Manusia Masa Depan

Manusia Masa Depan
Bab 68. (Jurus Naga Kembar)


__ADS_3

 


Menunggu dan terus menunggu bersama dengan angin yang bertiup di tempat itu dengan kencangnya tanpa tujuan yang pasti. Hingga akhirnya si kembar Pongkha-Pongkhi telah pulih staminanya kembali, berkat pil pemulih stamina yang mereka minum tadi. Bersamaan angin laut yang menerpa pulau berbentuk bulat itu. Seakan ingin memberi kekuataan tambahan kepada mereka berdua. Yang telah lama tinggal di area gugusan pulau kecil itu.


"Tidak aku sangka, kalian memiliki pil pemulih stamina sehebat itu. Jauh lebih hebat dari pil pemulih stamina milik kami. Hingga stamina kalian pulih lebih dahulu daripada kami berdua," tutur Pongkha yang langsung dibalas oleh Clerk dengan ketusnya.


"Bukannya pil stamina milikku yang lebih berkualitas daripada milik kalian. Tapi karena faktor umurlah yang mempengaruhi cepat atau lambatnya pemulihan stamina kita. Bukannya semakin tua, maka reaksi pil pemulih stamina seperti ini akan semakin lama bereaksi. Bahkan di atas 100 tahun, pil seperti ini tak ada khasiatnya sama sekali. Biar pun ditelan lebih dari satu pil." jelas Clerk, memberitahukan apa yang ia ketahui tentang pil penambah stamina yang ia ketahui dari gurunya, Clirk Dewa Racun Hijau.


Pantas saja 5 guru dari Gura-Gura lama tak pernah menggunakan pil pemulih stamina disaat mereka bertarung dengan anggota 5 kepang bersaudara dan Mosa, yang membuat mereka babak-belur dengan begitu parahnya. Bahkan nyaris mati oleh Chun dan Chon. Dan akhirnya mati kehabisan shen, saat bertarung dengan Mosa. Mereka berlima yang dikenal sebagai Dewa 5 warna tak menelan pil penambah stamina. Dikarenakan umur mereka yang sudah melebihi 100 tahun, tepatnya 120 tahun. Yang tak mungkin ada efeknya, jika mereka memaksa menelannya sekali pun saat itu juga. Pil pemulih stamina yang akan kehilangan khasiat bagi mereka. Bahkan racun bagi mereka berlima, kalau saja mereka memaksa untyi menelannya.


"Sudah jangan membahas tentang pemulih stamina lagi. Setelah beradu fisik. Sekarang saatnya kita beradu shen," kata Dran dengan penuh semangat. Seakan ingin segera mengalahkan si kembar Pongkha-Pongkhi, agar mereka mendapatkan pulau berbentuk 'G' miliknya secepat mungkin. Yang akan ia jadikan markas dari Gura-Gura, saat dirinya menjadi ketua dari Gura-Gura setelah Or Well.


"Baiklah kalau itu mau kalian!" sahut Pongkha lalu menciptakan pedang shen berwarna putih. Begitu juga dengan Pongkhi yang menciptakan pedang shen berwarna putih di tangan kanannya.


 


Sepasang kembar itu bersiap untuk menyerang Dran dan Clerk dengan kekuataan penuh yang mereka miliki.


 


Drun dan Clerk pun menciptakan pedang dari shen mereka. Dran dengan pedang shen berwarna kuning. Sedangkan Clerk dengan pedang shen berwarna hijau, sesuai dengan warna shen yang mereka miliki.


 


"Aku pastikan kalian berdua akan kalah kali ini oleh kami berdua!" teriak Pongkha yang menyerang Dran. Yang diikuti oleh Pongkhi yang langsung menyerang Pongkhi dengan pedang shennya itu.


 

__ADS_1


Mereka berempat lalu saling serang kembali dengan kekuatan shen mereka yang berada di level A+ saat ini. Getaran kejut dari adu pedang shen itu begitu kuat. Hingga menciptakan begitu banyak kerusakan di pulau bulat tak berpenghuni oleh makhluk hidup apa pun itu. Yang membuat pulau berbentuk bulat itu semakin tak karuan bentuknya. Oleh serangan mereka berempat yang semakin mengganas frekuensinya.


