
Syam terus meluncur turun ke Bumi dengan posisi terlentang. Seakan sudah pasrah, kalau tubuhnya benar-benar harus membentur permukaan Bumi dengan kerasnya. Dirinya seakan benar-benar siap untuk mati saat itu juga.
Melihat akan hal itu Chan lalu meluncur turun untuk mengambil tubuh Syam. Lelaki pesolek itu mengira, bila Syam sudah benar-benar tak berdaya. Akibat tekanan shen miliknya tadi. Si kepang dua itu tak ingin kehilangan lelaki pujaannya itu.Yang ia cari hingga melintasi zaman. Dari abad ke 10 Masehi hingga ke abad 30 Masehi.
Semakin mendekat, dan semakin mendekat jarak antara dua orang dari abad ke 10 Masehi itu. Hingga tiba-tiba saja. Syam mendorongkan kedua telapak tangannya yang secara cepat menciptakan balok-balok shen berwarna biru gelap yang menghantam tubuh Chan dengan begitu masifnya. Hingga asap-asap hitam pun tercipta kembali. Lebih pekat dari serangan seribu tubuh jarum peledak milik Jeni.
"Orang itu tak mungkin mati dengan serangan seperti itu. Lebih baik aku pergi, dan melarikan diri lewat darat. Karena aku rasa dengan begitu banyak bukit di tempat ini. Dirinya pasti akan kesulitan untuk mencari diriku," kata Syam di dalam hatinya. Lalu melompat turun ke bawah. Dan langsung bersembunyi di antara ribuan bukit yang ada di tempat itu. Yang merapat satu dengan yang lainnya.
"Ternyata kau licik juga, Syam. Baiklah kalau kau ingin bermain petak-umpet dengan diriku ini...," ujar Chan di dalam hatinya. Lalu keluar dari dalam asap hitam yang mengurung dirinya.
Lelaki pesolek dari abad ke 10 Masehi itu lalu melesat tinggi ke angkasa. Lalu hilang begitu saja dari pandangan mata langit milik Syam. Yang sedang bersembunyi di balik batu besar setinggi 10 meter berwarna hitam.
"Dia menghilang begitu saja dari mata yang disebut oleh orang zaman ini sebagai mata langit. Apakah dia benar-benar sudah pergi dari sini?" tanya Syam di dalam hatinya. Dengan sepasang mata langit yang terus menjelajahi daerah itu.
Syamshe tetap terdiam. Belum berani keluar dari persembunyiannya. Hingga tiba\-tiba dari dalam tanah keluarlah sosok Chan secara perlahan, 5 meter di belakangnya. Yang membuat Syam benar-benar begitu terkejut.
"Apakah kau sedang mencari aku?" tanya Chan dengan suara yang dibuat manja.
Tak ada jawaban dari Syam. Lelaki dari abad ke 10 Masehi itu langsung saja menyerang Chan dengan kekuataan penuh yang ia miliki. Ia gunakan delapan cambuk elatis miliknya untuk menyerang si kepang dua. Yang masih menganggap serangan itu hanyalah sebuah permainan belaka.
Chan akhirnya menciptakan sepasang cambuk hitam dari shennya. Untuk melayani permainan delapan cambuk milik Syamshe. Hingga akhirnya terjadilah pertarungan cambuk yang begitu sengit di antara orang-orang dari abad ke 10 Masehi itu.
__ADS_1
Pertarungan cambuk terus terjadi di antara mereka berdua. Hingga menciptakan kerusakan parah di daerah dengan seribu bukit itu. Walaupun delapan cambuk elatis milik Syamshe adalah bawaan dari klannya. Tetapi tetap saja shennya yang jauh lebih rendah dari Chan. Membuat dirinya benar-benar kewalahan menghadapi sepasang cambuk shen hitam milik Chan. Hingga akhirnya ia pun terpental, terkena hantaman sepasang cambuk shen hitam milik kepang dua.
Syam tak ingin dirinya terpental lebih jauh lagi. Hingga ia pun menggunakan delapan cambuk pada sepasang tangannya untuk mengikat sebuah pohon besar yang tumbuh di tempat itu.
"Ternyata dia jauh lebih kuat dari yang dulu...," lirih Syam berkata sendiri yang didengar oleh Chan yang telah muncul 10 meter di hadapannya.
"Apakah kau baru menyadarinya?. Oleh karena itu, menyerahlah lelaki pujaaan hatiku...," ejek Chan dengan suara yang menggoda.
"Lebih baik aku mati saja!!" ujar Syam dengan nada yang tinggi.
"Aku justru ke masa ini. Untuk melindungimu dari kejaran-kejaran saudaraku. Dan Tuan Humsha yang akan segera datang ke masa ini," tutur Chan.
