
Sementara itu Ur Well dan teman-temannya yang dihempaskan oleh Dewi Angin oleh kipas shen anginnya itu. Akhirnya terjatuh 100 km ke arah barat dari tempat semula. Mereka jatuh ke tanah lapang yang begitu luas dengan posisi masih berdiri dengan mantap. Tak tergoyahkan oleh serangan jarak jauh itu. Serangan angin yang dapat membuat sebuah kota luluh-lantak oleh daya rusaknya yang teramat besar itu.
"Dia itu, seenaknya menghempaskan kita begitu saja ke tempat seperti ini," gerutu Drun dengan penuh kekesalannya. Mengingat saat dirinya dan teman-temannya dihempaskan oleh angin shen milik Dewi Angin. Secara tiba-tiba.
"Ya, tempat yang masih menjadi kekuasaan mereka. Lembah Api-Angin," lanjut Ur Well dengan memandangi daerah sekelilingnya, dengan penuh kewaspadaan tingkat tinggi.
"Tapi aku rasa ini adalah tempat yang cocok untuk menjalankan rencana kita," sambung Marandra.
"Maksudmu apa Mara?" tanya Drun dengan penuh penasarannya. Karena ia dan Ur Well tak tahu sama sekali. Rencana yang dimaksud oleh Dewi Peramal Jingga.
"Di sinilah mereka berdua akan tertidur dengan racun yang akan digunakan oleh Clirk," tutur Marandra. Sembari mengeluarkan 4 buah jarum besar berwarna jingga dari 4 jemari tangan kanannya, yang segera ia hempaskan ke langit.
4 jarum besar berwarna jingga itu lalu melesat ke arah 4 arah mata angin. Lalu menghujan ke tanah hingga menembus Bumi. Dari dalam tanah muncullah 4 cahaya jingga yang langsung membentuk kubah dengan diameter 100 meter dan tinggi 30 meter. Mereka semua tahu Dewi Peramal Jingga sedang membuat Kubah Pengurung Raga. Dengan alasan yang tak diketahui oleh Ur Well dan Drun sama sekali. Hingga Drun pun langsung menanyakan akan hal itu kepada Marandra.
"Sebenarnya apa yang ingin kau lakukan Mara, hingga membuat kubah pengurung raga seperti ini?. Kau ingin bunuh diri, dan membawa kami berempat bersamamu ke alam baka?" tanya Drun kembali, dengan penuh kebingungannya.
"Tidak," jawab Marandra.
"Lalu?" ujar Drun meminta penjelasan kepada Marandra.
__ADS_1
"Clirk memerlukan waktu untuk membuat racunnya, agar pasangan sejenis itu tertidur untuk jangka waktu lama. Oleh karena itu aku menggunakan jurus pengurung raga, agar Clirk berkonsentrasi penuh dengan waktu yang cukup, membuat racunnya itu" jelas Marandra tentang rencananya itu. Yang segera sedikit dipahami oleh Drun dan Ur Well.
"Lalu kami harus apa?" tanya Ur Well kali ini.
"Kalian aku harap dapat menjaga Clirk. Biar aku dan Punka yang menghadapi mereka berdua, agar mereka masuk dalam jebakan kita," penjelasan Marandra kali ini sudah dapat dipahami oleh Drun dan Ur Well secara utuh.
"Kalau begitu, kita lakukan sekarang," ucap Clirk lalu duduk bersila dan memejamkan kedua matanya. Agar konsentrasi untuk menggunakan jurus racun yang pernah dipelajari oleh dirinya dan Iblis Racun di masa muda mereka.
Ur Well dan Drun lalu berdiri di antara Clirk, untuk melindungi dirinya dari ancaman apapun yang akan terjadi nanti. Dengan taruhan nyawa mereka berdua.
Baru 5 menit berjalan. Dari arah timur datanglah Dewi Angin dan Dewi Api yang segera meluncur ke arah bawah. Di mana 5 orang terkuat di masa itu ada di sana. Akan tetapi mereka pun terpental saat menyentuh kubah pengurung raga yang akhirnya dapat mereka lihat dengan jelas. Dengan deteksi shen mereka berdua, yang nyaris setara dengan guru dari Gura-Gura Lama itu.
