
Cahaya hitam jelmaan dari duplikat Chin yang sudah dikalahkan oleh Keneo. Melesat dengan kecepatan tinggi ke arah Kutub Utara Bumi, di mana Chin berada. Gerakannya begitu cepat, jauh melebihi gerakan yang dapat dilakukan oleh Chin sekalipun. Hingga akhirnya cahaya hitam itu menyalip Chan yang sedang terbang menuju ke Kutub Utara Bumi dengan kecepatan tinggi.
Lelaki pesolek itu tahu. Kalau cahaya hitam itu adalah jelmaan dari kekuatan Chin yang akan kembali kepada tubuh asli Chin.
"Aku tahu, itu adalah jelmaan kekuatan dari Chin. Berani-beraninya, dia menyalip diriku ini," kata Chan, lalu melesat dengan kecepatan lebih tinggi dari yang tadi. Untuk menyusul cahaya hitam itu.
Kejaran-kejaran pun terjadi di langit. Akan tetapi Chan tetap saja tak mampu menyalip cahaya hitam jelmaan dari kekuatan Chin itu. Hingga mereka pun tiba di daerah Kutub Utara Bumi.
Mendadak saja, cahaya hitam itu meluncur turun dengan kecepatan tinggi. Lalu menghantam permukaan es di mana Chin berada di dalamnya. Cahaya hitam itu langsung saja masuk ke dalam tubuh kepang satu itu. Hingga kekuatan Chin kembali prima seperti semula.
Chan pun ikut turun ke bawah dan melayang 20 meter dari permukaan es di tempat itu.
"Chin, cepat kau keluar!" teriak Chan dengan suara kemayunya. Yang menggema di hamparan es, bersinaran matahari redup yang terus bersinar selama 6 bulan di Kutub Utara Bumi.
Tak ada jawaban sama sekali dari Chin. Hingga membuat Chan kesal bukan main. Ia pun lalu menciptakan bola salju di tangan kanannya. Yang segera ia luncurkan ke arah es yang di dalamnya ada kakak tertuanya. Bola salju sebesar bola kaki itu melesat dengan kecepatan tinggi, dan menghantam permukaan es lalu masuk ke dalamnya di mana Chin sedang berada. Hingga terciptalah getaran hebat di tempat itu.
Satu menit sejak bola salju itu masuk ke dalam es di mana Chin berada. Anggota nomor satu dari 5 kepang bersaudara itu. Lalu keluar dengan dari dalam permukaan es. Dengan membawa bola salju ciptaan Chan. Yang langsung dilemparkan ke arah Chan, yang sebenarnya adalah kembarannya.
__ADS_1
"Kau itu, cerewet sekali Chan. Aku butuh waktu untuk memulihkan diriku ini!" teriak Chin kepada Chan. Yang terlihat memukul bola salju ciptaan yang di arahkan kepadanya. Hingga hancur menjadi serpihan-serpihan salju yang turun ke permukaan es yang ada di bawah mereka berdua.
"Kalau aku tidak cerewet, kau tidak akan cepat keluar," sahut Chan dengan ketusnya.
"Kau ini bersemangat sekali untuk menghadirkan Tuan Humsha ke masa ini. Jangan-jangan kau itu sangat merindukannya?" kata Chin, lalu tersenyum sinis dengan jarak 5 meter di antara mereka berdua.
"Apa aku merindukan si brengsek Humsha!? Lebih baik aku mati saja!" timpal Chan, yang tiba-tiba saja ditimpali oleh Humsha melalui telepati mereka bertiga.
"Chan, kenapa kau itu sangat membenciku?" tanya Humsha, dengan penuh selidik.
"Karena kau itu selalu membunuh orang yang lebih tampan dari dirimu. Termasuk Syamshe, yang sangat ingin kau bunuh" jawab Chan, mengutarakan kebenciannya kepada majikannya itu.
"Tapi sayangnya aku belum menemukan Syamshe. Jadi aku belum bisa membunuhnya," kata Humsha, yang membuat emosi Chan terpancing.
