
Jeni yang terus berlari dengan kecepatan tertinggi yang ia miliki. Tanpa terasa telah mencapai jarak 1500 km dari tempat berlangsungnya pertarungan dari para guru dari Gura-Gura Lama dan Mosa, melawan Chun dan Chon. Ibu dari Jean itu, berlari tanpa mempedulikan apapun. Tujuannya hanya satu. Ingin memberikan warisan dari para guru Gura-Gura Lama, yang berupa pil shen milik 5 orang terkuat pada masanya kepada murid mereka masing-masing. Hingga kloningan dari Kasandra itu tak menyadari kehadiran Syam yang masih berjarak 5 km dari tempat dirinya berada.
Tetapi pada akhirnya. Jeni menyadari jika dirinya sedang diikuti oleh seseorang, dari pancaran shen yang dipancarkan oleh Syam. Yang dapat dirasakan oleh Jeni secara samar-samar karena batas shennya itu.
"Sepertinya, aku mengenal shen yang sedang mengejar diriku?" tanya Jeni di dalam hatinya. Hingga ia pun berbalik arah dan mengaktifkan mata langitnya kembali.
"Mata langit!"
Saat Jeni melihat dengan mata langitnya. Betapa terkejut dirinya, mengetahui siapa yang sedang mengejar dirinya.
"Ternyata Tuan Syam yang sedang mengejar diriku. Lebih baik aku tunggu dia di sini," ujar Jeni di dalam hatinya.
Tak memerlukan waktu yang lama bagi Syam untuk mencapai tempat di mana Jeni berada. Hanya dalam hitungan menit lelaki dari abad ke 10 Masehi itu telah ada di hadapan Jeni. Yang terlihat dengan jelas dengannya. Walaupun Jeni sudah memakai gelang merah pemberian Marandra, yang tak terlihat oleh orang dengan shen di bawah level S. Namun karena Syam memiliki shen di atas H. Tentu saja dapat dengan mudah melihat Jeni, yang masih mengaktifkan mata langitnya itu.
"Akhirnya, aku menemukanmu. Peramal Junior...," kata Syam lalu turun dan berdiri 4 meter di hadapan Jeni.
Jeni terlihat bingung melihat mata Syam yang menjadi biru. Dirinya sansi jika mata itu adalah mata langit. Hingga ia pun menanyakannya secara langsung kepada Syam. Agar rasa penasarannya itu terjawab.
"Tuan Syam, apakah mata anda itu, mata langit?" tanya Jeni dengan penuh selidik.
Syam lalu tersenyum sebelum menjawab pertanyaan itu.
"Ya, ini adalah mata warisan. Yang di zaman ini dikenal sebagai mata langit," jelas Syam.
"Mungkin Tuan Syam adalah leluhur dari Suku Bulan Sabit Merah dengan kemampuan cambuknya, dan leluhur dari Suku Peramal Bulan dengan mata langitnya," tebak Jeni. Yang membuat Syam tertawa dengan kerasnya.
"Aku ini belum menikah. Jadi mana mungkin, aku adakah leluhur dari 2 suku itu. Tapi aku mempunyai keponakan kembar. Dan anehnya, mereka hanya memiliki satu kemampuan saja. Yang lelaki hanya mewarisi cambuk dari ayahnya. Sedangkan yang perempuan mewarisi mata langit ayahnya. Mungkin keponakan kembarku itu, adalah leluhur dari Suku Bulan Sabit Merah dan Suku Peramal Bulan," jelas Syam tentang keluarga besarnya yang ada di masa lalu.
__ADS_1
"Jadi sebenarnya yang memiliki kemampuan seperti Tuan Syam ada berapa banyak di zaman Tuan Syam berasal?" tanya Jeni dengan penuh keseriusannya.
Mendengar pertanyaan dari kloningan Kasandra. Raut wajah Syam pun berubah menjadi sedih. Seakan menanggung beban yang teramat berat, yang ia tanggung sendiri. Akan tetapi ia tetap menjawab pertanyaan dari Jeni itu.
"Sebenarnya di dalam keluargaku, yang memiliki kemampuan sepertiku hanyalah anak pertama saja, dan dari keluarga inti saja. Makanya adikku Mosa tak memiliki salah satu kemampuan sepertiku. Mungkin karena keponakanku kembar, maka kemampuan khususnya pun terbagi menjadi dua. Di dalam keluarga besarku, hanya aku yang memiliki kemampuan dua warisan seperti ini,"tutur Syam mengakhiri ceritanya.
"Lalu yang lain?" tanya Jeni dengan penuh selidik.
"Mereka semua mati dibantai oleh majikan dari kepang lima. Yang tersisa dari keluargaku, hanya aku, Mosa dan dua keponakan kembarku," ujar Syam, dengan menahan segala kepedihannya itu.
