
Tsunami yang disebabkan oleh Chen dari penghancuran pulau Gura-Gura milik Dran. Telah tiba di pantai timur Sundaland. Tsunami setinggi 10 meter itu telah membuat Jean yang sedang berada di pantai itu begitu terkejut. Padahal ia tak merasakan gempa bumi sedikit pun di tempat itu. Cucu dari Dewi Peramal Gura-Gura Lama, langsung saja melesat ke udara. Hingga melayang 20 meter dari tsunami yang terus menerjang ke arah daratan timur Sundaland.
"Sebenarnya apa yang terjadi?. Kenapa ada tsunami tanpa adanya gempa bumi yang kurasakan sama sekali?" tanya Jean di dalam hatinya, dengan penuh kebingungannya. Atas apa yang sudah ia lihatnya.
"Lebih baik kugunakan mata langitku..."
Jean lalu mengaktifkan mata langitnya. Hingga sepasang matanya berubah menjadi biru terang, yang ia arahkan ke arah di mana tsunami itu datang.
Dengan jarak 100 km dari Pulau Gura-Gura. Gadis peramal dengan shen level A++ itu mampu melihat dengan jelas sumber dari tsunami itu. Gadis peramal dengan ketepatan 100% itu begitu terkejut. Karena setahu dirinya, seharusnya di tempat itu berada Pulau Gura-Gura. Bukan laut yang melepaskan tsunami ke segala arah dengan liarnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Pulau Gura-Gura?" tanya Jean masih di dalam hatinya.
Tsunami yang disebabkan oleh ulah Chen menghancurkan Pulau Gura-Gura mereda. Tetapi sesaat kemudian datanglah tsunami yang disebabkan oleh serangan Pongkha dan Pongkhi terhadap Chen. Tsunami yang datang kali ini hanya setinggi 8 meter. Tetapi tiba-tiba saja dari dalam tsunami itu. Melesatlah sosok lelaki muda yang langsung menuju ke arah Jean yang siap menyerangnya. Tetapi untung saja Jean masih mengaktifkan mata langitnya. Hingga walaupun bergerak dengan kecepatan tinggi. Gadis peramal itu sudah mengetahui siapa lelaki muda, yang ternyata Clark yang sedang berjalan-jalan di dalam laut.
"Apa kabar Jean?. Pasti kau sudah tahu, apa yang barusan terjadi?" tanya Clark berbasa-basi kepada Jean. Berdiri di samping kanan Jean.
"Ya, ada kekuatan shen level S. Yang membuat tsunami-tsunami tadi," tutur Jean.
"Di dalam laut lebih parah. Biota laut hancur dan terombang-ambing bagai sampah. Apakah kau tahu, siapa yang berbuat hal ini?" tanya Clark, dengan penuh penasarannya kepada Jean yang masih mengaktifkan mata langitnya.
"Aku tidak tahu siapa orang itu. Tapi yang pasti ia sudah menghancurkan pulau Gura-Gura," jelas Jean atas penglihatan mata langitnya itu.
Mendengar penjelassnn dari Jean. Mantan ketua dari pembunuh bayaran kota Air Pasifik itu begitu terkejut. pikirannya berkata, bagaimana bisa ada orang yang dengan mudahnya dapat menghancurkan Pulau Gura-Gura kalau masih ada Dran yang menjaga pulau berbentuk 'G' itu. Padahal Dran salah satu anggota dari Gura-Gura Lama yang merupakan 5 orang terkuat di masa itu, menurut pengetahuannya.
__ADS_1
"Tidak mungkin Pulau Gura-Gura hancur, kalau masih ada Kakek Dran di pulau itu?" kata Clark dengan penuh ketakpercayaannya itu.
"Masalahnya itu, sepertinya Kakek Dran sedang tak berada di pulau itu," sahut Jean.
"Aku jadi penasaran dengan si penghancur Pulau Gura-Gura itu. Jean, apakah kau bisa berbagi penglihatan denganku?" ujar Clark.
"Tentu saja bisa, pegang pundakku. Dan salurkan shenmu, agar jangkauan mata langitku menjadi lebih luas."
Clark lalu menuruti apa yang dikatakan oleh gadis peramal itu. Ia sentuh pundak Jean sembari menyalurkan shennya. Hingga dirinya pun mampu melihat, apa yang dilihat oleh mata langit Jean.