Selesai berkata seperti itu. Tiba-tiba saja Chan menyentilkan jari telunjuk kanannya ke arah Syam. Terlihat seberkas cahaya hitam keluar dari sentilannya itu. Yang langsung melesat ke arah Syam, tanpa dapat dihindarinya sama sekali.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Syam, yang pandangannya mulai menjadi berkunang-kunang akibat dari serangan mendadak si kepang dua itu.
Semakin lama, semakin gelap pandangan mata Syam. Hingga akhirnya ia pun kehilangan kesadarannya. Tubuhnya pun oleng, yang segera didekap oleh Chan dengan lembutnya.
"Aku harus segera menyembunyikannya. Sebelum si brengsek Humsha tiba di masa ini. Dengan bantuanku dan saudaraku," ucap Chan di dalam hatinya. Lalu melesat ke arah selatan dengan kecepatan tinggi.
***
__ADS_1
Sementara itu, Jeni yang melesat dengan kecepatan tinggi ke arah timur. Tiba-tiba merasakan firasat yang tak enak terhadap keadaan Syam. Yang kini telah berjarak 300 km dari tempatnya semula. Kloningan dari Kasandra itu lalu menghentikan terbangnya, dan berdiri di udara dengan berbalik arah ke mana dirinya tadi berada. Ibu dari Jean itu lalu menggunakan mata langitnya untuk melihat tempat yang sudah ia tinggalkan tadi.
Mata langitnya itu tak melihat adanya Syam dan Chan di tempat itu. Akan tetapi saat ia menggeser penglihatannya ke arah kiri. Ia melihat Chan sedang melesat dengan kecepatan tinggi ke arah selatan dengan memboyong tubuh Syam yang sudah pingsan.
"Ternyata Tuan Syam sudah tertangkap," ucap Jeni bersuara sendiri.
"Kau juga, akan segera menyusulnya," sambung duplikat Chan yang sudah berada 13 meter di belakang Jeni. Yang segera membalikan tubuhnya kembali.
Mendengar suara itu. Ibu dari Jeni itu lalu membalikan tubuhnya. Ia tak habis mengerti kenapa ada sosok Chan yang dapat mengejar dirinya. Sedangkan dengan mata langitnya, ia melihat sosok Chan sedang membawa tubuh Syam yang sedang pingsan ke arah selatan dengan kecepatan tinggi. Di jarak 300 km dari jaraknya saat ini.
"Kenapa kau ada dua?" tanya Jeni. Yang belum mengetahui, jika Chan yang ada di hadapannya hanyalah duplikat dari lelaki pesolek.
"Aku hanyalah duplikatnya saja. Yang ditugaskan untuk menangkap dirimu," jawab dari duplikat Chan dengan penuh kejujurannya.
"Kalau begitu, pasti kau sangatlah lemah," kata Jeni, lalu menyerang duplikat Chan dengan kekuataan penuh yang ia miliki. Hingga tubuhnya pun diselubungi oleh aura berwarna jingga.
Walaupun Jeni sudah menggunakan kekuataan penuhnya. Akan tetapi bagi duplikat Chan, kekuataan dari kloningan Kasandra itu tak ada apa-apanya. Dirinya masih berada di atas angin. Walaupun Jeni sudah menyerangnya secara agresif. Merasa serangan fisik tidak dapat mengalahkan duplikat Chan. Jeni lalu menggunakan jarum-jarum peledaknya untuk menyerang duplikat dari lelaki pesolek itu.
Dentuman-dentuman pun terjadi dengan masifnya. Akibat berbenturannya tubuh duplikat Chan dengan jarum-jarum peledak milik Jeni. Asap-asap hitam pun tercipta dengan pekatnya di antara mereka berdua. Terlihat duplikat Chan mulai bosan bermain-main dengan Jeni. Hingga akhirnya, ia pun menciptakan cambuk dari shen hitam di tangan kanannya.
"Aku sudah bosan bermain dengan dirimu, Dewi Peramal Junior. Sekarang sebaiknya kau ikut dengan diriku," selesai berkata seperti itu. Dupliat Chan lalu menghilang, dan muncul kembali di belakang Jeni. Duplikat Chan langsung saja membelenggu tubuh Jeni dengan cambuk shen hitam di tangannya. Yang tak sempat sama sekali dihindari oleh Jeni yang segera memberontak untuk melepaskan diri.
"Lepaskan aku, pengecut!" teriak Jeni dengan kerasnya.
"Lebih baik kau tidur saja..," sahut duplikat Chan lalu mengeluarkan asap hitam dari mulutnya. Yang langsung terhirup oleh Jeni, hingga membuat dirinya pingsan.
__ADS_1
Duplikat Chan lalu melesat dengan kecepatan tinggi ke arah selatan untuk menuju di mana Chan berada.