
Chen terlihat sangat kesal sekali. Ia lalu melesat menuju ke arah gadis bertopeng emas. Akan tetapi duplikat dari gadis bertopeng emas menghadangnya, dengan begitu cepatnya. Tanpa diduga oleh Chen sama sekali. Tiba-tiba saja duplikat gadis berjubah tosca itu. Telah membuka telapak tangan kanannya, yang langsung ia arahkan ke wajah Chen. Yang seketika terlempar ke tempat semula. Tanpa sempat Chen menghindarinya sama sekali.
"Sudah aku bilang, lebih baik kau fokus dengan diriku. Biarkan dia, fokus dengan dua orang tubuh kutukan itu," ucapnya dengan datarnya. Tanpa dimengerti sama sekali oleh Chen, tentang tubuh kutukan yang dibicarakannya.
Duplikat Gadis bertopeng toska itu lalu menunjukan jari tangannya ke langit. Terlihat dari jari telunjuk kanannya yang lentik, keluarlah cahaya toska yang membelah diri menjadi empat dan menyebar ke 4 arah mata angin. 4 cahaya toska itu setelah berada di langit setinggi 1 km. Lalu meluncur ke arah Bumi dan langsung masuk ke dalam tanah. Sesaat kemudian tercipta kubah dengan tinggi 1 km dan radius 200 meter, yang mengurung mereka berdua di dalamnya secara total.
Chen terlihat begitu terkejut, ketika menyadari dirinya berada dalam kubah pengurung berwarna toska itu. Ia mengira dirinya sudah terkurung di dalam kubah pengurung raga. Seperti dua saudara kandungnya Chun dan Chon, yang mati di dalam kubah pengurung raga bersama musuh-musuhnya.
Chen merasa duplikat dari gadis berjubah toska itu. Sudah menggunakan jurus pengurung raga, yang terakhir dikuasai oleh Marandra, guru dari Kasandra. Karena cara yang digunakan nyaris sama. Perbedaannya Marandra menggunakan jarum. Sedangkan sosok di depannya tidak menggunakan benda apa pun untuk membuat kubah shen berwarna toska itu.
"Kau bisa menggunakan jurus pengurung raga, milik suku peramal Bulan?" tanya Chen dengan penuh selidik.
"Mungkin jurus yang kugunakan adalah cikal-bakal dari jurus yang kau maksud. Tapi kau tak perlu hiraukan itu. Jurus yang sudah membunuh dua saudara kandungmu itu, tidak aku gunakan untuk membunuh dirimu. Aku hanya ingin bermain-main dengan dirimu. Seperti kau mempermainkan orang-orang yang lebih lemah darimu," tutur duplikat gadis bertopeng emas dengan nada yang masih datar.
"Dasar orang yang tak jelas!!" kata Chen lalu melesat, menyerang ke arah duplikat gadis bertopeng emas. Yang dengan sangat mudahnya dapat menghindari serangan itu. Walaupun si kepang tiga Chen sudah menyerangnya secara serius.
__ADS_1
"Lebih baik kau gunakan kekuataan maksimalmu, agar dirimu tak penasaran...," kata duplikat gadis bertopeng emas yang menahan tinju dari Chen hanya dengan jari telunjuk kanannya, yang menghempaskan Chen sejauh 10 meter.
Perkataan dari duplikat gadis berjubah toska itu. Telah membuat Chen benar-benar marah. Penjahat dari abad ke 10 Masehi itu pun tak sungkan lagi mengeluarkan kekuatan penuhnya yang berada pada level HS. Aura hitam pun segera menyelubungi seluruh tubuhnya dengan pekatnya.
"Rasakanlah kekuatanku yang sebenarnya!!" teriak Chen dengan begitu kerasnya. Sambil melepaskan bola-bola shen yang keluar dari telapak tangannya ke arah duplikat gadis bertopeng emas itu.
Bola-bola shen berwarna hitam yang ditembakan ke arah duplikat gadis bertopeng emas. Dapat dikibaskan dengan begitu mudahnya oleh kedua tangannya. Hingga bola-bola shen berwarna hitam itu. Membentur batas pelindung dari kubah berwarna tosca itu. Hingga menciptakan benturan-benturan keras. Yang membuat asap muncul dari benturan-benturan shen itu.
