Manusia Masa Depan

Manusia Masa Depan
Bab 22 (Kasandra, Dewi Peramal dari Gura-Gura Lama)


__ADS_3

Nel terus berlari dengan kecepatan tinggi ke arah timur tanpa mempedulikan keadaan sekitarnya sama sekali.


Hingga tiba-tiba saja pundak Nel di tepuk oleh seseorang. Setelah terlebih dahulu mengambil Jean dari pundaknya. Yang membuat Nel terkejut, dan menghentikan larinya.


Anggota Gura-Gura Baru nomor 14 itu sangat terkejut. Setelah ia mengetahui siapa yang menepuk pundaknya tadi. Hingga pundaknya benar-benar merasakan sakit yang luar biasa.


"Kau!, Kasandra...!, Dewi Peramal dari Gura-Gura Lama?" tanya Nel, dengan penuh ketakjubabnya. Melihat kecantikan Kasandra yang kini ada di depannya.


"Kau benar, aku Kasandra," sahutnya, sambil melepaskan tali tambang yang mengikat Tubuh Jean, dengan tangan kirinya.


Wajahnya terlihat sama persis dengan Jean. Tapi terlihat lebih dewasa sedikit. Dengan baju berkerah lebar, berwarna jingga. Rambutnya hitam kecoklatan sebahu. Dengan bagian luar rambutnya terkuncir dengan 3 helai bulu burung merak. Sedangkan bagian dalamnya dibiarkan terurai.


"Nenek!, akhirnya kau aku temukan juga," ucap Jean, lalu bangkit, dan tersenyum ke arah Kasandra yang nampak dingin.


"Bukannya kau yang menemukanku, tapi akulah yang menemukan dirimu, Jean...," jawabnya tegas.


"Wow!, Nenek yang cantik dan berwibawa. Ayo bertarunglah dengan diriku!" ucap Nel menantang Kasandra. Yang tampak tak berminat melayani tantangan dari Nel.


"Hanya merendahkan diriku saja, jika aku bertarung dengan dirimu. Aku cukup diwakili oleh cucuku saja. Untuk menghadapi dirimu sebagai perwakilan dari Dran," jawab Kasandra.


"Tapi cucumu itu sudah kalah!?" ucap Nel, dengan sedikit berteriak.


 


"Itu tadi, tapi setelah ini tidak mungkin ia dapat kau kalahkan," ucap Kasandra, lalu mengeluarkan jarum dari dalam telapak tangan kanannya, yang berjumlah 4 buah.


Lalu ia pun mendekati Jean, dengan langkah yang perlahan-lahan tapi pasti.


"Jean, jangan menolak seperti ibumu. Kekuatanmu akan aku tingkatkan, demi menjaga dirimu dari kejaran kelompok Gura-Gura Baru yang lebih kuat dari dirinya. Dan untuk menghadapi dirinya, kalahkan ia untuk diriku," kata Kasandra, menatap tajam Jean.


"Aku percaya, yang Nenek lakukan adalah yang terbaik untukku. Jadi lakukanlah sekarang," jawab Jean.


Tangan kanan Kasandra lalu mengarah kepada Jean.


Terlihat 4 buah jarum itu lalu melayang ke arah Jean. 2 jarum menusuk dan masuk ke pundak kiri dan kanan Jean. Sedangkan 2 buah jarum lagi masuk ke betis kiri dan kanan Jean. Setelah 4 buah jarum itu masuk ke dalam tubuh Jean. Jean merasakan tubuhnya menggigil dengan sangat hebatnya. Hingga ia pun harus terduduk di tanah. Karena efek dari masuknya 4 jarum itu ke dalam tubuhnya.


"Nenek, apa yang terjadi dengan diriku ini?" tanya Jean kepada Kasandra, dengan suara yang menggigil.


"Tenang saja Jean, aku tidak mungkin mencelakai dirimu. Itu adalah reaksi dari 4 buah jarum itu. 5 menit kemudian keadaanmu akan berangsur-angsur pulih, dan kau akan merasakan peningkatan kekuatan yang sangat signifikan. Jika dibandingkan saat ini. Walaupun tidak sehebat Er Well dirimu nanti, paling tidak kekuatanmu hanya berbeda 1 level di bawah Er Well," jelas Kasandra lalu berbalik arah menatap Nel dengan tajamnya. Terutama pada tanda Gura-Gura Baru di keningnya.


