
Sementara itu Clerk dan Dran yang terbang melesat ke arah timur. Terlihat menghentikan terbang mereka. Mereka berdua melayang di angkasa sejauh 1300 km dari keberadaan Gunung Well. Tempat di mana tadi mereka merasakan pancaran shen dari pertarungan antara 3 teman mereka dengan Hay dan Ded, secara samar-samar.
Mereka berdua merasa bersalah meninggalkan teman mereka, dengan masalah tanpa kehadiran mereka berdua di tempat itu.
"Clerk, apakah kau tadi merasakan pertarungan antara teman-teman kita. Dengan dua shen yang tidak kita kenal sama sekali?" tanya Dran kepada Clerk dengan mimik wajah penuh dengan kekhawatirannya terhadap ketiga temannya itu.
Clerk, si Dewa Racun Gura-Gura itu menghela napasnya dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan dari Dran.
"Tentu saja aku merasakannya. Tapi syukurlah di antara mereka berlima tidak ada yang mati. Pancaran shen mereka berlima masih ada walaupun hanya samar-samar," tutur Clerk, yang ada di samping Dran.
"Apakah kita harus menghampiri mereka bertiga?" tanya Dran tetap memcemaskan ketiga temannya itu.
"Kau pikir mudah bagi kita tiba di tempat itu dengan cepat. Setelah kita tiba sejauh ini. Kau jangan khawatirkan mereka bertiga. Mereka bertiga pasti akan baik-baik saja," kata Clerk, berusaha membuat Dran tenang.
"Tapi aku mengkhawatirkan mereka?"
"Kalau begitu, lebih baik kita melakukan telepati kepada salah satu dari mereka saja. Agar kau tahu keadaan mereka yang sebenarnya...," usul Clerk.
"Baiklah, kita akan melakukan telepati dengan Or Well."
Selesai berkata seperti itu. Dran memejamkan kedua matanya untuk melakukan telepati bersama Or Well. Begitu juga dengan si Dewa Racun Gura-Gura, yang segera memejamkan kedua matanya. Agar dapat terhubung dengan telepati mereka bertiga.
__ADS_1
Semenit dua menit tak ada jawaban dari Or Well, yang membuat Dran bertambah khawatir terhadap Or Well. Hingga dimenit ketiga, majikan dari Gunung Well itu menjawab hubungan telepati antara anggota Gura-Gura yang baru dibentuk itu.
"Ada apa Dran, Clerk. Apakah kalian merindukan aku?" tanya Or Well ialu tertawa terkekeh. Yang dilangsung direspon oleh suara Dran.
"Aku tidak merindukanmu. Aku hanya mengira, kalau kau sudah mati dalam pertarungan yang kau lakukan bersama dengan Pusia dan Kasandra dengan dua orang yang tak kami kenal sama sekali," sahut Dran.
"Oh, jadi kau merasakan juga pertarungan hebat antara kami bertiga dengan pasangan raksasa dari Sundaland itu?. Yang akhirnya dimenangkan oleh kami bertiga. Hingga membuat aku mendapatkan Gunung Well, untuk menjadi markas kita," tutur Or Well dengan panjang lebarnya.
"Jadi kau sudah mendapatkan markas untuk Gura-Gura?" tanya Clerk kali ini.
"Ya, tentu saja. Dan aku sebagai ketua dari Gura-Gura. memerintahkan kepada kalian berdua untuk berkumpul di gunung ini satu bulan kemudian," ucap Or Well dengan berapi-api.
Tak ada tanggapan dari Dran dan Clerk atas perkataan dari Or Well. Mereka berdua langsung membuka kedua matanya secara bersamaan. Hingga hubungan telepati itu pun terputus.
"Lebih baik kita melanjutkan perjalanan kita untuk mencari pulau kecil yang akan menjadi markas kedua bagi Gura-Gura," seusai berkata seperti itu. Dran lalu berbalik arah melesat ke arah timur yang didampingi oleh Clerk.
Entah kebetulan atau memang sudah menjadi sebuah takdir. Mereka berdua melihat pulau dengan bentuk 'G' di tengah hamparan gugusan pulau kecil berjumlah 50 pulau itu. Dengan terbang di atas 2000 mdpl. Mereka berdua dapat melihatnya dengan begitu jelasnya semua gugusan pulau kecil itu. Walaupun sedikit terhalang oleh awan-awan rendah yang berarak di angkasa, di kawasan itu.
"Pulau yang indah, pulau berbentuk huruf 'G' itu...,'" ujar Dran menghentikan terbangnya saat berada 2 km dari pulau itu.