Tetapi pertarungan tetap berjalan seimbang di antara mereka berempat. Tanpa ada tanda-tanda siapa yang akan kalah dalam pertarungan itu. Yang berjalan sudah cukup lama.


Hingga beberapa ratus jurus pedang telah berlalu daritadi. Yang membuat mereka berempat bosan melakukan pertarungan seperti itu. Keadaan puncak bukit di pulau berbentuk bulat itu pun semakin hancur lebur oleh pertarungan yang terlihat seimbang itu.


 


Terlihat Pongkha-Pongkhi saling melirik satu sama lainnya. Seakan ingin memberi kode rahasia di antara mereka berdua yang tak dipahami oleh Clerk dan Dran sama sekali.


Tentang apa yang ingin mereka rencanakan selanjutnya.


 


Pongkha lalu mendekat kembarannya, dan langsung berbisik ke telinga Pongkhi dengan begitu pelannya. Hingga Dran dan Clerk tak mendengar sama sekali, dengan apa yang sedang mereka rencanakan dan bicarakan di antara mereka berdua.


 


"Tapi itu akan menguras shen kita hingga 90%. Kalau kita menggunakan jurus itu," sahut Pongkhi dengan suara yang hanya didengar oleh kembarannya itu.


"Tapi kita sudah tidak memiliki pilihan lainnya," kata Pongkha masih berbisik kepada Pongkhi.


 


"Baiklah kalau kita sudah tidak memiliki pilihan lainnya. Kita gunakan jurus itu..," sahut Pongkhi berbisik pula. Yang diakhiri dengan senyumannya.


Tiba-tiba saja si kembar Pongkha dan Pongkhi melesat dengan kecepatan tinggi di angkasa tanpa membuat komando terlebih dahulu. Hingga membuat Dran dan Clerk terkejut, dan bingung mereka akan melakukan apa di atas sana.

__ADS_1


Pongkha dan Pongkhi yang sudah berada 100 meter dari puncak bukit di pulau bulat itu. Lalu menciptakan naga air berwarna putih milik Pongkha dari tangan kanannya ke arah bawah. Sedangkan Pongkhi menciptakan naga es dari telapak tangan kanannya.


 


Mereka berdua lalu melepaskan dua naga shen mereka ke arah bawah secara bersamaan dengan sasaran Dran dan Clerk yang berada di bawah mereka.


 


"Jurus Naga Kembar Air dan Es!" teriak mereka secara bersamaan.


Dua naga shen itu melesat dengan kecepatan tinggi ke arah Dran dan Clerk yang masih berada di pulau kecil berbentuk bulat itu. Hanya dalam hitungan detik. Naga kembar shen itu menghantam pulau bulat itu. Hingga hancur berantakan dan tak menyisakan sedikit daratan pulau berbentuk bulat itu.


 


Debu-debu tebal pun tercipta hingga membumbung tinggi ke langit. Menutupi pemandangan Pongkha dan Pongkhi yang mencari keberadaan Dran dan Clerk yang mungkin masih hidup dalam jurus pemungkas mereka itu.


 


"Sangat disayangkan. Kita harus mengorbankan pulau itu. Demi mengalahkan mereka berdua," ucap Pongkha dengan napas yang memburu. Karena mengeluarkan shen yang terlalu besar untuk melakukan jurus itu. Hingga mereka berdua menggunakan 90% shen mereka.


Keadaan Pongkhi pun tak lebih baik dari Pongkha. Napasnya sama kacaunya dengan kembarannya itu.


"Semoga saja mereka mati dengan serangan gabungan kita itu. Kalau tidak, kita sudah tak bisa menghadapi mereka lagi. Kita sudah kehabisan shen, kita juga sudah tak memiliki pil pemulih stamina lagi," sahut Pongkhi.


Baru saja Pongkhi berkata seperti itu. Dirinya pun merasakan adanya pukulan hebat di pundaknya yang tak dapat ia hindari sama sekali. Hingga dirinya pun terjatuh dengan kecepatan tinggi ke bawah.


 

__ADS_1


Inginnya Pongkha menolong kembarannya itu. Akan tetapi dirinya mendapat hal yang sama. Pundaknya ada yang memukulnya dengan sangat kerasnya. Tanpa ia tahu sama sekali siapa yang melakukannya. Dikarenakan pandangan matanya terhalang oleh pekatnya debu-debu akibat dari serangan pemungkas mereka berdua.


__ADS_2