"Oh, rupanya kau salah satu dari 14 bayi yang dipelihara oleh Dran, dan diberi tanda seperti itu 50 tahun yang lalu. Di saat Gura-Gura Lama akan bubar. Ternyata ia benar-benar mewujudkan obsesi terbesarnya. Untuk membentuk Gura-Gura Baru. Yang sangat estrem dengan Gura-Gura Lama," tutur Kasandra. Sambil membayangkan kejadian 50 tahun yang lalu.


"Kau ini ke mana saja selama ini?, baru mengetahui perkembangan Gura-Gura Baru dan Tuan Dran saat ini. Kau harus tahu 4 orang dari 14 bayi itu sudah mati. 2 orang di bunuh oleh Er Well, saat mereka bertugas untuk membawa Jeni, kloninganmu itu. Untuk dijadikan peramal pribadi Tuan Dran. Sayang ia dan suaminya melawan, terpaksa mereka membunuhnya 10 tahun yang lalu," jelas Nel, lalu memandang ke arah Jean dan melanjutkan ucapannya kembali.


"Tadinya mereka ingin membawa gadis itu. Tapi Er Well datang bersama anak angkatnya. Lalu membunuh 2 temanku itu. 2 temanku lagi, digantikan posisinya oleh 2 Raja Robot dari Mars dan Bulan, setelah mereka membunuh 2 temanku, 20 tahun yang lalu Sedangkan 1 bayi lagi hilang saat berumur 1 tahun. Dan bukan 14 jumlah dari anggota Gura-Gura Baru, tapi 18 orang. Yang kini tinggal 13 orang yang masih hidup. Sekarang Tuan Dran, memerintahkan kami untuk merekrut 5 anggota baru. Yang salah satunya adalah Jean, cucu kesayanganmu itu," jelas Nel, dengan panjang lebarnya itu.

__ADS_1


"Bukannya aku tidak tahu tentang semua itu. Aku hanya tidak mau tahu, dan tidak peduli akan semua itu. Kau belum tahu ya, jika 3 temanmu. Yang diperintah oleh Dran. Untuk menangkap anggota pengganti Gura-Gura Baru. Telah keluar dari keanggotaan Gura-Gura Baru. Mereka bertiga akan menjadi penduduk Gunung Well," timpal Kasandra serius. Yang sempat melihat kejadian itu sekilas, dengan mata langitnya.


"Pasti itu, hanya ramalanmu saja...?" ucap Nel, dengan sinisnya.


"Selain meramal, mataku ini dapat melihat jelas hingga jarak 1000 km. Mereka kini sedang menuju Gunung Well," jelas Kasandra.


Nel lalu terdiam, ia hanya memperhatikan Jean yang mulai kembali ke keadaan normalnya. Jean tampak bangkit, lalu berjalan beberapa langkah menghampiri, dan berhenti di samping Neneknya.


"Aku sudah pulih, bahkan merasakan jauh lebih kuat dari sebelumnya, Nenek. Sekarang aku akan balas dendam, kepadamu. Gura-Gura Baru nomor 14...!" ucap Jean, lalu menyerang secara mendadak Nel, yang untungnya sigap.


Tangan kanannya ia kepalkan dan berniat untuk memukul tubuh Nel, yang segera menghindari serangan Jean yang hanya mengenai tanah, hingga tercipta lubang sedalam 1 meteran. Dengan getaran Bumi yang berguncang hebat.


Melihat Nel dapat menghindari serangannya. Jean segera berlari mengejar Nel, yang segera berlari untuk menghindari Jean, yang kini menjadi jauh lebih kuat dari sebelumnya.


"Ini di luar prediksiku, Gadis itu menjadi begitu kuat sekali. Aku tidak mungkin menang jika bertarung dengannya dari jarak dekat. Kasandra memang benar-benar legenda dari Gura-Gura Lama. Ia hanya perlu waktu 5 menit saja, untuk meningkatkan kekuatan Gadis Kecil ini. Apa Tuan Dran punya teknik seperti itu, ya?. Aku jadi tertarik dengan teknik seperti itu, menjadi kuat dalam waktu singkat," kata Nel di dalam hatinya, sambil terus berlari, tanpa menyadari bila Jean telah ada di hadapannya.


