
Syam dan Jeni yang terus melesat dengan kecepatan tinggi untuk menghindar dari kejaran Chan, sekaligus mencari 5 anggota Gura-Gura Lama. Tiba-tiba saja tersentak, terpaksa menghentikan terbang mereka berdua secara mendadak. Bagaimana tidak mereka berdua melakukan hal itu. Chan mendadak muncul, menghadang terbang mereka. Tanpa mereka sadari hawa keberadaannya, sedang mengikuti mereka berdua. Padahal tadi mereka berdua yakin. Jika lelaki pesolek itu sudah tak mengejar mereka berdua. Akibat sibuk menolong penduduk desa, yang sedang disandera oleh kelompok perampok yang menamakan diri mereka, 13 Pedang Iblis. Kelompok perampok yang terkenal bengis dan suka mengorbankan nyawa manusia untuk menambah kekuatan shen mereka.
Jeni terperangah, melihat penampilan Chan yang memakai bedak tipis di wajahnya dan lis balm di bibirnya. Kloningan dari Kasandra itu tak mengira sama sekali. Jika ketiga dari 5 kepang bersaudara yang pernah ia lihat, ada yang bersifat kemayu dan terlihat berbeda dengan Chun dan Chon yang pertama ia lihatnya.
"Akhirnya aku menemukanmu, Syamshe dan Dewi Peramal Junior...," kata Chan dengan suara kemayu dan lirikan menggoda ke arah Syam dengan penuh hasrat. Membuka percakapan di antara mereka bertiga. Yang melayang setinggi 200 meter di atas permukaan tanah tempat itu.
Syamshe tak merespon perkataan dari lelaki pesolek itu. Ia malah mencari celah untuk melarikan diri dari hadapan Chan, secepat dan sejauh mungkin. Karena ia merasa percuma, bergabung dengan Jeni pun untuk melawan dirinya. Mereka berdua sudah dipastikan akan kalah telak. Tidak ada kans sama sekali, untuk mereka menang.
Syam tetap terdiam, bermain dengan pikirannya sendiri. Untuk mencari jalan keluar, bagi masalah yang sedang ia hadapi. Dengan tatapan mata berkeliling arah.
Tetapi Jeni malah merespon perkataan dari Chan itu. Karena ia penasaran dengan sosok dan kekuatan si kepang dua Chan. Yang pastinya di atas Chon dan Chun, yang pernah ia lihat bertarung dengan Dewa 5 warna dan Mosa.
"Bagaimana bisa kau mengejar diri kami. Padahal hawa keberadaanmu tidak kami rasakan tadi?" tanya Jeni kepada Chan yang wajahnya menjadi begitu cerah setelah bertemu dengan syam. Seakan seorang gadis yang sedang jatuh cinta kepada lelaki pujaannya.
"Karena aku lebih hebat dari kalian berdua," sahut Chan dengan penuh kesombongannya.
Jeni terdiam tak merespon jawaban dari Chan. Ibu kandung dari Jeni itu malah melakukan telepati dengan Syam. Yang akhirnya menemukan sebuah gua di bukit kapur yang ada di bawah mereka. Berkat mata birunya, yang di masa ini disebut sebagai mata langit
"Tuan Syam, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Jeni di dalam telepatinya kepada Syam.
"Lebih baik kau serang dirinya dengan jarum peledakmu. Agar tercipta asap hitam atas seranganmu itu. Setelah itu kita akan bersembunyi di dalam gua yang ada di bukit kapur itu. Kau pasti dapat melihatnya dengan mata langitmu itu," jelas Syam di dalam telepatinya. Yang segera di mengerti oleh Jeni.
"Aku mengerti Tuan Syam. Akan kulakukan sekarang," jawab Jeni di dalam telepatinya.
__ADS_1
Kloningan Kasandra itu lalu menunjukan 5 jari tangan kanannya ke arah Chan yang berjarak 5 meter dari tempatnya.
"Jarum 1000 tubuh!" dari kelima jari tangan kanan Jeni keluarlah 5 jarum peledak yang membelah diri dengan begitu cepat menjadi 1000 jarum kecil peledak.
Terlihat jarum-jarum peledak itu menyerang Chan secara bersamaan. Hingga menciptakan asap hitam yang sangat pekat. Hingga kedua matanya tak dapat melihat sama sekali Jeni dan Syam yang telah melesat ke bawah dan masuk ke dalam gua yang berada di bukit kapur itu.