"Maaf, aku membuka luka hidupmu," kata Jeni.
"Tidak apa-apa. Mungkin dengan aku bercerita seperti ini. Kau menganggap keponakan kembarku itu adalah leluhur dari Suku Bulan Sabit Merah dan Suku Peramal Bulan," ungkap Syam.
"Ya, pemikiranku seperti itu. Kalau mereka berdua mati. Pasti tidak akan ada Suku Bulan Sabit Merah dan Suku Peramal Blan di masa depan," beber Jeni.
"Kau benar. Tapi tenang saja, mereka berdua sudah aku titipkan ke menara dewa. Humsha tak mungkin berani mengusik tempat itu," jelas Syam, menyebut nama dari majikan kepang lima.
"Orang ini, akhirnya muncul juga di masa ini," kata Syam berbicara sendiri, dengan wajah berubah menjadi pucat. Seakan ia sangat takut dengan orang yang sedang menuju ke arah mereka berdua dengan kecepatan tinggi.
Jeni memperhatikan perubahan wajah Syam dengan penuh seksama. Hingga ia pun menanyakannya kepada kakak kandung dari Mosa itu.
"Sebenarnya siapa orang yang kau maksud, Tuan Syam. Hingga sepertinya dirimu sangat ketakutan sekali?" tanya Jeni, sambil melihat wajah Syam yang sudah berubah menjadi normal kembali.
"Dia Chan, si Kepang Dua. Bagiku dia itu sangat mengerikan sekali," sahut Syam. Sembari mengingat sosok Chan yang sedari dulu mengejar-ngejar dirinya.
"Apakah kekuataannya begitu hebat?" tanya Jeni kembali.
"Kekuataannya memang hebat. Tapi yang kutakuti, bukanlah itu.."
__ADS_1
"Lalu apa?"
"Sudahlah, nanti juga kau akan tahu sendiri. Sekarang lebih baik kita pergi untuk menghindari dirinya," ujar Syam, lalu terbang melesat ke arah selatan dengan kecepatan tinggi. Yang membuat Jeni mau tak mau harus mengikutinya.
"Sebenarnya kau itu ingin ke mana, Jeni?" tanya Syam memperlambat terbangnya. Agar ibu dari Jean itu dapat mengimbangi dirinya.
"Aku ingin ke Gunung Well. Menemui para Gura-Gura Lama," jawab Jeni yang ada di samping kanan Syam.
"Untuk apa kau menemui mereka?" tanya Syam, melirik ke arah Jeni yang ada di sampingnya.
"Aku ingin memberikan peninggalan guru mereka, kepada mereka berlima," sahut Jeni.
"Pasti pil shen yang ada di kantong jingga itu," tebak Syam yang masih terus mengaktifkan mata langitnya.
"Ya, kau benar Tuan Syam. Itu adalah warisan untuk 5 Gura-Gura Lama dari guru mereka," timpal Jeni yang tiba-tiba saja merasakan jantungnya begitu sakit. Hingga tangan kanannya harus memegang dadanya dengan tangan kanannya.
Melihat Jeni kesakitan seperti itu. Syam pun sadar. Jika efek dari jurus Mosa mulai beraksi. Jurus menghidupkan orang mati yang dimiliki oleh Mosa memiliki kelemahan. Yaitu jika pemilik jurus itu mati. Maka orang yang akan dihidupkan akan mati dalam 3 hari, sejak si pengguna jurus itu mati.
"Pasti efek dari jurus Mosa mulai beraksi," ucap Syam.
"Maksudmu apa, Tuan Syam?" tanya Jeni, bersamaan dengan jantungnya yang normal kembali.
"Jurus yang digunakan oleh Mosa untuk menghidupkan dirimu. Memiliki kelemahan, yaitu jika si pengguna mati. Maka orang yang sudah ia hidupkan, akan mati kembali dalam waktu kurang dari tiga hari. Tubuhnya akan menjadi debu, tanpa meninggalkan apa pun," jelas Syam.
Jeni sangat terkejut dengan apa yang sudah diutarakan oleh Syam. Bukannya tentang kematian yang ia takutkan. Akan tetapi, ia takut kehabisan waktu untuk menemukan 5 Gura-Gura Lama.
"Kalau begitu, kita harus menemukan 5 Gura-Gura Lama sebelum diriku mati kembali," ucap Jeni lalu melesat lebih cepat dari yang tadi, sembari mengaktifkan mata langitnya kembali.
Syam tak tinggal diam. Lelaki dari abad ke 10 masehi itu. Lalu mempercepat terbangnya untuk menyusul Dewi Peramal Junior. Yang seakan sedang dikejar\-kejar oleh waktu.
__ADS_1