
Mau tak mau Or Well berhenti menyerang Ded. Karena ia pun merasa kewalahan menghadapi lelaki gendut itu seorang diri. Ia memerlukan Pusia dan Kasandra untuk mengalahkan Ded. Namun hal itu tak membuat surut dirinya untuk bertanya, atas tindakannya menghentikan pertarungan itu. Or Well muda sangat penasaran dengan apa yng ada di pikiran Ded.
"Hay Gendut kenapa kau menghentikan pertarungan ini?" tanya Or Well dengan gaya angkuhnya, dengan tangan dilipat di dadanya.
"Aku ingin bertaruh dengan kalian bertiga," sahut Ded sambil melirik Hay yang segera menghampiri dirinya. Sedangkan Kasandra dan Pusia menghampiri Or Well dengan langkah santai. Seakan tak memiliki beban sama sekali.
"Bertaruh apa?" kata Or Well kembali, dengan rasa penasaran yang semakin besar berkecamuk di kepalanya.
"Bukannya kau menginginkan Gunung Hayded ini?" tanya Ded memancng tentang keinginan Or Well.
"Iya," jawab Or Well singkat.
"Gunung itu merupakan hal yang paling berharga bagi kami berdua. Kami ingin bertaruh dengan kalian. Jika kalian dapat mengalahkan kami berdua. Maka gunung itu akan menjadi milik kalian. Sedangkan kalau kalian kalah, maka kalian harus menjadi budak kami dan tinggal di Gunung Hayded untuk selamanya," tutur Ded dengan panjang lebarnya.
Mendengar penjelasan dan penawaran dari Ded. Or Well terdiam memikirkan risiko yang harus mereka bertiga hadapi. Sedangkan Hay melakukan telepati kembali dengan suaminya itu.
"Kau bilang gunung ini berharga, Gendut?. Kalau saja kaki kita tidak dipasang gelang emas pengikat oleh orang itu. Sejak dari dulu kita meninggalkan gunung ini," ucap Hay di dalam telepatinya. Sambil melirik ke arah kaki kirinya yang terikat oleh gelang emas. Sedangkan gelang emas satunya mengikat kaki kanan Ded.
Sepasang gelang emas itu. Dipasang paksa oleh seseorang kepada mereka berdua. Saat mereka kalah bertarung dengan telaknya 24 tahun yang lalu, dengan orang itu. Orang itu juga yang membantu Hay dan Ded untuk mengalahkan majikan terdahulu gunung api soliter raksasa itu.
Oleh orang itu juga. Pasangan suami\-istri gendut itu. Diharuskan menjaga gunung api soliter raksasa bersalju. Yang kemudian mereka beri nama Gunung Hayded. Sesuai dengan nama mereka berdua. Hingga mereka menemukan orang yang akan menjadi pemilik asli dari gunung api raksasa soliter bersalju di masa depan.
__ADS_1
"Kau juga gendut," sahut Ded dengan sengitnya.
"Dasar Gendut. Lebih baik kau diam. Lebih baik kau tanya lagi si bocah berambut merah itu," Hay lalu mengakhiri pembicaraan telepati itu. Sedangkan Ded berbicara kembali kepada Or Well muda.
"Bagaimana Bocah, apa kau setuju?" tanya Ded, pura-pura memasang wajah serius di hadapan Or Well.
"Baiklah, kami setuju!" sahut Or Well tanpa meminta persetujuan dari Kasandra dan Pusia.
Selepas berkata. Or Well langsung menyerang Ded dengan shennya kali ini. Hingga tubuhnya diselubungi oleh aura merah yang meluap-luap. Yang ingin segera ia lepaskan dengan segera.
Ded pun tak tinggal diam. Lelaki gendut itu menggunakan shennya yang berwarna biru terang dengan level yang sengaja ia turunkan ke level A+. Agar Or Well bisa mengimbanginya dan dapat mengalahkan dirinya dengan alasan kehabisan stamina. Karena faktor usia Ded yang jauh lebih tua daripada Or Well.
Kedua orang yang lebih pantas sebagai guru dan murid itu terus bertarung menjauh Hay, Kasandra dan Pusia yang masih menonton pertarungan itu.
