Manusia Masa Depan

Manusia Masa Depan
Bab 122. ( Kematian dan Perjuangan Untuk Hidup)


__ADS_3

 


Duplikat Chin terus mengibas-ibaskan panah-panah itu dengan shen hitamnya dengan santainya. Tanpa menyadari, Axel sudah menebarkan jaringannya ke arah dirinya. Dengan kemampuan jaring pusakannya yang mampu bergerak cepat dan menangkap apa pun. Axel pun berhasil menangkap duplikat Chin yang terus dihujani oleh panah-panah milil Abel dengan begitu massifnya.


"Sial! Ini benar-benar jebakan," ujar duplikat Chin berkata sendiri.


Walaupun duplikat Chin sudah tertangkap di dalam jaring pusaka milik Axel. Akan tetapi duplikat itu masih dapat menggunakan shennya untuk melindungi tubuhnya dari panah-panah yang menyerang dirinya. Hingga panah-panah itu menjadi debu saat menyentuh duplikat Chin.


"Akhirnya kau kena juga. Orang berkepang satu ..," ucap Axel yang muncul di hadapan duplikat Chin, dengan memegang ujung jaring pusakanya.


Setelah Axel muncul, Abel dan Adel pun muncul dari pekatnya kabut ciptaan itu. Bersamaan dengan berhentinya serangan panah dari Abel, yang benar-benar tidak efektif untuk melawan duplikat Chin yang terus meronta dari jaring pusaka Axel, yang malah membuat dirinya semakin kuat terperangkap di dalamnya.


"Kalau aku memang sudah terkena jebakan kalian, memangnya kenapa?" ujar duplikat Chin seakan sedang mengejek mereka bertiga.


"Tentu saja kau akan mati!" sahut Adel, lalu mengarahkan 10 jarinya ke arah duplikat Chin yang masih terkurung di dalam jaring pusaka Axel.


Dari 10 jari Adel keluarlah 10 benang baja yang segera melesat ke arah duplikat Chin. Yang terlihat santai menghadapi serangan dari Adel. Abel pun ikut melesatkan panah perengut jiwanya kembali. Di mana kali ini, mantan pimpinan dari Gura-Gura Baru biru itu. Melepaskan panah pusakanya yang sebenarnya.


 


3 mantan anggota Gura-Gura Baru itu. Sudah yakin, kalau serangan kombinasi mereka dapat membunuh duplikat Chin. Yang mereka pikir sudah terkuras hampir habis shennya, akibat dari pertarungan hebat yang sudah ia lakukan. Hingga jaring pusaka milik Axel dapat menjeratnya dengan mudahnya. Padahal duplikat Chin itu hanya berpura-pura saja menjadi lemah. Hingga menurunkan shennya menjadi level A+++.


 


"Percaya diri sekali kalian ...," ucap duplikat Chan lalu tertawa lepas.


10 benang baja Adel pun sudah menusuk tubuh duplikat Chin, bersamaan dengan panah perengut jiwa milik Abel. Tidak ada reaksi dari benda pusaka Gura-Gura Baru dan 10 benang baja milik Adel. Hingga tiba-tiba saja duplikat Chin meningkatkan shennya hingga level HS. Hingga aura shen hitam meluas dengan sangat cepat sekali. Yang membuat jaring pusaka Axel, panah pusaka Abel dan 10 benang baja Adel luruh menjadi debu.


 

__ADS_1


Ketiga mantan anggota Gura-Gura Baru itu begitu terkejut dengan kenyataan yang ada. Mereka bertiga langsung saja melesat mundur untuk menghindari sapuan shen hitam duplikat Chin, yang terasa begitu panas.


 


"Sudah kuduga, dirinya hanya pura\-pura menjadi lemah," kata Axel, sembari melesat mundur.


"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Adel.


Belum sempat Adel mendapat jawaban dari kedua temannya. Duplikat Chin sudah muncul 4 meter di hadapan mereka bertiga.


"Yang kalian lakukan sekarang, hanyalah menunggu teman-teman kalian di alam baka sana ...," ucap duplikat Chin, lalu memperluas area shen hitamnya hingga menyentuh ketiga mantan anggota Gura-Gura Baru biru, yang akhirnya musnah menjadi debu. Tanpa sempat berkata apa pun lagi.


