Manusia Masa Depan

Manusia Masa Depan
Bab 39 (Pencarian Kenia-Keneo di Bulan)


__ADS_3

 Sementara itu di Bulan yang hampa dan nyaris tanpa penghuni sama sekali. Karena 9 klan koloni manusia di Bulan sudah dihancurkan. Para guru dari 5 legenda Gura-Gura Lama. Tampak mengendap-endap dari penglihatan pasukan robot Mars dan Bulan. Bahkan mereka berlima pun menghilangkan hawa keberadaan mereka berlima sebagai petarung terkuat di Bumi pada masa itu. Bukannya mereka takut dengan pasukan robot Mars dan Bulan itu. Akan tetapi mereka beranggapan, jika mereka melukai para robot itu. Maka Kenia-Keneo akan ikut terluka. Karena shen mereka berasal dari si kembar hybrid itu. Mereka tidak ingin melukai saudara seperguruan mereka itu. Walaupun belum tentu, apa yang mereka takutkan. Akan benar-benar terjadi pada si kembar hybrid itu.


Mereka berlima tetap terus mengendap-endap seperti itu. Untuk mencari keberadaan Kenia-Keneo yang telah disegel oleh para manusia masa lalu itu, yang tempatnya sudah dipindahkan dari posisi 20 tahun yang lalu saat 5 guru dari Gura-Gura Lama menyerang Bulan untuk menyelamatkan saudara seperguruan mereka. Dengan hasil kegagalan mereka berlima. Namun dapat menyelamatkan Pusia dan Kasandra yang masih bayi pada saat itu, di dalam penghancuran 9 klan koloni manusia di Bulan. Hingga mereka berlima pun sekarang kesulitan mencari tubuh Kenia dan Keneo.


Dan mau tak mau mereka pun mencari ulang. Tetapi dengan bantuan mata langit milik Marandra pun. Mereka kesulitan mencarinya. Mungkin saja para manusia masa lalu itu sudah menggunakan segel khusus agar keberadaan Kenia-Keneo tak dapat ditemukan dan lihat oleh mata langit sekali pun. Yang pemiliknya tinggal beberapa orang saja, yang terpencar diberbagai belahan dunia saat ini.


"Sial!. Mata langitku pun tak dapat menemukannya. Sepertinya mereka tidak ingin mengulang kesalahan mereka, hingga tubuh si kembar itu dapat kita temukan dengan mudahnya, seperti 20 tahun yang lalu," kata Marandra.


"Mungkin mereka sudah menggunakan segel khusus agar tak terlihat oleh mata langutmu," tutur Punka.


"Andai saja aku memiliki mata langit super itu, seperti kakakku. Pasti semuanya akan jauh lebih mudah," keluh Marandra, sembari mengiangat sosok kakak kandungnya yang mati muda karena memiliki mata langit super berwarna ungu.


"Dan pastinya kau sudah mati, Mara sejak muda," sahut Punka, lalu tersenyum manis ke arah Punka.


"Dan aku pastinya, tidak akan mengenal dirimu lebih lama seperti saat ini," timpal Marandra, membalas senyuman Punka.


Mereka pun terdiam kembali. Fokus mencari keberadaan Kenia dan Keneo.


Mereka berlima terus mengendap-endap seperti itu. Hingga tanpa mereka sadari, 2 dari 5 kepang bersaudara telah ada di belakang mereka berlima.


Mereka berdua adalah si kepang empat dan lima. Yang merupakan 2 kepang terlemah di dalam keluarga mereka.


"Kalian berlima ini. Seperti tikus besar saja. Bisanya hanya mengendap-endap saja." perkataan dari Chon itu membuat mereka berlima terkejut, dan segera berbalik arah menghadap ke arah Chon dan Chun dengan jarak 5 meter.

__ADS_1


"Rupanya kalian lagi," kata Punka datar. Sembari mengingat tentang kekalahan mereka berlima yang dikalahkan oleh kepang 3, 4, 5 20 tahun yang lalu.


"Sepertinya kalian berlima sedang mencari si kembar hybrid itu?. Tapi sayangnya mereka sudah tidak ada di tempat ini," jelas Chun. Sambil memandang rendah mereka berlima.


"Lalu di mana mereka sekarang!?" tanya Ur Well dengan suara yang keras.


"Apakah kami bodoh?. Ingin memberi tahu keberadaan mereka berdua?," sahut Chun.


"Kalau begitu aku akan memaksa kalian!" Ur Well langsung saja mengeluarkan shen tertinggi yang ia miliki hingga saat itu. Sehingga aura merah menyelubungi dirinya. Karena ia tahu musuh yang dihadapinya memiliki level shen jauh di atas dirinya.


Guru dari Or sekaligus pemberi marga Well itu. Merasa dikeroyok oleh mereka berlima pun. Belum tentu mereka dapat mengalahkan 2 kepang terlemah itu dengan mudah.