"Kau ingin lari ke mana lagi, Gura-Gura Baru..., nomor 14!?" kata Jean, yang membuat Nel harus menghentikan larinya itu.


"Aku berlari, itu hanya ingin membuat dirimu jauh dari nenekmu. Agar kau itu, tidak bisa meminta bantuan Nenekmu lagi, saat kau kalah seperti tadi," tutur Nel, dengan alasannya itu.


"Aku rasa itu hanya alasanmu saja, jujur saja kau itu sekarang takut dengan kekuatanku ini," sahut Jean, lalu menyerang Nel kembali.


Tangannya memukul kesana-kemari. Hingga akhirnya pukulannya mengenai perut Nel. Yang kali ini, ia benar-benar jatuh tersungkur ke tanah, dengan rasa sakit yang luar biasa. Yang ia rasakan di perutnya itu.


"Tendangannya sangat berbeda dengan yang tadi. Sepertinya, kali ini aku harus menggunakan pistolku untuk melumpuhkan dirinya," ujar Nel, lalu bangkit dan mengambil pistolnya dari dalam sarungnya, yang berada di pinggang kanannya. Ia lalu arahkan pistolnya itu ke arah Jean, yang kini berjarak 5 meter dari dirinya.


Tampak sebuah peluru keluar dari moncong pistol itu, lalu melesat ke arah Jean yang tampak tenang. Tangan kiri Jean lalu terbuka menahan peluru pistol itu dengan shennya. Lalu membalikan peluru itu ke arah Nel yang tak menduga hal itu akan terjadi. Dan akhirnya peluru itu pun menembus jantungnya.


"Kau memang hebat, Gadis Peramal. Aku telah kalah darimu...," ucap Nel, lalu jatuh tersungkur di tanah dan mati.


"Akhirnya, aku dapat membunuh 1 anggota Gura-Gura Baru, dengan tanganku sendiri...," ucap Jean bicara sendiri. Dengan nada yang penuh dengan dendam.


"Apakah, kau sudah puas membalaskan dendammu itu, Jean?" tanya Kasandra, yang tiba-tiba ada di belakang Jean.


"Aku belum puas, Nenek. Sebelum aku, dapat membunuh seluruh anggota Gura-Gura Baru," jawab Jean dengan menahan emosinya.


"Kau itu hanya memelihara penyakit di hatimu saja. Dendam itu tidak baik Jean, buang rasa itu jauh-jauh dari hatimu...," ucap Kasandra menasehati cucunya.


"Tidak bisa!, apakah Nenek tidak merasakan. Bagaimana sakitnya hati kita, saat kita kehilangan orang yang kita sayangi. Atau jangan-jangan Nenek tidak sayang dengan Ayah dan Ibuku?" tanya Jean dengan penuh emosi.


Kasandra tampak tenang dengan ucapan Jean itu. Yang menuduhkan hal itu kepada dirinya. Rupanya, usianya yang telah 100 tahun. Telah banyak memberikan dirinya banyak pengalaman hidup.


"Aku memiliki cara sendiri untuk menyayangi mereka berdua. Aku ingin mereka berdua hidup kembali. Oleh karena itu, aku belajar ilmu yang mampu untuk menghidupkan orang mati. Tapi masalahnya sampai saat ini, aku belum bisa menguasai ilmu itu. Kau tahu, aku ini sebenarnya sangat khawatir di dalam hidupku ini. Aku takut terlebih dahulu dijemput oleh maut, sebelum menguasi ilmu itu. Aku ini seakan sedang berkejaran dengan waktu. Menghitung tiap tahun umurku, yang terus bertambah. Untuk menjadi berkurang," Kasandra memandang ke arah langit. Seakan ia sedang melihat sesuatu hal di langit.


