Manusia Masa Depan

Manusia Masa Depan
Bab 55 (Tidurlah Angin-Api)


__ADS_3

 


Dewi Angin dan Dewi Api terus menyerang Marandra dan Punka dengan naga shen mereka. Punka menggunakan cambuknya membentuk naga biru. Sedangkan marandra menggunakan shennya untuk membentuk naga jingga. Pertarungan antar naga shen itu terus terjadi secara seimbang dikarenakan shen Dewi Api dan Dewi Angin yang terus menurun hingga mendekati shen asli mereka berdua. Akibat dari efek negatif pil api neraka, yang terus berjalan.


"Api, kalau begini terus kita akan kalah oleh mereka berdua. Apa kita perlu memakan pil api neraka yang tersisa?" ucap Dewi Angin terus menyerang Marandra dengan shen naga anginnya.


"Itu ide yang bagus. Tapi risiko menelan pil api neraka, akan menjadi dua kali lipat dalam waktu yang bersamaan," jawab Dewi Api berpikir, sambil menyerang Punka dengan shen naga apinya.


"Risikonya akan kita ketahui setelah menelan pil itu selanjutnya," Dewi Angin pun tersenyum tipis kepada kekasihnya yang ada di samping kanannya.


"Baiklah kalau itu keinginanmu."


Dewi Api lalu merogoh kantong celananya. Mengambil 2 pil api neraka terakhir peninggalan guru mereka. Satu langsung ia berikan kepada Dewi Api, sedangkan satu lagi ia telan langsung. Seusai mendapatkan pil api neraka. Dewi Angin langsung menelan tanpa memikirkan risiko apapun yang akan terjadi nanti.


Gejolak hebat pun terjadi dalam tubuh mereka berdua, selepas menelan pil api neraka untuk yang kedua kalinya. Gejolak itu meningkatkan shen mereka berdua hingga mencapai level S++. Setingkat lebih tinggi daripada saat mereka menelan pil api neraka untuk pertama kalinya.


Tak ayal lagi peningkatan kekuatan mereka itu. Telah membuat naga jingga shen ciptaan Marandra buyar, dan naga biru yang diciptakan oleh cambuk Punka pun ikut buyar.


 


Mereka berdua pun terpental sejauh 20 meter akibat dari serangan naga Api dan naga angin yang berlipat ganda kekuataannya itu.


"Kita jauh lebih kuat dari sebelumnya!" seru Dewi Api dengan penuh kegembiraannya. Tanpa menyadari jika fisiknya telah berubah dari seorang gadis berusia 20 menjadi perempuan berusia 50 tahun dengan rambut yang memutih sebagian. Yang dialami oleh Dewi Angin pula.


"Tapi, tubuh kita berubah menjadi tua," tutur Dewi Angin dengan suara lemah. Tak menyukai tubuh setengah bayanya itu.


"Itu tidak penting sama sekali. Yang penting kita dapat mengalahkan mereka secepat mungkin," sahut Dewi Api lalu melesat, diikuti Dewi Angin ke arah Punka dan Marandra yang segera menyambut kedatangan pasangan sejenis itu dengan serangan bola-bola shen kecil, yang keluar dari dalam telapak tangan mereka.


"Serangan seperti ini. Tidak mungkin menghentikan kami!" teriak Dewi Api. Sambil menendang perut Punka. Hingga ia pun terpental sejauh 10 meter yang segera ditangkap oleh Marandra. Setelah mengeluarkan jarum-jarum peledaknya ke arah mereka berdua.


"Sampai kapan kita bertahan seperti ini. Clirk lama sekali," keluh Punka yang ditenangkan oleh Marandra.


"Tenang saja, kita tak akan mati disini oleh mereka berdua," sahut Marandra yang membuat Punka terdiam.


Seusai lepas dari serangan jarum peledak milik Marandra. Dewi Api dan Angin lalu berdiri 5 meter di hadapan Punka dan Marandra.

__ADS_1


"Serahkan pil shen kalian. Atau kalian akan mati!" tutur Dewi Api.


"Apa kalian bisa membunuh kami. Aku rasa ada yang aneh dengan kekuatan shen kalian berdua. Masa shen level S++, rasanya hanya seperti level S?" ejek Marandra hingga membuat Dewi Api dan Dewi Angin murka. Dan ingin segera menghabisi mereka berdua secepat mungkin.


"Akan kami buktikan!" seru Dewi Api bersama Dewi Angin menyerang kembali ke arah Punka dan Marandra dengan agresufnya.


"Akan tetapi sebelum mereka mencapai Punka dan Marandra. Ur Well menendang Dewi Api. Sedangkan Drun menendang Dewi Angin. Walaupun mereka terkena tendangan yang kuat dari dua orang terkuat di masa itu. Mereka berdua tetap dapat berdiri dengan stabil.


"Baguslah kalau kalian berdua, datang juga. Biar kami membereskan kalian semuanya. Tapi di mana Clirk?" kata Dewi Angin mencari Dewa Racun Hijau dengan lirikan matanya itu.