"Kau berani mengancamku? Apa kau tidak takut, sisa klanmu di masa lalu. Akan kuhabisi ...," sahut Humsha dengan nada dingin.
"Lakukan saja apa yang kau mau di masa lalu. Menghabisi mereka, itu tidak semudah omonganmu. Apalagi dirimu, pastinya sedang dikejar-kejar oleh para kesatria aliran putih, akibat ulahmu sendiri," tutur Chan tak mau kalah. Yang membuat Humsha akhirnya mengalah dalam perdebatan itu.
"Baiklah aku mengalah. Aku tidak akan membunuh Syamshe dan menghabisi sisa klanmu. Sekarang cepat buka portal waktu untukku," ucap Humsha, seakan sedang dikejar oleh sesuatu hal di masa lalu.
"Kau juga harus berjanji memulihkan diri kami, yang sudah kehabisan shen sebesar 99%, saat kau tiba nanti," kata Chin kali ini.
"Bukan hanya aku pulihkan tetapi kekuatan kalian akan aku tingkatkan," sahutnya yang membuat Chin tersenyum penuh bahagia.
"Apakah kau sedang membodohi kami berdua?" tanya Chan kembali, seakan tidak mempercayai perkataan Humsha sama sekali.
__ADS_1
"Aku bersungguh-sungguh, cepatlah!" kata Humsha.
"Tapi jurus ini harus memenuhi syarat. Pertama Matahari harus tepat berada di atas kepala kita. Kedua kita harus berada pada koardinat yang sama baik di masa lalu maupun masa depan ini. Apakah kau sudah berada di kutub utara bumi?" tanya Chan.
"Kalau saja, aku tidak dikejar-kejar oleh orang-orang itu. Aku pastinya sudah sampai daritadi," jelas Humsha.
"Kalau begitu, kau harus secepat mungkin tiba di Kutub Utara Bumi," ucap Chan.
"Baiklah, akan kulakukan cara paling efektif untuk sampai di tempat itu," ujar Humsha lalu menghilang suaranya dari telepati mereka bertiga.
"Sepertinya dia sedang dalam kesulitan sejak kita pergi ke masa ini. Kau yang terakhir ke masa ini. Seharusnya mengetahui sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan dirinya, dan masa tempat kita berasal?" tanya Chin, menatap ke arah Chan.
"Kau sungguh ingin tahu, Chin?" tanya Chan lalu tersenyum lepas.
"Tentu saja aku ingin tahu, Lelaki Pesolek?" sahut Chin.
"Baiklah akan kuceritakan apa yang sedang terjadi sebenarnya pada dirinya. Sejak kepergian kalian berempat ke masa ini. Aku diam-diam mengikuti Humsha. Dengan tujuan agar dia tidak membunuh Syamshe. Yang aku takut masih ada di masa kita. Tapi ternyata sudah berada di masa depan ini. Aku terus mengikutinya, hingga dirinya menyusup ke sekte Langit Tanpa Batas-" perkataan dari Chan itu membuat Chan terkejut. Hingga ia pun memotong perkataan Chan.
"Sekte Langit Tanpa Batas!? Itu bukannya bagian dari Sekte Langit Abadi?" tanya Chin.
"Kau saja yang mendengarnya terkejut. Apalagi aku yang menyaksikannya. Berani-beraninya dia menyentuh sekte terkuat di Benua Langit itu. Seluruh sekte aliran hitam digabung pun. Belum tentu dapat mengalahkan salah satu dari Sekte 7 Langit itu," jelas Chan lalu tersenyum kecut.
"Lalu apa yang ia lakukan di sekte terlemah dari 7 sekte langit itu. Melawan salah satu panglima sekte itu, aku rasa ia akan kesulitan?" tanya Chin kembali. Yang tak langsung ditanggapi oleh Chin yang menatap Matahari, seakan sedang menatap masa lalu, tempat mereka tinggal selama ini.
__ADS_1