"Pulau Gura-Gura, benar-benar sudah hancur. Sekarang di mana si penghancur Pulau Gura-Gura itu?" kata Clark.
Jean lalu mengarahkan pandangan ke arah utara dari Pulau Gura-Gura yang telah hancur. Di penglihatan mata langitnya bersama Clark. Mereka berdua melihat Pongkha-Pongkhi melesat dengan kecepatan tinggi ke arah Chen yang berjarak 2 km dari si kembar Pongkha-Pongkhi.
"Mereka bertiga memiliki kekuatan shen level S. Bagaimana bisa, masih ada para manusia yang memiliki shen level S. Selain 5 legenda Gura-Gura Lama?" tutur Clark dengan penuh kebingungannya.
"Tapi mereka para manusia dari masa lalu," jelas Clark.
"Mungkin saja, mereka berasal dari masa lalu juga."
"Kalau benar mereka berasal dari masa lalu. Kenapa mereka pergi ke masa kita?"
"Mana aku tahu," timpal Jean yang membuat Clark terdiam.
Tiba-tiba saja mereka berdua tetkejut. Ketika sosok Chen di penglihatan mata Jean. Membelah menjadi dua. yang segera melesat ke arah mereka berdua dengan kecepatan tinggi.
Membelah dirinya Chen, tak disadari oleh Pongkha dan Pongkhi karena keterbatasan penglihatan mata mereka. Yang hanya memiliki mata manusia biasa. Bukan mata langit, seperti mata milik Jean.
__ADS_1
"Orang itu dapat membelah diri, dan sedang menuju ke arah kita!" ucap Clark dengan penuh keterkejutannya.
"Sepertinya dia menyadari. Kalau kita sedang mengamatinya," timpal Jean. Sembari merogoh kantong celananya dan mengambil 2 buah gelang berwarna merah.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Clark dengan penuh kebingungannya.
"Bersembunyi. Coba kau pakai gelang ini. Agar kita tak terlihat olehnya," Jawab Jean sambil memberikan satu gelang berwarna merahnya kepada Clark yang segera memakainya di pergelangan tangan kanannya. Sedangkan Jean memakainya di pergelangan tangan kirinya. Hingga mereka berdua pun tak dapat terlihat oleh mata biasa.
"Lebih baik kita turun ke bawah dan sembunyikan shen kita. Agar kita tak terdeteksi olehnya," kata Jean.
Mereka berdua lalu meluncur turun ke bawah. Dan langsung menonaktifkan shen mereka. Mereka berdua lalu terdiam dan tak saling bicara satu dengan yang lainnya lagi. Agar keberadaan diri mereka tak diketahui oleh Chen.
Lima menit kemudian muncullah Chen yang berhenti tepat di atas mereka dengan ketinggian 300 meter dari tanah di tempat itu. Sepertinya si kepang tiga sedang mencari keberadaan Jean dan Clark di daerah itu.
"Sepertinya, bau mata langit ada di tempat ini. Tapi kenapa sekarang tiba-tiba menghilang begitu saja?" tanya Chen di dalam hatinya, sembari mengamati wilayah itu dengan sepasang matanya.
"Peduli setan dengan orang yang mengamatiku tadi. Lebih baik aku ke Gunung Well untuk mencari Or Well. Aku rasa belahan diriku dengan 50% kekuatanku. Sudah lebih dari cukup untuk menghabisi si kembar itu. Kalau kurang, dia bisa mengakses kekuatanku ini..."
Chen lalu melesat kembali ke arah Gunung Well dengan kecepatan tinggi. Untuk mencari penguasa Gunung Well. Yang sedang tak berada di kediamannya itu.
Setelah kepergian Chen. Jean lalu kembali mengaktifkan mata langitnya. Dengan memandang ke arah si kepang tiga pergi.
"Gawat!. Dia menuju Gunung Well. Kita harus segera menyusulnya," Jean lalu berlari dengan kecepatan tinggi dengan shen maksimal yang ia miliko untuk menyusul Chen yang tak mungkin mampu ia kejar sama sekali.
Tak ada pilihan lain bagi Clark. Kecuali mengikuti Jean pergi. Bersama matahari yang semakin meninggi di langit tanpa batas.
__ADS_1