"Walaupun aku terlihat masih muda seperti ini, berkat tingkat shen yang aku kuasai. Tapi saat aku menggunakan shenku secara maksimal, maka beberapa menit kemudian. Wujud asliku yang berusia 100 tahun akan terlihat, dan akan berlangsung selama beberapa jam. Lalu memuda lagi seperti ini secara bertahap, seiring pulihnya shen yang telah aku gunakan itu. Dan hal ini pun akan terjadi pada anggota Gura-Gura Lama lainnya. Tidak ada yang bisa lepas dari proses penuan sejatinya, aku dan anggota Gura\-Gura Lama lainnya. Hanya bisa menyembunyikan. Tapi untungnya hingga saat ini, kami berlima belum pernah menggunakan kekuatan secara maksimal. Jika sampai hal itu terjadi, pasti Wujud 100 tahun kami sangat tidak enak untuk dipandang," jelas Kasandra dengan panjang lebarnya.

__ADS_1


"Tapi aku ingin balas dendam, Nek...TAPI AKU INGIN BALAS DENDAM, NEK..!" ucap Jean, dengan kerasnya.


"Kau harus tahu dirilah Jean. Walaupun sekarang kau sudah lebih kuat dari dulu. Tapi untuk ukuran Gura-Gura Baru, kau paling masih berada di level kuning. Jadi lebih baik kau berdamai saja dengan hati dan dirimu," ucap Kasandra sambil melihat Bulan di langit, yang mulai nampak di senja hari itu.


Jean tampak terdiam memikirkan semua ucapan dari Neneknya itu.


"Benar juga kata Nenek, naif aku bisa membunuh seluruh anggota Gura-Gura Baru. Nenek juga, bukanya dulu juga adalah anggota Gura-Gura Lama. Yang anggotanya tidak kuketahui siapa saja secara pasti. Karena aku sangat sulit mengorek keterangan dari Nenek tentang masa lalunya itu. Atau ia, jangan-jangan memiliki hubungan masa lalu dengan pencuri mayat ibuku itu?. Akan kutanyakan hal itu sekarang, dari pada aku hanya berspekulasi sendiri, di dalam hati dan pikiranku ini," ucap Jean di dalam hatinya itu.


"Nenek, sebenarnya siapa saja 5 anggota Gura-Gura Lama selain Nenek, Kakek Well dan Dran. Yang sekarang merupakan Ketua Gura-Gura Baru?" tanya Jean memancing Kasandra agar menceritakan masa lalunya itu.


"Nanti juga kau akan tahu sendiri, siapa 2 teman lamaku itu. Tapi yang pasti kami tidak pernah berhubungan lagi satu dengan yang lainnya, sejak 50 tahun yang lalu. Kenapa kau tanyakan hal itu, apa kau pernah bertemu dengan orang yang memiliki kekuatan sebesar diriku?" jawab dan tanya Kasandra.


"Ya, aku pernah bertemu dengan orang yang memiliki kekuatan jauh di atas Nenek. Tadinya aku pikir, ia itu Ketua Gura-Gura Baru. Tapi dia bilang 'tidak' dengan tegasnya. Dia bilang juga, walaupun 5 anggota Gura-Gura Lama bergabung dan mengeroyok dirinya. Kalian tetaplah bukan tandingannya. Dialah juaranya" ucap Jean seakan sedang melebih-lebihkan ucapannya itu.


Tampak kasandara tersenyum mendengar cerita Jean.


"Kemungkinan, kebenarannya ucapannya bisa dipegang. Saat ini jumlah manusia mungkin tinggal 10 juta jiwa di seluruh Bumi. Mereka hidup terpencar untuk menghindari pembantaian yang dilakukan oleh kelompok Gura-Gura Baru dan serangan pasukan robot Mars dan Bulan, yang ingin menguasai Bumi. Zaman sekarang ini sudah tidak ada yang namanya negara. Yang ada hanyalah kota-kota atau desa-desa di dalam tanah. Mungkin orang yang kau temui itu berasal dari desa di dalam tanah. Jika ia memiliki kekuatan sebesar itu, lalu apa hubungannya dengan diriku?" tutur Kasandra.


"Ia mencuri peti mati ibu, bersama jasadnya itu," jawab Jean, yang membuat Kasandra terkejut.


"Untuk apa ia lakukan hal itu?" tanya Kasandra, dengan penuh selidik.


"Untuk dihidupkan kembali, dan dijadikan peramal pribadinya," jawab Jean, yang membuat Kasandra penasaran dibuatnya.


