
Sejak kematian 5 guru dari Gura-Gura Lama, termasuk Marandra yang telah mengurung muridnya dan murid saudara seperguruannya di dalam kubah pengurung raga. Kekuatan jurus pengurang raga pun musnah secara tiba-tiba. Kubah pelindung itu hancur menjadi keping-keping cahaya berwarna jingga yang terurai bersama udara yang ada di tempat itu.
Hal itu pun dilihat oleh Kasandra dan teman-temannya dengan penuh kebingungannya. Mereka berlima tidak tahu sama sekali. Sebenarnya apa penyebab dari musnahnya kubah pengurung raga milik Marandra. Bahkan Kasandra sebagai murid dari Dewi Peramal Jingga pun nampak kebingungan. Karena teori dari jurus pengurung raga pun tak pernah diberitahu oleh gurunya, untuk ia pelajari.
Marandra memang tak ingin menurunkan jurus terlarang itu kepada muridnya. Karena menurutnya, jurus itu sangat berbahaya. Bisa dibilang jurus itu adalah jurus bunuh diri dari suku peramal Bulan. Dewi Peramal Jingga berpikiran, lebih baik jurus pengurung raga ia bawa sampai mati. Sebagai pengguna terakhir jurus terlarang dari suku peramal Bulan.
Mereka berlima terus kebingungan dengan apa yang sedang terjadi dengan kubah pengurung raga. Hingga Dran pun menanyakannya kepada Kasandra, yang pasti mengetahui dengan jurus terlarang milik gurunya itu.
"Kasa, sebenarnya apa yang sudah terjadi dengan kubah pengurung raga yang mengurung kita selama ini?" tanya Dran dengan penuh kebingungannya.Sambil menatap cahaya-cahaya jingga yang semakin memudar dan akhirnya musnah sama sekali di langit tanpa batas.
"Aku tidak tahu pasti. Mungkin guruku sudah mati, itu sebabnya kubah pengurang raga itu. Hancur begitu saja," jelas Kasandra. Dengan penuh keraguannya atas jawabannya itu.
"Coba kau gunakan mata langitmu untuk mencari keberadaan guru kita semua," sambung Dran semakin penasaran.
"Percuma, menggabungkan kekuatan kita pun. Kita tetap tak akan menemukan mereka. Guruku pasti sudah menggunakan jurus miliknya, untuk menolak mata langitku. Agar dirinya dan saudara seperguruannya. Tak dapat aku lihat keberadaannya," sahut Kasandra.
"Ya, mereka memang seperti itu. Selalu banyak menyimpan rahasia dengan kita, para muridnya ini," kata Punka.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Clerk dengan penuh kebingungannya.
"Lebih baik kita berlima membentuk kelompok. Sebagai penerus mereka berlima, dengan nama Gura-Gura," timpal Pusia, lalu tersenyum seakan ingin meminta persetujuan teman-temannya itu.
Semuanya tampak berpikir dengan usulan dari Pusia. Mereka berpikir, para guru mereka selalu berlima dalam satu kelompok yang mereka ketahui selama ini. Akan tetapi mereka berlima tidak pernah menyebut nama kelompok mereka apa. Orang-orang hanya menyebut mereka dengan nama 5 Dewa Warna. Sesuai dengan kitab pusaka yang mereka kuasai. Merah, kuning, hijau, biru dan jingga. Yang sekarang sudah diserahkan kepada murid mereka masing-masing, untuk dipelajari.
Mereka berempat akhirnya setuju dengan usulan dari lelaki terindah dari Bulan itu.
__ADS_1
"Sepertinya itu hal yang menarik. Tapi kami ingin tahu arti dari Gura-Gura itu?" tanya Or Well mewakili teman-temannya bertanya kepada Pusia yang segera menjawabnya.
Gura-Gura itu berasal dari kata dasar Gura. Yang berarti cahaya dalam bahasa Suku Bulan Sabit Merah. Jadi Gura-Gura itu berarti cahaya-cahaya," terang Pusia.
"Ternyata artinya bagus juga. Sekarang kita perlu rumah untuk kita berkumpul. Aku punya usul gunung api raksasa bersalju itu. Akan menjadi markas kita," tutur Or Well. Sambil menunjuk ke arah gunung api soliter raksasa bersalju. Yang di masa depan akan disebut sebagai Gunung Well.
Usulan dari Or Well itu langsung ditolak oleh Dran yang memang tidak menyukai gunung sama sekali. Dran lebih menyukai suasana dan bau laut daripada bau dan suasana pegunungan yang sangat disukai oleh Or Well.