"Peduli setan dengan jurus pengurung raga yang katanya tahan terhadap serangan apapun. Walaupun shen penyerangnya lebih tinggi dari penggunanya. Akan aku obrak-abrik dengan kipas shenku ini," ujar Dewi Angin lalu mengibas-ibaskan kipas shennya ke arah bawah dengan kekuataan penuh yang ia miliki.
Angin-angin dahsyat pun tercipta menyerang ke arah 5 orang terkuat di Bumi pada masa itu, yang berlindung di dalam kubah pengurung raga milik Dewi Peramal Jingga. Namun angin-angin yang seperti tornado raksasa yang keluar dari kibasan kipas shen Dewi Angin itu, terpental dan ada yang berbelok arah yang memporak-porandakan daerah di sekitar kubah pengurung raga dengan parahnya. Seperti daerah yang dilanda oleh tornado super. Daerah-daerah di sekitar tempat itu hancur berantakan, akibat ulah dari Dewi Angin.
Walaupun tak ada hasil sama sekali, atas usahanya menghancurkan kubah pengurung raga yang melindungi 5 guru dari para Gura-Gura Lama. Tetapi Dewi Angin terus melakukannya secara masif. Hingga akhirnya Dewi Api pun bicara untuk menenangkan Dewi Angin.
"Angin, percuma saja kau lakukan itu. Guru kita pun tak dapat menembus pertahanan dari jurus pengurung raga milik Marandra. Saat dirinya ingin menculik Marandra untuk dijadikan adik seperguruan kita di masa lalu," mendengar penjelasan dari kekasih sejenisnya itu. Dewi Angin pun menghentikan serangannya itu.
"Kau benar juga Api. Guru kita yang memiliki mode dasar shen H pun tak mampu menembusnya. Apalagi kita yang hanya memiliki mode dasar shen S, bisa apa kita?. Padahal saat itu Marandra masih berusia 10 tahun," tutur Dewi Angin.
__ADS_1
"Entah dengan cara apa guru dan generasi sebelum kita dapat mencapai shen level H sebagai mode dasarnya?" tanya Dewi Api dengan penuh kebingungannya.
"Mungkin saja mereka memakan ramuan tertentu, hingga kekuataannya bisa setinggi itu. Ingin kita bertanya kepadanya, Dia menghilang setelah mengetahui kekasihnya mati untuk menyelamatkan Bumi ini," kata Dewi Angin sembari mengingat sosok gurunya yang tiba-tiba meninggalkan mereka saat mengetahui kakek guru dari 5 Gura-Gura lama menghilang, terhisap ke dalam kipas ungu yang terakhir berada di tangan Kenia.
Guru mereka berdua hanya meninggalkan sepucuk surat, yang memberitahu jika dirinya anggap saja sudah mati. Dan beberapa pil api neraka yang sekarang sedang mereka gunakan. Yang mulai terasa efek negatifnya ditubuh mereka berdua.
"Sial!, sepertinya efek pil api neraka mulai bekerja. Tubuhku terasa mulai pegal-pegal," keluh Dewi Api, dengan mimik wajah yang buruk. Yang dapat dilihat jelas oleh Dewi Angin.
"Aku juga merasakan hal yang sama," sahut Dewi Angin. Mulai merasakan apa yang dirasakan oleh Dewi Api.
"Kenapa pil api neraka begitu cepat bereaksi efek negatifnya, disaat seperti ini?" keluh Dewi Angin, merasakan shennya sedikit demi sedikit semakin menurun.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Dewi Angin dengan penuh kebingungannya.
"Tentu saja menunggu, karena kita tak dapat melakukan apapun di saat kubah pengurung raga itu masih ada. Dan aku berharap kekuatan kita tidak akan cepat turun walaupun efek negatif dari pil api neraka mulai bekerja," jelas Dewi Api.
Mereka berdua lalu terdiam di atas kubah pengurung raga. Menunggu musuh mereka dari atas udara. Bersama awan-awan yang bearak di atas mereka. Yang seakan ingin menyaksikan kejadian selanjutnya.
Perseteruan di antara para murid. Sepasang kekasih terkuat di masa lalu. Yang kini hanya menjadi sebuah legenda.
__ADS_1