"Sepertinya ini sudah takdir. Pulau 'G' sesuai dengan huruf depan dari Gura-Gura," sahut Clerk yang melayang di samping kanan Dran.
"Kalau begitu tunggu apalagi. Kita periksa pulau itu, ada pemiliknya atau tidak," Dran lalu melesat turun yang diikuti oleh Clerk.
Mereka berdua lalu melesat turun dengan kecepatan tinggi menuju pulau berbentuk 'G' yang di masa depan akan bernama Pulau Gura-Gura. Markas lain dari Gura-Gura. Dan markas tetap bagi anggota Gura-Gura baru yang dibentuk dan dipimpin oleh Dran di masa depan.
Baru sampai 1000 Mdpl mereka berdua turun dari terbangnya. Dran dan Clerk melihat ada 2 sosok manusia yang keluar dan melesat ke arah mereka dengan kecepatan tinggi. Hanya dalam hitungan detik 2 sosok manusia kembar itu sudah berada di hadapan Clerk dan Dran dengan jarak hanya 3 meter di antara mereka.
__ADS_1
2 sosok manusia kembar itu memiliki tinggi 175 cm dengan wajah tegas berambut panjang setengkuk dengan kulit sawo matang. Dua orang kembar bernama pongkha-pongkhi itu. Memakai baju layaknya seorang pemburu yang terbuat dari kulit ular python. Mereka berdua berusia 50 tahun, dengan penampilan fisik 25 tahun, dengan tubuh atletis seperti seorang atlet profesional. Di tangan kanan mereka terdapat tato naga berwarna merah cabe.
"Sepertinya kalian memiliki niat buruk terhadap pulau kami?" tanya si kembar bernama Pongkha, yang berambut belah kanan. Dengan mimik wajah penuh selidik terhadap Clerk dan Dran. Yang mereka anggap hanyalah lalat yang ingin menguasai pulau mereka, yang merupakan peninggalan dari guru mereka berdua.
"Kami tidak memiliki niat buruk terhadap pulau kalian. Kami hanya ingin memiliki pulau kalian. Yang akan menjadi markas kami, Gura-Gura," jelas Dran dengan terus terangnya terhadap Pongkha-Pongkhi. Tanpa sedikit basa-basi terhadap sepasang kembar itu.
Tak ada raut keterkejutan di wajah sepasang kembar indentik itu. Bagi mereka keinginan orang yang ada dihadapan mereka berdua sudah biasa. Sudah banyak orang-orang yang menginginkan pulau buatan guru mereka yang menghilang sejak 30 tahun yang lalu. Saat mereka berusia 20 tahun. Tapi semua orang itu dapat mereka kalahkan dengan mudahnya. Tanpa mereka berdua dapat dikalahkan sama sekali.
"Enak sekali kau bicara seperti itu. Pulau 'G' adalah warisan dari guru kami. Dialah yang membentuk pulau itu menjadi berhuruf 'G'. Memang kalian berdua ini siapa?" tanya Pongkhi, dengan rambut belah kiri kali ini terhadap perkataan Dran. Dengan nada yang ketus terhadap 2 anggota Gura-Gura itu.
"Kami berdua murid dari 5 Dewa Warna," sahut Dran dengan keangkuhaannya dengan tangan yang dilipat di dadanya.
"Pantas saja kau begitu pongah. Walaupun guru kalian hebat. Murid-muridnya belum tentu hebat," Pongkhi tersenyum dengan senyum sinis ke arah Dran dan Clerk. Seakan sedang merendahkan mereka berdua.
"Kalau kalian ingin memiliki pulau itu. Maka kalahkan kami dahulu, Pongkha-Pongkhi!" seru Pongkha yang merupakan kakak dari Pongkhi.
"Siapa takut!" seru Dran berniat untuk menyerang Pongkha. Akan tetapi Pongkha mencegahnya dengan mengarahkan tangan kanannya yang terdapat tanda huruf 'P' di telapak tangannya itu.
"Tunggu dulu. Lebih baik kita mencari tempat lain untuk bertarung. Kalau kita bertarung di sini, pasti pulau di bawah kita akan mengalami kerusakan," jelas Pongkha.
"Rupanya kau peduli sekali dengan pulau 'G' ini?" ucap Dran, lalu tersenyum lepas dengan pandangan masih pada si kembar Pongkha-Pongkhi.
"Tentu saja kami peduli. Pulau itu, adalah warisan dari guru kami," sahut Pongkha.
"Sekarang ikutilah kami," Pongkha lalu melesat ke arah timur bersama Pongkhi yang diikuti oleh Clerk dan Dran.
__ADS_1