"Apa-apaan kau itu, Or. Mengambil keputusan sendiri. Aku tidak suka gunung. Aku lebih suka laut atau pulau kecil yang dikelilingi oleh lautan!" kata Dran dengan suara yang keras.
"Kalau begitu kita akan menentukan voting!" seru Or Well tak mau kalah.
"Siapa yang ingin markas kita berada di gunung api bersalju itu?" tanya Or Well kepada rekan-rekannya.
"Aku," jawab Pusia.
"Aku juga menyukai gunung dari pada lautan," sambung Kasandra.
"Aku lebih menyukai laut daripada gunung," jawab Clerk.
"Berarti kita akan bermarkas di gunung api bersalju itu," kata Or Well mengambil keputusan sendiri berdasarkan voting yang sudah mereka ambil. Tiga orang melawan dua orang. Jelas tiga oranglah pemenangnya. Begitulah pemikiran Or Well, yang ada di dalam benaknya.
Pernyataan sepihak dari Or Well itu langsung ditolak oleh Dran dengan kerasnya.
"Aku tetap berpendirian, markas kita harus ada di sebuah pulau kecil yang dikelilingi oleh lautan!" kata Dran dengan suara yang keras.
"Kalau begitu. Kita tentukan dengan pertarungan. Siapa yang menang. Dia yang akan menentukan di mana markas kita nanti," kata Or Well menatap tajam Dran. Seakan sedang mengintimidasinya dengan tatapan matanya itu.
"Baiklah kita tentukan sekarang!" Dran langsung saja menyerang Or Well secara fisik yang langsung direspon oleh Or Well dengan penuh keseriusannya.
Saling baku hantam pun terjadi di antara mereka berdua. Yang disaksikan oleh ketiga temannya dengan pikiran mereka masing-masing.
__ADS_1
"Mereka selalu seperti itu. Bisanya hanya menggunakan kekerasan," ujar Pusia. Lalu menggunakan kedua cambuk di kedua tangannya untuk membelenggu Dran dan Or Well yang berusaha keras lepas dari belenggu cambuk Pusia. Untuk melanjutkan duel mereka kembali.
Pusia tampak berusaha keras menahan kedua temannya dengan susah payah. Hingga akhirnya Kasandra dan Clerk menyalurkan shen mereka dengan cara menempelkan tangan mereka ke punggung Pusia. Hingga membuat Or Well dan Dran tak dapat bergerak sama sekali.
"Yang satu ingin gunung. Yang satu ingin pulau kecil yang dikelilingi oleh lautan. Begini saja, yang suka gunung, pergi ke gunung. Yang suka pulau kecil yang dikelilingi laut. Silakan pergi dan cari," tutur Pusia dengan nada tenang.
Dran dan Or Well menjadi tenang mendengar perkataan dari lelaki terindah dari bulan itu. Hingga Punka melepaskan ikatan kedua cambuknya pada kedua rekannya itu.
"Lebih baik juga. Markas dipindahkan setiap setahun sekali," usul Kasandra kali ini.
"Lalu siapa yang akan menjadi pimpinan di antara kita berlima?" tanya Clerk.
"Akulah yang pantas menjadi pimpinan kalian berlima. Karena akulah yang paling kuat di antara kita berlima," kata Or Well dengan penuh percaya dirinya.
"Kau itu. Selalu merasa paling hebat. Akulah yang pantas menjadi ketua dari Gura-Gura," ujar Dran, tak mau kalah dengan Or Well.
"Lebih baik ketua dipilih secara bergantian setiap setahun sekali. Bagaimana apa kalian setuju?' usul Pusia keluar kembali. Yang langsung disetujui oleh teman-temannya.
"Aku setuju, akulah yang akan menjadi pimpinan Gura-Gura pertama," ucap Or Well. Tersenyum dengan penuh kemenangannya.
"Tak apalah aku jadi yang kedua. Yang penting aku menjadi pimpinan tahun depan," sahut Dran. Lalu tersenyum lebar.
"Aku setuju, tapi aku tak berminat untuk jadi pimpinan," lanjut Clerk.
"Aku juga tak berminat menjadi pimpinan," sambung Pusia.
"Apalagi aku. Aku tak mau repot-repot mengurus kalian untuk menjadi pimpinan," kata Kasandra.
Dengan kesepakatan mereka berlima. Gura-Gura lahir di tempat itu. Dengan pimpinan bergantian antara Or Well dan Dran disetiap tahunnya. Hingga 50 tahun ke depan. Di mana Gura-Gura bubar dan mereka berlima menempuh jalan mereka masing-masing.
__ADS_1