamina yang diberikan oleh Clerk.


Saat pil pemulih stamina milik Clerk masuk ke dalam tubuh mereka berdua. Si kembar Pongkha-Pongkhi merasakan pil pemulih stamina milik Clerk. yang mereka telan sungguh berbeda dengan pil pemulih stamina milik mereka. Pil pemulih stamina milik Clerk begitu cepat bereaksi dibandingkan pil pemulih stamina milik mereka. Hingga dalam waktu yang relatif singkat. Mereka berdua telah pulih seperti sediakala. Seakan tak pernah melakukan pertarungan yang menghabiskan shen mereka beberapa waktu yang lalu.


"Kalian ini aneh, padahal kami bisa kalian bunuh dalam keadaan seperti itu. Kalau kami jadi kalian, pasti kalian sudah kami bunuh," tutur Pongkha sembari berdiri yang diikuti oleh Pongkhi dengan kaki yang mantap.


"Apanya yang aneh?. kami hanya ingin pulau ini. Kalian bukan musuh kami, jadi tidak ada alasan untuk membunuh kalian, berdua" sahut Dran. Yang membuat Pongkha-Pongkhi tersenyum lalu tertawa lepas bersama angin yang bertiup dari laut yang mengelilingi pulau milik Pongkha-Pongkhi yang sebentar lagi akan menjadi milik Dran. Untuk dijadikan markas bagi Gura-Gura, selain Gunung Well.


"Walaupun kalian ini terlihat seperti pemuda berandalan. Tapi tidak aku sangka, kalian memiliki budi pekerti yang sangat baik sekali. Yang sangat jarang ditemui oleh orang-orang zaman sekarang," ujar Pongkhi.


"Kalian terlalu menyanjung kami. Sekarang bagaimana, apakah kami berhak untuk memiliki pulau ini?" tutur Dran dengan nada yang serius.


"Tentu saja. Karena kami sudah kalah dengan kalian," jawab Pongkha tanpa beban sedikit pun melepas pulau warisan dari gurunya itu.


"Akhirnya kalian mengakui kalau diri kalian sudah kalah."


"Memang kami sudah kalah...!!" Pongkha dan Pongkhi pun tertawa kembali.


"Kami berdua akan berkelana. Sembari mencari keberadaan guru kami yang sudah menghilang sejak 30 tahun yang lalu," jawab Pongkha apa adanya.


"Guru kalian menghilang?" tanya Clerk dengan penuh selidik.


"Ya, oleh karena itu kami hanya berpedoman kepada kitab yang ditinggalkan oleh guru kami untuk berlatih selama ini. Tanpa bimbingannya lagi," jelas Pongkha.


"Kami tidak bisa membayangkan. Akan jadi apa kalau guru kami menghilang begitu saja, seperti guru kalian," ujar Dran dengan penuh rasa khawatir. Terhadap guru dan teman-teman gurunya itu.


"Awalnya kami sangat terkejut. Bagaimana bisa kami mempelajari sendiri kitab yang ditinggalkan oleh guru kami. Tapi kini kami sudah biasa, bahkan kami bisa menghadapi para murid dari 5 legenda Dewa Warna," Pongkha pun tersenyum tipis. Lalu melirik ke arah kembarannya untuk berbicara setelah dirinya.

__ADS_1


"Walaupun pulau ini telah menjadi milik kalian. Tapi jangan pikir kalian berdua bisa berbuat seenak hati kepada pulau kelahiran kami ini. Kami akan mengambil sedikit tanah pulau ini. Sebagai penghubung antara kami dengan pulau ini. Jika kalian tak memperlakukan pulau ini dengan baik, maka kami akan segera mengetahuinya." 


Pongkhi dan Pongkha lalu mengarahkan telapak tangannya ke arah tanah yang mereka injak. Terlihat segenggam tanah melesat ke dalam genggaman tangan Pongkha dan Pongkhi yang segera menelannya.


 


Dran dan Clerk tak mengerti sama sekali dengan apa yang dilakukan oleh si kembar itu. Mereka berdua hanya memperhatikan tingkah dari mereka berdua, yang mereka anggap aneh.


"Terserah kalian, tapi aku berharap. Kita masih bisa bertemu paling tidak 1 tahun sekali untuk bertarung," kata Dran.


Penawaran Dran melalui perkataannya itu rupanya sudah membuat Pongkha dan Pongkhi sangat tertarik mendengarnya.


"Ide yang menarik. Tapi kami ingin, ketiga teman kalian ikut serta juga," timpal Pongkha.


"Hal itu gampang diatur. Apalagi teman kami yang namanya Or Well. Pasti ia akan bersemangat kalau bertemu dengan kalian nanti," tutur Dran.


"Baiklah kami akan datang ke mari setiap 1 tahun sekali. Sekarang kami pamit dulu..."


 


Pongkha lalu melesat ke arah timur yang diikuti oleh Pongkhi dengan kecepatan tinggi. Dengan tujuan yang tak diketahui oleh siapa pun.


 


"Sekarang apa yang harus kita lakukan?" tanya Clerk.


"Tentu saja menjelajahi isi pulau ini, yang akan kuberi nama Pulau Gura-Gura," sahut Dran lalu melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu untuk menjelajahi Pulau Gura-Gura yang di masa depan akan menjadi markas dari Gura-Gura baru pimpinan Dran.

__ADS_1


Clerk pun tak punya pilihan lainnya. Kecuali mengikuti kemauan dari Dran.


 


__ADS_2