Melihat serangan shennya tak berpengaruh sama sekali terhadap lawannya. Chen benar-benar tak percaya sama sekali. Ia tak menyangka duplikat dari gadis bertopeng emas itu sangatlah kuat.
"Bagaimana bisa, hanya sesosok duplikat. Tapi lebih kuat dari diriku?. Sebenarnya, ia itu berasal dari masa ini atau tidak?" tanya Chen di dalam hatinya. Sembari terus melancarkan serangan bola-bola shen hitamnya ke arah duplikat gadis berjubah toska itu, secara konsisten.
Pertanyaan-pertanyaan dari dalam hati Chen itu ternyata dapat dibaca oleh duplikat gadis bertopeng emas. Yang segera berbicara kepada penjahat dari abad ke 10 Masehi itu.
"Jangan bergurau. Bagaimana bisa, kau yang hanya duplikat bisa mengalahkan kami berlima. Yang merupakan pasukan khusus terkuat Tuan Humsha?" sahut Chen dengan ketakpercayaannya atas perkataan dari duplikat gadis bertopeng emas itu.
"Apakah kau perlu bukti?" tanya duplikat gadis bertopeng emas itu.
"Tentu saja aku perlu bukti," timpal Chen.
__ADS_1
"Baiklah akan aku buktikan...," jawab duplikat gadis bertopeng emas itu.
Duplikat gadis bertopeng emas itu lalu menghilang dan muncul kembali di belakang Chen. Dengan tanpa perasaan sama sekali. Duplikat gadis bertopeng emas itu lalu menendang punggung Chen. Hingga Chen terpental menyentuh batas kubah berwarna toska itu.
Hanya dalam sekejap mata. Duplikat gadis bertopeng emas itu, ada di hadapan Chen sejauh 5 meter. Terlihat napas Chen begitu memburu. Seumur hidupnya, belum pernah ia mengalami kekalahan setelak ini.
"Hanya seperti inikah, kekuatan dari anggota pasukan khusus Humsa?" kata duplikat gadis bertopeng emas dengan sinisnya.
"Kau hanya menghadapi aku. Coba kalau kami berlima, pasti kau akan kalah duplikat!" sahut Chen dengan penuh emosi.
"Baiklah, 2 adikmu yang sudah mati. Akan kubawa kemari. Sebagai bukti betapa hebatnya diriku ini. Walaupun hanya seorang duplikat," tutur duplikat gadis bertopeng emas.
Duplikat gadis berjubah toska itu lalu mengeluarkan shennya yang berwarna toska dari dalam tubuhnya. Dengan shennya itu, ia pun membentuk sepasang tangan raksasa yang segera melesat ke arah langit dan menciptakan lubang ruang dan waktu. Dengan tujuan yang tak diketahui oleh Chen sama sekali.
Semenit dua menit tak terjadi apa\-apa sama sekali. Hingga di menit ketiga. Sepasang tangan shen raksasa berwarna toska itu kembali dengan membawa Chon dan Chun yang sebenarnya sudah mati di dalam kubah pengurung raga. Duplikat dari gadis bertopeng emas itu ternyata mampu memanipulasi ruang dan waktu sesuka hatinya.
Dua tangan shen raksasa berwarna toska itu lalu dilemparkan ke arah Chen yang begitu terkejut. Melihat kedua adiknya hidup kembali, tanpa luka sedikit pun. Pikirannya berkata, bagaimana bisa dua adik kandungnya yang sudah mati bersama musuh-musuhnya di dalam kubah pengurung raga. Yang ia ketahui dari telepati yang diberikan oleh mereka berdua. Di saat tubuh mereka mulai memepet di dalam kubah pengurung raga. Jurus terlarang milik dari suku peramal bulan. Yang terakhir dikuasi oleh Marandra Dewi Peramal Jingga.
"Kenapa warna kubah pengurung raga menjadi toska, bukan jingga?" tanya Chon kepada Chun. Dengan melihat warna kubah pengurung mereka.
__ADS_1
"Mana aku tahu, mungkin saja ini alam kematian," jawab Chun sekenanya. Karena seingat mereka berdua. Mereka berdua pingsan, saat kubah pengurung raga mulai memepet tubuh mereka bertujuh. Hingga mereka berdua tak menyadari jika tubuh mereka berdua di bawa oleh tangan raksasa jelmaan shen dari duplikat gadis bertopeng emas.