Setelah memastikan musuhnya sudah menjadi debu. Duplikat Chin lalu menarik seluruh aura shen hitamnya kembali, masuk ke dalam tubuhnya. Hingga tak tersisa sedikit pun shen hitam yang menyelimuti dirinya.


"Akhirnya mereka musnah juga ...," ujarnya berniat untuk pergi. Akan tetapi saat dirinya ingin melesat pergi. Tiba-tiba saja Chin menghubunginya lewat telepati.


"Beri aku waktu sedikit saja. Biar aku bersenang-senang sebentar lagi," sahut duplikat Chin, yang membuat Chin kesal mendengarnya.


"Kau ini sudah mengambil shenku tanpa meminta izin terlebih dahulu. Sekarang berani-beraninya membantah diriku," kata Chin dengan penuh kekesalannya.


"Ya, aku tahu. Aku salah. Tapi beri aku waktu satu jam saja," tawar duplikat Chin.


"Baiklah terserah dirimu. Tapi kalau kau satu jam tidak kembali. Maka aku akan menarik paksa dirimu, masuk ke dalam diriku," ancam Chin terhadap duplikatnya. Lalu menghentikan telepatinya dengan duplikat dirinya.


"Satu jam, aku rasa waktu yang cukup untuk menghabisi mereka ...," kata duplikat Chin lalu melesat dengan kecepatan tinggi menuju ke arah utara. Di mana Mark dan teman-temannya sedang melarikan diri.


***


Jeni, Mark, Clark, Nack dan Franco merasakan pancaran shen dari Axel, Adel dan Abel telah menghilang secara mendadak. Mereka tahu, kalau ketiga mantan anggota Gura-Gura Baru biru telah mati di tangan duplikat Chin.

__ADS_1


 


"Akhirnya, mereka bertiga mati juga," kata Jeni dengan nada yang datar.


"Ya, akhir dari anggota Gura-Gura Baru sudah terjadi," sambung Clark.


"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Mark.


Clark dan Jeni saling pandang satu sama lain atas pertanyaan dari anak angkat Er Well itu. Mereka berdua seakan ingin memberi kode melalui tatapan mata mereka. Untuk memberi jawaban pertanyaan dari Mark. Hingga akhirnya, Clark lah yang berbicara.


"Lebih baik kalian bertiga cepat pergi dari sini. Biar aku dan Jeni yang menahan orang berkepang satu di sini," kata Clark dengan nada datar.


"Kalian berdua, tidak bisa mengambil keputusan seperti itu. Jeni Kecil, Axel, Adel dan Abel sudah mati. Apa kalian berdua ingin mati juga?" sahut Mark dengan penuh emosi.


"Kita sudah tidak memiliki pilihan lainnya. Atau kita semua akan mati di sini," timpal Jeni.


"Sudahlah kalian jangan ribut seperti itu. Begini saja, hidup dan mati. Kita berlima akan selalu bersama," ujar Franco, berusaha menengahi mereka.


"Aku rasa, usul Franco ada benarnya juga. Walaupun Jeni dan Clark menahan orang itu di sini. Tetap saja, pada akhirnya kita akan mati di tangannya. Kita tinggal menunggu waktu saja, karena orang itu. Sepertinya tak ingin melepaskan kita. Entah untuk alasan apa?" sambung Nack.


"Baiklah, kalau kalian maunya seperti itu. Kita sepakat, sehidup semati berlima, untuk menghadapi orang itu," ucap Clark lalu tersenyum lepas.


"Ya, itu usul yang baik juga," sambung Jeni, lalu tersenyum lebar.


"Sekarang lebih baik kita lanjutkan perjalanan kita. Aku rasa 20 km ke depan, sudah ada laut," kata Clark yang memang dapat mencium aroma laut dari kejauhan. Sambil melirik ke arah Jeni yang segera mengaktifkan mata langitnya untuk melihat laut yang dimaksud oleh Clark.


"Kau benar, kita bisa bersembunyi di dalam laut. Agar shen kita teredam oleh aura laut," jelas Jeni lalu melesat kembali yang diikuti oleh teman-temannya.


 

__ADS_1


__ADS_2