Ur Well langsung saja memelesat untuk meninju Chun yang segera mengeluarkan shen berwarna hitam yang menyelubungi tubuhnya.


Melihat Ur Well bertarung dengan Chun. Drun dan Clirk pun tak tinggal diam. Drun langsung saja mengeluarkan seluruh shennya hingga tubuhnya diselimuti oleh aura shen berwarna kuning. Begitu juga dengan Clirk yang segera mengeluarkan seluruh shennya hingga tubuhnya diselubungi oleh aura berwarna hijau. Mereka berdua segera memelesat ke arah Chun dan Ur Well yang kini bertarung di udara untuk membantunya menghadapi Chun si kepang lima, yang merupakan orang terlemah di antara 5 kepang bersaudara.


Walaupun dikeroyok oleh manusia terkuat di zaman itu. Tetap saja Chun masih berada di atas angin. Ia seakan sedang mempermainkan para bocah yang coba mengambil mainan yang ia rebut dari tangan mereka bertiga.


"Chun, apakah kau memerlukan bantuanku?" tanya Chon yang masih bersantai dengan melipatkan kedua tangannya di dadanya.


"Kau bersantai saja. Walaupun waktu sudah berjalan. Tetap saja hasilnya akan sama. Mereka walaupun yang terkuat di masa ini. Mereka tetap bukan lawan kita yang sepandan," sahut Chun penuh dengan ejekan kepada para guru dari lima Gura-Gura Lama. Yang membuat mereka berlima tak dapat menahan diri lagi. Hingga Punka dan Marandra pun ikut campur dalam pertarungan itu.


Mereka berdua langsung saja mengeluarkan shen tertinggi yang mereka miliki. Hingga tubuh Punka pun diselimuti oleh aura shen berwarna biru.Sedangkan Marandra diselimuti oleh aura shen berwarna jingga.

__ADS_1


Pasangan kekasih itu memelesat dengan niat membantu ketiga rekannya yang sedang bertarung dengan Chun. Akan tetapi niat mereka pun dicegah oleh Chon si kepang empat. Yang menghadang mereka berdua di udara.


"Jangan mengganggu kesenangan saudaraku, 2 suku yang tersisa dari koloni bulan. Lebih baik kalian bersenang-senang dengan diriku," ujar Chon lalu menyerang Punka dan Marandra terlebih dahulu.


"Ketahuan ya. Kalau kami berlima bergabung, maka saudaramu itu akan kalah?" tebak Punka sembari memainkan 4 cambuk yang ada di sepasang tangannya.


"Dasar klan bulan sabit merah yang cerewet. Yang aku takuti bukan itu. Tapi aku takut kehabisan waktu di zaman ini. Maka dari itu kami ingin bersenang-senang terlebih dahulu. Sebelum kami pulang ke zaman kami," jelas Chon yang tak dimengerti sama sekali oleh mereka berdua.


"Apapun alasanmu itu. Bagiku perkataanku yang benar!," timpal Punka lalu mengarahkan empat cambuknya ke arah Chon. Yang ditahan oleh Chon dengan aura hitam dikedua tangannya. Hingga keempat cambuk milik Punka terdiam tak dapat bergerak sama sekali.


"Terserah!, katamu cerewet. Mungkin kau keturunan orang itu di masaku. Yang memiliki kemampuan cambuk plus mata langit milik suku peramal bulan," sahut Punka.


"Kau bicara tentang masamu yang tak kami ketahui sama sekali, dasar pembual!," sambung Marandra sembari mengeluarkan jarum-jarum kecil dari sepuluh jari tangannya.


10 jarum yang telah dicampur racun itu memelesat dengan kecepatan tinggi. Hingga membuat Chon terkejut dan meningkatkan shennya secara dratis. Hingga aura hitam yang menyelimuti tubuhnya meluas dan menelan 10 jarum marandra yang segera terbakar menjadi debu. Begitu juga dengan 4 cambuk Punka yang mulai terbakar secara cepat.


"Ini bahaya..."


Punka lalu menarik keempat cambuknya hingga masuk kembali ke dalam tangannya. Ia tak ingin cambuknya benar-benar terbakar. Karena walaupun cambuknya dapat beregenerasi dengan cepat. Tetapi itu akan memakan shennya secara masif Suku bulan sabit merah itu tak ingin hal itu terjadi di saat seperti ini..


"Kalau begitu kita serang dengan bola shen kita, Punka," ujar Marandra lalu mengacungkan jari telunjuk tangannya ke arah langit. Dengan begitu cepat terciptalah bola shen berwarna jingga sebesar bola basket yang siap diluncurkan ke arah Chon.


Punka pun melakukan hal yang sama. Ia acungkan jari telunjuk kanannya ke arah angkasa. Hingga terciptalah bola cahaya berwarna biru yang siap mereka hantamkan ke arah Chon yang tampak masih tenang menghadapi suasana yang seperti itu. Seakan 2 bola shen itu bukanlah sebuah ancaman bagi dirinya sama sekali.

__ADS_1


 


__ADS_2