Tak ada yang menjawab pertanyaan itu. Hingga tiba-tiba saja ada kilat hijau yang berhenti di belakang pasangan sejenis itu. Yang segera berubah menjadi Clirk yang segera bicara.


"Apakah kalian sedang mencariku?" ujar Clirk, sembari mengeluarkan racunnya yang berwarna hijau dari dalam mulutnya.


Racun berwarna hijau itu segera menyebar dengan begitu cepatnya. Hingga terhirup oleh Dewi Api dan Dewi Angin yang langsung terkena efeknya dari racun ciptaan Clirk dan Iblis Racun di masa lalu, yang hanya dapat bereaksi terhadap perempuan saja.


"Dasar Racun Hijau. Berani-beraninya kau menggunakan racun untuk mengalahkan kami. Kalau berani bertarunglah secara jantan," kata Dewi Api mulai merasakan pandangan matanya menjadi kabur.


"Aku juga tak ingin menggunakan cara ini. Kalau saja guru kami tak melarang bentrok apalagi membunuh kalian berdua. Pasti kami sudah membunuh daritadi," sahut Clirk.


"Aku pasti akan membalas kekalahan ini...," Dewi Api lalu mengeluarkan api besar dari dalam mulutnya yang mengarah ke depan. Yang dapat dipadamkan oleh Drun dengan mudahnya. Karena dirinya yang setengah sadar itu.


"Sayangnya racunku ini bukan racun biasa. Tapi racun yang dilapisi mantra kutukan," jelas Clirk.


"Kau benar-benar keparat, Racun Hijau..," Dewi Api pun lalu terjatuh di samping Dewi Angin.


Saat mereka berdua benar-benar sudah tak sadarkan diri. Aura shen yang menyelimuti diri mereka pun masuk ke dalam tubuh mereka. Hingga fisik mereka berubah kembali ke fisik seorang gadis berusia 20 tahun.


"Selamat tidur Angin-Api...," ucap Clirk lalu berkumpul bersama teman-temannya.


"Kalau mereka sedang tertidur seperti ini, mereka manis sekali," kata Ur Well tersenyum lepas.


"Sekarang apa yang akan kita lakukan terhadap mereka berdua?" tanya Drun.


"Aku akan memberikan mereka gelang penghilang wujud. Agar tubuh mereka tak dapat dilihat oleh sembarang orang."

__ADS_1


 


Marandra lalu mengambil 2 buah gelang berwarna merah dari saku bajunya yang segera ia kenakan di pergelangan tangan kiri pasangan sejenis itu.


 


"Aku harap kalian juga memberikan sedikit shen kalian untuk tubuh mereka. Agar terhindar dari hal-hal yang tak diinginkan."


Marandra lalu mengarahkan kedua tangannya ke arah duo perempuan itu. Yang diikuti oleh keempat temannya. Tampak dari tangan mereka keluarlah shen yang sesuai dengan warna shen mereka yang masuk ke dalam tubuh dua perempuan cantik itu.


"Lalu sekarang kita harus apa?" tanya Punka entah kepada siapa yang dijawab oleh Marandra.


"Tentu saja pulang ke rumah, untuk mati di sana," Marandra pun tertawa lepas. Hingga Dewi Peramal Jingga. Teringat tentang sesuatu hal.


"Clirk, sebenarnya mantra apa yang akan membebaskan mereka dari pengaruh racunmu itu?" tanya Marandra dengan penuh penasarannya.


"Sebenarnya bukan mantra, tapi hanya syarat saja."


"Ya, syarat itu apa?" Marandra semakin dibuat penasaran oleh Clirk.


"Hanya air kencing perjaka yang dapat membuat mereka terbangun."


Mendengar jawaban dari Dewa Racun Hijau. Marandra tertawa yang diikuti oleh yang lainnya.


"Lebih baik sekarang kita pergi ke rumah rahasia kita. Di sanalah kita akan mati," tutur Marandra yang segera mengeluarkan sebuah jarum besar dari jari telunjuk kanannya yang ia lesatkan ke arah depan. Hingga terciptalah lubang berdiameter 10 meter dengan tinggi 10 meter di dalam kubah pengurung raga itu.


"Tapi bagaimana dengan kubah pengurung ragamu ini?" tanya Drun.


Nanti saat aku mati. Kubah pengurung ragaku akan hancur sendiri," jelas Marandra.


"Termasuk kubah pengurung raga yang mengurung murid-murid kita?"


"Tentu saja, Drun. Kau jangan mengkhawatirkan mereka. Kekuatan mereka sudah lebih dari cukup, untuk menjaga diri mereka. Sekarang mari kita tuju kematian kita," kata Maranda melesat dengan kecepatan tinggi melewati lobang yang ia ciptakan itu ke arah barat.


 

__ADS_1


Melihat Marandra melesat meninggalkan mereka terlebih dahulu. Teman-temannya pun ikut melesat dengan kecepatan tinggi meninggalkan tempat itu dan Dewi Angin Dewi Api yang tertidur entah sampai kapan.


__ADS_2