Mereka bertiga lalu saling serang satu sama lainnya. Seakan pertarungan yang mereka lakukan adalah pertarungan sungguhan.[Untuk memperebutkan Gunung Hayded, yang di masa depan akan bernama Gunung Well.
Pertarungan sengit pun terjadi di antara mereka bertiga dengan menggunakan shen mereka. Hingga daerah sekitar tempat itu menjadi porak-poranda oleh serangan-serangan shen mereka berlima.
Ded nampak sudah jenuh menghadapi Or Well yang sangat bernafsu ingin mengalahkan demi mencapai tujuannya mendapatkan Gunung Hayded dari pasangan suami-istri gendut. Yang mengakui sebagai orang terkuat di Sundaland pada masa itu.
Ded akhirnya melakukan telepatinya kembali dengan istri gendutnya itu. Sambil terus melayani Or Well dengan santainya.Seakan ia sedang bermain-main dengan Or Well muda.
"Hay, istriku yang gendut. Aku sudah bosan menghadapi bocah berambut merah ini. Lebih baik kita menyerah sekarang untuk mengakhiri semuanya," ucap Ded di dalam telepatinya yang langsung dijawab oleh Hay.
__ADS_1
"Baiklah suamiku yang gendut. Kita menyerah sekarang," sahut Hay yang segera berteriak dengan kerasnya.
"Kami menyerah para bocah!" teriak Hay, sembari melesat ke arah Ded yang segera menghentikan pertarungannya dengan Or Well yang merasa kesal dan heran. Karena dengan mudahnya mereka menyerah begitu saja. Padahal dirinya merasa. Ded belum sungguh-sungguh bertarung dengan dirinya.
"Apa-apaan kalian menyerah begitu saja. Kalian belum merasakan kehebatan kami sebagai murid para Dewa 5 warna," kata Or Well menunjuk ke arah Hay dan Ded dengan telunjuk kanannya.
"Kami lapar!. Kalau kami lapar dan tak segera makan, makan kami akan menjadi kurus dengan cepatnya. Itu adalah hal terburuk bagi kami," dusta Ded pun keluar dari mulutnya.
"Tapi tak bisa begitu. Kalian belum kami kalahkan," protes Or Well muda dengan sengitnya.
Protes dari Or Well segera ditanggapi oleh Hay. Yang berbicara dengan suara lembut.
"Kalau kami lapar. Kami bisa memakan apapun termasuk kalian. Karena kami sudah berjanji tak akan memakan manusia lagi. Makanya kami tak memakan kalian. Gunung ini sekarang menjadi milik kalian. Kalau kalian tidak dapat menjaganya, kami akan kembali untuk memakan kalian!" tutur Hay berusaha menakuti Or Well muda. Yang tentu saja tak takut dengan ancaman dari perempuan raksasa itu.
Selesai berkata seperti iti pasangan suami-istri gendut itu lalu melesat dengan kecepatan tinggi ke arah barat. Yang segera ingin dikejar oleh Or Well. Namun dicegah oleh Pusia yang segera membelenggu Or Well dengan kedua cambuk di kedua tangannya itu.
"Kecepatan mereka bisa dibilang mendekati gurunya Clerk, Si Kilat Hijau. Kau tak mungkin dapat mengejarnya, Or," kata Pusia, lalu melepaskan belenggu cambuknya kepada Or Well yang masih tampak kesal.
"Tapi aku belum mengalahkan duo gendut itu!" teriak Or Well dengan kerasnya.
"Kau ini berisik sekali. Lebih baik kita ke puncak gunung api bersalju itu sekarang," sambung Kasandra lalu melesat ke puncak gunung raksasa bersalju itu. Yang akan berganti nama menjadi Gunung Well.
Tanpa banyak bicara lagi Or Well dan Pusia menyusul Kasandra dengan kecepatan tinggi. Bersama angin yang bertiup kencang di tempat itu. Seakan mengiringi mereka pergi untuk menjadi majikan gunung yang akan berganti nama menjadi Gunung Well.
__ADS_1