Serangan dari kloningan Kasandra. Dengan cepat dapat dimusnahkan oleh Chan. Seribu jarum peledak itu dapat hancur menjadi debu-debu yang tertiup oleh angin.
"Apakah kalian pikir. Kalian berdua dapat lolos dari diriku. Aku dapat mencium wanginmu, lelaki pujaanku...," kata Chan berbicara sendiri. Lalu melesat turun menuju ke arah gua yang ada di dalam bukit kabur itu. Yang segera dapat diketahui oleh Syam.
"Dewi Peramal Junior. Lebih baik kau pergi, saat aku bertarung dengannya nanti," tutur Syam dengan mata yang disebut mata langit oleh orang-orang yang hidup di zaman itu.
"Tapi bagaimana dengan Tuan Syam?" tanya Jeni dengan penuh kekhawatirannya.
"Kau tenang saja. Lelaki pesolek itu tak mungkin membunuhku," sahut Syam.
"Karena ia menyukaiku," timpal Syam dengan ekpreksi kaku.
Mendengar jawaban dari Syam. Jeni pun tertawa lepas. Seakan dirinya sedang mendengar sebuah lelucon.
"Dasar orang aneh. Pantas saja gaya bicara dan cara berdandannya seperti seorang perempuan," kata Jeni, lalu tertawa lepas kembali.
Tiba-tiba saja terjadilah guncangan hebat di dalam gua itu. Bersamaan dengan terbukanya atap dari gua itu. Ternyata atap gua itu diangkat oleh shen Chan yang berbentuk tangan raksasa hitam. Karena persembunyian mereka sudah diketahui.
Jeni dan Syam lalu melesat ke angkasa untuk menyerang Chan yang akhirnya membuyarkan shen berbentuk tangan raksasanya itu. Hingga atap gua itu jatuh ke bumi dan menciptakan ledakan besar. Debu-debu pun tercipta di tempat itu. Hingga membumbung ke angkasa dengan begitu masifnya.
__ADS_1
Syam dan Jeni masih menyerang Chan dengan serangan fisik berlapis shen mereka. Yang dapat dilayani oleh kepang dua dengan mudahnya. Hingga Syam menggunakan 8 cambuk elatis yang ada kedua tangannya untuk membelenggu Chan. Yang memang sengaja, membiarkan dirinya terbelenggu seperti itu.
"Jeni, lebih baik kau pergi sekarang. Tujulah tujuanmu sekarang. Karena waktumu, semakin berkurang," ujar Syam, melirik ke arah kloningan dari Kasandra itu.
"Tapi bagaimana dengan dirimu?" tanya Jeni dengan penuh kebingungan.
"Percayalah kepadaku. Dia tak mungkin membunuhku," sahut Syam. Yang membuat Jeni mau tak mau harus meninggalkannya.
"Baiklah, kalau begitu. Aku pergi sekarang," Jeni lalu melesat dengan kecepatan tinggi menuju ke arah barat. Yang dilihat oleh Chan, hingga ia pun mengambil sebuah tindakan untuk mengejar ibu dari Jean itu.
"Ingin pergi dariku. Itu tidak mungkin dapat terjadi," ujar Chan berbicara sendiri.
Terlihat dari dalam tubuh Chan keluarlah duplikat dirinya. Yang segera melesat untuk mengejar Jeni.
"Jangan kau bunuh dia. Lelaki Pesolek!" teriak Syam sembari memperkuat ikatan cambuknya itu.
"Siapa ingin membunuh dirinya. Aku hanya ingin menangkap dirinya untuk menemani dirimu di penjara hatiku ini," jawab Chan, dengan gaya centil dan suara menggodanya.
"Dasar Gila!!" teriak Syam, semakin memperkuat belenggu delapan cambuknya pada Chan.
"Aku memang gila. Gila karena dirimu," timpal Chan lalu tertawa lepas.
Chan lalu meningkatkan kekuataan shennya. Hingga dengan mudahnya, ia pun dapat melepaskan dirinya dari ikatan 8 cambuk milik Syam. Dorongan shen Chan begitu kuat. Hingga ksatria dari abad ke 10 Masehi itu terpental dan jatuh ke bumi.
__ADS_1