"Aku jadi penasaran siapa orang itu?, karena yang memiliki ilmu untuk menghidupkan orang mati hanya guruku saja, yang telah menghilang sejak 80 tahun yang lalu. Baiklah aku akan membaca sebagian memori otakmu, Jean. Tuntun aku, saat kau bertemu dengan orang itu," Kasandra lalu meletakan tangannya kepada kening Jean, tampak matanya pun menjadi berwarna biru. Ia membaca dan melihat, apa yang dilihat oleh Jean. Saat ia bertemu dengan si pencuri mayat kloningannya itu.


"Sudah mati pun kau masih saja menderita, Jeni. Hingga tubuhmu pun harus dicuri oleh orang yang tidak aku kenal dan memiliki kemampuan dan kekuatan di atasku, untuk dijadikan abdinya," ucap Kasandra bicara sendiri. Lalu melepaskan tangan dari kening Jean, dan matanya pun berubah menjadi cokelat kembali.


"Tidak, dan perkataannya itu benar. Kami berlima bukanlah tandingannya. Kekuatannya di atas kami, bahkan guru kami berlima sekali pun," jawab Kasandra.


"Lalu, apakah Nenek akan mengejar orang itu?" tanya Jean kembali.


"Buat apa aku mengejarnya. Jika siapa dirinya dan keberadaan saja aku tidak tahu sama sekali. Mungkin Jeni lebih baik dihidupkan oleh dirinya, daripada oleh diriku. Yang entah sampai kapan aku dapat menguasai ilmu itu," timpal Kasandra masih memandang ke arah Bulan yang semakin terlihat jelas di langit.


"Aku saat ini lebih menfokuskan pada keberlangsungan kehidupan manusia di Bumi saat ini, yang hanya tinggal berjumlah 10 juta jiwa. Jumlah yang sama besar pada sebuah kota besar di abad 21. Padahal, walaupun jumlahnya terus menurun dari abad ke abad. Tapi paling tidak 100 tahun yang lalu saat aku lahir, katanya jumlah penduduk Bumi masih 1 miliar jiwa. Saat aku masih berusia 1 tahun, para robot menyerang Bumi, Bulan dan Mars. Koloni Bulan dan Mars dapat dikuasai oleh mereka, hingga saat ini. Sebagian kecil yang selamat dari peristiwa itu, lalu kembali ke Bumi. Yang tidak kalah kacau balaunya. Hingga jumlah penduduknya tinggal 100 juta jiwa akibat pembantaian oleh para robot itu. 98 tahun lalu, pasukan robot itu menetap di Bulan dan Mars," Kasandra pun menghentikan ucapannya sejenak, lalu melanjutkannya kembali.


"30 tahun yang lalu mereka menyerang Bumi kembali, tapi dapat dipukul mundur oleh keluarga Well. Tapi jumlah manusia semakin berkurang hinggal 20 juta orang. Kini mereka menyerang kembali, ditambah dengan pembantaian oleh anggota Gura-Gura Baru. Aku perkirakan jumlah mereka tinggal 10 juta jiwa. Aku tidak bisa tinggal diam saja, melihat keadaan ini. Akan aku hancurkan pusat kekuatan mereka di Bulan. Yang di letakan oleh leluhur mereka. Karena hanya dengan cara ini, robot-robot itu akan hancur sendiri. Jika menghancurkan mereka satu persatu seperti ini. Aku rasa percuma, karena jumlah mereka itu seakan tidak terbatas," tutur Kasandra, dengan lebih mantap menatap ke arah Bulan yang semakin jelas terlihat di langit, dikarenakan Matahari yang semakin meredup di langit.


"Aku ikut, Nenek...," ucap Jean.


"Kau itu masih butuh oksigen untuk hidup. Sedangkan orang sekelas aku, ada atau tanpa oksigen. Aku masih bisa hidup. Lebih baik kau lanjutkan perjalanan dan tujuanmu ke Gunung Well. Aku ingin lebih berguna untuk dunia, di usia senjaku ini. Sampai jumpa lagi, Cucuku yang cantik...," ucap Kasandra, lalu melayang di udara dan akhirnya terbang melesat ke Bulan.


"Entah kapan aku akan seperti dia, Dewi Peramal dari Gura-Gura Lama," ucap Jean. Lalu melanjutkan perjalanannya kembali, menuju ke Gunung Well. Yang di ikuti oleh tenggelamnya Matahari di ufuk barat.


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2